"Bagiku, mencintaimu adalah anugerah terindah. Namun, membiarkanmu terus berjuang untukku yang hampir mati adalah sebuah dosa."
Arini tahu hidupnya tidak lama lagi. Di saat Rangga datang membawa cincin dan janji masa depan, Arini justru memilih untuk menghancurkan hati laki-laki itu. Ia ingin Rangga pergi, mencari wanita yang lebih sehat, dan hidup bahagia tanpa beban dirinya.
Namun, Rangga bukanlah pria yang mudah menyerah. Semakin Arini mengusir, semakin erat Rangga menggenggam.
"Aku tidak butuh masa depan tanpa kamu, Rin. Kalau kamu bilang kamu rapuh, maka biarkan aku hancur bersamamu."
Bisakah cinta yang sekarat menang melawan takdir yang kejam? Ataukah perjuangan Rangga hanya akan berakhir pada nisan yang dingin?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5: Harga Sebuah Pelepasan
BAB 5: Harga Sebuah Pelepasan
Pagi itu, langit di luar jendela rumah sakit tampak berwarna abu-abu pucat, seolah-olah matahari pun enggan untuk menampakkan sinarnya di tempat di mana harapan dan keputusasaan saling bertarung setiap detiknya. Arini terbangun dengan rasa mual yang kini menjadi sahabat setianya setiap pagi. Cairan kemoterapi yang masuk ke tubuhnya kemarin seolah-olah sedang berperang melawan segala sesuatu yang masih sehat di dalam dirinya. Tubuhnya terasa sangat ringan, tapi di saat yang sama, dadanya terasa begitu berat, seolah ada bongkahan batu besar yang menghimpit pernapasannya.
Rangga tidak ada di sana. Laki-laki itu harus pulang sebentar untuk mandi dan mengambil beberapa dokumen penting di kantor lamanya—mungkin untuk mengurus sisa-sisa pekerjaannya yang terbengkalai. Rangga sempat mencium kening Arini sebelum pergi, menjanjikan bahwa ia akan kembali sebelum jam makan siang dengan membawa bubur sumsum hangat favorit Arini.
Namun, bukan Rangga yang datang membuka pintu kamar nomor 402 itu.
Suara gesekan pintu yang pelan membuat Arini menoleh dengan susah payah. Jantungnya berdegup kencang saat melihat sosok wanita yang berdiri di ambang pintu. Ibu Sarah. Wanita itu mengenakan setelan kantor yang sangat elegan, namun tatapan matanya tajam dan dingin, kontras dengan suasana rumah sakit yang hangat karena kepedulian.
"Ibu..." bisik Arini lirih. Suaranya serak, nyaris hilang.
Ibu Sarah berjalan masuk, tidak mendekat ke ranjang, melainkan berdiri di tengah ruangan dengan tangan bersedekap. Ia menatap Arini dari ujung kepala hingga ujung kaki. Tatapannya terpaku pada penutup kepala (ciput) yang dikenakan Arini untuk menutupi rambutnya yang mulai habis.
"Kamu terlihat sangat menyedihkan, Arini," ujar Ibu Sarah tanpa basa-basi. Kalimatnya tidak terdengar seperti simpati, melainkan seperti sebuah fakta yang kejam.
Arini hanya bisa menunduk, meremas sprei rumah sakit yang kaku. "Maaf, Bu... saya tahu saya merepotkan Rangga."
"Merepotkan? Itu kata yang terlalu sederhana," sahut Ibu Sarah, langkah kakinya terdengar berdentum di lantai keramik yang sunyi. "Kamu menghancurkan masa depannya. Kamu tahu, Rangga adalah kebanggaan keluarga kami. Dia cerdas, dia punya visi. Dan sekarang? Dia membuang promosi jabatan yang sudah dia incar selama tiga tahun hanya untuk duduk di sini, menunggumu yang... jujur saja, Arini, kita berdua tahu bagaimana akhir dari cerita ini."
Arini merasakan denyutan hebat di pelipisnya. Rasa pusing itu kembali menyerang, kali ini disertai rasa panas yang menjalar di matanya. "Saya sudah mencoba mengusirnya, Bu. Saya sudah mencoba membuat dia benci pada saya. Tapi dia tidak mau pergi."
Ibu Sarah mendekat satu langkah, wajahnya kini tepat berada di depan Arini. "Tentu saja dia tidak mau pergi. Anak saya itu punya hati yang terlalu lembut. Dia merasa bertanggung jawab atas dirimu.
Tapi apakah kamu tidak punya rasa kasih kasihan sedikit saja padanya? Jika kamu benar-benar mencintainya, kamu tidak akan membiarkan dia menguras tabungan masa depannya,
menghancurkan kariernya, dan menghabiskan masa mudanya di rumah sakit yang bau obat ini."
Ibu Sarah mengeluarkan sebuah amplop dari tasnya dan meletakkannya di atas nakas, tepat di samping botol-botol obat Arini.
"Di dalam itu ada nomor kontak rumah sakit khusus di luar kota, di daerah yang lebih tenang. Aku sudah mengatur semuanya. Kamu bisa pindah ke sana, menjalani pengobatan di sana dengan biaya penuh dariku. Tanpa Rangga. Aku akan memberitahunya bahwa kamu pergi karena keinginanmu sendiri, bahwa kamu ingin menjalani sisa waktumu tanpa melihat wajahnya yang penuh beban."
Dunia Arini seolah berhenti berputar. Tawaran itu terdengar seperti sebuah penyelamatan sekaligus hukuman mati.
"Ibu ingin saya meninggalkan dia tanpa pamit?" tanya Arini dengan suara bergetar.
"Itu satu-satunya cara agar dia bisa kembali hidup normal, Arini. Dia akan sakit hati untuk sementara, tapi dia akan sembuh. Dia akan kembali bekerja, dia akan bertemu wanita lain yang sehat, yang bisa memberinya keturunan, yang bisa menemaninya sampai tua. Sesuatu yang... tidak bisa kamu berikan."
Kalimat itu seperti sembilu yang menyayat jantung Arini. Sesuatu yang tidak bisa kamu berikan. Kenyataan pahit itu menghantamnya dengan telak. Arini tahu ia tidak akan pernah bisa memberikan Rangga keluarga yang utuh. Ia tidak akan pernah bisa memasakkan sarapan untuknya setiap pagi di rumah baru mereka. Ia hanyalah sebuah beban yang sedang menunggu waktu untuk meledak.
Rasa pusing di kepalanya semakin menjadi-jadi. Arini merasa mual yang luar biasa, tapi ia mencoba menahannya. "Saya... saya butuh waktu untuk berpikir, Bu."
"Jangan terlalu lama berpikir, Arini. Setiap hari yang kamu lewatkan di sini adalah satu hari lagi masa depan Rangga yang kamu curi," ujar Ibu Sarah dingin sebelum berbalik dan melangkah keluar ruangan.
Sepeninggal Ibu Sarah, Arini merasa ruangan itu mendadak menjadi sangat sempit. Ia sesak napas. Ia mencoba menggapai gelas air di nakas, tapi tangannya yang gemetar justru menyenggol gelas itu hingga jatuh dan pecah berkeping-keping di lantai.
Prang!
Suara pecahan kaca itu seolah-olah menggambarkan keadaan hati Arini saat ini. Hancur, tak berbentuk, dan tajam menyakitkan. Arini mencoba turun dari ranjang, ingin membersihkan pecahan itu karena takut Rangga akan terluka saat kembali nanti. Namun, saat kakinya menyentuh lantai, lututnya lemas. Ia terjatuh di samping ranjang, tepat di tengah pecahan kaca.
Rasa sakit di lututnya tidak sebanding dengan rasa sakit di dadanya. Arini meringkuk di lantai, menangis tanpa suara. Ia melihat pantulan wajahnya di salah satu pecahan kaca yang besar. Pucat, kuyu, dengan mata yang cekung.
Aku memang penghalang baginya, batin Arini.
Tak lama kemudian, pintu terbuka. Rangga datang dengan wajah ceria, membawa bungkusan bubur yang masih mengepulkan uap. Namun, senyumnya lenyap seketika saat melihat Arini tergeletak di lantai dengan pecahan kaca di sekelilingnya.
"Arini! Ya Tuhan, apa yang terjadi?!" Rangga melempar bungkusannya ke meja dan langsung menghambur ke arah Arini.
Ia mengangkat tubuh Arini dengan hati-hati, menghiraukan beberapa serpihan kaca yang mungkin melukai tangannya sendiri. Ia membaringkan Arini kembali ke ranjang dan memeriksa kaki Arini yang tergores kecil.
"Kenapa kamu turun sendiri? Aku kan sudah bilang tunggu aku, Rin!" suara Rangga penuh kecemasan dan sedikit nada frustrasi..
Arini tidak menjawab. Ia hanya menatap Rangga dengan tatapan kosong. Ia memperhatikan setiap detail wajah laki-laki itu. Mata yang lelah, rambut yang sedikit berantakan, dan kemeja yang mulai terlihat longgar di tubuhnya karena Rangga sendiri jarang makan semenjak Arini dirawat.
"Maaf, Ga... aku cuma mau jadi orang yang berguna sedikit saja," bisik Arini.
Rangga menghela napas panjang, ia mengambil kotak P3K dan mulai membersihkan luka di kaki Arini. "Kamu berguna bagi aku hanya dengan tetap bernapas, Rin. Itu saja sudah cukup. Tolong jangan buat aku takut seperti ini lagi."
Arini menelan ludah. Rasa pusing di kepalanya kini bercampur dengan bayangan tawaran Ibu Sarah. "Ga... kalau seandainya aku pergi... kamu bakal gimana?"
Rangga menghentikan gerakannya. Ia menatap Arini dengan tatapan tajam. "Pergi ke mana? Kita di sini untuk berjuang sampai sembuh, Arini."
"Maksudku... kalau aku memilih untuk menjalani pengobatan di tempat lain. Sendiri. Agar kamu bisa kembali kerja, agar kamu bisa jadi manajer, agar ibumu nggak marah lagi..."
Rangga meletakkan kapasnya. Ia menggenggam tangan Arini erat-erat. "Siapa yang ke sini tadi? Ibuku?"
Arini terdiam, tidak berani menjawab.
"Rin, dengar aku," suara Rangga kini terdengar sangat berat dan dalam. "Aku sudah melepaskan jabatan itu. Aku sudah memilih untuk ada di sini. Itu adalah keputusanku, bukan bebanmu. Kalau kamu pergi sekarang, kamu bukan menyelamatkan aku. Kamu justru membunuhku dengan cara yang paling perlahan. Kamu mengerti?"
Arini kembali menangis. Ia merasa terjepit di antara dua cinta yang sama-sama besar: cinta Rangga yang ingin menjaganya, dan cinta dirinya sendiri yang ingin melepaskan Rangga agar laki-laki itu bahagia.
Malam harinya, kondisi Arini mendadak drop. Suhu tubuhnya melonjak tinggi, dan ia mulai meracau dalam tidurnya. Rangga dengan panik memanggil perawat. Dokter datang dan memberikan suntikan penenang serta antibiotik tambahan.
Selama masa kritis itu, Rangga tidak pernah melepas tangan Arini. Ia duduk di kursi kecil itu semalaman, berdoa dengan suara yang nyaris hilang. Ia melihat Arini yang begitu rapuh, seolah-olah hidup gadis itu hanya tergantung pada seutas benang tipis yang siap putus kapan saja.
Di sisi lain, Arini yang berada di ambang kesadaran merasa sedang berada di sebuah labirin yang gelap. Ia melihat Rangga di ujung jalan yang terang, sedang tertawa bersama seorang wanita sehat dan anak-anak yang lucu. Arini ingin mendekat, tapi kakinya tidak bisa digerakkan. Ia melihat dirinya sendiri di cermin, seorang wanita botak yang hanya bisa terbaring di ranjang putih.
Pusing... kepalaku pusing banget... rintih Arini dalam mimpinya.
Saat pagi kembali menjelang, Arini membuka matanya perlahan. Ia melihat Rangga tertidur dengan kepala bersandar di pinggiran ranjangnya, masih menggenggam tangannya. Arini melihat ke arah nakas. Amplop dari Ibu Sarah masih ada di sana, tersembunyi di bawah tisu.
Arini menarik napas panjang yang terasa menyakitkan. Ia sudah mengambil keputusan. Sebuah keputusan yang mungkin akan menjadi awal dari 55 bab penuh air mata ke depan.
Ia mengambil ponsel Rangga yang tergeletak di dekat tangannya. Dengan jemari yang gemetar, ia mengetik sebuah pesan singkat kepada Ibu Sarah.
“Saya setuju, Bu. Tolong jemput saya besok pagi saat Rangga sedang mengurus administrasi di bawah. Tapi tolong pastikan satu hal... jangan pernah biarkan dia tahu ke mana saya pergi.”
Setelah mengirim pesan itu, Arini menghapusnya. Ia menatap wajah Rangga untuk terakhir kalinya dengan penuh rasa cinta yang menyakitkan.
Maafkan aku, Rangga. Izinkanku memperjuangkan kebahagiaanmu, dengan cara meninggalkanmu. Karena aku terlalu mencintaimu untuk membiarkanmu hancur bersamaku yang rapuh ini.
Arini memejamkan mata, membiarkan satu tetes air mata terakhir jatuh di punggung tangan Rangga yang kasar. Esok hari, ia akan menghilang. Esok hari, babak baru dari "pusing" yang sebenarnya baru akan dimulai bagi Rangga—sebuah pencarian tanpa ujung, dan sebuah pengabdian yang ditolak oleh orang yang paling ia cintai.