Yurie Harielyn Nazeeran kehilangan ibunya di usia lima tahun. Kematian yang disebut karena sakit itu menyimpan kebenaran kelam—diracun oleh Agnesa, wanita yang dua hari kemudian menikahi ayahnya. Tak ada yang percaya pada kesaksian Yurie kecil, bahkan ayahnya sendiri memilih berpihak.
Sejak saat itu, Yurie hidup sebagai bayangan di rumahnya sendiri hingga di usia delapan belas tahun, ia dijodohkan demi uang sembilan miliar dari keluarga Reynard. Pernikahan itu menyeretnya ke dalam rangkaian misteri:
kematian, pengkhianatan, dan rahasia besar yang berpusat pada keluarga Nazeeran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azkyra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 16
Mobil melaju tanpa suara berlebihan. Lampu-lampu kota memantul di kaca jendela, menciptakan bayangan panjang yang bergerak pelan. Yurie duduk diam di kursi penumpang, tangannya bertaut di pangkuan. Ia tidak bertanya ke mana mereka akan pergi. Sejak Kaiden mengatakan nama Elif, pikirannya sudah dipenuhi oleh terlalu banyak kemungkinan.
“Masih hidup,” kalimat itu terus berulang di kepalanya.
Kaiden mengemudi dengan fokus penuh. Rahangnya mengeras, sorot matanya tajam, seperti seseorang yang sedang menyusun ulang potongan puzzle di kepalanya.
“Kita ke mana?” Yurie akhirnya bertanya, suaranya pelan.
“Tempat terakhir Elif terdeteksi,” jawab Kaiden singkat. “Bukan lokasi resmi. Lebih ke… celah.”
Yurie menoleh. “Celah?”
“Kesalahan kecil yang ditinggalkan orang yang terlalu percaya diri.”
Mobil berhenti di depan sebuah bangunan lama yang tampak seperti gudang kosong. Cat dindingnya terkelupas, papan namanya sudah nyaris tidak terbaca. Tidak ada aktivitas mencolok, hanya sunyi yang terasa ganjil.
“Bandara mencatat Elif tidak pernah keluar,” lanjut Kaiden sambil turun dari mobil. “Tapi seseorang menggunakan akses privat. Jalur yang seharusnya tidak tercatat.”
Yurie ikut turun. Angin malam menyentuh kulitnya, membuatnya sedikit menggigil. Kaiden tanpa sadar berdiri lebih dekat, posisinya seperti dinding tak terlihat yang melindunginya dari sekitar.
Mereka masuk ke dalam gudang. Bau debu dan besi tua memenuhi udara. Seorang pria menunggu di dalam—tinggi, berambut gelap, dengan tatapan waspada.
“Ini tempat transit,” kata pria itu. “Bukan untuk orang biasa.”
“Siapa yang punya akses?” tanya Kaiden.
“Beberapa keluarga lama,” jawabnya. “Dan… satu nama yang belakangan sering muncul.”
Yurie menahan napas.
“Devano.”
Kaiden tidak tampak terkejut. “Sejak kapan?”
“Sejak sebelum Jayden meninggal.”
Nama itu membuat udara terasa lebih berat. Yurie menunduk, jari-jarinya mencengkeram ujung mantel.
“Jadi semuanya terhubung,” gumamnya.
Kaiden menoleh padanya. “Kau tidak salah.”
Mereka kembali ke mobil dengan lebih banyak pertanyaan daripada jawaban. Perjalanan pulang berlangsung dalam keheningan yang tidak canggung, hanya penuh pikiran.
“Kaiden,” Yurie memecah diam. “Kalau semua ini benar… berarti keluargaku bukan cuma kejam. Tapi berbahaya.”
Kaiden mengangguk. “Dan itu alasan aku tidak ingin kau menghadapi ini sendirian.”
Yurie tersenyum kecil, getir. “Aku sudah terlalu lama sendirian.”
Kaiden meliriknya sejenak. “Tidak lagi.”
Kalimat itu sederhana, tapi Yurie merasakannya seperti janji.
Malam semakin larut ketika mereka tiba di rumah. Lampu-lampu menyala redup, menciptakan suasana hangat yang kontras dengan ketegangan di luar. Yurie melepas sepatunya, lalu berdiri sejenak di ruang tengah, seperti seseorang yang baru kembali dari perjalanan panjang.
“Kau istirahat,” kata Kaiden. “Besok kita lanjut.”
Yurie mengangguk, tapi langkahnya terhenti. “Kai… kalau nanti kebenaran itu menyakitkan, kau akan tetap berdiri di sisiku?”
Kaiden menatapnya lama. “Aku tidak akan memulai ini kalau berniat pergi di tengah jalan.”
Yurie menahan senyum yang hampir runtuh oleh emosi. “Terima kasih.”
Ia berjalan menuju kamarnya, tapi sebelum masuk, ia menoleh. Kaiden masih berdiri di sana, memperhatikannya dengan tatapan yang sulit ia definisikan—bukan hanya tanggung jawab, tapi sesuatu yang lebih dalam.
Di kamarnya, Yurie duduk di tepi ranjang. Ia mengeluarkan liontin ibunya yang kini sudah kembali setelah diperiksa. Ia menggenggamnya erat, menutup mata.
“Mama… aku tidak tahu ke mana semua ini akan berakhir,” bisiknya. “Tapi aku tidak lagi takut sendirian.”
Air mata jatuh perlahan, bukan karena putus asa, melainkan karena untuk pertama kalinya, ia merasa diizinkan untuk rapuh.
......................
Beberapa hari berikutnya, rumah itu berubah menjadi pusat aktivitas senyap. Kaiden sering pergi dan kembali dengan wajah lelah. Telepon berdering lebih sering. Yurie memperhatikan dari kejauhan, mencoba tidak mengganggu.
Suatu sore, Kaiden pulang lebih awal. Ia menemukan Yurie di taman belakang, duduk di bangku kayu, membaca buku yang sama sekali tidak ia fokuskan.
“Kau tidak masuk?” tanya Kaiden.
Yurie menggeleng. “Di sini lebih tenang.”
Kaiden duduk di sampingnya. Tidak terlalu dekat, tapi cukup untuk membuat kehadirannya terasa.
“Ada sesuatu yang ingin kau tanyakan,” katanya.
Yurie tersenyum kecil. “Kau selalu tahu.”
“Coba saja.”
Yurie menutup bukunya. “Kenapa kau tetap melanjutkan ini, meski risikonya besar? Bahkan untuk keluargamu sendiri.”
Kaiden menatap taman itu. “Karena aku lelah hidup dengan tanda tanya. Dan karena… aku melihat diriku di dirimu.”
Yurie menoleh. “Bagaimana maksudmu?”
“Aku juga kehilangan. Aku juga pernah tidak dipercaya. Dan aku tahu rasanya dipaksa diam.”
Yurie menelan ludah. “Jadi ini bukan cuma tentang perjanjian pernikahan?”
Kaiden tersenyum tipis. “Sejak awal, tidak pernah sesederhana itu.”
Jantung Yurie berdegup lebih cepat. Ada kehangatan yang perlahan menyusup, tidak meledak-ledak, tapi menetap.
Malamnya, Kaiden menerima panggilan penting. Wajahnya berubah serius begitu menutup telepon.
“Kita menemukan sesuatu,” katanya pada Yurie.
“Tentang Elif.”
Yurie berdiri. “Dia di mana?”
“Belum pasti,” jawab Kaiden. “Tapi kami tahu dia dipindahkan secara berkala. Tidak disakiti. Seolah… hanya disembunyikan.”
“Untuk apa?” tanya Yurie.
“Untuk membuat kami bergerak,” jawab Kaiden.
“Dan mungkin… untuk membuatmu tetap berada di tempat yang mereka inginkan.”
Yurie tertawa kecil, pahit. “Mereka meremehkanku.”
Kaiden menatapnya dengan sorot bangga. “Kesalahan terbesar mereka.”
Malam itu, Yurie tidak langsung tidur. Ia berdiri di balkon, memandangi langit yang kelam. Kaiden keluar menyusul, membawa dua cangkir teh hangat.
“Kau selalu di sini kalau tidak bisa tidur,” katanya.
Yurie menerima cangkir itu. “Aku memikirkan masa depan.”
“Takut?” tanya Kaiden.
“Sedikit,” jawab Yurie jujur. “Tapi lebih banyak penasaran.”
Kaiden tersenyum. “Itu kemajuan.”
Mereka berdiri berdampingan, tanpa sentuhan, tapi jarak di antara mereka terasa semakin tipis.
Di kejauhan, kota tetap bergerak. Dan tanpa mereka sadari, sesuatu juga sedang bergerak mendekat—kebenaran yang tidak bisa lagi bersembunyi lama.