raja kegelapan dan ratu cahaya" 2 entitas yang tidak seharusnya bisa bersatu dan kekuatan yang seharusnya saling tolak menolak namun dikalahkan oleh takdir yang berjalan secara mutlak...menjalin sebuah cinta yang membuat kesucian cahaya menjadi dianggap najis dan kekejaman kegelapan dianggap lemah karena hubungan yang mereka jalanii
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fernan Do, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
antara nyawa air mata dan candaan maut
Pagi di Aethelgard dimulai
dengan aroma jagung rebus yang manis dan kepulan asap dari dapur. Ferdi, dengan bahu yang masih diperban karena luka kemarin, sudah selesai memetik dua keranjang jagung dan memanen padi di petak sawah kecil mereka. Ia bahkan sudah menyembelih dua ekor ayam gemuk untuk persediaan makan mereka selama tiga hari ke depan.
"Vani, jagung dan ayamnya sudah kusiapkan di meja dapur. Jangan lupa dibersihkan, jangan hanya dipelototi," teriak Ferdi dari teras.
Vani muncul dengan rambut yang masih sedikit berantakan, memegang kain lap. "Kau mau ke mana lagi?! Luka bahumu itu belum kering, Ferdi! Lihat, perbannya saja masih sedikit merah! Kau itu keras kepala atau memang otaknya sudah geser, sih?"
Ferdi mengenakan sepatu bot kulitnya dan mengambil belati cadangan. "Persediaan daging hutan kita menipis. Aku butuh sesuatu yang lebih besar dari sekadar ayam. Tenanglah, aku hanya ke pinggiran hutan."
"Hanya ke pinggiran?! Kemarin kau bilang begitu dan pulang dengan luka robek! Kalau kau pergi lagi, aku tidak akan menyisakan sup jagung untukmu! Biarkan saja kau makan dedaunan!" Vani mengomel tanpa henti, namun matanya menatap cemas pada sosok tinggi yang mulai menjauh itu.
"Ferdi! Kembali sebelum siang! Kalau tidak, aku akan menyuruh bangsa Elf mengurungmu di pohon!"
Ferdi hanya mengangkat tangan tanpa menoleh. Di balik ketenangannya, tubuhnya sebenarnya terasa berat. Luka dari Shadow Stalker kemarin memberikan sensasi panas yang menjalar, namun egonya sebagai mantan raja tak membiarkannya terlihat lemah di depan wanita yang ia cintai.
Maut di Balik Pohon Perak
Langkah Ferdi melambat saat ia memasuki area hutan yang lebih rimbun. Bau amis yang sangat pekat menusuk hidungnya. Tiba-tiba, dari dua arah berbeda, dua pasang mata ungu menyala. Dua ekor Shadow Stalker—kali ini lebih besar dan lebih lapar—mengepungnya.
"Dua sekaligus? Kalian benar-benar tidak memberiku waktu untuk bernapas," gumam Ferdi, mencoba mengatur napasnya yang mulai terasa pendek.
Salah satu serigala melompat, mengincar lehernya. Ferdi berguling di tanah, namun luka di bahunya berdenyut hebat, membuat gerakannya melambat. Serigala kedua mengambil kesempatan itu untuk menerjang punggungnya. Cakar tajam merobek zirah kain Ferdi, menciptakan luka dalam di punggungnya.
Ferdi mengerang, rasa sakit yang membakar menghantam sarafnya. Namun, insting membunuhnya bangkit. Dengan satu gerakan cepat, ia menusukkan belatinya ke jantung serigala pertama, lalu menggunakan tubuh hewan itu sebagai tameng saat serigala kedua menyerangnya. Dalam pertarungan hidup mati yang brutal itu, Ferdi berhasil menghabisi keduanya, namun harganya sangat mahal.
Darah segar mengalir deras dari punggung dan bahunya. Pandangannya mulai kabur. Hutan perak Aethelgard seolah berputar. Vani pasti akan mengamuk jika melihatku seperti ini... batinnya sebelum kegelapan merenggut kesadarannya.
Beruntung, sekelompok pemburu Elf dipimpin oleh Elrond sedang melintasi jalur tersebut. Mereka tertegun melihat pemandangan itu.
"Ini pria yang tinggal dengan wanita manusia itu," bisik salah satu Elf. "Tunggu... lihat bekas lukanya. Pola serangan ini... dia adalah Ferdi! Sang Raja Kegelapan yang legendaris dari Nocturnis!"
Elrond segera memeriksa nadinya. "Cepat bawa dia pulang! Jika dia mati di sini, hutan ini akan kehilangan pelindungnya yang paling kuat."
(Tangisan di Tengah Malam)
Vani sedang mondar-mandir di ruang tamu, jari-jarinya saling bertautan dengan gelisah. Jam dinding kayu sudah menunjukkan pukul delapan malam. Sup jagungnya sudah dingin, dan hatinya jauh lebih dingin karena ketakutan.
Tiba-tiba, pintu depan terbuka kasar. Elrond dan dua Elf lainnya memapah tubuh Ferdi yang bersimbah darah dan tak sadarkan diri.
"Ferdi!" Vani menjerit, suaranya pecah. Dunia seolah runtuh saat ia melihat wajah pucat pria itu.
"Kami menemukannya di hutan dalam. Dia melawan dua pemangsa sekaligus,"
lapor Elrond sebelum mereka membaringkan Ferdi di sofa.
Setelah para Elf pergi, Vani jatuh terduduk di lantai. Air matanya mengalir deras, membasahi pipinya yang memerah.
"Bodoh! Dasar pria bodoh! Kenapa kau tidak pernah mendengarkanku?!"
teriaknya sambil terisak, namun tangannya dengan cepat mengambil air hangat dan kain bersih.
Vani duduk di lantai, meletakkan kepala Ferdi di atas pangkuannya. Dengan tangan bergetar, ia membersihkan luka di punggung dan bahu Ferdi. Setiap kali ia menyentuh luka itu, Vani menangis makin kencang.
"Jangan mati... kumohon jangan mati, Ferdi. Aku tidak peduli kau kaku, aku tidak peduli kau menyebalkan... tapi jangan tinggalkan aku sendirian di sini," bisik Vani di tengah isak tangisnya. Ia terjaga hingga tengah malam, terus mengganti kompres di dahi Ferdi dan merapalkan doa-doa cahaya yang paling murni untuk menutup luka-lukanya.
Sekitar pukul dua pagi, jari-jari Ferdi bergerak sedikit. Matanya terbuka perlahan, menatap langit-langit gubuk yang remang-remang. Hal pertama yang ia rasakan adalah bantal yang sangat empuk dan hangat—yang ternyata adalah paha Vani. Ia juga mendengar suara isakan pelan yang sangat memilukan.
Ferdi melihat Vani yang tertunduk, wajahnya sembab dan matanya merah karena terlalu banyak menangis. Sebuah ide jahil melintas di pikirannya yang masih sedikit linglung.
"Vani..." suara Ferdi terdengar sangat parau dan lemah, hampir seperti bisikan terakhir.
Vani tersentak, ia menunduk menatap Ferdi. "Ferdi! Kau sadar? Oh, syukurlah! Tunggu, aku ambilkan minum—"
"Tidak perlu..." Ferdi memegang tangan Vani dengan lemah. "Rasanya... waktuku sudah habis. Kekuatan kegelapanku... sudah padam."
"Jangan bicara begitu! Jangan berani-berani bicara begitu!" Vani menangis lagi, air matanya jatuh tepat di pipi Ferdi.
"Terima kasih... sudah menemaniku di desa ini," bisik Ferdi, matanya mulai tertutup setengah. "Maafkan aku karena selalu... kaku. Aku... aku mencintaimu, Vani. Selamat... tinggal."
Ferdi kemudian melemaskan tubuhnya, menutup matanya rapat-rapat, dan menahan napasnya dengan teknik meditasi yang ia kuasai sebagai raja.
"Ferdi? Ferdi! Bangun! Jangan bercanda!" Vani mengguncang bahu Ferdi, namun pria itu tidak bergerak. "FERDI! TIDAK! JANGAN PERGI! Aku menyayangimu, Ferdi! Aku sangat menyayangimu! Aku akan melakukan apa saja, aku tidak akan cerewet lagi, aku akan memasak apapun untukmu, tapi jangan tinggalkan aku!"
Vani memeluk kepala Ferdi erat-erat, tangisannya pecah menjadi raungan yang memilukan. "Aku sayang padamu... kumohon, kembali..."
Tiba-tiba, dada Ferdi bergetar. Suara tawa rendah keluar dari tenggorokannya. Ia membuka mata dan tertawa terbahak-bahak meskipun punggungnya terasa nyeri.
"Hahaha! Jadi kau benar-benar tidak akan cerewet lagi, Vani?"
Vani mematung. Isak tangisnya berhenti seketika. Ia melepaskan pelukannya dan menatap Ferdi yang sedang tertawa puas di pangkuannya.
"Kau... KAU PURA-PURA MATI?!" Vani berteriak dengan nada yang bisa meruntuhkan atap gubuk.
"Wajahmu lucu sekali saat menangis, Ratu Cahaya," ujar Ferdi sambil menyeringai, mencoba duduk meskipun meringis sedikit. "Dan aku tidak tahu kalau kau bisa bicara sesentimental itu. 'Aku sangat menyayangimu', katanya? Manis sekali."
"KAU... KAU PRIA PALING JAHAT DI SELURUH DUNIA! KAU LEBIH BURUK DARI IBLIS!" Vani berdiri, mengambil bantal sofa, dan memukulkannya berkali-kali ke arah Ferdi. "Aku sudah menangis sampai mataku bengkak, aku sudah ketakutan setengah mati, dan kau malah menjadikannya lelucon?!"
"Aduh! Vani, luka punggungku!" Ferdi mencoba menghindar sambil tetap tertawa.
"BIARKAN SAJA! BIARKAN LUKAMU TERBUKA LAGI! Aku akan memberimu racun di sup jagungmu besok pagi!" Vani terus mengomel, namun di balik amarahnya yang meledak-ledak, ia merasa sangat lega. Ia kembali duduk dan menutup wajahnya dengan tangan, bahunya masih bergetar. "Jangan pernah... jangan pernah lakukan itu lagi, Ferdi. Aku benar-benar takut kehilanganmu."
Ferdi berhenti tertawa. Ia menarik Vani ke dalam pelukannya, meski Vani sempat memukul dadanya sekali lagi sebagai protes. "Maafkan aku. Aku tidak akan mati semudah itu. Aku masih harus mendengar omelanmu sampai lima puluh tahun lagi, kan?"
"Tujuh puluh tahun! Dan kau akan mendengarnya setiap jam!" balas Vani ketus, meski akhirnya ia menyandarkan kepalanya di bahu Ferdi yang tidak terluka.
Di luar gubuk, kabut Aethelgard menyelimuti malam yang damai. Perang mungkin telah memisahkan mereka dari dunia, namun cinta yang diawali dengan gengsi dan diakhiri dengan tawa itu telah membuat mereka menemukan "kerajaan" yang jauh lebih nyata daripada takhta mana pun.