NovelToon NovelToon
MAHAR KEBEBASAN

MAHAR KEBEBASAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Menjual Anak Perempuan untuk Melunasi Hutang / Nikahmuda / CEO / Dijodohkan Orang Tua / Nikah Kontrak
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: MissSHalalalal

Keyla Atmadja (18 tahun) baru saja memimpikan indahnya bangku perkuliahan sebelum dunianya runtuh dalam semalam. Ayahnya, Alan Atmadja, berada di ambang kehancuran total; kebangkrutan membayangi dan ancaman penjara sudah di depan mata. Namun, sebuah "tali penyelamat" datang dari sosok yang tak terduga: Dipta Mahendra 35 tahun), seorang konglomerat dingin dan predator bisnis yang disegani.
Pertemuan singkat yang dianggap Keyla sebagai kebetulan di sebuah kafe, ternyata adalah awal dari rencana matang Dipta. Terpesona oleh kemurnian dan kecantikan alami Keyla, Dipta menawarkan sebuah kesepakatan gelap kepada Alan: seluruh hutang keluarga Atmadja akan lunas, dan modal bisnis akan mengalir tanpa batas, asalkan Keyla diserahkan menjadi tunangannya.
Terjepit di antara rasa bakti kepada orang tua dan keinginannya untuk merdeka, Keyla terpaksa menerima cincin berlian yang terasa seperti borgol di jemarinya. Di pesta pertunangan yang megah namun penuh ketegangan, Keyla harus berhadapan dengan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

24. BEASISWA?

Siang itu, koridor lantai dua gedung Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik tampak sangat ramai. Kelas "Pengantar Teori Hubungan Internasional" baru saja usai, meninggalkan gumpalan mahasiswa yang keluar sambil berdiskusi seru. Keyla berjalan di tengah-tengah Bella dan Resti, dua teman barunya yang cukup berisik namun menyenangkan.

"Key, serius deh, tugas dari Pak Anwar tadi tuh benar-benar menguras otak. Aku butuh seblak atau apa pun yang bisa bikin stres ini hilang!" keluh Bella sambil merangkul bahu Keyla.

Keyla tertawa kecil, sedikit merasa lega karena hari ini ia benar-benar merasa seperti mahasiswi normal. "Boleh, habis ini kita ke kantin belakang ya."

"Eh, tunggu-tunggu!" Resti tiba-tiba berhenti mendadak, matanya tertuju pada sekumpulan orang berbaju rapi yang baru saja keluar dari gedung Rektorat di seberang taman fakultas. "Siapa itu? Gila, ganteng banget! Itu manusia atau dewa Yunani yang lagi nyasar ke kampus kita?"

Keyla ikut menoleh, dan seketika jantungnya seolah berhenti berdetak. Di sana, di tengah-tengah dekan dan Rektor yang membungkuk hormat, berdiri sosok yang sangat ia kenali. Dipta Mahendra. Pria itu mengenakan setelan jas abu-abu arang yang sangat pas di tubuh tegapnya, kacamata hitam bertengger di pangkal hidungnya, memberikan kesan misterius sekaligus sangat berkuasa.

"Ya ampun, benar kata Resti. Wibawanya... aura mahalnya sampai ke sini, lho!" bisik Bella histeris. "Duh, kalau suamiku kayak gitu, aku nggak bakalan keluar rumah seumur hidup. Mau aku kurung saja di kamar!"

Keyla menelan ludah. Keringat dingin mulai membasahi punggungnya. Kenapa dia di sini? Kenapa dia keluar dari Rektorat? batin Keyla panik. Ia segera memalingkan wajah, menunduk sedalam mungkin dan mencoba bersembunyi di balik tubuh Bella yang lebih tinggi darinya. Ia tidak ingin rahasia besarnya terbongkar di sini, di depan teman-temannya yang sedang memuja suaminya.

Saat kelompok Dipta berjalan berlawanan arah dan akan berpapasan dengan mereka, Keyla mencuri pandang. Mata tajam Dipta melirik ke arahnya. Dipta tampak hendak menghentikan langkah, namun Keyla dengan cepat memberikan isyarat—ia mengedipkan mata satu kali dengan kode yang sangat jelas: Jangan bicara padaku! Pura-pura tidak kenal!

Dipta, yang memiliki ketajaman insting luar biasa, seketika menangkap maksud istrinya. Sudut bibirnya hampir saja tertarik membentuk seringai, namun ia segera mengontrol ekspresinya kembali menjadi sedingin es. Ia hanya mengangguk tipis pada rektor dan melanjutkan pembicaraan mereka seolah-olah Keyla hanyalah butiran debu di koridor itu.

Namun, keberuntungan tidak sepenuhnya berpihak pada Keyla.

"Ah, itu dia! Keyla!" seru Pak Rektor tiba-tiba, menghentikan langkah kelompok besar itu tepat di depan Keyla dan teman-temannya.

Keyla membeku. Bella dan Resti ikut berhenti dengan wajah bingung sekaligus kegirangan karena bisa berdiri sedekat itu dengan pria tampan di samping rektor.

"Pak Dipta, perkenalkan, ini adalah salah satu mahasiswi terbaik kami di angkatan ini," ujar Pak Rektor dengan bangga. "Namanya Keyla Atmadja. Dia baru saja masuk dalam daftar pendek penerima beasiswa penuh prestasi untuk program pertukaran pelajar ke luar negeri tahun depan. Nilai seleksi administrasinya nyaris sempurna."

Dipta tertegun. Ia melepaskan kacamata hitamnya, menatap Keyla dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada kilatan amarah yang tersembunyi, namun juga ada rasa heran yang besar. Beasiswa? pikir Dipta. Untuk apa dia mendaftar beasiswa jika kartu kredit yang kuberikan padanya tidak memiliki batas limit? Apakah dia berencana melarikan diri dariku lewat beasiswa luar negeri ini?

Keyla hanya bisa berdiri kaku, tangannya meremas tali tasnya kuat-kuat. "Halo, Pak... senang bertemu dengan Anda," ucap Keyla dengan suara yang dibuat seformal mungkin, seolah-olah mereka adalah orang asing yang baru pertama kali bertemu.

Dipta hanya menanggapi dengan anggukan dingin. "Mahasiswi berprestasi, ya? Mengesankan," sahut Dipta, suaranya yang berat membuat teman-teman Keyla di belakang nyaris pingsan karena terpesona.

Bella yang memang tidak bisa diam, tiba-tiba memberanikan diri bertanya pada rektor, "Aduh, maaf Pak Rektor... kalau boleh tahu, Bapak yang tampan ini siapa ya? Apakah dia dosen baru kita? Kalau iya, saya janji nggak akan pernah bolos kelas selamanya!"

Pak Rektor tertawa renyah. "Bukan, Bella. Ini Pak Dipta Mahendra, CEO dari Mahendra Group. Beliau adalah donatur utama pembangunan gedung perpustakaan digital kita yang baru. Beliau sedang meninjau progresnya."

Resti ikut menimpali dengan nada genit, "Pak Dipta, maaf ya kalau lancang... tapi Bapak sudah punya istri belum sih? Kalau belum, kita semua di sini siap mendaftar jadi kandidatnya, lho. Apalagi Keyla ini, dia jago masak juga lho Pak!"

Keyla ingin sekali menghilang dari permukaan bumi saat itu juga. Ia melirik Dipta dengan tatapan memohon agar pria itu tidak menjawab secara jujur.

Dipta menatap Resti, lalu beralih pada Keyla yang wajahnya sudah semerah tomat. Ia melihat ketakutan yang nyata di mata istrinya. Entah mengapa, melihat Keyla yang begitu keras berusaha menyembunyikan statusnya, membuat Dipta merasa ingin sedikit "bermain".

"Istri?" Dipta menggantung kalimatnya, membuat suasana menjadi sangat tegang. Rektor sendiri ikut menatap Dipta, karena ia pun tidak tahu-menahu tentang kehidupan pribadi sang taipan. "Sepertinya itu bukan konsumsi publik. Tapi saya sangat menghargai semangat mahasiswi di sini."

Pak Rektor kembali menimpali, "Ah, Pak Dipta ini memang sangat tertutup soal kehidupan pribadinya. Jadi, kemungkinan besar beliau masih melajang atau mungkin seleranya sangat tinggi. Jadi kalian harus belajar yang rajin dulu seperti Keyla!"

Teman-teman Keyla pun tertawa, menggoda satu sama lain, sementara Dipta terus menatap Keyla dengan intensitas yang mengerikan. "Beasiswa itu... pastikan kalian memberikan yang terbaik untuk yang benar-benar membutuhkan," ujar Dipta pada rektor, namun matanya tetap tertuju pada Keyla. "Banyak orang kaya di luar sana yang mungkin butuh pelajaran tentang kemandirian."

Setelah itu, kelompok Dipta berlalu. Keyla mengembuskan napas panjang, hampir saja ia jatuh terduduk jika tidak ditahan oleh Bella.

"Key! Gila! Kamu dipuji sama Pak Dipta!" seru Bella kegirangan. "Dia ganteng banget kan? Suaranya... ya ampun, bikin merinding! Kamu kok bisa tenang banget sih tadi?"

"Aku... aku cuma takut sama rektor," bohong Keyla, jantungnya masih berdebar kencang.

"Tapi beneran deh, kalau aku jadi kamu, aku bakal manfaatin beasiswa itu buat deketin dia. Siapa tahu dia butuh asisten pribadi atau apa gitu kan?" timpal Resti sambil berjalan menuju kantin.

Keyla hanya terdiam. Di kepalanya kini hanya ada satu pertanyaan besar: Bagaimana cara menjelaskan soal beasiswa ini pada Dipta nanti malam? Ia tahu, Dipta pasti akan menganggap pendaftaran beasiswa ini sebagai penghinaan terhadap kekayaannya, atau lebih buruk lagi, sebagai rencana Keyla untuk pergi meninggalkannya.

***

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!