Xue Xiao adalah seorang alkemis hebat nomor satu di alam abadi, bahkan bakatnya di gadang-gadang akan mampu memecahkan batasan alam abadi dan membuka jalur kenaikan menuju alam Dewa yang telah tersegel selama jutaan tahun melalui Dao alkimia.
Namun pada suatu saat, Xue Xiao dikhianati oleh sahabat dan kekasihnya untuk merebut Artefak Dewa yang dimiliki Xue Xiao.
Selama ratusan tahun, Xue Xiao hanya berfokus pada Dao Alkimia. Meskipun kultivasinya tinggi, namun dibandingkan mereka yang menempuh jalur Dao beladiri tentu ia tidak bisa menjadi lawan.
Hingga akhirnya, Xue Xiao yang terpojok dan putus asa, memilih untuk meledakkan dirinya dan menyeret para penghianat itu untuk menemaninya di jalan kematian.
Tapi tak disangka, Artefak Dewa yang ia miliki justru menyelamatkan jiwanya disaat-saat terakhir dan membawanya ke dunia yang sama sekali baru, bahkan merekonstruksi tubuh fisiknya yang sudah hancur berkeping-keping.
bagaimana perjalanan Xue Xiao di dunia baru, ikuti terus cerita ini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ARIYANTO, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5
Beberapa hari setelah berhasil membuat pil pertama dan menyelesaikan pembangunan gubuk bambu yang kokoh di tepi danau, Xue Xiao merasa ada kebutuhan yang mendesak untuk mengembangkan sumber daya hidupnya secara mandiri. Dia bangun jauh sebelum matahari muncul dari balik gundukan pepohonan tinggi di kejauhan – saat hutan masih diselimuti kabut tebal yang dingin dan suara burung yang baru mulai terdengar di atas ranting pohon. Dia keluar dari gubuk dengan tubuh yang sudah terbiasa dengan suhu dingin pagi, menghirup udara segar yang penuh dengan aroma dedaunan basah dan tanah lembap.
"Di Alam Abadi, aku bisa bertahan hidup selama berbulan-bulan hanya dengan mengandalkan energi spiritual dari alam sekitar. Tapi di sini, aku harus hidup seperti manusia fana, mencari makanan dengan cara yang lebih praktis dan membangun kehidupan yang stabil," gumamnya dalam hati sambil mengulurkan tangan ke atas untuk merasakan seberapa tebal kabut yang menyelimuti hutan. Dia memutuskan bahwa hari ini akan menjadi awal dari upayanya untuk membangun dasar kehidupan yang berkelanjutan di dunia yang baru ini.
Dia mulai dengan memilih lokasi yang cocok untuk kebunnya. Setelah berjalan sekitar setengah jam menjelajah area sekitar gubuk, dia menemukan tanah di sisi kiri gubuk yang terletak di lereng sedikit miring ke arah danau. Tanah di sana memiliki tekstur yang gembur dan berwarna coklat tua, menandakan bahwa tanah disini sangat subur yang cocok untuk menanam berbagai jenis tumbuhan. Selain itu, area tersebut terkena sinar matahari mulai dari pukul sembilan pagi hingga pukul empat sore, memberikan paparan cahaya yang cukup untuk pertumbuhan tanaman.
Tanpa ragu, Xue Xiao mulai bekerja. Dengan kekuatan tubuhnya yang luar biasa, dia menggali tanah dengan hanya menggunakan telapak tangan dan jari-jari yang kuat seperti baja. Dia membuat alur-alur tanam yang rapi dengan kedalaman sekitar sepuluh sentimeter dan jarak antar alur sekitar dua puluh sentimeter – jarak yang dia hitung secara akurat berdasarkan pengamatannya terhadap tumbuhan liar yang tumbuh di sekitar hutan. Setiap gerakan tangannya cepat dan presisi, tidak ada satu pun gerakan yang sia-sia. Dalam waktu kurang dari satu jam, dia sudah menyiapkan lahan seluas sekitar lima kali lipat ukuran gubuknya – area yang cukup luas untuk menanam berbagai jenis tumbuhan yang bisa memenuhi kebutuhan makanannya.
Sebelum mulai menanam, dia mengambil waktu untuk mempelajari kembali berbagai jenis benih dan bibit yang dia kumpulkan selama beberapa hari terakhir. Dia menyortirnya dengan hati-hati di atas alas daun pisang besar yang dia dapatkan dari tepi sungai: ada benih umbi talas liar dengan kulit berwarna coklat kemerahan, benih kacang hijau liar dengan bentuk sedikit lonjong, benih bayam liar dengan warna hitam pekat, benih labu liar dengan ukuran kecil seperti kelereng, dan bibit beberapa jenis sayuran berdaun hijau yang dia pindahkan dari tempat asalnya di dekat sungai.
Dia mulai dengan menanam umbi talas liar terlebih dahulu. Dia menggali lubang kecil di setiap alur tanam dengan kedalaman sekitar lima sentimeter, menaruh satu umbi di setiap lubang, lalu menutupinya dengan tanah yang lembut. Setelah selesai menanam semua umbi talas, dia melanjutkan dengan menaburkan benih kacang hijau liar secara merata di alur yang sudah disiapkan khusus untuknya. Untuk benih bayam dan sayuran berdaun hijau, dia menaburkannya di area yang lebih dekat dengan gubuk agar lebih mudah dia rawat. Sedangkan bibit labu liar dia tanam di tepi luar kebun agar rantingnya bisa menjalar ke tanah tanpa mengganggu tumbuhan lain.
Setelah semua benih dan bibit tertanam dengan rapi, Xue Xiao mengambil ember besar yang dia buat dari kulit kayu pohon besar yang tumbang karena tua. Dia pergi ke danau untuk mengambil air, membawa dua ember penuh dengan mudah dengan satu tangan masing-masing. Saat menyirami tanamannya, dia melakukan itu dengan sangat hati-hati – menyiram setiap area dengan takaran yang tepat agar tanah tidak tergenang air tapi tetap lembap. Dia juga memperhatikan jenis tumbuhan mana yang membutuhkan lebih banyak air dan mana yang lebih cocok dengan tanah yang sedikit kering.
Saat sedang menyirami tanaman bayam liar yang baru saja ditaburkan, dia tiba-tiba merasa ada getaran lemah dari dalam tanah. Tanpa berpikir dua kali, dia berhenti sejenak dan memasang posisi bersila di antara barisan tanamannya – posisi yang sudah dia kuasai selama ratusan tahun di dunia asalnya untuk berkultivasi. Telapak tangannya menghadap ke atas dengan ujung jari menyentuh satu sama lain membentuk lingkaran kecil, sementara dia menutup mata dan fokus seluruh pikirannya untuk menarik energi spiritual dari sekitarnya.
Dia bisa merasakan adanya aliran energi yang sangat tipis – seperti aliran air kecil yang mengalir di bawah tanah kering. Energi itu datang dari berbagai arah: dari dalam tanah yang subur, dari tumbuhan liar yang tumbuh di sekitar kebun, bahkan dari permukaan danau yang tenang di kejauhan. Dia mencoba mengumpulkan energi tersebut dan membawanya ke dalam dantian nya, seperti yang dia lakukan di dunia asalnya. Namun setelah beberapa menit berusaha dengan penuh tekad, energi tersebut hanya bisa bertahan sebentar di dalam tubuhnya sebelum menghilang seperti embun yang menguap di bawah sinar matahari.
"Aku sudah mencoba berkali-kali dengan cara yang berbeda setiap hari, tapi hasilnya selalu sama," pikirnya dengan sedikit kecewa sambil membuka mata dan melihat ke arah langit yang mulai cerah. "Energi spiritual di dunia ini memang terlalu sedikit untuk mendukung kultivasi seperti yang aku kenal. Tapi aku tidak akan menyerah begitu saja. Aku harus menerima kenyataan bahwa di dunia ini, kultivasi tidak akan menjadi prioritas ku. Tapi kekuatan tubuhku yang luar biasa masih ada, dan aku bisa mengembangkan kemampuan alkemis ku untuk mengimbangi kekurangan energi spiritual ini. Selain itu, dengan memiliki kebun sendiri, aku tidak perlu khawatir akan kekurangan makanan dan bisa fokus pada hal-hal yang lebih penting."
Setelah selesai merawat kebunnya, Xue Xiao memutuskan untuk melanjutkan rencananya yang kedua, mencari binatang buas yang bisa dia pelihara. Dia tahu bahwa selain tumbuhan, dia juga membutuhkan sumber protein yang stabil untuk menjaga kekuatan tubuhnya. Selain itu, dia juga bisa menggunakan bagian tubuh binatang seperti kulit atau bulu untuk membuat barang-barang yang berguna. Dia mengambil tali yang dibuat dari akar pohon kuat dan wadah kecil dari kulit kayu, lalu memasuki hutan dengan hati-hati.
Dia berjalan dengan gerakan yang lembut dan tidak membuat suara sama sekali, meskipun tubuhnya besar dan kuat. Dia telah belajar bahwa di hutan berkabut ini, kebisingan berlebihan bisa membuat binatang buas menghindar atau bahkan menarik perhatian makhluk lain yang berbahaya. Setelah berjalan sekitar setengah jam melalui jalur yang sudah dia kenali, dia mendengar suara krikil yang khas dari rerumputan tinggi di dekat sungai kecil yang mengalir ke danau.