NovelToon NovelToon
Rangga (Cinta Yang Belum Usai)

Rangga (Cinta Yang Belum Usai)

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Romansa / Sci-Fi
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Hanela cantik

Rangga adalah pria sederhana yang hidup serba kekurangan, namun memiliki cinta yang tulus dan impian besar untuk membahagiakan kekasihnya. Selama bertahun-tahun, ia bertahan dengan pekerjaan kasar dan penghasilan pas-pasan, percaya bahwa cinta mereka cukup untuk melawan kerasnya hidup. Namun semuanya runtuh ketika ibu kekasihnya memutuskan menjodohkan sang putri dengan pria kaya demi masa depan yang dianggap lebih layak.

"maafin aku ya kak, aku ngga bisa lawan ibuku"

Rangga hanya bisa menatap kepergian sang kekasih yang mulai menjauh dari matanya yang mulai berembun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bertemu setelah lima tahun

Lima tahun telah berlalu, dan wajah bengkel di sudut jalan itu telah berubah total. Plang kayu lama yang dulu kusam kini berganti dengan papan neon elegan bertuliskan: "RG Custom Garage".

Bengkel itu kini resmi menjadi milik Rangga. Dua tahun lalu, Dimas harus mengambil alih perusahaan konstruksi milik ayahnya yang semakin besar dan membutuhkan pengawasan penuh. Karena tidak ingin bengkel bersejarah itu jatuh ke tangan orang asing, Dimas memutuskan untuk menjualnya kepada Rangga dengan harga persahabatan, yang dibayar Rangga melalui cicilan dari hasil kerja kerasnya.

Dan karena Rangga juga, bengkel itu semakin sukses dan terkenal. Selain memodifikasi, bengkelnya juga menerima perbaikan dari mulai hal-hal kecil. Seperti isi angin atau tambal ban.

Rangga berdiri di balik jendela kaca ruangannya. Ia baru saja selesai memeriksa laporan pengeluaran bulan ini. Sampai matanya menangkap sosok wanita di kejauhan.

Wanita itu tampak kepayahan, tubuhnya yang kecil mendorong sebuah motor matic di bawah terik matahari yang mulai menyengat. Rambutnya berantakan, dan keringat membasahi dahi serta bajunya. Ia tampak nyaris tumbang, wajahnya pucat karena kelelahan.

Rangga berjalan keluar, bukan karena ia tahu siapa wanita itu, tapi karena naluri pemilik bengkel yang melihat seseorang membutuhkan bantuan. Rian sudah lebih dulu mendekat ke gerbang.

"Aduh, Neng. Jauh ya dorongnya? Mari sini bawa masuk dulu," suara Rian terdengar ramah.

Wanita itu mengatur napasnya yang tersengal, ia menunduk sambil memegang lututnya. "Iya, Mas... Maaf... ban saya kempes... saya sudah jalan jauh sekali dari arah Lembang, tapi tidak ketemu bengkel yang buka..."

Suaranya gemetar. Begitu ia mendongak untuk mengusap keringat, jantung Rangga seolah berhenti berdetak sesaat.

Ayu.

Itu adalah Ayu. Namun, tidak ada kemewahan yang dulu melekat padanya. Sangat jauh berbeda dengan lima tahun yang lalu. Tubuhnya juga sekarang makin kurusan.

Ayu terpaku. Matanya membelalak melihat sosok pria di depannya. Rangga berdiri dengan kemeja mekanik hitam yang rapi, jam tangan mewah melingkar di pergelangan tangannya, dan aura wibawa yang sangat kuat terpancar dari cara ia berdiri. Bengkel megah di belakang pria itu adalah bukti nyata kesuksesannya.

"R-rangga?" bisik Ayu, suaranya hampir hilang karena kaget dan malu.

Rian menoleh ke arah bosnya. "Lho, kenal, Ga?"

Rangga diam selama beberapa detik. Tatapannya dingin, namun ada sedikit keterkejutan di balik matanya. Ia melihat ban motor Ayu yang benar-benar habis anginnya, lalu melihat tangan Ayu yang gemetar.

"Kang Rian, bawa motornya ke dalam. Cek bannya, kalau perlu ganti baru, ganti saja," ucap Rangga

Ia kemudian menatap Ayu tanpa ekspresi, seolah-olah wanita di depannya bukanlah orang yang pernah menghancurkan hatinya. "Masuklah. Di luar panas. Kamu bisa tunggu di ruang tunggu atau minta minum pada staf saya."

Ayu menunduk dalam, rasa malu kini jauh lebih besar daripada rasa lelahnya. "Terima kasih, Mas... Rangga. Maaf merepotkan... aku tidak tahu kalau ini bengkel kamu."

Rangga tidak menjawab. Ia hanya memberikan isyarat pada karyawannya untuk mengurus motor itu, lalu ia berbalik menuju ruangannya. Namun, sebelum menutup pintu kaca, ia sempat melihat Ayu yang duduk lesu di kursi tunggu, menatap lantai dengan tatapan kosong.

Ban dalam motor Ayu diganti dengan yang baru dalam waktu kurang dari lima belas menit. Sementara itu, Ayu tetap menunduk di ruang tunggu, tidak berani menyentuh air mineral yang disediakan staf.

"ini mbak motornya udah selesai"

"makasih mas"

Begitu motor siap, Ayu segera menghampiri kasir. Dengan tangan gemetar, ia merogoh tasnya dan mengeluarkan lembaran uang untuk membayar. Setelah transaksi selesai, ia bergegas menyalakan motornya dan pergi dari sana secepat mungkin, tanpa berani menoleh lagi ke arah ruangan kaca tempat Rangga berada.

Tepat saat motor Ayu meluncur keluar dari gerbang, sebuah mobil SUV hitam mewah masuk ke halaman bengkel. Itu adalah Dimas. Ia baru saja selesai dari urusan perusahaannya dan mampir

Dimas turun dari mobil dan sempat berpapasan dengan motor Ayu di gerbang. Ia mengerutkan dahi, matanya memicing mengikuti arah motor yang semakin menjauh itu.

"Lho, itu tadi..." Dimas bergumam tidak percaya.

Ia langsung melangkah lebar menuju ruangan kerja Rangga. Tanpa mengetuk, ia masuk dan menemukan sahabatnya itu sedang berdiri menatap keluar jendela, ke arah jalanan tempat Ayu baru saja menghilang.

"Ga! Lu lihat nggak siapa yang baru aja keluar dari bengkel lu?" tanya Dimas dengan nada mendesak.

Rangga tidak menoleh. Ia tetap membelakangi Dimas, kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana. "ohh itu bannya kempes. Sudah beres," jawabnya datar.

"ban kempes pala lu peang!" Dimas mendekat ke samping Rangga. "Itu Ayu, kan? Gue nggak mungkin salah lihat."

"Bukan urusan gue lagi, Dim."

"Ga, gue serius. Kenapa bisa si Ayu ada di Bandung? Dan kenapa tampilannya... ya ampun, jauh banget dari kata mewah," tanya Dimas dengan nada mendesak. "Bukannya dulu bapaknya sombong banget bilang mau nikahin dia sama pengusaha di kota kalian? Kenapa sekarang dia malah luntang-lantung dorong motor kempes di sini sendirian?"

Rangga mengalihkan pandangannya dari layar laptop, menatap Dimas dengan tenang. "Gue nggak nanya, Dim. Dan gue nggak merasa perlu tahu."

"Aneh aja, Ga," lanjut Dimas, tidak mempedulikan sikap dingin sahabatnya. "Bandung itu luas. Kenapa dari sekian banyak bengkel, dia bisa nyasar ke sini? Apa dia sengaja nyari lu? Atau jangan-jangan dia emang udah tinggal di sini?"

"Dim, gue sudah lama berdamai sama masa lalu itu. Gue nggak perlu lagi menyalahkan dia atau bapaknya atas apa yang terjadi lima tahun lalu. Kejadian itu yang justru bikin gue sampai di posisi sekarang, kan?"

Ia terdiam sejenak, memutar pulpen di tangannya. "Kalau dia ada di sini dan kelihatannya lagi sulit, ya itu jalan hidupnya. Gue nggak merasa perlu merasa puas di atas penderitaannya, tapi gue juga nggak punya kewajiban buat masuk lagi ke hidupnya. Urusan kami sudah selesai dengan baik-baik tadi, dia butuh bantuan, gue bantu, dia terima kasih, lalu pergi. Itu sudah cukup."

"Gue cuma nggak nyangka lu bisa se-santai itu," gumam Dimas.

"Berdamai itu lebih tenang daripada menyimpan dendam, Dim," sahut Rangga lembut. "Gue nggak mau energi gue habis buat cari tahu kenapa dia begini atau begitu. Gue doakan yang terbaik saja buat dia di Bandung ini."

Ayu memacu motor matiknya dengan kecepatan rendah, tangannya masih terasa sedikit gemetar saat mencengkeram stang motor.

Ia mematikan mesin, lalu menyandarkan kepalanya di atas speedometer. Air mata yang sejak tadi ia tahan sekuat tenaga akhirnya luruh juga.

"Rangga..." bisiknya pelan.

Ayu tidak menyangka takdir akan mempertemukan mereka kembali dengan cara seperti ini. Setelah bertahun-tahun ia mencoba menghapus bayang-bayang Rangga dari benaknya, pertemuan singkat tadi membuktikan bahwa usahanya gagal total.

Ia masih sangat mencintai pria itu.

Perasaan yang ia kira sudah terkubur oleh waktu dan pilihan-pilihan hidup, ternyata meledak kembali hanya dengan satu tatapan. Namun, ada rasa sesak yang menghimpit dadanya saat menyadari bahwa Rangga yang ia lihat tadi adalah Rangga yang sudah benar-benar "selesai". Pria itu telah berdamai dengan masa lalu, telah tumbuh menjadi sosok yang luar biasa.

Ia tidak ingin mengharapkan apa-apa. Ia tahu dirinya tidak punya hak untuk kembali setelah apa yang terjadi di masa lalu. Ayu menghapus air mata yang hampir jatuh di sudut matanya, menarik napas dalam-dalam, dan mencoba menguatkan hati.

"Cukup tahu kamu baik-baik saja dan sukses, itu sudah lebih dari cukup buat aku," gumamnya pelan.

1
kalea rizuky
gemes deh kalian
kalea rizuky
q uda kirim bunga lanjut banyak ya thor
kalea rizuky
lanjut donkk
Evi Lusiana
waduh rangga puny saingan y thor
Evi Lusiana
klo pura² sakit aj trs biar ayu kwatir dn perhatian sm km rangga🤭
Evi Lusiana
knp d bkin ribet sih yu,hrsny km trimakasih sm rangga
ᄂ⃟ᙚRisa Virgo Always Beau
Ayu membatalkan pertunangan dan pergi harusnya Rangga benci ke Ayu dan ngga mau lihat Ayu lagi dong
ᄂ⃟ᙚRisa Virgo Always Beau
Padahal orang yang di suruh mengantar motornya Ayu sudah bilang kalau gratis tapi malah Ayu datang ke bengkel dan memberikan uang ke Rangga sebagai biaya perbaikan sepeda motor dan ganti sparepart
Evi Lusiana
rangga laki² baik bertahun² sjak dia gk lg nersm ayu dia hny fokus kerja tp tdk maen perempuan
Aidil Kenzie Zie
bicara dari hati ke hati
Evi Lusiana
ini yg nmany jodoh gk akn kmn y thor
Aidil Kenzie Zie
move on Rangga kalau nggak kejar lagi cinta itu
Aidil Kenzie Zie
mampir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!