NovelToon NovelToon
Dua Kesayangan CEO Dingin

Dua Kesayangan CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Ketos / CEO / Cinta pada Pandangan Pertama / Mafia / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:6.2k
Nilai: 5
Nama Author: Ra za

Zivara Amaira adalah gadis yatim piatu yang tinggal bersama paman dan bibinya. Tempat yang seharusnya menjadi perlindungan justru berubah menjadi luka. Sebuah fitnah yang direncanakan oleh sepupunya membuat Zivara harus pergi. Tanpa diberi kesempatan membela diri, Zivara diusir dan dipaksa menelan hinaan atas kesalahan yang tak pernah ia lakukan.

Di sisi lain, Arga Aksara Wisesa adalah pria dingin dan misterius, yang tak memikirkan cinta. Ia hanya fokus pada pekerjaan dan keponakan kecilnya yang harus kehilangan kedua orang tuanya akibat kecelakaan setahun yang lalu.
Dua jiwa yang berbeda dipertemukan oleh takdir. Namun masa lalu, ambisi orang-orang di sekitar mereka, dan rahasia yang perlahan terkuak mengancam kebahagiaan yang baru saja tumbuh.
Akankah cinta mampu menyembuhkan luka yang terlalu dalam, atau justru membuka pintu bagi pengkhianatan yang lebih menyakitkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra za, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19 Jalan Pakai Mata

Menjelang waktu makan siang, Melani tampak sibuk di kamarnya. Ia memilih busana dengan teliti, mematut diri di depan cermin dengan senyum yang tak lepas dari wajahnya. Dari rautnya saja sudah terlihat jelas, ia sedang dalam suasana hati yang sangat baik.

Nicholas yang melihat istrinya keluar kamar dengan penampilan rapi dan elegan mengernyit heran.

“Mama mau ke mana?” tanyanya.

Melani tersenyum lebar.

“Mama mau ke perusahaan Arga,” jawabnya ringan.

“Mama ingin menemui calon menantu mama.”

Nicholas terkekeh kecil.

“Sepertinya mama benar-benar tidak sabar.”

“Bukan tidak sabar,” sahut Melani sambil mengambil tas yang sudah ia siapkan,

“mama hanya ingin lebih dekat saja. Sekalian makan siang di luar.”

“Hati-hati di jalan,” pesan Nicholas.

“Iya, Pa,” jawab Melani ceria.

Tak lama kemudian, Melani berangkat menuju perusahaan Arga diantar sopir pribadi keluarga.

Sesampainya di gedung perusahaan, kehadiran Melani langsung menarik perhatian. Sudah cukup lama nyonya besar itu tidak terlihat datang ke sana.

“Selamat siang, Nyonya,” sapa beberapa karyawan serempak dengan hormat.

“Selamat siang,” balas Melani ramah sambil tersenyum.

“Silakan lanjutkan pekerjaannya.”

“Tumben Nyonya datang ke kantor,” bisik salah satu karyawan.

“Iya, terakhir kali rasanya sudah lama sekali,” sahut yang lain pelan.

Melani melangkah menuju lift. Ia langsung menuju ruang kerja Arga, ternyata arga sedang Meeting. Lalu Melani duduk di sofa ruang kerja itu sambil menunggu.

Hampir lima belas menit kemudian, pintu ruang kerja terbuka. Arga masuk dan terkejut begitu melihat sosok ibunya.

“Mama?”

Ia menghampiri.

“Kenapa mama ke sini?”

Melani menoleh sambil tersenyum.

“Kenapa? Tidak boleh mama datang ke kantor anak sendiri?”

“Boleh, Ma. Arga cuma bertanya,” jawab Arga sambil duduk di samping ibunya.

Tak lama kemudian, Erik masuk ke ruangan membawa beberapa berkas.

“Erik,” panggil Melani.

“Tolong panggilkan Vara.”

Erik sedikit terkejut.

“Vara, Nyonya?”

“Iya,” jawab Melani singkat.

Tanpa bertanya lebih lanjut, Erik segera keluar.

“Mama mau mengajak Vara keluar,” ucap Melani sebelum Arga sempat bertanya.

“Keluar?” Arga menoleh.

“Bagaimana kalau Luna ke sini dan mencari Vara?”

“Kamu bilang saja Vara keluar bersama mama,” sahut Melani santai.

“Hal seperti itu masa kamu nggak bisa atasi.”

Disisi lain Erik menghampiri meja Vara.

“Vara,” panggilnya.

“Iya, Tuan Erik?” jawab Vara.

“Kamu dipanggil ke ruang Tuan Arga sekarang.”

Vara menoleh ke arah Nita yang duduk di sebelahnya. Nita mengangkat sedikit dagunya seolah bertanya, Vara mengedikkan bahu pelan, lalu berdiri mengikuti Erik.

Begitu tiba di ruang kerja Arga, Vara sedikit menunduk sopan.

“Nyonya,” sapa Vara pelan.

“Vara,” jawab Melani dengan senyum hangat.

“Saya ingin mengajakmu keluar. Saya harap kamu tidak menolak.”

Vara terlihat ragu.

“Keluar ke mana, Nyonya?”

“Ke mana saja. Kita makan siang bersama,” ajak Melani.

“Tapi, Nyonya… saya masih ada pekerjaan,” ucap Vara hati-hati.

“Tidak apa-apa,” potong Melani lembut.

“Saya sudah minta izin pada Arga.”

Vara menoleh ke arah Arga. Arga membalasnya dengan anggukan pelan.

“Baik, Nyonya,” jawab Vara akhirnya.

Mereka pun segera keluar dari ruangan. Saat pintu tertutup, Erik yang masih berdiri di dekat meja Arga mengangkat alis.

“Sepertinya ada berita besar yang belum aku ketahui,” gumamnya sambil tersenyum tipis.

Di area parkir, beberapa karyawan yang kebetulan lewat memperhatikan Melani berjalan berdampingan dengan Vara.

“Itu Vara, kan?” bisik salah satu dari mereka.

“Iya. Karyawan yang dekat dengan keponakan Tuan Arga.”

“Sekarang dia juga dekat dengan Nyonya Besar,” sahut yang lain.

Sementara itu, Vara melangkah di samping Melani dengan perasaan campur aduk, antara gugup dan penasaran. Kenapa Melani tiba-tiba, mengajak nya keluar.

---

Sopir segera membukakan pintu mobil begitu melihat Melani sudah mendekat.

“Silakan, Nyonya,” ucap sopir dengan sopan.

Begitu pintu tertutup, mobil pun melaju membelah jalanan kota yang mulai ramai menjelang siang.

“Vara, kita makan siang dulu, ya,” ajak Melani dengan suara lembut.

“Terserah Nyonya saja,” jawab Vara sopan, meski kegugupan masih terasa di dadanya.

Tak lama kemudian, Melani meminta sopir berhenti di sebuah restoran bergaya klasik modern yang tampak elegan. Mereka turun dan melangkah masuk. Senyum Melani tak pernah pudar, sementara Vara berusaha menenangkan diri, menahan rasa gugup dan penasaran akan maksud ajakan ini.

Mereka duduk di meja dekat jendela. Seorang pelayan datang membawa buku menu.

“Kamu mau makan apa, Vara?” tanya Melani sambil membuka menu.

“Saya ikut Nyonya saja,” jawab Vara singkat.

Melani mengangguk.

“Baik. Tolong pesan jus jeruk segar, sup krim jamur, grilled salmon dengan saus lemon butter, dan salad sayur. Untuk minumnya air mineral,” ucap Melani.

Pelayan mencatat pesanan lalu menunduk hormat sebelum pergi.

Sambil menunggu makanan, Melani membuka pembicaraan.

“Bagaimana bekerja di perusahaan Arga? Apa menyenangkan,?”

Vara mengangguk.

“Menyenangkan, Nyonya. Lingkungannya baik, rekan-rekannya ramah. Tuan Arga memang terlihat dingin dan cuek, tapi sebenarnya beliau sangat peduli pada karyawannya.”

Melani tersenyum kecil, seolah bangga.

“Kalau boleh tahu, kamu tinggal dengan siapa?” Melani kembali bertanya, meskipun apa yang ia tanya kan sudah ia ketahui.

“Saya tinggal sendiri, Nyonya,” jawab Vara jujur.

“Kedua orang tua saya meninggal saat saya kelas enam SD.”

Wajah Melani langsung berubah lembut.

“Maafkan saya bertanya terlalu jauh.”

“Tidak apa-apa, Nyonya,” jawab Vara tenang.

“Kamu tidak punya keluarga lain?”

“Ada… adik dari ibu saya,” ucap Vara singkat, lalu terdiam. Ia memilih tidak melanjutkan cerita.

Melani menangkap sikap itu. Ia tak memaksa, justru semakin kagum pada cara Vara menjaga martabat keluarganya.

Tak lama kemudian, makanan datang. Mereka mulai makan sambil sesekali Melani bercerita tentang Arga kecil, kebiasaan Luna, dan bagaimana Luna selalu semangat bercerita tentang Vara.

Tanpa disadari, kegugupan Vara perlahan menghilang. Ia mulai tersenyum, tertawa kecil, dan merasa nyaman berada di samping wanita paruh baya itu.

Setelah selesai makan, Melani menyandarkan tubuhnya sedikit.

“Vara, temani saya ke mall sebentar, ya.”

Vara sempat ragu, lalu mengangguk.

“Baik, Nyonya.”

Mereka pun menuju pusat perbelanjaan terdekat. Di dalam mall, keduanya berjalan berdampingan, berbincang ringan seolah sudah lama saling mengenal.

Tiba-tiba, seseorang menabrak bahu Melani cukup keras. Tubuh Melani hampir terhuyung, namun dengan sigap Vara menahan lengannya.

“Maaf, Nyonya,” ucap Vara refleks.

Namun wanita yang menabrak itu justru Tidak terima.

“Kalau jalan pakai mata dong!” bentaknya kasar, masih sibuk menggenggam ponselnya.

Melani menegakkan tubuhnya.

“Nona, bukankah Anda yang berjalan sambil fokus pada ponsel, bukan pada jalan? Mengapa justru Anda yang marah?”

Wanita itu mendengus dan mengangkat wajahnya, siap membalas. Namun begitu melihat siapa yang berdiri di hadapannya, wajahnya langsung pucat seketika.

Tangannya gemetar, ponsel hampir terlepas dari genggamannya.

"T.. Tante Melani…” ucapnya terbata.

Melani menatapnya datar, penuh wibawa.

“Sekarang, masih yakin ingin menyalahkan orang lain?”

Wanita itu menunduk cepat.

“M..maafkan saya, Tante Saya tidak sengaja.”

Melani tidak menjawab. Ia hanya melangkah pergi sambil menggandeng lengan Vara dengan lembut.

Sementara Vara mengikuti langkah Melani dengan bingung, ia merasa pernah melihat wanita itu tapi dimana.

1
merry
ia pgl om ikutan pglnn Luna 😄😄😄 biasa knn bgtuu ibu iktinn ank ya pgl om kcuali dblkng ank br pgl nama 😄😄😄
Ranasela
seruu banget kakm😍
erviana erastus
pasti si julia
erviana erastus
batas cinta ya om 🤭
erviana erastus
maksud bertopeng kan persahabatan 🤣 satu keluarga matre
Rian Moontero
lanjoooott👍👍😍
erviana erastus
habis kau jalang
erviana erastus
giliran ada yg tulus sama luna dicurigai lah yg kek julia dipercaya ... kekx kecelakaan kakax arga ulah bapakx julia 🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!