NovelToon NovelToon
Cinta Diruang Trauma

Cinta Diruang Trauma

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Single Mom
Popularitas:155
Nilai: 5
Nama Author: Anjelisitinjak

Bagaimana rasanya dihancurkan oleh orang-orang yang seharusnya melindungimu? Dari orang tua yang egois hingga 'cinta' yang berujung pada tindak kriminal dan hilangnya kehormatan. Novel ini adalah perjalananku menghadapi kenyataan bahwa dunia tidak pernah adil. Tentang bagaimana berdiri di antara pengkhianatan keluarga dan trauma masa remaja yang merusak harga diri. Saat pintu-pintu baru mulai terbuka, justru ingin lari. Karena tahu, tidak semua yang datang berniat menyembuhkan beberapa mungkin hanya ingin mematahkan apa yang sudah retak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjelisitinjak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bagian 16

Suasana kafe sore itu terasa sangat santai, kontras dengan ketegangan di gedung wisuda tadi pagi. Kami sudah mengganti kebaya dan jas yang gerah itu dengan pakaian kasual. Aku memakai oversized shirt dan celana jeans, sementara yang lain juga tampak lebih rileks.

​Kami duduk melingkar di meja panjang. Aroma kopi dan suara tawa kami memenuhi ruangan.

​"Gila ya," Yogi memulai sambil menyandarkan punggungnya ke kursi.

"Gue tadi pas di panggung bener-bener nahan napas. Pas tali toga gue dipindah, gue takut Pak Rektor salah tarik malah narik rambut gue yang udah gue pomade-in sejam!"

​"Dih, rambut lo doang yang dipikirin!" sahut Renata sambil menyenggol pacarnya itu.

"Lo nggak liat tadi pas Hana maju? Itu satu gedung hening, Gi. Lulusan terbaik kita emang nggak ada lawan!"

​Dhea mengangguk antusias sambil menyeruput icet americano nya.

"Iya! Hana tadi pas di podium mukanya anggun banget. Beda banget sama pas lagi panik nyari referensi jurnal di perpus yang rambutnya udah kayak singa."

​"Enak aja!" balasku tertawa sambil melempar bungkus sedotan ke arah Dhea.

"Tapi beneran deh, yang paling lucu itu tadi si Tomi. Kalian liat nggak pas dia foto bareng keluarganya? Gayanya formal banget, tapi kancing kemejanya ada yang salah pasang satu di bawah."

​Sontak semua mata tertuju pada Tomi. Dia langsung mengecek kemejanya dengan panik.

"Hah? Serius? Masa sih? Wah, rusak citra gue sebagai cowok keren!"

​"Hahaha! Telat, Tom! Udah masuk memori selamanya itu," ledek Diva sambil tertawa lepas.

​Tomi berdeham, mencoba mengembalikan wibawanya.

"Eh, tapi kalian inget nggak sih detik-detik sebelum kita masuk gedung tadi? Dhea panik banget gara-gara hak sepatunya nyangkut di celah ubin. Udah kayak adegan film horor, dia narik-narik kaki sambil komat-kamit."

​"Heh! Itu kan karena ubinnya yang nggak rata, bukan salah gue!" protes Dhea dengan wajah memerah, yang justru membuat tawa kami semakin pecah.

​Aku ikut menimpali sambil tersenyum lebar ke arah mereka.

"Tapi yang paling epic itu pas sesi makan sama orang tua tadi. Papa aku sama Papa Tomi udah kayak temen lama yang lagi bahas proyek negara. Padahal baru kenalan dua menit."

​"Gue curiga mereka mau bikin rencana buat jodohin kalian, Han," celetuk Yogi asal yang langsung disambut sorakan

"Cieeee!" dari Diva, Dhea, dan Renata.

​Wajahku terasa panas. Aku melirik Tomi yang ternyata juga sedang menatapku sambil nyengir canggung.

​"Kalo itu sih, gue nggak keberatan," jawab Tomi santai dengan nada bercanda yang membuat suasana makin riuh oleh godaan teman-teman.

​Sore itu benar-benar menjadi momen pelepasan penat yang sempurna. Kami membahas dari hal konyol di semester satu sampai dosen-dosen "killer" yang akhirnya kami taklukkan. Sejenak, aku benar-benar melupakan semua beban hidupku. Aku hanya ingin menjadi Hana yang baru, yang bebas dan bahagia.

Pukul tujuh malam lewat sedikit, suasana kafe mulai berubah temaram dengan lampu-lampu gantung yang hangat. Kami akhirnya memutuskan untuk bubar karena energi kami sudah terkuras habis oleh tawa dan euforia wisuda sejak pagi.

Karena tadi aku berangkat ke kafe menumpang mobil Diva, sekarang aku tidak punya kendaraan untuk pulang. Tomi yang menyadari itu langsung menawarkan bantuan tanpa diminta.

"Han, bareng aku aja yuk? Udah malam, nggak enak kalau kamu harus pesen ojol bawa tas ijazah segede itu," ajak Tomi sambil memutar kunci mobil di jarinya.

Aku mengangguk setuju. "Boleh deh, Tom. Makasih ya, jadi ngerepotin terus."

"Nggak ada kata repot buat lulusan terbaik kebanggaan kita," godanya sambil membukakan pintu mobil untukku.

Di dalam mobil, suasana sama sekali tidak canggung.

Tomi menyalakan musik indie bervolume rendah, tapi suaranya lebih sering kalah oleh ceritanya yang tidak ada habisnya. Dia mulai menceritakan bagaimana tadi pagi dia hampir saja memakai kaus kaki yang bolong di bagian jempol karena buru-buru.

"Kamu bayangin, Han, kalau tadi pas di panggung aku disuruh buka sepatu karena alasan protokol keamanan atau apa gitu? Bisa jatuh harga diri aku sebagai idola kampus!" ceritanya dengan ekspresi yang sangat dramatis.

Aku tertawa terbahak-bahak sambil memegangi perutku.

"Ya ampun, Tom! Kamu tuh emang beneran nggak ada persiapan banget ya?"

"Persiapan fisik sih ada, tapi mental buat jadi pendamping lulusan terbaik itu yang susah," balasnya sambil melirikku sekilas dan tersenyum nakal.

"Aku tuh dari tadi mikir, 'Duh, Hana cantik banget ya hari ini, kalau aku salah ngomong sedikit aja, bisa-bisa pesonaku luntur'."

"Bisa aja kamu!" aku memukul bahunya pelan, merasa wajahku memanas karena pujiannya yang tiba-tiba.

Perjalanan yang seharusnya terasa lama karena macet, jadi tidak terasa karena obrolan kami yang mengalir. Tomi selalu punya cara untuk membuatku merasa spesial tanpa harus terlihat berlebihan.

Begitu mobil berhenti di depan gerbang rumahku Papa dan Mama ternyata sedang duduk di teras depan, menikmati udara malam. Tomi dengan sopan mematikan mesin dan turun dari mobil untuk mengantarku sampai ke teras.

"Malam, Om, Tante," sapa Tomi dengan sikap yang sangat santun, menyalami tangan Papa dan Mama.

"Maaf, mengantarkan Hana pulangnya agak malam."

Papa tersenyum lebar, tampak sangat menyukai sikap Tomi.

"Oh, Nak Tomi. Nggak apa-apa, tadi Papa juga sudah dibilangin Hana kalau mau kumpul sebentar sama teman-teman. Makasih ya sudah diantar sampai depan pintu."

"Iya, Nak Tomi. Ayo mampir dulu sebentar, minum teh?" tawar Mama dengan ramah.

"Terima kasih tawarannya, Tante, tapi sepertinya saya harus langsung pamit. Takut dicariin Mama di rumah, katanya mau ada syukuran kecil-kecilan juga," jawab Tomi halus.

"Wah, salam buat Mama kamu ya kalau gitu. Selamat juga buat kelulusan kamu," ucap Papa sambil menepuk pundak Tomi.

Tomi berpamitan sekali lagi, lalu menoleh ke arahku sebelum masuk ke mobil.

"Duluan ya, Han. Istirahat yang cukup. Kamu hebat hari ini."

Aku melambai kecil sampai mobilnya hilang di tikungan jalan. Saat aku berbalik, aku mendapati Papa dan Mama sedang menatapku dengan senyum penuh arti yang membuatku jadi salah tingkah.

Malam itu, meja makan di rumah terasa begitu hangat. Papa dan Mama benar-benar menyiapkan segalanya makanan rumahan favoritku tertata rapi, mulai dari rendang kesukaanku sampai sup ayam hangat yang aromanya memenuhi ruangan. Kami makan dengan tenang, namun suasana jauh dari kata sunyi karena Papa dan Mama tak henti-hentinya membahas momen di panggung tadi.

"Papa tadi hampir saja berdiri dan teriak pas nama kamu disebut sebagai lulusan terbaik," ujar Papa sambil tertawa kecil, menyuap nasi dengan wajah yang terlihat jauh lebih rileks dari biasanya.

Mama mengangguk setuju, matanya masih terlihat sedikit sembab karena terlalu banyak menangis haru.

"Iya, Nak. Mama benar-benar nggak menyangka. Rasanya semua perjuangan kamu terbayar tuntas hari ini. Kamu hebat, Hana."

Aku tersenyum tulus, merasakan kehangatan yang menjalar di dadaku.

"Ini juga berkat dukungan Papa sama Mama. Makasih ya sudah ada buat Hana."

Tiba-tiba, Papa meletakkan sendoknya dan menatapku dengan serius tapi penuh semangat.

"Han, Papa sudah berpikir. Bagaimana kalau minggu depan kita buat acara syukuran kecil-kecilan di rumah? Kita undang saudara-saudara, tetangga, dan mungkin teman-teman dekat kamu. Papa mau semua orang tahu kalau putri Papa sudah jadi sarjana yang membanggakan."

Mendengar itu, jantungku berdegup sedikit lebih cepat. Bayangan kerumunan orang di rumah dan kemungkinan Gangguan dari luar mendadak melintas di pikiranku. Aku ingin menjaga ketenangan ini sesederhana mungkin.

"Ehh... nggak usah, Pa," jawabku pelan sambil mencoba tetap tenang.

"Makan malam seperti ini saja Hana sudah senang banget. Lagian Hana lebih suka suasana yang tenang begini, cuma kita bertiga. Syukurannya lewat doa saja sudah cukup kok, Pa."

Mama menatapku, seolah mencoba membaca apa yang ada di pikiranku.

"Kamu yakin, Sayang? Papa cuma mau merayakan kesuksesan kamu."

"Yakin, Ma. Hana cuma pengen menikmati waktu berkualitas sama Papa dan Mama tanpa harus repot mengurus acara besar. Kita kan baru saja mulai tenang seperti ini, Hana nggak mau kehilangan momen intimnya," balasku meyakinkan mereka.

Papa akhirnya mengangguk meski terlihat sedikit kecewa, tapi ia menghargai keputusanku.

"Ya sudah, kalau itu mau kamu. Yang penting kamu bahagia hari ini."

Setelah makan malam selesai dan aku membantu Mama membereskan piring, aku pamit untuk ke kamar dengan alasan lelah.

Namun, begitu pintu kamar tertutup dan aku merebahkan diri di kasur, rasa damai itu perlahan terkikis oleh rasa penasaran yang menghantui.

Aku mengambil tas wisudaku dan mengeluarkan ponsel yang sengaja aku abaikan sejak sore. Dengan napas tertahan, aku menyalakan layarnya.

Aku menghela napas panjang, jariku terasa dingin saat menggulir layar ponsel. Seperti yang sudah kuduga, deretan pesan dari Wira memenuhi kolom notifikasi. Namun, ada satu pesan panjang yang membuat jantungku mencelos.

•kamu hebat Hana, Aku nunggu kabar kamu, tapi kamu diam saja. Aku bingung, Han. Selama ini aku mencoba ikhlas menjalani hukumanku, bertahan di sini karena aku pikir kamu masih merindukanku. Tapi ternyata setelah aku bebas, kamu seolah nggak peduli lagi•

Jantungku berdegup kencang saat membaca kalimat berikutnya:

•Aku nekat datang ke rumah lama kamu, Han. Aku mau cari kamu. Tapi ternyata rumah itu sudah kosong. Tetangga bilang kalian sudah sangat lama pindah dari kota itu. Kamu benar-benar berniat buang aku dari hidup kamu •

Aku terduduk lemas di pinggir tempat tidur. Tubuhku gemetar. Ya, Wira benar. Dua tahun setelah tragedi yang menghancurkan hidupku itu setelah bayiku pergi dan Wira mendekam di penjara Papa dan Mama memutuskan untuk menjual segalanya. Kami pindah ke kota ini, memulai hidup baru di mana tidak ada satu pun orang yang tahu tentang masa laluku.

Di kota inilah aku menemukan kembali diriku. Aku kuliah, bertemu Diva dan Dhea yang tulus, dan bisa tertawa tanpa bayang-bayang masa kelam itu. Aku pikir aku sudah berhasil melarikan diri. Aku pikir jarak ratusan kilometer ini bisa menghapus jejak Wira selamanya.

Tapi sekarang, Wira sudah di luar. Dan dia mulai mencari.

"Maaf, Wir..."

bisikku lirih ke arah layar ponsel.

"Aku bukan nggak peduli. Aku cuma baru saja mulai belajar cara bernapas lagi tanpa rasa sakit."

Aku menatap foto wisudaku yang baru saja dikirimkan Tomi di grup WhatsApp. Di foto itu aku terlihat sangat bahagia. Kontras sekali dengan perasaanku sekarang yang tiba-tiba diselimuti ketakutan.

1
li l
next part thor up jam berapa 🤭
Anjeli: hehe ditunggu ya jangan lupa like dan vote nya🫶😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!