Seorang pemuda dari dunia modern yang sangat mengidolakan Portgas D. Ace terbangun di tubuh Ace, tepat beberapa saat sebelum ia bertemu dengan Shirohige.
Mengetahui nasib tragis yang menantinya di Marineford, ia bertekad untuk menjadi lebih kuat, menguasai Mera Mera no Mi melampaui batas alaminya, dan mengumpulkan pengikut (serta orang-orang tercinta)
untuk mengubah sejarah Grand Line.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tang Lin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KUROHIGE NO DAIKI
Pantai Dawn Island terlihat berbeda dari biasanya.
Kapal besar dengan bendera tengkorak dan dua pedang menyilang berlabuh di dermaga kayu sederhana yang biasanya cuma dipakai nelayan. Kapalnya megah—tiga tiang tinggi, meriam di kedua sisi, deck luas yang bisa muat seratus orang.
Dan di pantai, tiga puluh bajak laut berkumpul dengan senjata lengkap. Mereka terlihat berbeda dari gerombolan Bluejam—lebih terlatih, lebih disiplin, lebih berbahaya.
Di tengah mereka berdiri seorang pria tinggi besar—setinggi dua setengah meter—dengan rambut hitam panjang terurai, bekas luka vertikal di wajah dari dahi sampai dagu, dan pedang besar di punggung yang lebih panjang dari tubuhku.
Kurohige no Daiki. Bounty delapan puluh juta berry. Kapten dari Black Blade Pirates.
Mata kami bertemu saat aku dan Yamamoto berjalan mendekat.
Dia menyeringai lebar—senyum predator yang menemukan mangsa menarik.
"Jadi kau bocah Devil Fruit yang mengalahkan Raja Hutan?" suaranya berat, menggelegar. "Kukira cuma rumor bodoh. Ternyata benar ada."
Aku berhenti sepuluh meter dari mereka. Jarak aman untuk bereaksi kalau tiba-tiba diserang.
"Apa maumu datang kesini?" aku bertanya langsung tanpa basa-basi.
Daiki tertawa keras. "Langsung to the point! Aku suka bocah berani! Kebanyakan anak seusiamu sudah menangis ketakutan saat lihat aku!"
Dia melangkah maju—setiap langkah membuat tanah bergetar sedikit. Otot di lengannya sebesar batang pohon.
"Aku dengar cerita menarik. Bocah berusia empat tahun dengan Mera Mera no Mi—Devil Fruit tipe Logia langka—mengalahkan gorila raksasa yang bahkan pemburu veteran takut hadapi. Lalu beberapa bulan sebelumnya, mengalahkan lima puluh bajak laut Bluejam sendirian."
Informasinya detail. Terlalu detail. Berarti dia punya mata-mata yang mengawasi pulau ini.
"Cerita memang terdengar mustahil. Makanya aku datang langsung untuk cek. Dan ternyata..." dia menatapku dari atas ke bawah. "Benar ada. Tubuhmu tidak seperti anak empat tahun. Lebih seperti anak sepuluh tahun yang sudah latihan keras bertahun-tahun."
"Kalau cuma mau cek, sekarang sudah lihat. Silakan pergi," aku menjawab dingin.
"Pergi? Hahaha! Belum! Aku belum lihat kekuatanmu secara langsung!"
Dia menarik pedang besar dari punggung—SHING!—bunyi logam terdengar nyaring. Pedangnya memang besar—panjang hampir dua meter, lebar sepuluh sentimeter, hitam mengkilap seperti obsidian.
"Tunjukkan padaku! Tunjukkan kekuatan yang bisa kalahkan lima puluh orang dan Raja Hutan! Kalau kau bisa bertahan lima menit melawan aku, aku akan pergi tanpa ganggu lagi!"
"Dan kalau aku tidak bisa?"
"Maka kau ikut aku. Jadi anak buah. Dengan kekuatanmu, kita bisa masuk Grand Line dan jadi kru legendaris!"
Yamamoto langsung melangkah ke depan—tangan di gagang pedang. "Aku tidak akan biarkan kau bawa bocah itu—"
"Diam!" aku menghentikannya. "Ini tawaranku. Aku yang tentukan."
Yamamoto menatapku shock. "Ace—"
"Percaya padaku."
Aku melangkah maju menghadap Daiki langsung.
"Baiklah. Lima menit. Kalau aku bertahan, kau pergi dan tidak pernah kembali. Deal?"
Daiki menyeringai lebih lebar. "DEAL! Aku suka semangatmu, bocah! Tapi jangan menyesal kalau nanti terluka parah!"
Dia mengangkat pedang besar dengan satu tangan—mudah seperti mengangkat ranting.
"Anak buah! Mundur! Beri ruang untuk pertarungan!"
Bajak laut mundur membentuk arena luas. Yamamoto juga mundur—meski terlihat sangat khawatir.
Aku dan Daiki berdiri berhadapan.
Angin laut bertiup pelan. Ombak menghantam pantai dengan ritme tenang. Kontras dengan ketegangan yang mencekam.
"Aturannya sederhana. Lima menit. Kau boleh gunakan apapun—Devil Fruit, Haki, senjata. Aku akan serang dengan serius. Siap?"
Aku mengambil stance—kaki selebar bahu, tangan kanan menyala dengan api kecil, tangan kiri dilapisi Armament Haki.
"Siap."
"BAGUS! MULAI!"
Daiki langsung menyerang—slash vertikal dari atas dengan kecepatan mengerikan untuk ukuran pedang sebesar itu.
Aku aktivasi Observation Haki—prediksi jalur serangan—dan roll ke kanan.
BOOM!
Pedangnya menghantam tanah—menciptakan kawah sedalam satu meter.
Kuat! Jauh lebih kuat dari Bluejam atau gorila raksasa!
Aku langsung counter—lempar tiga bola api berturut-turut ke arahnya.
Daiki tidak menghindar. Slash horizontal—memotong ketiga bola api jadi dua!
"Serangan lebih kuat dari itu, bocah!"
Dia maju cepat—slash horizontal dari kiri.
Aku lompat mundur—tapi jangkauannya lebih panjang dari yang kukira. Ujung pedang sempat menyentuh bajuku—robek sedikit.
Bahaya! Kalau kena langsung, bisa putus!
"HIKEN!" aku lempar bola api sebesar kepala ke arahnya.
Daiki slash lagi—tapi kali ini bola api meledak saat kena pedang.
BOOM!
Asap tebal. Aku gunakan kesempatan ini untuk bergerak ke sampingnya—cari blind spot.
Tapi saat asap menipis—
Dia sudah menungguku di sana dengan senyum lebar.
"Observation Haki! Kau pikir aku tidak punya?!"
Kick ke arah perutku—cepat seperti peluru.
Aku cross-block dengan kedua tangan yang dilapisi Armament—WHAM!—tetap terlempar lima meter meski sudah block.
Tanganku gemetar—kekuatannya gila!
"Armament Haki di usia empat tahun?! Hahaha! Kau benar-benar monster kecil!"
Dia menyerang lagi—kombinasi slash beruntun yang tidak memberi waktu bernapas.
Aku dodge, parry, block, roll—gunakan semua teknik yang sudah dipelajari dua tahun. Observation Haki maksimal untuk prediksi. Armament Haki untuk block serangan yang tidak bisa dihindari.
Tapi tetap saja—perbedaan kekuatan terlalu besar.
Setiap block membuat tanganku makin mati rasa. Setiap dodge makin lambat karena stamina terkuras.
Dua menit berlalu.
Aku sudah kena beberapa slash ringan—luka goresan di lengan dan kaki. Tidak dalam tapi menyakitkan.
"Kau bertahan lebih baik dari yang kukira! Tapi masih kurang!" Daiki berteriak sambil terus menyerang.
Aku harus ubah strategi. Bertahan saja tidak akan cukup. Harus serang balik dengan efektif.
Saat dia slash dari atas, aku tidak menghindar. Malah maju ke depan—masuk ke jangkauan dalam dimana pedang besar tidak efektif.
"Terlalu dekat!" aku berteriak sambil kedua tangan menyala penuh.
"HIKEN: DOUBLE IMPACT!"
Kedua kepalan berapi menghantam perut Daiki dengan Armament Haki penuh.
WHAM! WHAM!
Untuk pertama kalinya—dia terdorong mundur dua langkah.
"Oho! Ada damage! Bagus!"
Tapi itu cuma dua langkah. Dia tidak terluka serius sama sekali.
Sebaliknya—dia makin excited.
"Sekarang giliranku serius sedikit!"
Pedangnya tiba-tiba dilapisi warna hitam pekat—Armament Haki Hardening!
Sial. Dia belum serius tadi?!
Slash berikutnya jauh lebih cepat dan kuat. Aku hampir tidak sempat react—roll dengan desperate.
Pedang melewati tempat aku berdiri—gelombang tekanan dari slash-nya saja cukup kuat untuk menebang pohon di belakangku.
"Bertahan lagi bertahan lagi! Dimana seranganmu?!"
Dia benar. Aku cuma bertahan. Tidak ada serangan efektif selain tadi.
Harus lebih kreatif.
Aku aktifkan kekuatan Mera Mera no Mi maksimal—tubuh bagian atas berubah jadi api.
"Logia intangibility! Smart!" Daiki memuji.
Tapi dia langsung slash dengan Haki.
Aku tahu Haki bisa sentuh tubuh Logia—jadi sebelum pedangnya sampai, aku ubah bentuk api—melebarkan tubuh jadi awan api yang menyebar.
Pedangnya melewati tapi tidak kena bagian vital karena bentukku sudah berubah.
"Kontrol bagus!"
Aku reform di belakangnya—buat tombak api besar dan tusuk ke arah punggungnya.
Dia putar tubuh dengan cepat—block tombak dengan pedang.
Tapi aku tidak berhenti. Tombak meledak jadi puluhan peluru api kecil yang menyebar ke segala arah.
"FIRE SHOTGUN!"
Daiki terpaksa defend—pedangnya berputar cepat seperti perisai, block semua peluru api.
Tapi itu distraksi.
Aku sudah bergerak ke sampingnya—tangan kanan menyala sangat terang, panas meningkat drastis sampai warna api berubah dari oranye jadi putih kebiruan.
"HIKEN: WHITE FLAME FIST!"
Pukulan terkuat yang bisa kukeluarkan sekarang—hasil latihan dua tahun dikombinasi dengan Armament Haki dan api paling panas yang bisa kubuat.
BOOOMMM!
Ledakan besar. Asap dan api kemana-mana.
Saat asap menipis—
Daiki berdiri dengan senyum lebar. Bajunya terbakar di bagian samping. Kulit sedikit gosong. Tapi tidak ada luka serius.
"HAHAHA! LUAR BIASA! Api seterang itu di usia empat tahun! Kau benar-benar genius!"
Tapi aku sudah kehabisan energi. Kaki gemetar. Penglihatan mulai kabur. Hiken White Flame tadi menguras hampir semua yang tersisa.
"Tiga menit lewat! Dua menit lagi!"
Dua menit terasa seperti dua jam.
Daiki menyerang lagi—tapi kali ini lebih cepat, lebih brutal. Dia tidak main-main lagi.
Aku mencoba bertahan—tapi tubuh tidak merespons dengan baik. Refleks melambat. Observation Haki mulai tidak stabil karena konsentrasi buyar.
SLASH!
Pedangnya akhirnya kena—goresan dalam di lengan kanan. Darah mengalir deras.
"ACE!" Yamamoto berteriak dari pinggir—hampir masuk arena tapi kutahan dengan tangan kiri.
"Belum! Belum selesai!"
Aku masih bisa bertarung. Masih ada satu menit lebih.
Tapi Daiki berhenti menyerang.
Dia menatapku dengan tatapan berbeda—bukan lagi tatapan petarung mencari tantangan. Tapi tatapan... hormat?
"Cukup. Kau sudah bertahan empat menit dua puluh detik. Itu lebih dari cukup."
"Belum lima menit!" aku protes sambil mencoba berdiri tegak meski kaki gemetar.
"Dengan kondisimu sekarang, kau akan pingsan sebelum lima menit. Dan aku tidak mau menang dengan cara tidak sportif."
Dia menyarungkan pedangnya kembali.
"Kau lulus, bocah. Bahkan dengan semua kekuatanku—tanpa menahan diri—kau bisa bertahan empat menit dan bahkan bikin aku sedikit terluka. Di usia empat tahun. Itu pencapaian luar biasa."
Dia berbalik pada anak buahnya.
"Kita pergi! Tidak ada urusan lagi disini!"
"Tapi kapten—bocah ini—" salah satu anak buah protes.
"Aku bilang kita pergi! Aku sudah kasih kata! Bajak laut yang tidak pegang kata bukan bajak laut yang kubanggakan!"
Anak buah terdiam—tidak berani lawan kapten mereka.
Daiki berjalan melewatiku menuju kapal. Tapi berhenti sebentar di sampingku.
"Bocah. Siapa namamu?"
"Portgas D. Ace."
Dia tersenyum. "D ya... pantas saja. Dengar baik-baik, Portgas D. Ace. Suatu hari kau akan jadi besar. Sangat besar. Mungkin bahkan melebihi aku. Dan saat itu..." dia menepuk bahuku pelan. "Kita akan bertarung lagi. Tapi di Grand Line. Sebagai rival yang sejajar. Bukan sebagai dewasa melawan anak-anak."
Dia melanjutkan berjalan.
"Sampai jumpa lagi, Monster Kecil. Terus jadi kuat. Dunia menunggu namamu bergema!"
Kapal mereka berlayar pergi—meninggalkan pantai Dawn Island dengan tenang seperti tidak pernah ada apa-apa.
Saat kapal menghilang di cakrawala, aku akhirnya kolaps.
Yamamoto menangkapku sebelum jatuh ke tanah.
"Dasar bocah bodoh... nyaris mati..."
"Tapi... menang..." aku tersenyum lemah sebelum kesadaran menghilang.
BERSAMBUNG