Esmeralda Aramoa memimpin Proyek Enigma, sebuah eksperimen ilegal untuk menyatukan gen serigala purba ke dalam tubuh subjek bernama AL. Namun, fasilitas penelitian itu hancur dan AL menghilang. Suatu ketika Di tengah hutan sunyi, predator itu kembali—lebih besar, lebih buas, dan siap merobek leher Esme.Saat kuku tajam mulai menggores nadinya, dalam keputusasaan maut, Esme meneriakkan kebohongan gila: "Berhenti! Aku adalah istrimu!"
Apakah predator haus darah itu akan percaya begitu saja?
Siapa sebenarnya sosok AL sebelum ingatannya terhapus paksa?
Apakah kebohongan ini akan menjadi pelindung atau justru jebakan mematikan saat insting liar AL mulai menuntut haknya sebagai seorang suami?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ceye Paradise, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14: Kepala Rumah Tangga
Pagi itu, udara di lereng bukit terasa jauh lebih segar bagi Esmeralda Aramoa. Setelah tiga hari terkapar tidak berdaya karena demam tinggi dan kelelahan, akhirnya kekuatan tubuhnya mulai pulih. Ia terbangun dengan perasaan yang lebih ringan, namun sensasi aneh segera menyergapnya begitu ia menyadari suasana rumah yang terlalu sunyi. Biasanya, suara dentuman benda jatuh atau suara berat AL yang bertanya tentang hal-hal sepele akan memenuhi rungu-nya sejak matahari terbit.
"Aleksander?" panggil Esme sambil turun dari ranjang dengan langkah yang masih sedikit goyah. "Ocan? Di mana kalian?"
Esme memeriksa ruang tengah. Kosong. Karpet bulu tempat AL biasanya tidur sudah tergulung rapi—sebuah kemajuan yang luar biasa bagi seorang pria yang minggu lalu masih ingin tidur di atas pohon. Ia kemudian memeriksa dapur, hanya ada sisa roti panggang dan segelas susu yang sudah habis. Tidak ada tanda-tanda kerusakan, tidak ada kaca pecah, dan tidak ada ceceran darah. Namun, satu hal yang membuat jantung Esme hampir copot: pintu depan tidak terkunci dan sepatu bot besar milik AL tidak ada di tempatnya.
"Sial! Dia keluar!" Esme memekik panik. "Aduh, Esme, kau ceroboh sekali! Bagaimana kalau dia melihat anjing penjaga dan memutuskan untuk bergulat dengannya? Atau bagaimana kalau dia bertemu orang asing dan menggeram karena mengira mereka musuh?"
Esme segera menyambar jaketnya dan berlari keluar rumah tanpa sempat menyisir rambutnya yang acak-acakkan. Pikirannya dipenuhi skenario mengerikan tentang AL yang berubah menjadi predator pasif di tengah keramaian desa. Ia berlari menuruni bukit, menuju area perkebunan Paman Silas yang biasanya menjadi pusat aktivitas penduduk di pagi hari.
Namun, pemandangan yang menyambutnya di gerbang perkebunan apel benar-benar membuat langkah Esme terhenti seketika. Matanya terbelalak, mulutnya menganga lebar.
Di tengah kebun, tampak sosok pria raksasa bertelanjang dada dengan otot-otot yang berkilat tertimpa sinar matahari pagi. AL sedang mengangkat dua peti besar berisi apel sekaligus di pundak kanannya, sementara tangan kirinya menjinjing satu peti lagi seolah-olah beratnya tidak lebih dari sehelai bulu. Wajahnya yang tampan dengan potongan rambut rapi itu kini terlihat sangat segar, dan yang paling mengejutkan, dia sedang tertawa.
Bukan tawa predator yang mengerikan, melainkan tawa polos seorang anak kecil yang sedang mendengar lelucon.
Di sekelilingnya, segerombolan ibu-ibu pemetik apel dan beberapa pekerja kebun tampak berkumpul, memperhatikan AL dengan tatapan kagum yang bercampur dengan rasa iri yang tidak ditutup-tutup lagi.
"Wah, Nak Aleksander, kau kuat sekali! Suami Esme ini memang luar biasa, ya?" seru Bibi Sarah, istri Paman Silas, sambil mengipasi wajahnya yang memerah. "Esme itu pintar sekali menyembunyikan berlian di atas bukit."
AL meletakkan peti-peti itu dengan sangat hati-hati—sesuai pelajaran Esme tentang benda-benda rapuh—lalu menyeka keringat di dahinya. "Terima kasih, Bibi. Paman Silas bilang, suami itu adalah kepala rumah tangga. Dia bilang, suami yang baik tidak boleh membiarkan istrinya bekerja sampai sakit-sakitan. Aku merasa sangat bersalah karena Moa harus jualan pupuk sendirian sampai demam."
Paman Silas yang berdiri di sampingnya sambil memegang catatan kebun tertawa terbahak-bahak sambil menepuk punggung AL. "Nah, itu baru laki-laki! Kemarin saat aku menjenguk Esme, aku bicara pada anak ini. Aku bilang, 'Aleks, kau punya tenaga seperti kerbau jantan, kenapa kau tidak membantu ekonomimu?'. Dan lihat sekarang, dia sudah mengangkut sepuluh baris pohon dalam satu jam!"
Esme yang berdiri di kejauhan merasa dunianya seolah berputar. Rencananya untuk memperkenalkan AL sebagai sepupu yang sedang menjalani rehabilitasi mental hancur berantakan. Hancur berkeping-keping tanpa sisa.
"Aleksander!" teriak Esme sambil berjalan cepat mendekat.
Mendengar suara familiar itu, telinga AL seolah berdiri tegak. Dia segera berbalik dan wajahnya langsung cerah dengan senyum yang sangat lebar hingga taring kecilnya terlihat sedikit, namun ibu-ibu di sana malah menganggapnya itu "senyum yang seksi".
"Moa! Kau sudah sembuh?" AL berlari mendekat, membuat tanah sedikit bergetar karena langkah kakinya yang berat. Sebelum Esme sempat protes, AL sudah mengangkat tubuh Esme ke udara dengan dua tangan di pinggangnya, seolah merayakan kesembuhan sang istri di depan umum. "Lihat, Paman Silas! Istriku sudah bangun!"
"Turunkan aku, Aleksander! Malu dilihat orang!" bisik Esme dengan wajah merah padam, mencoba menepuk pundak AL yang keras seperti batu.
Setelah diturunkan, Esme segera dilingkari oleh ibu-ibu desa.
"Aduh, Esme! Beruntung sekali kau, Nak! Sudah tampan, gagah, rajin, sopan lagi!" puji seorang ibu pemetik apel. "Kenapa baru sekarang dikenalkan? Kau takut kami rebut, ya?"
"Iya, Esme! Suamimu ini tadi banyak nanya lho. Dia nanya 'apa itu uang', 'apa itu pasar'. Kami jelaskan kalau uang itu untuk beli baju bagus buat istri, dia langsung semangat sekali kerjanya!" timpal yang lain sambil tertawa.
Esme hanya bisa tersenyum kaku, otot wajahnya terasa pegal karena harus berpura-pura bahagia. Ia melirik AL yang sekarang sedang dikerumuni gadis-gadis desa yang memberikan air minum dan memuji otot lengannya. AL yang polos hanya mangut-mangut saja, dia menjawab semua pertanyaan dengan kejujuran yang fatal.
"Kau benar-benar suaminya Esme?" tanya seorang gadis remaja dengan genit.
"Iya! Kami sudah menikah," jawab AL mantap. "Moa bilang kami menikah seminggu sebelum aku kecelakaan. Aku tidak ingat pestanya, tapi Moa bilang aku sangat menginginkan nya. Dan aku percaya Moa, karena dia istrimu... eh, istriku!"
Esme ngebatin dengan sangat kaku, "Ya Tuhan, dia menelan semua bohongku mentah-mentah dan menyebarkannya seperti berita utama di koran nasional. Sekarang satu desa tahu aku punya suami yang koma tiga tahun dan bangun dengan otot sekeren ini. Bagaimana cara menjelaskan kalau suatu saat dia berubah jadi serigala dan memakan kambing mereka?"
Namun, di balik kepanikan itu, ada rasa aneh yang merayap di hati Esme. Melihat AL begitu bangga diakui sebagai suaminya, melihat binar di mata kuning itu saat orang-orang memanggilnya dengan nama "Aleksander", membuat Esme merasa sedikit bersalah sekaligus terharu. AL merasa memiliki identitas. Dia merasa diakui sebagai manusia, bukan lagi sekadar Subjek 01.
Paman Silas kemudian menarik Esme sedikit menjauh dari kerumunan. "Nak Esme, maaf ya kalau aku lancang kemarin. Istriku menegurnya sedikit. Kami tidak tega melihatmu kerja keras sampai sakit, sementara ada laki-laki sehat di rumahmu. Aku tidak tahu dia hilang ingatan separah itu sampai tidak tahu konsep mencari nafkah, tapi anak ini cepat belajar. Dia cerdas sekali, Esme."
"Tidak apa-apa, Paman. Aku hanya... aku kaget saja," ucap Esme pelan.
"Dia tadi tanya padaku, 'Paman, apakah suami itu harus selalu di dekat istri?'. Aku bilang, suami itu pelindung. Dia harus cari makan supaya istrinya bisa istirahat," lanjut Paman Silas. "Anak itu sangat menyayangimu, Esme. Dia tadi hampir menangis saat bercerita betapa pucatnya wajahmu saat tidur tadi malam."
Esme tertegun. Ia menatap ke arah AL yang sekarang sedang diajari cara memilah apel yang baik. AL tampak sangat fokus, dahi yang dulu penuh kerutan amarah kini berkerut karena sedang konsentrasi membedakan warna apel merah dan hijau.
"Kenapa apel ini ada yang berlubang, Bibi?" tanya AL pada Bibi Sarah.
"Itu dimakan ulat, Aleks."
"Ulat itu jahat? Apakah aku harus mencarinya dan merobeknya?" tanya AL dengan polos namun terdengar sangat intens.
Bibi Sarah tertawa. "Tidak perlu dirobek, cukup dipisahkan saja. Kau ini lucu sekali, seperti anak kecil dalam tubuh raksasa."
Esme mendekat ke arah AL. "Aleksander, sudah cukup untuk hari ini. Mari kita pulang."
AL segera berhenti. Dia mengambil kaosnya yang tergantung di dahan pohon, memakainya kembali—meski tetap terlihat terlalu ketat—dan berpamitan pada semua orang dengan sangat sopan.
"Paman, besok aku boleh datang lagi? Aku ingin mengumpulkan banyak uang untuk beli obat agar Moa tidak sakit lagi," ucap AL.
"Tentu, Nak! Datanglah kapan saja!" sahut Paman Silas.
Dalam perjalanan pulang mendaki bukit, Esme berjalan di depan dengan pikiran yang berkecamuk. AL mengikuti dari belakang, membawa keranjang berisi apel pemberian Paman Silas sebagai upah kerjanya hari ini.
"Moa," panggil AL pelan.
"Hmm?"
"Apakah aku sudah menjadi suami yang baik hari ini? Paman Silas bilang kalau aku bekerja, aku baru bisa disebut laki-laki yang bertanggung jawab. Apakah kau senang aku mencari... e-ko-no-mi?" AL masih kesulitan dengan istilah tersebut.
Esme berhenti, berbalik menatap AL. Sinar matahari senja menyinari wajah AL, membuatnya tampak sangat manusiawi. Tidak ada tanda-tanda predator di sana sekarang, hanya ada pria yang ingin membahagiakan istrinya.
"Aleksander... kau melakukan hal yang hebat," ucap Esme dengan nada tulus. "Tapi kau harus janji padaku satu hal. Jangan pernah ceritakan soal 'laboratorium' atau 'dan obat yang salah ku berikan hingga membuat kamu agak Berbeda' pada siapa pun. Ceritakan saja kau kecelakaan mobil, titik. Mengerti?"
"Mengerti, Moa! Aku hanya ingin orang tahu aku suamimu. Aku suka saat mereka bilang 'Suami Esme'. Itu membuatku merasa... aku ada," ucap AL sambil tersenyum lebar.
Esme terdiam. Ia baru menyadari betapa pentingnya pengakuan itu bagi AL. Baginya, itu adalah kebohongan pelindung nyawa, tapi bagi AL, itu adalah kenyataan hidupnya yang baru.
"Tapi... kau waktu itu bilang sepupu di rumah?" tanya AL tiba-tiba dengan wajah bingung yang kembali muncul. "Tadi di kebun aku hampir bilang sepupu, tapi Paman Silas bilang suami. Aku jadi bingung lagi. Kenapa harus banyak nama untuk satu orang?"
Esme menepuk dahi. "Aduh... sudahlah. Lupakan soal sepupu. Mulai sekarang, di desa ini kau adalah suamiku. Titik. Jangan tanya lagi atau aku akan memberikan pelajaran mencuci baju lagi besok pagi!"
AL langsung merinding teringat bencana busa sabun tadi pagi. "Jangan! Aku lebih baik angkat seribu peti apel daripada menyentuh busa yang merobek baju itu!"
Esme tertawa, tawa yang tulus untuk pertama kalinya sejak tiga tahun terakhir. Dinamika mereka yang absurd—antara ilmuwan yang penuh kebohongan dan predator yang terlalu jujur—ternyata menciptakan sebuah harmoni aneh di lereng bukit tersebut. Meskipun Esme tahu bom waktu di dalam tubuh AL bisa meledak kapan saja, untuk saat ini, dia memilih untuk menikmati sup ayam yang akan mereka makan bersama sebagai "suami istri" di depan penduduk desa.
"Ayo pulang, Aleksander De Januer," ajak Esme.
"Ayo, Moa! Nanti aku ingin menggendongmu lagi sampai ke atas, kau masih terlihat lemas," ucap AL dengan semangat.
"TIDAK! Jangan menggendongku di jalan umum! Turunkan insting pamer-mu itu!"
Dan begitulah, perdebatan konyol mereka kembali memenuhi jalanan setapak menuju pondok, mengaburkan sejenak kenyataan bahwa dunia luar mungkin sedang mencari mereka berdua.
Bagaimana kelanjutan "karier" AL sebagai buruh angkut di desa? Apakah ketampanannya akan menimbulkan masalah baru dengan para pemuda desa yang cemburu, atau apakah ingatannya tentang 'besi dan cairan biru' akan semakin kuat karena kelelahan bekerja?