NovelToon NovelToon
TELEKINESIS ASCENDANT: THE EDITOR'S GATE ODYSSEY

TELEKINESIS ASCENDANT: THE EDITOR'S GATE ODYSSEY

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Mengubah Takdir / Fantasi Timur / Fantasi Isekai
Popularitas:98
Nilai: 5
Nama Author: Karma Danum

Kang Ji-hoon, seorang editor webnovel yang hidupnya biasa-biasa saja, tewas dalam sebuah kecelakaan. Namun, alih-alih mati, ia terbangun di tubuh Kang Min-jae, seorang pemuda di dunia paralel di mana "Gerbang" ke dimensi lain telah muncul, dan "Hunter" dengan kekuatan khusus bertugas menghadapi monster di dalamnya.

Terjebak dalam identitas baru dengan misteri ayah yang hilang dan tekanan untuk menjadi Hunter, Ji-hoon harus beradaptasi dengan dunia yang berbahaya. Dibantu oleh "sistem" misterius di dalam benaknya dan kekuatan telekinesis yang mulai terbangun, ia memasuki Hunter Academy sebagai underdog. Dengan pengetahuan editornya yang memahami alur cerita dan karakter, Ji-hoon harus menguasai kekuatannya, mengungkap konspirasi di balik transmigrasinya, dan bertahan di dunia di mana setiap Gerbang menyimpan ancaman—dan rahasia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karma Danum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5: PERTEMUAN PERTAMA DENGAN KELUARGA

Keesokan harinya, Ji-hoon bangun dengan rasa lelah yang berbeda. Bukan hanya fisik, tetapi mental. Mimpi-mimpinya semalam dipenuhi oleh potongan ingatan yang berantakan—suara ayah Min-jae yang mengoceh tentang rumus dimensi, gambar-gambar laboratorium yang berkedip, dan terkadang, kilasan kehidupan lamanya sebagai editor di Seoul yang normal. Dua dunia, dua identitas, terus bergulat dalam tidurnya.

Namun, ada satu hal yang ia sadari setelah meditasi dan latihan sensing semalam: ia sedikit lebih terkendali. Saat ia fokus, ia bisa menahan gelombang ingatan asing yang tiba-tiba muncul. Seperti memiliki katup di dalam pikirannya.

**[Penyatuan Jiwa: 93%. Kebocoran memori dapat dikurangi dengan kontrol fokus. Lanjutkan latihan.]**

Pesan sistem itu singkat, tapi memberi keyakinan.

Hari ini jadwal kelas teori lebih panjang. Guru Choi membahas struktur sosial dunia Hunter dan guild-guild besar. Ji-hoon mencatat dengan rajin. Ini informasi penting untuk memahami peta kekuatan di dunia barunya.

“Guild bukan sekadar kelompok Hunter,” kata Guru Choi. “Mereka adalah perusahaan, lembaga politik, dan kadang-kadang, negara dalam negara. Tiga guild terbesar di Korea—Chrono Vanguard, Crimson Dragon, dan Frost Lotus—menguasai hampir 60% Gerbang berperingkat tinggi dan perdagangan kristal Mana.”

Ji-hoon mencatat nama-nama itu. Chrono Vanguard adalah guild tempat pamannya, Dae-hyun, bekerja. Dari ingatan Min-jae, guild itu dipimpin oleh seseorang yang sangat disegani, Guild Master Yoon.

“Kalian mungkin bertanya, apa hubungannya dengan kalian yang masih di kelas Remedial?” Guru Choi memandang murid-muridnya yang mulai terlihat bosan. “Hubungannya sederhana: pilihan guild akan menentukan jalan hidup kalian. Guild besar menawarkan keamanan dan sumber daya, tetapi dengan ekspektasi tinggi dan politik internal yang rumit. Guild kecil memberi lebih banyak kebebasan, tetapi resiko lebih besar dan fasilitas terbatas. Pahamilah di mana posisi kalian.”

Posisi mereka, saat ini, adalah di dasar. Tapi Ji-hoon tidak merasa putus asa. Sebagai editor, ia tahu setiap karakter punya jalan ceritanya masing-masing. Protagonis tidak harus selalu langsung bergabung dengan guild terkuat.

Di sela-sela istirahat, Ji-woo mendekatinya dengan wajah bersemangat. “Min-jae, kamu dengar tentang misi praktik pertama?”

“Misi praktik? Bukannya untuk siswa reguler?” tanya Ji-hoon.

“Katanya, kelas Remedial juga dapat kesempatan. Tapi cuma yang dinilai ‘cukup berkembang’ oleh guru,” jelas Ji-woo. “Misi ke Gerbang F-rank dekat kampus. Hanya membersihkan Goblin dan mengambil sampel tanaman. Tapi itu langkah pertama!”

Ji-hoon bisa merasakan antusiasme Ji-woo. Bagi siswa seperti mereka, kesempatan sekecil apa pun adalah hal besar. “Kapan seleksinya?”

“Minggu depan. Guru Choi akan memilih berdasarkan kemajuan di pelatihan fisik dan teori.” Ji-woo mengepalkan tangan. “Aku harus terpilih. Aku butuh poin prestasi untuk tunjangan.”

“Kita berdua akan berusaha,” kata Ji-hoon, tersenyum. Ia sendiri ingin menguji kemampuannya di lingkungan yang relatif aman. Gerbang F-rank, menurut teori, hanya dihuni monster paling lemah. Itu tempat yang cocok untuk percobaan pertama.

Seo-yeon juga ikut dalam percakapan. “Aku juga ingin ikut. Sebagai healer, meski kemampuanku terbatas, aku bisa berguna.” Matanya menunjukkan tekad yang sama kuatnya.

Tampaknya, di antara siswa Remedial yang terlihat pasrah, ada sekelompok kecil yang masih memiliki api perjuangan. Ji-hoon merasa senang berada di dekat mereka.

Namun, saat pelajaran berlangsung, sebuah pesan masuk ke ponselnya. Dari Paman Dae-hyun: **“Pulang langsung ke rumah. Ada tamu penting malam ini. Kenakan pakaian yang rapi.”**

Ji-hoon mengernyit. Tamu penting? Di rumah keluarga Kang yang biasanya sepi?

Rasa penasaran dan sedikit kecemasan menyertainya sepanjang sisa hari di akademi. Bahkan saat latihan fisik, pikirannya melayang ke rumah dan tamu misterius itu.

Sore harinya, Ji-hoon pulang dengan bus. Ia mengganti seragam akademi menjadi kemeja putih dan celana hitam sederhana, seperti yang diminta. Saat ia turun ke ruang tamu, suasana sudah berbeda.

Lampu ruang tamu yang biasanya redup sekarang menyala terang. Ada aroma kopi dan makanan ringan yang disiapkan di meja. Paman Dae-hyun sudah duduk di sofa, wajahnya lebih tegang dari biasanya. Di seberangnya, duduk dua orang asing.

Yang pertama adalah seorang pria paruh baya dengan rambut disisap rapi, memakai setelan bisnis abu-abu yang mahal. Wajahnya ramah, tapi matanya seperti kamera yang terus mengamati setiap detail. Ji-hoon langsung merasa tidak nyaman.

Yang kedua adalah seorang wanita yang lebih muda, mungkin akhir dua puluhan, dengan pakaian laboratorium putih yang masih ia kenakan. Ia memegang tablet dan sesekali mengetik, terlihat sebagai asisten.

“Ah, Min-jae. Kemarilah,” sapa Paman Dae-hyun dengan suara yang berusaha rileks. “Ini Director Oh dari Ouroboros Research Division, dan asistennya, Dr. Lee. Mereka ingin bertemu denganmu.”

*Ouroboros.* Nama itu seperti petir di telinga Ji-hoon. Ingatan-ingatan samar tentang lab, kecelakaan, dan ayahnya langsung muncul ke permukaan. Ia bisa merasakan detak jantungnya meningkat.

**[Peringatan: Stimulasi emosional tinggi terdeteksi. Memori terkait ‘Ouroboros’ diakses. Kendalikan respons.]**

Ji-hoon menarik napas dalam-dalam, memaksakan dirinya tetap tenang. Ia mengangguk sopan. “Senang bertemu dengan Anda.”

Director Oh tersenyum, menunjukkan gigi yang sangat putih. “Senang bertemu juga, Min-jae-ssi. Kami dari Ouroboros sangat mengikuti kabarmu sejak kecelakaan. Sangat melegakan melihatmu pulih dengan baik.”

“Terima kasih,” jawab Ji-hoon pendek. Ia duduk di samping pamannya, merasakan perlindungan dari kehadiran Dae-hyun.

“Kami datang hari ini atas dua hal,” lanjut Director Oh, tangannya terlipat di atas lutut. “Pertama, untuk menyampaikan belasungkawa yang mendalam atas hilangnya ayahmu, Dr. Kang Min-soo. Dia adalah kolega yang brilian, dan kehilangannya merupakan pukulan besar bagi dunia penelitian.”

Ji-hoon hanya mengangguk, tidak berkata apa-apa. Ia merasakan kesedihan palsu di balik kata-kata Director Oh.

“Kedua,” Director Oh melanjutkan, “kami ingin menawarkan dukungan. Sebagai putra dari salah satu peneliti terbaik kami, kamu berhak atas bantuan. Kami mendengar kamu sekarang di Hunter Academy. Ouroboros memiliki program beasiswa dan magang untuk siswa berbakat, terutama yang memiliki… warisan ilmiah tertentu.”

Matanya menatap Ji-hoon dengan intens. “Kami percaya, minat dan bakat ayahmu mungkin mengalir padamu. Kami ingin memberimu kesempatan untuk belajar langsung di fasilitas kami, memahami pekerjaan ayahmu, dan siapa tahu, mungkin meneruskannya.”

Tawaran itu terdengar mulia. Tapi alarm di kepala Ji-hoon berbunyi keras. Dari ingatan yang bocor, dari peringatan ayah Min-jae untuk tidak percaya pada Ouroboros, dari firasatnya sebagai editor yang terbiasa dengan plot twist—semuanya berteriak bahwa ini jebakan.

Paman Dae-hyun, yang diam selama ini, akhirkan berbicara. “Director Oh, saya menghargai tawaran itu. Tapi Min-jae masih dalam pemulihan dan baru mulai akademi. Mungkin terlalu cepat untuk membebaninya dengan tanggung jawab seperti itu.”

“Oh, tentu saja,” Director Oh segera menanggapi, tetap tersenyum. “Ini hanya penawaran awal. Kami tidak terburu-buru. Yang penting, Min-jae-ssi tahu bahwa Ouroboros ada untuk mendukungnya.” Ia berpaling ke Ji-hoon. “Bagaimana dengan akademimu? Apakah ada perkembangan kemampuan yang menarik? Kadang-kadang, anak-anak peneliti seperti ayahmu menunjukkan aptitud khusus untuk… fenomena dimensi.”

Pertanyaan itu terlalu spesifik. Ji-hoon waspada. “Aku masih beradaptasi. Kemampuanku biasa saja, menurut tes akademi.”

“Saya yakin kamu terlalu merendah,” goda Director Oh. “Ayahmu dulu juga begitu. Padahal, dia adalah jenius yang merevolusi pemahaman kita tentang Gerbang.”

Percakapan berlanjut dengan sopan, tetapi penuh dengan ketegangan tersembunyi. Director Oh terus mencoba menggali informasi: apakah Ji-hoon mengalami gejala aneh setelah kecelakaan, apakah ia ingat sesuatu tentang penelitian ayahnya, apakah ia merasakan hal ‘tidak biasa’ belakangan ini.

Ji-hoon menjawab dengan jawaban yang aman dan samar. Ia merasakan keringat dingin di punggungnya. Asisten Director Oh, Dr. Lee, terus menatapnya dengan ekspresi datar, seolah sedang mengumpulkan data.

Setelah sekitar setengah jam, Director Oh akhirnya berdiri. “Baik, kami tidak ingin mengganggu lebih lama. Terima kasih atas waktu kalian.” Ia mengulurkan kartu bisnis ke Ji-hoon. “Jika kamu butuh apa pun, atau ingin tahu lebih banyak tentang pekerjaan ayahmu, jangan ragu untuk menghubungi.”

Ji-hoon menerima kartu itu. Terasa dingin di tangannya.

Setelah mereka pergi, suasana di ruang tamu langsung berubah. Paman Dae-hyun menghela napas panjang, wajahnya lelah.

“Aku tidak suka itu,” gumamnya. “Mereka biasanya tidak peduli pada keluarga peneliti yang ‘hilang’. Kecuali ada yang mereka inginkan.”

“Apa yang mereka inginkan, Paman?” tanya Ji-hoon.

Dae-hyun memandangnya dengan serius. “Aku tidak tahu pasti. Tapi penelitian ayahmu sangat rahasia dan berharga. Ada rumor bahwa sebelum kecelakaan, dia hampir mencapai terobosan besar dalam menstabilkan Gerbang. Banyak pihak yang menginginkan data itu, termasuk Ouroboros sendiri yang katanya kehilangan semua catatan dalam insiden.” Ia menunduk, suaranya rendah. “Min-jae, dengarkan baik-baik. Ouroboros bukanlah organisasi jahat, tapi mereka pragmatis. Jika mereka mendekatimu, artinya mereka melihat nilai dalam dirimu. Entah sebagai kunci untuk data ayahmu, atau… karena kamu mungkin mewarisi sesuatu.”

Ji-hoon merasa dingin. “Mewarisi sesuatu?”

“Kemampuan khusus terkait dimensi. Itu jarang, tapi ada. Dan ayahmu meneliti tepat tentang itu.” Dae-hyun meletakkan tangan di bahu Ji-hoon. “Kamu harus berhati-hati. Fokus pada akademi dulu. Tingkatkan kekuatanmu. Semakin kuat kamu, semakin sulit orang memanfaatkanmu.”

Nasihat itu masuk akal. Ji-hoon mengangguk. “Aku mengerti, Paman.”

Malam itu, Ji-hoon sulit tidur. Pertemuan dengan Director Oh mengingatkannya bahwa ia tidak hanya berurusan dengan monster dan pelajaran, tetapi juga dengan konspirasi manusia yang mungkin lebih berbahaya.

Ia mengambil kartu bisnis Director Oh. Namanya tercetak jelas: **Oh Jin-tae, Director of Dimensional Research, Ouroboros Division**. Di balik kartu, ada logo ular yang memakan ekornya.

Tanpa berpikir panjang, Ji-hoon mencoba sesuatu. Ia memegang kartu itu, lalu memusatkan kemampuan sensing-nya. Ia tidak hanya ingin ‘merasa’ kartunya, tetapi mencoba menangkap sisa ‘kesan’ dari pemegangnya sebelumnya.

Ini adalah terobosan. Biasanya, sensing-nya hanya pada benda mati. Tapi kali ini, ia mencoba lebih dalam.

Gambaran samar muncul: sebuah ruangan gelap dengan monitor-monitor biru, suara mesin berdengung, dan perasaan… keserakahan yang dingin. Bukan gambar jelas, lebih seperti emosi yang tertinggal.

Lalu, sebuah kata terucap dalam pikirannya: **“Anchor.”**

Ji-hoon terkesiap, melepaskan kartu itu seolah tersengat listrik. Kata itu bukan dari pikirannya sendiri. Itu seperti gema dari memori orang lain yang tertinggal di kartu tersebut.

**[Analisis psikometri dasar terdeteksi. Kemampuan berkembang: Psionic Resonance Sensing.]**

**[Peringatan: Mengakses sisa kesadaran orang lain dapat menyebabkan kontaminasi psikis. Batasi penggunaan.]**

Psikometri. Kemampuan membaca jejak dari benda. Levelnya masih sangat dasar, tetapi ia baru saja mendapatkan informasi penting.

*Anchor.* Apa artinya? Apakah itu istilah dari penelitian ayahnya? Atau kode untuk sesuatu?

Ji-hoon menyimpan kartu itu di laci yang dikunci. Ia akan menyelidiki nanti, dengan lebih hati-hati.

Keesokan paginya di akademi, Ji-hoon membawa serta kekhawatiran dari pertemuan malam itu. Namun, saat ia masuk ke kelas, sebuah pengumuman dari Guru Choi menyita perhatiannya.

“Baik, minggu depan akan diadakan tes seleksi untuk misi praktik ke Gerbang F-rank ‘Greenwood Cave’,” kata Guru Choi. “Tesnya sederhana: simulasi pertahanan diri melawan satu Goblin dalam lingkungan virtual. Yang bertahan paling lama atau menunjukkan strategi paling efektif akan terpilih. Hanya tiga kuota untuk kelas Remedial.”

Tiga kuota. Ji-hoon melihat sekeliling. Ada sekitar lima belas siswa di kelas. Persaingan akan ketat.

“Saya akan nilai berdasarkan ketahanan fisik, penggunaan kemampuan (jika ada), dan yang paling penting—kecerdikan bertahan hidup. Kekuatan bukan segalanya,” tambah Guru Choi. “Bersiaplah. Tes akan dilaksanakan Jumat ini.”

Semangat kompetisi langsung terasa di udara. Ji-woo mengangguk penuh tekad. Seo-yeon terlihat gugup tapi bersemangat. Beberapa siswa lain mulai berdiskasi dengan teman.

Ji-hoon tahu, ini adalah kesempatannya untuk mengambil langkah pertama. Tapi ia juga sadar, ia tidak bisa mengandalkan telekinesis lemahnya dalam pertarungan langsung. Ia butuh strategi.

Di sela-sela pelajaran, ia mendekati Guru Choi.

“Guru, boleh saya bertanya sesuatu tentang strategi menghadapi Goblin?”

Guru Choi memandangnya, lalu menganggak. “Tentu. Apa yang ingin kamu ketahui?”

“Dari buku teks, Goblin memiliki penglihatan yang buruk di tempat gelap, tetapi pendengaran dan penciumannya tajam. Apakah dalam simulasi, lingkungannya akan gelap?”

Guru Choi tersenyum, seperti senang dengan pertanyaan yang spesifik. “Lingkungannya akan meniru kondisi Gua Greenwood—cahaya minim, banyak batu dan lumut. Kenapa? Kamu punya ide?”

“Saya pikir, daripada menghadapi langsung, lebih baik menggunakan lingkungan. Menjatuhkan batu dari atas, misalnya, atau menciptakan kebisingan untuk menyesatkan.”

“Itu pemikiran yang bagus untuk seseorang dengan kekuatan terbatas,” puji Guru Choi. “Tapi ingat, dalam simulasi, Goblin akan diprogram untuk terus mengejar ‘ancaman’ terdekat. Menciptakan kebisingan mungkin mengalihkan perhatiannya sebentar, tapi tidak lama.”

Percakapan itu memberi Ji-hoon bahan pemikiran. Mungkin, telekinesis lemahnya bisa digunakan untuk hal-hal kecil: menggulingkan batu kecil ke arah yang berlawanan, atau menggetarkan stalaktit untuk menciptakan suara.

Sepulang akademi, ia tidak langsung pulang. Ia pergi ke perpustakaan kecil di kompleks akademi dan mencari buku tentang taktik bertahan hidup di Gerbang tingkat rendah. Ia membaca dengan lahap, menyerap pengetahuan seperti spons.

Saat ia sedang asyik membaca, seseorang duduk di seberang mejanya. Ji-hoon mengangkat pandangan.

Itu adalah Song Min-hyuk, dengan senyumnya yang selalu ada.

“Rajin sekali, Min-jae. Mencari cara untuk lulus tes seleksi?” tanyanya, nada suaranya ramah tapi terdengar sarkastik.

“Hanya membaca,” jawab Ji-hoon singkat.

“Aku dengar kamu dapat kunjungan dari Ouroboros kemarin. Wah, hebat. Keluarga Kang memang selalu dikelilingi orang penting.” Min-hyuk menyandarkan tubuhnya di kursi. “Tapi hati-hati, ya. Bergaul dengan organisasi seperti itu bisa… berbahaya. Apalagi untuk seseorang di kelas Remedial. Bisa-bisa kamu terhimpit.”

“Aku bisa mengurus diriku sendiri,” jawab Ji-hoon lagi, mencoba fokus kembali pada bukunya.

“Tentu, tentu.” Min-hyuk berdiri. “Oh ya, selamat berjuang di tes nanti. Aku akan menonton dari kelas reguler. Semoga kamu tidak terlalu mempermalukan diri.”

Setelah Min-hyuk pergi, Ji-hoon menghela napas. Rival seperti itu melelahkan. Tapi ia tidak punya energi untuk terlibat. Ia punya tujuan yang lebih penting.

Malam harinya, di kamarnya, Ji-hoon berlatih. Ia tidak mencoba mengangkat benda berat. Ia fokus pada presisi dan sensing.

Ia menaruh sepuluh kelereng di atas meja. Tugasnya: menggerakkan satu kelereng saja, tanpa menyentuh yang lain. Awalnya sulit. Telekinesisnya masih seperti pukulan palu—kasar dan tidak akurat. Tapi setelah berkonsentrasi penuh, ia mulai bisa ‘merasakan’ setiap kelereng secara individual. Ia memilih satu, lalu memberinya dorongan sangat halus.

Kelereng itu bergerak, menggelinding pelan. Yang lain tetap diam.

**[Kontrol psikis dasar: 2.1%. Presisi meningkat.]**

Peningkatan kecil, tapi nyata. Ji-hoon tersenyum. Ini seperti mengasah keterampilan menulis. Butuh latihan, ketekunan, dan kesabaran.

Ia juga mencoba sensing yang lebih luas. Dengan mata tertutup, ia mencoba merasakan seluruh kamar: posisi furnitur, aliran udara, bahkan getaran listrik dari kabel di dalam dinding. Perlahan, peta mental ruangan itu terbentuk di benaknya. Ia bisa ‘melihat’ tanpa melihat.

Latihan ini melelahkan secara mental. Setelah setengah jam, kepalanya mulai pusing. Ia berhenti, minum air.

Saat ia berbaring di tempat tidur, ponselnya berdering. Bukan panggilan, tapi pesan dari nomor tidak dikenal.

**“Min-jae-ssi, ini Dr. Lee, asisten Director Oh. Kami ingin mengingatkan Anda tentang tawaran magang kami. Juga, jika Anda mengalami gejala tidak biasa—mimpi aneh, ingatan yang tiba-tiba muncul, atau sensasi energi asing—harap hubungi kami segera. Itu bisa penting untuk kesehatan Anda. – Ouroboros Medical Division.”**

Pesan itu terlihat seperti perhatian medis, tapi Ji-hoon bisa membaca maksud tersembunyi. Mereka sedang memantaunya. Mereka ingin tahu apakah ‘gejala’ transmigrasi atau kebangkitan kekuatannya muncul.

Ji-hoon tidak membalas. Ia menghapus pesan itu. Ia harus semakin berhati-hati.

Jumat semakin dekat. Tes seleksi, misi pertama, tekanan dari Ouroboros, rival di akademi, dan misteri ayah Min-jae—semuanya menumpuk.

Tapi di balik semua itu, Ji-hoon merasa sesuatu yang baru tumbuh di dalam dirinya: tekad. Tekad untuk tidak hanya bertahan, tetapi untuk menguasai takdir barunya.

Dia mungkin datang ke dunia ini sebagai korban keadaan. Tapi dia tidak akan tetap menjadi korban.

Dia akan menjadi penulis ceritanya sendiri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!