Kisah ini mengikuti perjalanan Karin, seorang gadis yang harus belajar memahami kehilangan, sebelum akhirnya menemukan cara untuk menyembuhkan hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Running On, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab : 24
Ia mempertanyakan perasaannya sendiri.
Apakah cintanya pada Arka benar-benar telah berubah, atau sebenarnya masih tertinggal di sana?
Apakah rasa yang tumbuh pada James adalah cinta, atau hanya kenyamanan yang lahir karena ia merasa dimengerti?
Pertanyaan-pertanyaan itu berputar di kepalanya selama berhari-hari, tanpa jawaban.
Ia tak mampu mengatakannya pada siapa pun—bukan pada James, bukan pada ibunya, bahkan tidak pada dirinya sendiri.
Di lokasi syuting, Karin tetap bekerja seperti biasa. Ia tersenyum, berdiskusi, dan fokus pada pekerjaannya. Namun di balik itu semua, batinnya terus bergulat, seolah pikirannya tak pernah benar-benar beristirahat.
Hingga suatu hari, Karin menyadari ia tak bisa terus terjebak dalam kekacauan ini.
Ia tak ingin pikirannya terus berputar tanpa arah.
Maka ia pun mengajak James pergi ke sebuah taman.
Ada sesuatu yang harus ia bicarakan—dan kali ini, ia tak ingin lagi menghindarinya.
Karin dan James kini berada di sebuah taman tak jauh dari kota.
Lampu-lampu kecil di sepanjang jalan setapak memantulkan cahaya lembut di antara hamparan bunga yang bermekaran. Di salah satu sudut taman, berdiri sebuah pohon besar yang menjulang tinggi, seolah menjadi penjaga diam bagi siapa pun yang datang membawa cerita.
Malam itu, langit dipenuhi bintang. Terlalu banyak untuk dihitung. Terlalu indah untuk diabaikan.
Seolah-olah semesta ikut menyimak pertemuan mereka.
Udara terasa segar, dingin tipis menyentuh kulit.
Namun hati Karin tidak sesegar itu.
Ia berdiri di hadapan James, jemarinya saling bertaut, napasnya ditarik pelan. Perasaannya tidak sepenuhnya kacau, tapi juga tidak benar-benar tenang. Ada sesuatu yang harus ia katakan—dan ia tak ingin lagi menyimpannya.
Karin mengangkat wajahnya, menatap James.
“James,” ucapnya pelan.
“I’ve been thinking about what you said… about Arka.”
(Aku sudah memikirkan perkataanmu… tentang Arka.)
James tidak menyela. Ia hanya menatap Karin, memberi ruang.
“I thought about it for days,” lanjut Karin.
(Aku memikirkannya berhari-hari.)
“I couldn’t even sleep because of it.”
(Aku bahkan sulit tidur karena itu.)
Ia berhenti sejenak, menelan ludah.
“And because of that…”
(Dan karena itu…)
“I decided I want to try getting back together with Arka.”
(Aku memutuskan ingin mencoba menjalin hubungan kembali dengan Arka.)
Kata-kata itu akhirnya keluar.
Ringan diucapkan, tapi berat ditahan.
“Is that… okay for you?”
(Apakah itu tidak masalah untukmu?)
James menatapnya beberapa detik lebih lama dari biasanya. Tidak ada keterkejutan di wajahnya. Tidak ada luka yang meledak. Hanya ketenangan yang khas darinya.
“Why would that be a problem for me?”
(Kenapa itu harus jadi masalah untukku?)
Karin terdiam.
“It’s actually a good thing,” lanjut James pelan.
(Justru itu hal yang baik.)
“It helps you and Arka truly understand what you feel.”
(Karena itu akan membuat kamu dan Arka benar-benar menyadari perasaan kalian.)
Ia tersenyum kecil.
“If you still love each other and don’t want to be apart, then continue.”
(Kalau kalian masih saling mencintai dan tidak ingin berpisah, lanjutkan hubungan itu.)
Ia berhenti, lalu menambahkan dengan nada setengah bercanda, setengah serius,
“And if it doesn’t work…”
(Dan kalau tidak berhasil…)
“Then you can come back to me.”
(Maka kamu bisa kembali padaku.)
Karin menatapnya lama. Dadanya terasa sesak.
“James,” katanya kemudian.
“I don’t know whether what I feel for you is love… or just comfort.”
(Aku tidak tahu apakah perasaanku padamu ini cinta… atau hanya rasa nyaman.)
Ia menghela napas.
“That’s why I want to truly understand my feelings first.”
(Itu sebabnya aku ingin benar-benar memahami perasaanku lebih dulu.)
Lalu, dengan suara yang nyaris bergetar, ia bertanya,
“If I end up loving Arka again…”
(Jika aku akhirnya kembali mencintai Arka…)
“Would that hurt you?”
(Apakah kamu akan terluka?)
James tidak langsung menjawab.
Ia menatap langit sebentar, lalu kembali menatap Karin.
“Of course it would hurt,” katanya jujur.
(Tentu aku akan terluka.)
“But not in the way you imagine.”
(Tapi bukan luka seperti yang kamu bayangkan.)
Ia tersenyum tipis.
“If I like you, but you’re happy with someone else…”
(Jika aku menyukaimu, tapi kamu bahagia dengan orang lain…)
“Why should that be a wrong kind of pain?”
(Kenapa itu harus menjadi luka yang salah?)
Karin terdiam.
“Karin,” lanjut James lembut.
“Get to know your feelings.”
(Kenali perasaanmu.)
Nada suaranya tenang, tanpa tuntutan.
“And when you finally understand them…”
(Dan setelah kamu benar-benar memahaminya…)
“Come back to me.”
(Datanglah kembali padaku.)
“Tell me what you feel for Arka.”
(Katakan apa yang kamu rasakan pada Arka.)
“And tell me what you feel for me.”
(Dan katakan juga apa yang kamu rasakan padaku.)
Mata Karin berkaca-kaca.
“Okay,” katanya akhirnya.
“I will.”
(Aku akan melakukannya.)
“Wait for me, okay?”
(Tunggu aku, ya.)
James mengangguk.
Ia mengulurkan jari kelingkingnya.
Karin tersenyum kecil, lalu menyenturkan jari kelingkingnya ke jari James.
Sebuah janji sederhana tercipta di bawah langit penuh bintang.
Tanpa paksaan. Tanpa kepastian.
Hanya kejujuran.
Malam itu, mereka saling menatap dengan senyum yang tenang—
sadar bahwa apa pun yang akan terjadi setelah ini,
mereka telah memilih untuk tidak berbohong pada hati masing-masing.
Setelah Karin meninggalkan taman itu, James duduk seorang diri di salah satu bangku kayu yang menghadap hamparan bunga.
Langkah Karin sudah lama menghilang, tapi bayangannya masih tertinggal di udara malam.
James menyandarkan tubuhnya, lalu mendongakkan kepala menatap langit.
Bintang-bintang bertabur tenang di atas sana—terlalu tenang untuk hati yang sedang berkecamuk.
Ia menarik napas dalam-dalam…
lalu menghembuskannya perlahan, nyaris kasar.
Dadanya terasa lega.
Tapi juga berat.
Ia tahu, jika Karin kembali pada Arka, ia akan terluka.
Namun ia juga tahu—memaksa cinta Karin untuk dirinya sendiri akan menjadi luka yang lebih kejam.
James tersenyum tipis, senyum yang tidak sepenuhnya bahagia.
“We’ll see how it turns out.”
(Kita akan lihat nanti bagaimana akhirnya.)
Ia menunduk, jemarinya saling bertaut.
“Karin…”
panggilnya pelan, hampir tak bersuara.
“I love you.”
(Aku mencintaimu.)
Kalimat itu keluar begitu saja.
Tidak untuk didengar siapa pun.
Tidak untuk dimiliki siapa pun.
Hanya untuk diakui oleh dirinya sendiri.
James menutup mata sejenak.
Untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa mencintai seseorang tidak selalu berarti harus memiliki—
kadang, itu hanya berarti membiarkan, meski hati sendiri yang harus menanggung risikonya.
Angin malam berembus pelan, menggoyangkan dedaunan.
James bangkit dari bangku itu, menatap sekali lagi ke arah jalan tempat Karin pergi.
Whatever your choice is…
(Apa pun pilihanmu nanti…)
…he hopes you’ll be happy.
(aku harap kamu bahagia.)
Dan malam pun kembali sunyi,
menyimpan perasaan yang tak pernah diminta untuk dibalas—
namun tetap memilih untuk tulus.