NovelToon NovelToon
BELAJAR JADI IMAM UNTUK ZAHRA

BELAJAR JADI IMAM UNTUK ZAHRA

Status: sedang berlangsung
Genre:Konflik etika
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Gibrant Store

Hafiz mengira dunia ada dalam genggamannya. Harta, tahta, dan wanita pemuja dusta menjadi santapan hariannya. Ia terperosok dalam kubangan kesombongan, lupa bahwa ia adalah seorang lelaki yang seharusnya menjadi pelindung.

Namun, badai datang meruntuhkan segalanya. Di titik nadir saat semua orang meninggalkannya, ia menemukan sebuah oase bernama Zahra. Wanita yang kesuciannya terjaga, yang doanya menembus langit, dan yang hatinya menjadi tempat persembunyian terakhir bagi Hafiz dari kejahatan dirinya sendiri.

"Maafkan kebodohanku yang tak bisa membimbingmu, Zahra. Izinkan aku belajar menjadi imam, meski langkahku penuh noda."

Mampukah Hafiz menjaga amanah saat jarak memisahkan dan masa lalu kembali menagih janji? Akankah doa Qurrata A'yun menyatukan mereka dalam cinta yang direstui penduduk langit?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gibrant Store, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DARAH DI ATAS TANAH

Malam di pinggiran Surabaya itu terasa mencekik, lebih panas dari neraka yang pernah Hafiz bayangkan.

Hafiz berdiri mematung di tengah gang sempit, terjepit di antara dua kelompok predator yang lapar akan darah.

Di depannya, tiga pria berbadan tegap suruhan orang yang mau melenyapkannya menatapnya dengan pandangan membunuh yang dingin.

Di belakangnya, preman bertindik dan kawan-kawannya menyeringai, memutar-mutar rantai motor dan botol kaca yang sudah pecah.

"Bos, ini wilayah kita. Siapa pun yang bikin ribut di sini harus bayar pajak!" teriak si preman bertindik, suaranya serak kena asap rokok.

Pria berjas safari dari kelompok investor itu tidak gentar, ia justru meludah ke samping dengan ekspresi sangat meremehkan.

"Minggir, bocah ingusan. Urusan kami cuma sama tikus ini. Jangan sampai kalian ikut terkubur bareng dia," sahutnya dingin.

Hafiz menoleh ke kiri dan kanan, mencari celah pelarian di antara tembok rumah petak yang rapat.

Tapi, jalan keluar tertutup rapat; ia benar-benar menjadi pusat dari lingkaran setan yang siap menerkamnya kapan saja.

"Gue bukan urusan kalian! Lepasin gue!" teriak Hafiz, mencoba memanggil sisa keberaniannya yang sudah hancur lebur.

"Berisik! Lo itu aset yang harus dimusnahkan, Hafiz!" teriak pria berjas safari itu sambil menerjang maju.

Bugh!

Sebuah pukulan mentah mendarat tepat di rahang Hafiz, membuatnya terhuyung dan menabrak tumpukan tong sampah kayu.

Rasa amis darah langsung memenuhi mulutnya, kepalanya berdenyut hebat seolah dihantam godam raksasa.

"Woi! Berani-beraninya lo mukul orang di depan mata gue!" preman bertindik itu tidak terima wilayahnya diremehkan.

Dalam sekejap, gang sempit itu berubah menjadi medan tawuran yang sangat kacau dan brutal.

Kelompok preman lokal menyerbu pria-pria suruhan, botol kaca beterbangan dan hancur menabrak tembok.

Hafiz mencoba merangkak menjauh, namun kakinya yang lecet tersangkut oleh salah satu kaki pria yang sedang berkelahi.

"Mau lari ke mana lo, Bos?!" seorang pria dari kelompok suruhan mencengkeram kerah baju Hafiz yang sudah compang-camping.

Ia mengangkat tubuh Hafiz dan membantingnya ke dinding beton dengan kekuatan yang luar biasa besar.

Hafiz mengerang kesakitan, ia merasa tulang rusuknya retak, napasnya terasa sangat pendek dan menyiksa.

"Ampun... gue nggak tahu apa-apa soal uang itu!" rintih Hafiz, air mata bercampur darah mengalir di pipinya.

"Uang bisa dicari, tapi nyawa lo itu pesan dari bos kami!" pria itu kembali melayangkan tinjunya ke perut Hafiz.

Ugh!

Hafiz tertekuk, memuntahkan cairan pahit dari lambungnya yang kosong sejak sore tadi ke tanah yang berdebu.

Ia yang dulu hanya perlu menunjuk untuk menghancurkan hidup orang, kini tidak bisa melindungi dirinya sendiri bahkan dari satu pukulan pun.

Tangannya yang halus, yang dulu hanya memegang pulpen mahal, kini mencakar-cakar tanah mencoba mencari pegangan.

Di sudut lain, si preman bertindik sedang bergulat hebat dengan pria berjas safari lainnya, suara hantaman daging terdengar mengerikan.

"Gembel sialan! Gara-gara lo tempat ini jadi panas!" si preman bertindik berteriak sambil menendang rusuk Hafiz saat ia terdorong ke arahnya.

Hafiz menjadi bulan-bulanan dari kedua belah pihak; ia dipukul karena dendam, dan ditendang karena dianggap pengganggu.

Dunia seolah sedang menumpahkan seluruh kemarahannya pada pria sombong yang baru saja jatuh dari singgasananya ini.

Ia merasakan sebuah sepatu lars menghantam punggungnya, membuatnya tersungkur mencium debu jalanan yang bau pesing.

"Ibu... tolong..." bisik Hafiz dalam hati, bayangan wajah teduh ibunya melintas di antara rasa sakit yang luar biasa.

Seketika, sebuah kayu balok melayang dan menghantam pelipis Hafiz, membuat pandangannya seketika berubah menjadi warna merah pekat.

Darah segar mengalir menutupi mata kanannya, ia tidak bisa melihat apa-apa lagi selain kegelapan yang mulai mengepung.

"Habisin sekarang! Keburu warga datang!" teriak salah satu pria berjas safari sambil mengeluarkan pisau lipat dari sakunya.

Hafiz menutup matanya, ia memasrahkan diri pada takdir yang sepertinya memang ingin mengakhiri hidupnya di gang kotor ini.

Ia merasa dingin mulai menjalar ke seluruh tubuhnya, sementara suara teriakan di sekelilingnya terdengar semakin menjauh.

Tapi, tepat saat kilatan pisau itu hampir menyentuh leher Hafiz, sebuah suara menggelegar menghentikan segalanya.

"STOP! APA YANG KALIAN LAKUKAN PADA MANUSIA INI?!"

Suara itu berat, berwibawa, dan memiliki kekuatan yang seolah-olah bisa menghentikan waktu dalam sekejap.

Hafiz sedikit membuka matanya yang bengkak, melihat siluet seorang pria tua berseragam putih-putih dengan sorban di bahunya.

Di belakang pria tua itu, belasan warga keluar membawa bambu, wajah mereka penuh amarah.

"Ini urusan kami, Pak Tua! Jangan ikut campur kalau nggak mau daerah ini rata dengan tanah!" ancam pria berjas safari.

Pria tua itu melangkah maju, tidak ada rasa takut sedikit pun di wajahnya yang sudah keriput namun tampak sangat bersih.

"Tanah ini tempat kami tinggal. Siapa pun yang menumpahkan darah di sini, berurusan dengan kami!" jawabnya tegas.

Kelompok preman lokal yang tadi beringas, tiba-tiba mundur teratur seolah mereka sangat menghormati pria tua ini.

"Maaf, Kyai... kami cuma kasih pelajaran sama orang asing ini," gumam si preman bertindik sambil menunduk dalam.

"Memberi pelajaran atau mencoba menjadi pembunuh? Pergi kalian semua sebelum saya serahkan ke polisi!" perintah Kyai tersebut.

Melihat jumlah warga yang semakin banyak, kedua kelompok itu akhirnya memutuskan untuk mundur dan melarikan diri ke dalam kegelapan malam.

Pria berjas safari itu sempat menunjuk Hafiz dengan tatapan mengancam sebelum akhirnya menghilang di balik gang.

"Urusan kita belum selesai, Hafiz! Ingat itu!" teriaknya dari kejauhan.

Jalan itu kini kembali sunyi, hanya menyisakan deru napas Hafiz yang berat dan suara rintihan kesakitannya yang memilukan.

Pria tua yang dipanggil Kyai itu mendekati Hafiz, ia berlutut di tanah tanpa peduli jubah putihnya terkena noda darah.

"Astaghfirullah... parah sekali lukamu, Nak," bisiknya sambil memeriksa denyut nadi di leher Hafiz.

Hafiz menatap pria tua itu dengan pandangan yang mengabur, ia merasa wajah pria ini sangat mirip dengan seseorang.

Gumam Hafiz pelan sebelum akhirnya seluruh tenaganya benar-benar habis.

Kyai itu tertegun mendengar nama anaknya disebut oleh pria asing yang kondisinya sangat mengenaskan ini.

Ia segera memberi kode kepada beberapa warga untuk mengangkat tubuh Hafiz yang sudah terkulai lemas tak berdaya.

"Bawa dia ke rumah saya. Cepat! Kita harus bersihkan lukanya sebelum infeksi," perintah sang Kyai dengan nada yang sangat tenang namun mendesak.

Hafiz merasakan tubuhnya diangkat ke atas tandu darurat, kepalanya bergoyang-goyang mengikuti langkah kaki warga.

Rasa sakit yang tadi membakar kini berubah menjadi rasa dingin yang aneh, seolah nyawanya sedang ditarik perlahan dari ujung jari kaki.

Ia bisa mendengar suara sayup-sayup warga yang berbisik tentang siapa dirinya dan kenapa ia dikejar-kejar orang jahat.

"Kasihan, bajunya mahal tapi badannya penuh luka begini," ucap salah satu warga yang menggotongnya.

"Mungkin dia orang yang tertipu. Sekarang banyak yang nasibnya begini," sahut warga yang lain.

Hafiz ingin bicara, ingin bilang bahwa ia bukan orang malang, tapi ia adalah pemenang yang sedang tersandung.

Tapi, setiap kali ia mencoba membuka mulut, rasa perih di rahangnya membungkamnya kembali ke dalam kesunyian.

Perjalanan itu terasa sangat lama bagi Hafiz, ia merasa seperti sedang dibawa menuju ke alam lain yang lebih damai.

Hingga akhirnya, ia merasakan tubuhnya diletakkan di atas sebuah dipan kayu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!