Gibran Pradikta, anak bungsu dari keluarga konglomerat Pradikta, mengalami kecelakaan misterius dalam perjalanan pulang usai menghadiri acara bisnis. Tanpa ia sadari, kecelakaan itu bukanlah musibah biasa. Kakaknya sendiri, Arya Pradikta, telah merencanakan segalanya demi menyingkirkan Gibran dan merebut kendali penuh atas perusahaan keluarga. Manipulasi sistem keamanan mobil membuat Gibran terperosok ke sungai dan dinyatakan hilang.
Selamat dari maut, Gibran mengalami luka parah dan kehilangan seluruh ingatannya. Ia tak lagi mengenal siapa dirinya, masa lalunya, maupun keluarga yang mencarinya. Dalam kondisi tak berdaya, ia diselamatkan oleh Nadia, seorang gadis sederhana berhati tulus yang menemukannya di tepi sungai. Nadia membawa Gibran ke rumahnya dan merawatnya tanpa mengetahui bahwa pria yang ditolongnya adalah pewaris konglomerasi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Her midda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Pagi itu, sungai Cempaka yang biasanya mengalir tenang berubah menjadi pusat kegemparan. Bau anyir menyengat menusuk udara, membuat warga yang berkerumun di bantaran sungai menutup hidung sambil berbisik ketakutan. Di antara semak liar dan tumpukan sampah yang terseret arus, sesosok tubuh manusia terjepit, membengkak, kulitnya menghitam kehijauan—jelas telah lama membusuk.
Garis polisi membentang, kamera wartawan saling berebut sudut terbaik. Kilatan lampu menyambar-nyambar, merekam kantong jenazah hitam yang diangkat perlahan oleh petugas. Dari ciri pakaian, jam tangan mahal yang masih melingkar di pergelangan, serta hasil pemeriksaan awal, polisi mulai menyusun satu kesimpulan yang membuat suasana kian mencekam. Dugaan itu mengarah pada satu nama yang selama ini menghilang tanpa jejak.
Gibran Pradikta.
Nama itu seketika meledak, bukan hanya di lokasi kejadian, tetapi di seluruh negeri. Berita televisi memutar tayangan eksklusif berulang-ulang: “Pengusaha Muda Ditemukan Tewas di Sungai”. Layar ponsel dipenuhi notifikasi, linimasa media sosial dibanjiri unggahan duka, spekulasi, dan potongan masa lalu Gibran yang kembali diungkit. Tagar #GibranPradikta dan #PengusahaMudaTewas bertengger di puncak trending, disertai ribuan komentar yang tak percaya bahwa sosok visioner itu kini hanya tinggal nama.
Polisi menyatakan keyakinan mereka di hadapan publik.
Jasad yang ditemukan diyakini kuat adalah Gibran, pengusaha muda yang sempat menghilang dan menjadi teka-teki besar selama berbulan-bulan. Meski proses identifikasi lanjutan masih berjalan, nada suara aparat seolah telah mengetuk palu takdir Gibran sudah tiada.
Kabar itu melesat cepat, menembus dinding-dinding rumah mewah di sudut kota. Di sebuah ruangan sunyi, Arya menghentikan langkahnya. Tangannya yang menggenggam ponsel bergetar tipis saat membaca judul berita yang memenuhi layar. Sudut bibirnya terangkat samar—antara lega dan takzim yang dipaksakan.
Belum merasa yakin dengan berita yang berseliweran di sosmed, akhirnya Arya menyalakan televisi untuk memastikan berita tersebut. Arya berdiri mematung di depan televisi besar di ruang kerjanya. Berita itu terus berulang, seolah memberulangbahwa kabar tersebut benar-benar nyata.
Pengusaha muda Gibran Pradikta ditemukan tewas. Nama itu kembali di sebut, lagi dan lagi, sampai dadanya penuh oleh perasaan yang sulit ia jelaskan. Ada senyum yang tertahan di sudut bibirnya, senyum yang lahir dari kemenangan.
Antara bahagia dan tak percaya, Arya menarik napas lega. Adik bungsunya....yang dari dulu menjadi bayang-bayang sekaligus rival terbesarnya.... akhirnya tersingkir. Gibran, dengan kecerdasan dan ambisinya, yang selalu menjadi ancaman bagi kekuasaan yang hampir Arya genggam sepenuhnya, kini tak lebih dari judul berita dan foto buram di layar kaca.
Ponselnya bergetar tanpa henti. Notifikasi dari media sosial, pesan dari rekan bisnis hingga ucapan berbela sungkawa, bercampur dengan spekulasi publik. Jagat internet seakan berpihak padanya. Semua orang percaya, semua orang yakin. Dan itu membuat kepala Arya kian membesar.
"Jadi....? akhirnya kau kalah juga," gumamnya pelan, matanya menyipit puas. Ia merasa bahwa dunia telah mengakui kemenangannya, tanpa perlu mengotori tangannya lebih jauh.
Kematian Gibran terasa seperti jawaban dari doa-doa yang tak pernah ia ucapkan dengan lantang. Arya lantas menekan tombol panggil dengan wajah penuh keyakinan. Tak lama pintu ruang kerjanya terbuka, dan salah satu anak buahnya datang dengan langkah ragu. Tatapannya menyiratkan kebingungan.... bayangan orang yang ia lihat beberapa hari lalu masih menghantui pikirannya.
"Kau," ujar Arya dingin, sambil mengangkat ponselnya. "Kemari."
Anak buah itu mendekat. Arya langsung memutat vidio... rekaman proses evakuasi jenazah dari sungai. Kantong mayat hitam di angkat perlahan, di kelilingi polisi dan tim forensik. Kamera menyorot cukup jelas pakaian yang melekat di tubuh membusuk itu, jam tangan mahal yang nyaris tak rusak itu, serta potongan wajah yang sulit di kenali, namun masih menyisakan kemiripan yang tak terbantahkan.
"Lihat baik-baik,"kata Arya, suaranya mantap. "Ini jasad Gibran."
Anak buah itu menelan ludah. Matanya terpaku pada layar, napasnya tertahan.
"Tapi, Tuan....orang yang saya lihat waktu itu..... "
"Bukan Gibran," potong Arya cepat. Ia menurunkan ponsel, menatap bawahannya dengan sorot tajam, namun penuh kemenangan."Hanya orang uang kebetulan mirip. Dunia ini luas, wajah serupa bukan hal mustahil."
Arya berjalan ke arah jendela, memandang keluar seolah seluruh kota kini berada di bawah kendalinya. "Kalau Gibran masih hidup, mustahil jasad ini baru di temukan. Polisi sudah yakin. Media sudah mengabarkan. Semua orang percaya."
Ia berbalik, senyum tipis mengembang penuh percaya diri. "Keraguanmu berhenti sampai disini. Jangan ada laporan macam ini lagi. Gibran sudah mati."
Anak buah itu mengangguk pelan, meski ada sisa kegelisahan di dadanya. "Baik Tuan."
Saat pintu kembali tertutup, Arya tertawa kecil. Hatinya kini benar-benar lega. Keraguan terakhir telah ia kubur sendiri,
bersama jasad yang di yakininya sebagai adik bungsunya.
Namun Arya tak tahu satu hal. Di balik gemparnya berita, di balik jasad membusuk yang mengapung di sungai, ada permainan rapi yang tak mampu ia baca. Gibran tidak mati. Ia masih bernapas, masih berpikir, masih meremcanakan langkah berikutnya. Bersama Rangga.... orang kepercayaannya, Gibran sengaja membiarkan dunia tenggelam dalam kebohongan yang mereka ciptakan.
Mayat itu hanyalah umpan. Sebuah ilusi yang dibuat untuk mengecoh Arya.... dan ia menelannya bulat-bulat. Saat Arya larut dalam rasa menang yang semu, di tempat lain, Gibran tersenyum tipis. Kematian palsunya bukanlah akhir, melainkan awal dari permainan yang sesungguhnya.
**********
Di kediaman Pradikta, kabar itu datang seperti petir yang menyambar di siang bolong, menghantam keluarga Pradikta tanpa ampun. Di ruang keluarga yang megah namun sunyi, Nyonya Tina baru saja meletakan ponselnya ketika layar televisi menayangkan berita yang sama....nama Gibran Pradikta terpapang besar, di sertai kata meninggal dunia yang terasa begitu kejam.
Wajahnya seketika pucat, napasnya tercekat, seolah udara di sekelilingnya menghilang. "Tidak... tidak mungkin..." lirihnya gemetar.
Langkah Nyonya Tina goyah. Tangannya berusaha meraih sandaran kursi, namun tubuhnya lebih dulu limbung. Dalam hitungan detik, tubuhnya ambruk ke lantai, tak sadarkan diri. Teriakan panik mulai memenuhi ruangan, para pelayan berlarian, sementara air mata mulai jatuh tanpa bisa di bendung.
Syok itu terlalu besar.... kehilangan anak bungsu yang selama ini jadi penyejuk hatinya adalah luka yang tak sanggup ia terima begitu saja.
Sementara itu, di gedung perusahaan Pradikta, suasana berubah muram. Karyawan dari berbagai divisi menghentikan aktivitas mereka. Beberapa menatap layar ponsel dengan mata berkaca-kaca, sebagian lain saling berpelukan, berbisik tak percaya. Karangan bunga mulai berdatangan, memenuhi lobi utama dengan pita hitam dan ucapan duka cita.
'Turut berbela sungkawa atas wafatnya Bapak Gibran Pradikta'
Nama itu kini terbingkai dalam duka. Di rumah keluarga Pradikta, kesibukan tak terelakan. Kerabat dekat dan orang-orang kepercayaan keluarga datang silih berganti. Kursi-kursi di susun, tenda mulai di pasang, dan kain hitam putih-mulai terhampar rapi. Pembicaraan berlangsung namun tergesa.... mempersiapkan acara layatan, doa bersama, hingga rencana pemakaman yang akan di laksanakan begitu jasad Gibran tiba.
Tak akan ada yang meragukan kabar itu.
Tangis, doa dan kesedihan menyatu dalam satu keyakinan. 'Gibran telah pergi untuk selamanya'
Tak seorang pun menyadari, di balik semua persiapan duka ini, sebuah kebenaran pahit tengah bersembunyi.
Gibran masih hidup.... namun kematian palsunya telah lebih dulu merenggut air mata Ibunya, dan menjerat semua orang dalam sandiwara yang pernah ada.
bersambung....