Di mansion mewah yang terasa seperti penjara berlapis emas, Aruna terjebak dalam dilema mematikan:
Menyelamatkan ibunya dengan tetap menjadi bagian dari dunia berdarah ini.
Atau melarikan diri sebelum ia benar-benar jatuh cinta pada sang bayi—dan ayahnya yang iblis.
"Dia memintaku memberikan hidup bagi anaknya, tanpa menyadari bahwa akulah yang sedang sekarat dalam genggamannya."
kepoin di malam Minggu, bikin malam Minggu mu lebih bermakna dengan sosok aruna dan dante
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adrina salsabila Alkhadafi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6: Permainan di Tepi Jurang
Malam di kediaman Valerius selalu terasa seperti keabadian yang dibungkus dalam kemewahan yang mencekam. Di luar, badai belum benar-benar reda; suara petir yang menggelegar di kejauhan terdengar seperti suara meriam dalam peperangan yang tak terlihat. Aruna berdiri di balik pintu kamar bayi, telinganya menempel pada kayu jati yang dingin. Di koridor, ia bisa mendengar langkah kaki teratur dari para penjaga yang berpatroli, suara gesekan kain jas mereka dan denting pelan dari senjata yang tersampir di pinggang.
Dante baru saja pergi. Sebuah urusan darurat di pelabuhan—sesuatu tentang pengiriman yang dicegat otoritas atau dikhianati musuh—memaksanya meninggalkan mansion dalam kemarahan yang meluap. Aruna melihatnya dari jendela; iring-iringan mobil hitam yang membelah kegelapan seperti barisan predator yang haus darah.
Ini adalah kesempatannya. Satu-satunya kesempatan.
Ponsel Don Salieri. Aruna ingat persis di mana benda itu berada. Saat kericuhan kecil terjadi ketika Dante menancapkan pisau ke meja, Salieri yang panik sempat menggeser beberapa barang, dan ponsel itu terselip di bawah lipatan serbet satin yang tebal di sudut meja makan. Dante mungkin terlalu murka untuk menyadarinya, dan para pelayan terlalu takut untuk menyentuh apa pun sebelum diperintahkan.
"Aku harus melakukannya," bisik Aruna pada dirinya sendiri. Suaranya gemetar, hampir tenggelam oleh suara hujan.
Ia menoleh ke arah Leonardo yang tertidur lelap di boksnya. Bayi itu tampak begitu damai, kontras dengan badai yang berkecamuk di dalam dada Aruna. Aruna tahu, jika ia tertangkap, tidak akan ada ampun. Dante bukan pria yang memberikan kesempatan kedua pada sebuah pengkhianatan. Namun, jika ia tetap diam, ia akan perlahan-lahan membusuk di dalam sangkar emas ini, menjadi boneka pemuas obsesi Dante tanpa pernah melihat ibunya lagi secara bebas.
Aruna membuka pintu kamarnya sedikit demi sedikit. Koridor remang-remang, hanya diterangi oleh lampu dinding bergaya gotik yang memberikan bayangan panjang dan distorsi. Ia harus melewati dua penjaga di ujung tangga.
Dengan jantung yang berdegup kencang hingga terasa sakit di rusuknya, Aruna melangkah keluar. Ia mengenakan gaun malam hitamnya yang tipis, sengaja membiarkan rambutnya sedikit berantakan. Ia harus punya alasan jika bertemu penjaga.
"Nona Aruna?" Salah satu penjaga, seorang pria bertubuh raksasa dengan bekas luka di alisnya, menoleh tajam. Tangannya refleks menyentuh senjata di pinggang.
Aruna berpura-pura terkejut, tangannya memegangi lehernya yang berkeringat dingin. "Aku... aku tidak bisa tidur. Aku butuh air hangat ke dapur. Aku merasa sangat haus."
Penjaga itu menyipitkan mata, memindai wajah Aruna yang pucat. Kecantikan Aruna adalah kutukan sekaligus senjata; pria itu tampak sedikit melunak melihat tatapan Aruna yang rapuh. "Tuan Dante memerintahkan Anda untuk tetap di kamar."
"Aku hanya ke dapur, bukan ke gerbang depan," suara Aruna bergetar, memberikan efek emosional yang pas. "Apa kau akan membiarkan ibu susu Tuan Muda kehausan dan merusak kualitas ASInya?"
Mendengar nama Leonardo, penjaga itu ragu sejenak. Akhirnya, ia memberi isyarat dengan kepalanya. "Cepatlah. Jangan berkeliling ke ruangan lain."
Aruna mengangguk singkat dan berjalan secepat mungkin menuju tangga besar. Setiap langkahnya di atas marmer terasa seperti dentuman drum yang memekakkan telinga. Ia melewati ruang tengah yang sunyi, menuju ruang makan utama yang masih menyisakan aroma sisa jamuan malam tadi—aroma daging, wine mahal, dan ketegangan yang belum luntur.
Ruangan itu gelap. Aruna menyalakan lampu kecil di sudut ruangan. Meja panjang itu masih berantakan. Ia mendekati kursi tempat Don Salieri duduk tadi. Napasnya memburu. Ia mulai meraba di bawah serbet satin yang masih tergeletak di sana.
Kosong.
Kepanikan mulai merayap di tenggorokannya. Tidak, tidak mungkin. Aku melihatnya di sini, batinnya berteriak. Ia mengangkat piring porselen, menggeser gelas kristal yang masih berisi sisa cairan merah. Dan di sana, tergeletak di dekat kaki meja, benda logam kecil berkilat tertimpa cahaya lampu.
Ponsel itu.
Aruna segera memungutnya. Benda itu terasa dingin dan berat di tangannya. Ia tidak sempat memeriksa apakah ada kunci pengaman atau tidak; ia segera menyelipkannya di balik ikat pinggang gaun sutranya, tertutup oleh lipatan kain.
Baru saja ia berbalik untuk pergi, sebuah suara dingin membelah kesunyian dari arah kegelapan pintu masuk.
"Apa yang kau cari di sini, Aruna?"
Aruna tersentak hebat, hampir menjerit. Di sana, bersandar pada bingkai pintu dengan tangan bersedekap, berdiri Marco. Pria tangan kanan Dante itu selalu muncul seperti hantu. Matanya yang jeli menatap Aruna dengan penuh selidik.
"Aku... aku haus," Aruna mengulangi alasannya, mencoba mengatur napas agar tidak terlihat seperti pencuri yang tertangkap basah.
Marco melangkah masuk ke dalam cahaya. "Dapur ada di sebelah sana, Nona. Mengapa Anda berada di kursi tamu Tuan Dante?"
"Aku hanya... mengagumi mejanya," Aruna mundur selangkah, tangannya secara insting menekan ponsel yang tersembunyi di balik pinggangnya. "Aku akan kembali ke kamar sekarang."
Marco tidak bergerak. Ia memperhatikan gerak-gerik Aruna dengan sangat teliti. "Tuan Dante sangat tidak menyukai orang yang memiliki agenda tersembunyi. Kau tahu itu, bukan?"
"Aku tidak punya agenda apa pun, Marco. Aku hanya seorang wanita yang terjebak di rumah ini demi nyawa ibunya. Apa lagi yang kau harapkan dariku?"
Marco diam selama beberapa detik yang terasa seperti berjam-jam. Akhirnya, ia menyingkir dari pintu. "Kembalilah ke kamar. Dan jangan biarkan aku melihatmu berkeliaran lagi malam ini."
Aruna berlari melewati Marco, naik ke tangga dengan sisa tenaga yang ia miliki. Begitu sampai di dalam kamarnya, ia mengunci pintu dan merosot ke lantai. Jantungnya berdetak begitu keras hingga ia merasa bisa pingsan.
Dengan tangan gemetar, ia mengeluarkan ponsel itu. Layarnya menyala. Beruntung bagi Aruna, Don Salieri adalah pria sombong yang tidak menyangka ponselnya akan dicuri; tidak ada kata sandi.
Aruna segera mencari sinyal. Mansion ini memiliki pengacak sinyal (jammer), namun ia teringat sebuah celah yang pernah ia dengar dari salah satu pembantu—bahwa di balkon sayap timur, dekat menara pemancar internal, sinyal luar terkadang bisa menembus.
Ia merangkak menuju balkon, bersembunyi di balik gorden tebal. Ia mengetik nomor rumah sakit tempat ibunya dirawat. Ia hanya ingin mendengar suara perawat, memastikan ibunya benar-benar aman dan tidak hanya menjadi alat sandera Dante.
Panggilan tersambung. Tut... Tut...
Setiap nada sambung terasa seperti denyut nadi di pelipisnya.
"Halo? Rumah Sakit Medika, ada yang bisa dibantu?" suara seorang wanita di ujung telepon terdengar seperti malaikat bagi Aruna.
"Halo... saya Aruna. Saya ingin menanyakan kondisi pasien bernama Ibu Rahayu di ruang ICU VIP."
"Mohon tunggu sebentar, Nona..."
Saat ia menunggu, Aruna mendengar suara deru mobil kembali memasuki halaman mansion. Dante telah kembali. Lebih cepat dari yang ia duga.
"Halo, Nona Aruna? Pasien Rahayu dalam kondisi stabil, namun Tuan Dante Valerius baru saja memerintahkan pemindahan pasien ke fasilitas pribadi milik keluarga Valerius besok pagi pukul enam. Apakah Anda sudah mengetahuinya?"
Aruna mematung. Pemindahan? Itu berarti Dante akan memiliki kontrol total atas nyawa ibunya di wilayah yang bahkan hukum tidak bisa sentuh.
Tiba-tiba, pintu kamarnya ditendang terbuka dengan dentuman yang menggelegar.
Dante berdiri di sana. Rambutnya basah oleh hujan, kemejanya terkena noda darah di bagian bahu, dan matanya memancarkan api kemarahan yang bisa menghanguskan siapa pun. Ia tidak menatap Aruna; matanya langsung tertuju pada benda bercahaya di tangan Aruna.
"Berikan padaku," suara Dante begitu rendah hingga terasa seperti getaran gempa bumi.
"Dante, tolong... aku hanya ingin tahu kondisi ibuku—"
Dante melangkah maju dengan kecepatan yang mengerikan. Ia menyambar pergelangan tangan Aruna, memuntirnya sedikit hingga ponsel itu terjatuh, lalu Dante menginjak ponsel itu dengan sepatu botnya hingga hancur berkeping-keping.
"Kau mencuri dari tamuku, kau berbohong pada penjagaku, dan kau mencoba menghubungi dunia luar di belakangku!" Dante mencengkeram rahang Aruna, mengangkat wajahnya hingga hidung mereka bersentuhan. "Kau pikir aku bodoh, Aruna? Kau pikir aku tidak tahu Marco mengikutimu ke ruang makan?"
"Kau bajingan posesif!" teriak Aruna, meledak dalam tangis. "Dia ibuku! Kau menggunakannya sebagai sandera!"
"Aku melindunginya agar aku bisa memilikimu!" Dante membalas teriakan itu, suaranya menggelegar memenuhi ruangan. "Jika dunia luar tahu kau ada di sini, mereka akan membunuhmu hanya untuk menyakitiku! Dan kau... kau baru saja membuktikan bahwa kau tidak bisa dipercaya dengan kebebasan."
Dante menarik Aruna dengan kasar menuju tempat tidur. Ia tidak melakukan kekerasan seksual, namun ia menekan tubuh Aruna ke kasur dengan berat tubuhnya yang mendominasi. Ia menatap mata Aruna dengan tatapan yang sangat terluka sekaligus sangat kejam.
"Mulai besok, ibumu akan berada di bawah atapku yang lain. Dan kau... kau tidak akan pernah melihat cahaya matahari lagi tanpa seizinku. Kamar ini akan dikunci dari luar. Kau hanya akan keluar untuk Leonardo, dan itu pun dengan tangan terborgol jika perlu."
Dante membungkuk, mencium kening Aruna dengan paksa. Ciuman yang terasa seperti segel kutukan.
"Selamat tidur, mawar kecilku," bisik Dante di telinga Aruna yang sedang menangis tersedu-sedu. "Besok, duniamu akan menjadi jauh lebih kecil. Dan kau hanya akan memiliki aku untuk dipuja."
Dante keluar dan mengunci pintu dari luar. Aruna meringkuk di atas tempat tidur, dikelilingi oleh kemewahan yang kini terasa seperti peti mati. Di ruangan sebelah, Leonardo mulai menangis, namun kali ini Aruna tidak diperbolehkan keluar. Ia hanya bisa mendengarkan tangisan itu, menyadari bahwa ia baru saja kehilangan segalanya dalam satu malam.