Ferdy Wicaksono, fotografer muda yang hidup pas-pasan di Jakarta, tak pernah menyangka darah yang mengalir di tubuhnya akan membangunkan cinta yang tertidur selama lima ratus tahun. Dasima, jin wanita cantik dengan aroma bunga yang tak pernah pudar, jatuh cinta padanya karena Ferdy adalah reinkarnasi pria yang dulu ia cintai—dan kehilangan karena pengkhianatan. Di antara mimpi aneh, perlindungan tak kasatmata, dan kehadiran wanita misterius yang membawa darah masa lalu, Ferdy terjebak dalam cinta lintas dunia yang tak pernah benar-benar selesai. Kali ini, akankah Dasima mencintai… atau kembali kehilangan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Benteng Hati
Fakultas Ilmu Budaya, Pagi, Pukul 08.30
Udara pagi di kampus terasa penuh dengan tekad baru. Ferdy duduk di gazebo yang sama tempat mereka biasa berdiskusi skripsi, namun kali ini sendirian. Di depannya terbentang draft bab 4 yang penuh coretan merah dari dosen pembimbing.
Biasanya, melihat coretan sebanyak itu akan membuatnya putus asa. Tapi pagi ini, matanya berbinar dengan determinasi.
"Enough," bisiknya pada diri sendiri, memegang pulpennya erat-erat. "Proyek foto udah mulai jalan. Tapi yang namanya skripsi ini… harus kelar. Gue nggak mau jadi mahasiswa abadi, apalagi nunda-nunda wisuda cuma karena sibuk hunting job."
Semangat itu dibakar oleh kesuksesan pameran dan, secara tidak langsung, oleh rasa aman yang diberikan "Melati"—atau Dasima, meski dia belum sepenuhnya menyadari namanya. Dia merasa didukung, dilindungi, dan itu memberinya kekuatan untuk fokus pada tujuan nyata: menyelesaikan studi.
Dia mengetik cepat di laptop, merombak argumen, memperkuat data, menambahkan referensi dari buku langka Mbak Yuli. Setiap paragraf disusun dengan keteguhan hati yang belum pernah ia miliki sebelumnya.
Pukul 11.45
Getar ponsel memecah konsentrasinya. Pesan dari Andika di grup Project PAMOR.
Andika: "Guys, konfirmasi dari Kirana. Makan siang jam 1 di 'Warung Padang Sederhana' dekat gerbang utama. Dia yang traktir. Ditunggu ya."
Roni: "WOOHOO! SIAP! Gue laper banget nih!"
Ferdy menghela napas. Jadi benar-benar terjadi. Dia balas singkat:
"Oke."
Tidak ada pilihan lain. Dan sejujurnya, setelah malam pameran dan percakapan ringan di balkon, rasa waspadanya terhadap Kirana sedikit berkurang.
Dia terlihat tulus, hanya saja… terlalu sempurna. Dan baginya yang terbiasa dengan kehidupan yang serba kurang, kesempurnaan justru mencurigakan.
Tapi ini untuk tim. Dan dia harus bersikap profesional.
---
Warung Padang Sederhana, Pukul 12.55
Warung padang legendaris dekat kampus itu selalu ramai, terutama di jam makan siang. Udara panas bercampur aroma rempah khas rendang, gulai, dan sambal ijo. Suara ribut mahasiswa, dering ponsel, dan denting piring bersahutan.
Kirana sudah menunggu di meja panjang di sudut yang agak terpisah. Penampilannya hari ini lebih kasual namun tetap elegant: oversized linen shirt warna krem yang dimasukkan sebagian ke dalam celana kulot putih lebar, sepatu sneakers putih bersih, rambut diikat ponytail rendah.
Dia memakai kacamata bingkai tipis yang membuatnya terlihat lebih intelek. Di depannya sudah ada beberapa piring kecil berisi nasi dan lauk pauk pilihan.
Saat Ferdy, Andika, dan Roni datang—masing-masing dengan kaos dan jeans sederhana—mereka langsung menjadi pusat perhatian. Bukan karena penampilan mereka, tapi karena sosok yang menunggu mereka.
Kirana Putri.
Nama itu sudah seperti legenda di kampus. Cantik, keluarga kaya, pintar (S2 di usia muda), dan terkenal sulit didekati. Dia bukan tipe yang bergaul sembarangan.
Melihatnya duduk di warung padang yang sederhana saja sudah mengejutkan, apalagi melihatnya bersama tiga mahasiswa S1 biasa—yang salah satunya (Ferdy) terkenal sebagai anak seni yang pendiam dan bukan dari kalangan elite.
Desas-desus langsung menyebar seperti api di rumput kering. Mata-mata mahasiswa di warung dan trotoar sekitarnya melirik, berbisik, dan sesekali mengambil foto diam-diam dengan ponsel.
"Lihat, itu Kirana kan?"
"Iya! Itu sama siapa? Itu… fotografer yang kemaren pameran di GalNas ya?"
"Waduh, deket nih sama si Ferdy. Jangan-jangan…"
"Tapi yang lain juga ikut. Mungkin urusan project aja."
"Tetep aja, Kirana traktir mereka di warung? Langka banget!"
Ferdy merasakan tatapan itu. Andika dan Roni juga, tapi reaksi mereka justru kebalikan. Mereka berjalan dengan dada membusung, senyum lebar mengembang.
Ini adalah pengakuan sosial tersirat. Mereka, anak-anak biasa, sedang makan siang dengan "putri kampus". Prestisenya langsung naik.
"Maaf, kami telat dikit," kata Andika saat mendekat.
"Tidak apa-apa. Silakan duduk," sambut Kirana dengan senyum ramah. "Saya sudah pesan beberapa lauk andalan di sini. Silakan tambah sendiri kalau kurang."
Mereka duduk. Andika dan Roni di satu sisi, Ferdy dan Kirana di sisi yang berseberangan. Suasana awalnya sedikit canggung, dibelah oleh keriuhan warung dan bisikan-bisikan dari sekeliling.
"Mbak Kirana nggak keberatan makan di tempat kayak gini?" tanya Roni polos.
"Kenapa harus keberatan? Makanan enak ya dinikmati, di mana pun," jawab Kirana sambil mengambil sepotong rendang dengan tangan yang lembut.
"Dan panggil saja Kirana, nggak usah mbak-mbak. Kita sebaya."
"Oke, Kirana," sahut Andika cepat, senang bisa merasa akrab.
Mereka mulai makan. Pembicaraan mengalir dari pameran, feedback dari tamu, rencana pengembangan project selanjutnya. Kirana sangat apresiatif dan memberikan insight dari sudut pandang manajemen seni yang ternyata sangat membantu.
"Kalian punya potensi untuk naik ke level nasional, bahkan internasional, jika konsisten dengan narasi 'jejak dan memori' ini," ujar Kirana, matanya berbinar. "Tapi perlu strategi branding yang jelas."
Andika dan Roni manggut-manggut penuh semangat, seolah sedang mendengarkan oracle.
Ferdy makan dengan tenang, mendengarkan, sesekali mengangguk. Tapi perhatiannya lebih banyak pada sikap Kirana.
Dia memperhatikan caranya berbicara yang santun namun tegas, caranya mendengarkan yang sungguh-sungguh, dan caranya memperlakukan semua orang di warung—dari pelayan hingga pembeli lain—dengan respek yang sama.
Tidak ada sikap sok tinggi atau merendahkan. Itu yang membuat Ferdy bingung. Orang seperti ini… apa mungkin punya agenda jahat?
Setengah jam kemudian, setelah pembicaraan project usai, obrolan mulai lebih santai. Andika dan Roni bercerita tentang kesulitan cari lokasi shooting, klien aneh, dan kehidupan mahasiswa. Kirana mendengarkan sambil tersenyum, sesekali tertawa tulus.
Tiba-tiba, Andika iseng.
"Kirana, boleh nanya nggak? Lo… punya pacar?"
Udara di meja seketika berubah. Roni menendang Andika di bawah meja. Ferdy mengangkat alis.
Kirana hanya tersenyum lebih lebar, tidak tersinggung. "Tidak ada. Fokus studi dan karier dulu. Dan…" dia berhenti sebentar, melirik Ferdy yang sedang minum teh, "saya tipe yang sulit tertarik. Butuh orang yang… berbeda."
Kalimat terakhir itu diucapkan dengan nada ringan, tapi arahnya jelas. Andika dan Roni saling pandang, lalu memandang Ferdy yang masih sibuk dengan tehnya.
Ferdy sendiri merasakan itu. Tapi reaksinya bukan senang atau grogi. Dia hanya menelan tehnya, lalu berkata polos, "Wajar sih. Mending fokus yang jelas dulu. Pacaran kan sering ngeganggu konsentrasi."
Jawaban yang datar, praktis, dan sama sekali tidak merespon "ajakan" halus Kirana.
Andika dan Roni nyaris melongo.
BRO, LO DIAJAK NIH! mata Roni berteriak ke arah Ferdy.
Kirana tersenyum sedikit tertantang. Tidak marah, malah semakin penasaran. Biasanya, cowok mana pun—bahkan yang sok cool sekalipun—akan sedikit merasa tersanjung atau setidaknya menunjukkan reaksi saat dia memberikan "signal" seperti itu.
Tapi Ferdy? Dia seperti mendengar komentar cuaca. Bukan karena sok tidak tertarik, tapi karena… benar-benar tidak tertarik dengan cara itu.
"Kamu memang selalu fokus ya, Ferdy," komentar Kirana, mencoba masuk lagi. "Dari skripsi, project foto, sampai… hal lain."
"Kalau nggak fokus, mana bisa kelar. Hidup ini kan kayak foto, kalau fokusnya nggak bener, gambarnya blur," jawab Ferdy sambil mengambil sepotong perkedel. Analogi fotografi yang sederhana, sekali lagi tanpa nada menggoda.
Kirana mengamatinya dengan seksama. Cowok ini berbeda. Bukan berbeda karena berpura-pura tidak tertarik, atau karena gay.
Melainkan berbeda karena dia memiliki dunia internal yang sangat kuat, sebuah "pusat gravitasi" yang tidak mudah tergoyahkan oleh pengakuan eksternal atau pesona fisik. Dia tidak terkesan oleh statusnya, tidak tergoda oleh kemungkinan "naik kelas" sosial bersamanya.
Dia hanya melihatnya sebagai Kirana, rekan kerja yang profesional dan mungkin agak ceroboh.
Dan justru itulah yang membuat Kirana—yang selama ini dikelilingi oleh orang-orang yang ingin mendapatkan sesuatu darinya—tertarik. Ferdy melihat dia, bukan apa yang dia miliki atau wakili.
"Jadi, setelah skripsi, rencana kamu apa?" tanya Kirana, mengubah taktik.
"Lulus, cari kerja tetap yang masih berkaitan sama fotografi atau visual. Ngekos yang lebih layak. Bisa bantu keluarga di kampung. Sederhana sih," jawab Ferdy jujur.
"Tidak ingin jadi seniman besar? Seperti yang dibicarakan tadi?"
"Pengen sih. Tapi yang realistis dulu. Seniman besar juga butuh makan."
Jawaban-jawaban lugas dan grounded itu justru memukau Kirana. Di dunianya yang penuh dengan ambisi tinggi, rencana pensiun dini, dan obrolan investasi, kesederhanaan dan kejujuran Ferdy seperti angin segar.
Makan siang berakhir dengan Kirana membayar semua—meski Ferdy sempat protes—dan janji untuk tetap berkomunikasi terkait perkembangan project.
Di perjalanan pulang, Andika dan Roni tidak bisa diam.
"Dia jelas banget eye-ing lo, Fer! Lu sadar nggak sih?" seru Roni.
"Sadar. Cuma nggak mau ambil pusing," jawab Ferdy sambil menyalakan motornya.
"Kenapa? Dia cantik, pinter, kaya, baik lagi. Itu jodoh level final boss!" protes Andika.
"Justru karena dia terlalu cantik, pinter, dan kaya," jawab Ferdy dengan tenang, memakai helm. "Dunia gue sama dunianya beda jauh. Nggak perlu maksain jalan yang nggak sejalur. Urusan project aja udah cukup."
Dan dalam hatinya, ada alasan lain yang lebih dalam: kehadiran "Melati". Sebuah ikatan yang ia belum pahami sepenuhnya, namun telah memberinya rasa cukup dan kedamaian yang tidak pernah ia dapatkan dari dunia manusia manapun.
Dibandingkan dengan kompleksitas dan ketidakpastian mendekati Kirana, kehadiran setia dan tanpa syarat dari "Melati" terasa lebih nyata dan berharga.
Sementara itu, Kirana, di dalam mobilnya yang mewah yang menyusul jalanan Jakarta, tersenyum sendiri. Ponselnya berdering—telepon dari ayahnya menanyakan tentang pameran.
Dia menjawab dengan singkat, pikirannya masih pada cowok bertubuh tinggi dengan kaos sederhana dan mata yang jujur itu.
"Ferdy Wicaksono," gumamnya. "Kau memang berbeda. Dan aku penasaran… apa yang ada di dalam duniamu yang membuatmu begitu… kebal?"
Dia tidak tahu bahwa jawabannya adalah sebuah cinta dari lima abad yang lalu, yang kini berwujud wangi melati dan pelukan tak kasatmata di kamar kos sempit Lenteng Agung. Sebuah perlindungan yang jauh lebih kuat dan abadi daripada pesona duniawi mana pun.
Perbedaan Ferdy, yang membuat Kirana penasaran, pada akhirnya adalah benteng yang dibangun oleh sebuah janji yang tak terlupakan—sebuah janji yang bahkan kematian sekalipun tak sanggup memutusnya. Dan untuk sekarang, benteng itu masih kokoh, dijaga oleh sosok yang bernama Dasima.