Keyla Atmadja (18 tahun) baru saja memimpikan indahnya bangku perkuliahan sebelum dunianya runtuh dalam semalam. Ayahnya, Alan Atmadja, berada di ambang kehancuran total; kebangkrutan membayangi dan ancaman penjara sudah di depan mata. Namun, sebuah "tali penyelamat" datang dari sosok yang tak terduga: Dipta Mahendra 35 tahun), seorang konglomerat dingin dan predator bisnis yang disegani.
Pertemuan singkat yang dianggap Keyla sebagai kebetulan di sebuah kafe, ternyata adalah awal dari rencana matang Dipta. Terpesona oleh kemurnian dan kecantikan alami Keyla, Dipta menawarkan sebuah kesepakatan gelap kepada Alan: seluruh hutang keluarga Atmadja akan lunas, dan modal bisnis akan mengalir tanpa batas, asalkan Keyla diserahkan menjadi tunangannya.
Terjepit di antara rasa bakti kepada orang tua dan keinginannya untuk merdeka, Keyla terpaksa menerima cincin berlian yang terasa seperti borgol di jemarinya. Di pesta pertunangan yang megah namun penuh ketegangan, Keyla harus berhadapan dengan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26. ISTRIKU
Gedung Grand Ballroom yang menjadi lokasi gala privat malam itu tampak seperti istana kristal. Cahaya dari lampu gantung raksasa memantul di lantai marmer yang dipoles sempurna. Tidak ada kerumunan wartawan yang bising; ini adalah acara tingkat tinggi yang hanya dihadiri oleh "piringan hitam" ekonomi negara—para konglomerat, pejabat tinggi, dan pemilik dinasti bisnis.
Mobil Rolls-Royce hitam milik Dipta berhenti tepat di depan lobi utama. Seorang petugas berseragam segera membukakan pintu. Dipta keluar lebih dulu, membetulkan kancing tuksedonya, lalu berbalik dan mengulurkan tangan dengan sikap ksatria yang sangat meyakinkan.
Keyla menarik napas panjang, mencoba menenangkan gemuruh di dadanya. Ia meletakkan tangannya di telapak tangan Dipta dan melangkah keluar. Gaun biru dongker yang dikenakannya berkilauan lembut di bawah lampu lobi. Saat mereka melangkah masuk, keheningan sesaat terjadi. Semua pasang mata menoleh.
Dipta melingkarkan lengannya di pinggang Keyla dengan sangat posesif, menariknya mendekat hingga bahu mereka bersentuhan. Ia memimpin jalan menuju kerumunan pria-pria berjas mahal yang sedang memegang gelas sampanye.
"Pak Dipta! Akhirnya Anda datang," sapa seorang pria tua dengan rambut perak, salah satu komisaris bank ternama. Matanya segera tertuju pada Keyla. "Dan... siapa wanita cantik yang bersamamu ini? Saya tidak pernah melihatnya di acara manapun."
Dipta tersenyum—sebuah senyum kemenangan yang jarang ia tunjukkan. "Kenalkan, ini Keyla. Istriku."
Suara denting gelas yang beradu seolah berhenti sejenak. Desas-desus halus mulai terdengar. "Istri? Kapan Anda menikah, Dipta? Kami pikir Anda adalah bujangan abadi yang hanya menikah dengan pekerjaan."
"Kami melakukannya secara privat," jawab Dipta tenang, suaranya berwibawa memenuhi ruangan. "Keyla masih fokus pada studinya, jadi kami memilih untuk tidak mengekspos kehidupan pribadi kami terlalu dini. Tapi malam ini, aku ingin dia ada di sampingku."
Keyla memasang senyum manis yang telah ia latih di depan cermin salon tadi. "Senang bertemu dengan Anda semua," ucapnya lembut. Suaranya terdengar anggun dan tenang, meskipun di dalam hati ia merasa seperti berada di panggung sandiwara yang melelahkan.
Para kolega Dipta tampak terpesona. Mereka tidak menyangka Dipta memiliki selera yang begitu halus. Keyla tidak tampak seperti wanita sosialita yang haus perhatian; ia tampak cerdas, berkelas, dan memiliki aura kemurnian yang kontras dengan dunia bisnis yang kotor.
"Luar biasa, Dipta. Kau benar-benar pandai menyembunyikan permata," puji kolega lainnya.
**
Di sudut ruangan, di dekat meja buffet mewah, seorang pemuda berdiri mematung. Gelas berisi jus jeruk di tangannya nyaris terlepas. Rendy. Ia hadir menggantikan ayahnya yang mendadak jatuh sakit. Ia mengenakan setelan jas hitam yang rapi, tampak sangat tampan, namun wajahnya kini pucat pasi.
Telinganya tidak salah dengar. Pria yang memegang pinggang Keyla itu baru saja mengatakan "Istriku". Pria yang tempo hari di mal dikira sebagai sugar daddy atau wali, ternyata adalah suaminya. Dan pria itu adalah Dipta Mahendra—sosok yang kekuasaannya bisa menghancurkan bisnis keluarga Rendy dalam satu malam.
Rendy merasakan sesak di dadanya. Ia menatap Keyla dari kejauhan. Keyla terlihat sangat cantik, namun ia juga melihat sorot mata yang sama yang ia lihat di perpustakaan kemarin: sorot mata yang terperangkap.
Dipta sedang asyik berdiskusi tentang proyek pelabuhan baru dengan dua menteri yang hadir. "Sayang, aku harus bicara serius sebentar dengan mereka. Kau bisa mencicipi canapé di sana atau mencari minum?" bisik Dipta, memberikan sedikit kelonggaran namun matanya tetap memberi peringatan.
"Tentu, Dipta. Aku akan di dekat meja minuman," jawab Keyla patuh.
Keyla berjalan perlahan menuju area minuman, merasa lega bisa lepas sejenak dari pengawasan langsung Dipta. Namun, saat ia baru saja mengambil segelas air putih, sebuah bayangan muncul di sampingnya.
"Keyla."
Keyla tersentak. Suara itu. Ia menoleh dan menemukan Rendy berdiri di sana dengan wajah yang hancur. "Kak... Kak Rendy? Apa yang Kakak lakukan di sini?"
"Aku mewakili Ayah," jawab Rendy cepat, matanya menyapu wajah Keyla yang penuh riasan. "Key, jelaskan padaku. Apa yang baru saja kudengar? Istri? Kau istri Dipta Mahendra?"
Keyla menunduk, tidak berani menatap mata Rendy. "Kak, tolong pergi. Jangan di sini. Kalau Dipta melihat..."
"Aku tidak peduli!" Rendy berbisik dengan nada mendesak. "Jadi ini alasanmu menjauh? Ini alasanmu ketakutan di perpustakaan kemarin? Dia memaksamu, kan? Tidak mungkin gadis sepertimu memilih pria dingin seperti dia secara sukarela."
"Ini rumit, Kak. Tolonglah... jangan memperburuk keadaan," isak Keyla tertahan. Ia melirik ke arah Dipta yang masih membelakangi mereka namun sesekali menoleh ke arahnya.
"Keyla, dengar. Jika kau terancam, jika kau butuh keluar dari sini... aku bisa membantumu. Keluargaku memang tidak sekuat dia, tapi aku tidak bisa diam saja melihatmu seperti ini," Rendy meraih tangan Keyla sejenak, sebuah gerakan nekat yang sangat berbahaya.
Keyla segera menarik tangannya. "Kakak tidak mengerti! Dia bisa menghancurkan hidup Kakak dalam sekejap! Pulanglah, lupakan aku pernah ada di kampus itu. Anggap saja kita tidak pernah kenal."
"Bagaimana aku bisa lupa, Key? Di perpustakaan itu... aku melihat siapa dirimu yang sebenarnya. Kau bukan boneka pajangan seperti malam ini," ujar Rendy pedih.
"Keyla."
Suara bariton yang dingin itu memotong percakapan mereka seperti pisau yang mengiris udara. Dipta sudah berdiri beberapa meter di belakang mereka. Matanya tertuju tajam pada Rendy, lalu beralih ke tangan Keyla yang masih gemetar.
Dipta berjalan mendekat, langkahnya tenang namun setiap hentakannya seolah membawa beban kematian. Ia merangkul bahu Keyla dengan sangat kuat, seolah ingin menunjukkan bahwa wanita ini adalah wilayah kekuasaannya yang tidak boleh diinjak siapapun.
"Ah, kita bertemu lagi, anak muda," ujar Dipta dengan senyum yang sangat palsu. "Rendy Pramudya, benar? Bagaimana kabar bisnis garmen ayahmu? Kudengar ada sedikit kendala dalam kontrak distribusi minggu ini?"
Rendy menegang. Ia tahu itu adalah ancaman terang-terangan. "Kabar Ayah baik, Pak Dipta. Terima kasih sudah bertanya."
"Bagus. Sebaiknya kau fokus pada urusan keluargamu. Istriku sedang lelah, dia tidak punya banyak waktu untuk mengobrol dengan... mahasiswa sepertimu," Dipta menekankan kata 'Istriku' dengan nada yang sangat menghina.
Dipta menatap Keyla. "Ayo, Sayang. Ada kolega dari Singapura yang ingin bertemu denganmu. Jangan buang waktumu di sini."
Dipta menyeret Keyla menjauh, meninggalkan Rendy yang hanya bisa mengepalkan tangan dalam kemarahan yang tidak berdaya. Keyla sempat menoleh ke belakang sekali, memberikan tatapan "maaf" yang sangat dalam, sebelum Dipta menarik wajahnya kembali untuk menatap para tamu penting lainnya.
Malam itu, kemegahan Gala terasa seperti panggung eksekusi bagi Keyla. Ia sadar, keberanian Rendy hanya akan mendatangkan malapetaka, dan Dipta baru saja menunjukkan bahwa ia tidak segan-segan menggunakan kekuasaannya untuk menghancurkan siapapun yang mencoba menyentuh "harta" miliknya.
***
Bersambung...
mahasiswa normal, apakah kau pernah jadi mahasiswa normal, Dipta ? melihat sikapmu yakin kau tak pernah jadi mahasiswa normal atau bahkan lbh parah, tak pernah kuliah
Dipta, gunakan hati & otakmu, bisa kan ? kalau kau ingin Keyla menurut, perlakukan dia dg baik, dg pendekatan hati pasti timbal baliknya juga baik
ayo Dipta buktikan, dirimu manusia baik" atau kakek moyangnya iblis dg perilakumu