Putri Duke dari Kerajaan Aurelius, Elara Ravens, dikenal sebagai pewaris pedang keluarga. Namun sejak kecil ia selalu kalah dari kembarannya, dan selalu dibandingkan dan dicemooh sebagai kegagalan.
Tanpa menyadari bahwa tubuh Elara menyimpan sihir besar yang pernah meledak saat ia berusia tiga tahun dan kemudian disegel.
Sampai sebuah undangan datang dari Kerajaan sihir, Elara memilih pergi ke akademi sihir dan ingin menaklukkan kekuatan dalam dirinya.
Di sana ia bertemu kembali dengan Aaron Oberyn, Rank 1 akademi dan teman masa kecilnya. Di tengah sistem ranking yang kejam dan tatapan meremehkan, Elara harus membuktikan bahwa ia bukanlah kegagalan atau aib keluarga.
Apakah Elara akan menjadi kesatria pedang atau memilih menjadi penyihir kelak?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Archiemorarty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10. KEBERANGKATAN
Dua bulan telah berlalu sejak hari ketika arena kerajaan membungkam kesombongan akademi.
Dua bulan sejak energi sihir liar yang mengamuk di tubuh Elara akhirnya berhasil dinetralkan sepenuhnya oleh Arram.
Dan pagi itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, udara di kediaman Ravens terasa ringan.
Matahari menggantung terang di atas arena latihan ketika denting pedang kembali terdengar.
Bukan denting yang ragu.
Bukan denting yang goyah.
Melainkan denting yang tegas.
Elara berdiri di tengah lingkaran kesatria Ravens. Rambut hitamnya diikat tinggi. Tubuhnya sudah kembali kuat. Tatapannya jernih.
"Ulangi dari awal," perintah sang ketua kesatria Ravens, Colton yang menjadi guru berpedang Elara selama beberapa waktu belakangan.
Elara mengangguk. Kakinya bergeser. Satu langkah maju.
Tebasan diagonal.
Putaran.
Tusukan lurus.
Gerakannya bersih.
Lebih halus dari sebelumnya.
Lebih terkendali.
Keringat menetes di pelipis Elara, tetapi napasnya stabil.
Dua bulan istirahat bukan berarti dua bulan tanpa perjuangan.
Elara mengisi hari-harinya dengan pemulihan perlahan, meditasi pernapasan yang diajarkan Arram, dan latihan fisik ringan sebelum akhirnya kembali sepenuhnya ke lapangan.
Kini gadis itu berdiri lagi di tempat yang paling ia pahami.
Pedang di tangannya terasa seperti bagian dari dirinya sendiri.
Di sisi lapangan, Evan menyilangkan tangan di dada. Tatapannya mengikuti setiap gerakan adiknya.
"Posturnya lebih kokoh," ucap Evan pelan.
Rowan, yang berdiri di sampingnya, mengangguk tipis. "Dia belajar mengendalikan tenaga dari pusat tubuhnya. Paman mengajarinya sesuatu yang baru. Gerakannya setelah segel sihir itu dilepas, Elara jadi lebih berstamina."
Evan mendengus kecil. "Benar. Dia bahkan tidak berhenti berlatih saat tahu kelemahannya dalam stamina telah hilang, mengingat karena segel itu yang rupanya membatasi Elara."
Di tengah arena, Elara beradu pedang dengan kesatria senior.
Benturan baja terdengar nyaring.
Serangan lawan cepat.
Namun Elara tak lagi terburu-buru. Ia membaca arah angin. Merasakan tekanan di pergelangan tangan.
Lalu dengan satu gerakan halus ... ia mengalihkan pedang lawan dan memutar tubuhnya.
Ujung pedangnya berhenti tepat di dada kesatria senior itu.
Hening satu detik.
Kemudian tepuk tangan terdengar. Kesatria itu tersenyum lebar.
"Bagus, Nona. Anda sudah bekerja keras," kata sang kesatria.
Elara menurunkan pedangnya dan berkata, "Terima kasih juga sudah membantuku."
Di kejauhan, Duke Alaric Ravens memerhatikan dalam diam. Wajahnya tetap santai seperti biasa, namun ada kilat bangga yang tak bisa disembunyikan di matanya.
Putrinya telah kembali.
Bukan hanya pulih.
Tetapi lebih kuat.
Siang itu, ketika Elara baru saja selesai mandi dan mengganti pakaian, seorang pelayan berlari kecil menuju ruang duduk utama.
"Nyonya! Surat resmi datang!"
Liora yang sedang menyusun bunga di vas menoleh cepat. "Dari mana?"
"Dari Kerajaan Oberyn, Nyonya," jawab sang pelayan.
Nama itu membuat ruangan mendadak sunyi.
Elara yang baru masuk berhenti di ambang pintu.
Kerajaan Oberyn, tempar yang akan segera Elara datangi.
Liora menerima surat itu dengan tangan sedikit gemetar karena gugup.
Segelnya bukan sembarang segel.
Lambang menara perak dengan lingkaran sihir di sekelilingnya.
Liora membukanya perlahan.
Membaca.
Matanya membesar.
"Elara ..." Suara Liora bergetar.
Elara mendekat. "Apa, Mama?"
Liora menatap putrinya dengan mata yang mulai berkaca-kaca. "Kau diterima, Sayang."
Elara terdiam. "Diterima?"
"Di Akademi Sihir Oberyn." Liora menunjukkan surat itu kepada Elara.
Nama itu tertulis jelas di kertas resmi berstempel kerajaan: Akademi Sihir Oberyn
Elara menelan ludah. Ia bahkan belum sempat benar-benar memikirkan kemungkinan itu.
Duke Arram memang pernah mengatakan akan mencoba mengurus sesuatu.
Namun Elara tidak menyangka semuanya bergerak secepat ini.
Dan tentu saja nama Duke Arram Oberyn tercantum sebagai wali resmi selama Elara berada di Oberyn.
Liora tiba-tiba menarik Elara ke dalam pelukannya dan berkata, "Selamat, Sayang. Ini jalan barumu."
Elara mematung sesaat. Kemudian perlahan membalas pelukan itu. Dadanya terasa hangat ... dan sekaligus sesak.
"Mama?" panggil Elara. Ia tertawa kecil gugup. "Apakah aku benar-benar bisa menjadi murid di sana?"
Liora melepas pelukan, menatap wajah putrinya. "Kenapa kau bertanya begitu?"
"Aku tidak pernah tahu apa pun tentang sihir," Elara mengaku jujur. "Yang kutahu hanya berpedang. Aku bahkan tidak bisa merasakan aliran mana seperti Paman Arram. Bagaimana kalau aku justru menjadi murid paling bodoh di sana?"
Liora tersenyum lembut. Ia menyentuh pipi Elara lalu berkata, "Elara, kau lupa satu hal."
"Apa?"
"Kau selalu memulai dari nol, bukan?" ujar Liora tersenyum.
Elara mengerjap.
"Ketika pertama kali memegang pedang, kau bahkan tidak bisa mengangkatnya dengan benar," lanjut Liora sambil tertawa kecil. "Tapi lihat sekarang."
Elara tersipu malu.
"Oberyn mungkin lebih keras dibandingkan akademi di Aurelius," kata Liora jujur. "Kerajaan itu sangat besar. Mereka selalu menghasilkan orang-orang hebat dari akademinya."
Nama kerajaan itu memang bergema kuat di benua.
"Justru itu kesempatan bagus untukmu," lanjut Liora. "Untuk mengepakkan sayapmu lebih lebar. Melihat bagaimana dunia luar bekerja. Tidak hanya sebagai putri Duke. Tetapi sebagai dirimu sendiri."
Elara mengangkat wajahnya perlahan..Tatapannya mulai berubah..Bukan lagi ragu. Melainkan berpikir.
Lalu perlahan ... Elara tersenyum. "Aku akan melakukannya."
Liora mengangkat alis. "Elara?"
"Aku tidak akan menyerah di sana." Nada suara Elara tegas..Sama seperti ketika ia berdiri di lapangan latihan.
Liora tertawa kecil.
"Sasa?!" seru Liora tiba-tiba.
Pelayan setia itu muncul hampir seketika. "Ya, Nyonya?!"
"Bantu aku menyiapkan semua keperluan kepergian Elara ke Oberyn! Jangan sampai ada yang terlewatkan!" ujar Liora penuh kesenangan.
Sasa langsung menegakkan punggungnya penuh semangat. "Baik, Nyonya!"
Elara tak bisa menahan tawanya melihat ibunya yang mendadak sibuk memberi instruksi.
"Kita butuh pakaian musim dingin tambahan!"
"Dan buku catatan kosong!"
"Dan ramuan kesehatan!"
Sasa mengangguk cepat sambil mencatat.
"Dan-"
"Mama?" sela Elara sambil tertawa, "aku hanya pergi belajar, bukan pindah selamanya."
Liora menatapnya dengan wajah serius. "Bagi seorang ibu, itu hampir sama. Putriku tidak boleh kurang satu pun saar di sana."
Elara kembali tertawa..Namun jauh di dalam dadanya, ia tahu perjalanan ini akan mengubah segalanya.
Sampai ...
Hari keberangkatan tiba lebih cepat dari yang ia kira.
Kereta kerajaan dengan lambang Ravens telah disiapkan sejak pagi.
Langit cerah.
Angin berembus lembut.
Seluruh keluarga berkumpul di halaman depan kediaman.
Alaric berdiri tegap seperti biasa.
Evan di sampingnya.
Rowan sedikit di belakang.
Gideon, para pelayan, hingga barisan kesatria Ravens berjajar rapi.
Beberapa wajah terlihat ceria.
Beberapa menahan sedih.
Beberapa jelas tidak rela.
Elara melangkah keluar dengan mantel perjalanan berwarna biru tua.
Tas kecil tergantung di bahunya.
Pedang kesayangannya tetap berada di pinggang.
Liora langsung memeluknya erat. "Jangan lupa makan teratur."
"Iya, Mama," jawab Elara.
"Jangan terlalu memaksakan diri."
"Iya, Mama."
"Kalau ada yang mengganggumu-"
"Mama," Elara tertawa pelan. "Aku bisa menjaga diriku."
Liora terdiam sejenak.
Lalu tersenyum. "Aku tahu."
Alaric mendekat, memeluk putrinya erat dan tangannya terangkat dan diletakkan di kepala Elara, mengelusnya.
"Kau membawa nama Ravens," kata Alaric tenang. "Tetapi kau juga membawa namamu sendiri. Jadilah dirimu sendiri di sana dan temukan teman yang baik "
Elara mengangguk serius. "Aku tidak akan mempermalukan keluarga."
Alaric menatapnya. "Papa tidak pernah khawatir tentang itu. Bagaimana pun dirimu. Kau tetap putri Papa."
Jawaban itu membuat dada Elara terasa penuh.
Evan mendekat berikutnya. Ia mengacak rambut adiknya. "Kalau ada yang berani meremehkanmu, kirim surat. Aku akan datang."
Elara mendengus lalu menatap kembarannya itu dan berkata, "Maaf aku berteriak padamu saat itu."
Evan tersenyum miring. "Sudah biasa. Jika aku dalam posisimu, aku juga mungkin akan sepertimu."
Rowan maju selanjutnya, tatapannya lembut dan hangat seperti biasa. "Latihan pedangmu jangan ditinggalkan. Tapi juga harus istirahat yang cukup, ingat."
"Baik, Kak!" seru Elara semangat.
Rowan memeluk adik perempuannya itu dan berkata, "Aku akan merindukanmu nanti."
Elara mengangguk dan balas memeluk. "Aku juga akan merindukan kalian."
Rowan tersenyum tipis, tidak rela rasanya jauh dari sang adik.
Gideon menunduk hormat. "Perjalananmu akan aman, Nona."
"Terima kasih, Gideon," ucal Elara dengan senyum lebar.
Para kesatria Ravens mengangkat tangan ke dada mereka sebagai salam kehormatan.
"Nona Elara Ravens!"
Elara menoleh.
"Buat kami bangga!"
Beberapa pelayan sudah mengusap mata mereka.
Sasa bahkan menangis terang-terangan.
Elara menatap semua wajah itu satu per satu.
Rumahnya.
Orang-orangnya.
Tempat ia tumbuh.
Tempat ia jatuh dan bangkit.
Elara menarik napas panjang.
Lalu membungkuk dalam-dalam. "Terima kasih untuk segalanya. Sampai jumpa lagi."
Liora kembali memeluk Elara sebentar sebelum akhirnya melepas dengan berat hati.
Kereta mulai bergerak. Roda berderit pelan di atas jalan berbatu.
Elara menoleh ke belakang. Melihat keluarganya semakin kecil. Namun tidak pernah terasa jauh. Tangannya mengepal di atas lutut.
Di depan sana menunggu dunia baru.
Akademi baru.
Tantangan baru.
Dan mungkin ... versi baru dari diri Elara sendiri.
Saat gerbang kediaman Ravens tertutup perlahan di belakangnya, Elara tidak merasa kehilangan.
Ia merasa terbang.
Menuju langit yang lebih luas.
Menuju sayap yang akhirnya benar-benar terbentang.
Dan masalah yang baru juga.
𝐦𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐧𝐲𝐚𝐧𝐲𝐢 𝐥𝐚𝐠𝐮𝐧𝐲𝐚 𝐝𝐩 🤪🤪
menjadi dewasa,dengan beban dan kewajiban yg mengikuti.
bahkan kita sudah lupa kapan terakhir kita bisa tertawa lepas 🥹
panik donk😜🤣🤣
hyper nya 🤣🤣😜
ya anda coba aja rasakan😜