NovelToon NovelToon
Apex Of The Red Tower

Apex Of The Red Tower

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Misteri
Popularitas:261
Nilai: 5
Nama Author: Cicilia_.

Terbangun di tengah hutan hitam yang mencekam tanpa ingatan sedikit pun adalah sebuah mimpi buruk. Namun bagi salah satu pemuda yang berjiwa kepemimpinan dan enam remaja lainnya, mimpi buruk itu baru saja dimulai. Tanpa identitas selain nama yang terukir di gelang logam misterius mereka, ketujuh jiwa ini harus bertahan hidup di "The Dead Forest" sebuah hutan liar yang tidak mengenal ampun, di mana predator tidak terlihat dan bayangan bisa membunuh. Di tengah kepanikan Rayden yang cerewet, kecerdasan tajam Naya, dan sifat dingin Zephyr, Arlo mulai dihantui oleh potongan memori masa lalu yang seharusnya tidak ia ingat. Di sisi lain, Selene, gadis misterius yang seolah tahu segalanya, menyimpan rahasia yang bisa menghancurkan kepercayaan mereka satu sama lain. Siapakah mereka sebenarnya? Mengapa mereka dibuang ke hutan ini? Dan apakah ikatan tali persahabatan mereka cukup kuat untuk melawan kenyataan pahit yang menanti di ujung hutan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cicilia_., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16# Seseorang

Gema teriakan Arlo masih terasa bergetar di dinding-dinding tebing yang dingin. Di pinggir jurang yang menganga lebar, Arlo bersimpuh dengan tangan yang mencengkeram tanah hingga kukunya berdarah. Matanya terus menatap ke bawah, ke arah kegelapan yang telah menelan Selene. Perasaan kehilangan yang baru saja mereka rasakan terhadap Leo kini kembali menghantam dengan kekuatan ganda.

"Kita harus turun. Sekarang juga!" desis Arlo, suaranya parau dan penuh tekanan. Ia mulai mencoba menuruni dinding batu yang licin dengan tangan kosong, namun Zephyr dan Harry segera menariknya kembali ke atas.

"Kau gila?! Kalau kau turun dengan cara seperti itu, kau hanya akan menyusulnya menjadi mayat!" bentak Zephyr.

"Aku tidak peduli! Selene ada di bawah sana!" balas Arlo, matanya menyala penuh amarah dan keputusasaan.

Rick melangkah maju, menatap ke arah lembah yang curam itu dengan ekspresi serius. "Arlo, dengarkan aku. Aku tahu jalannya. Selama enam belas bulan aku dan timku menjelajahi hutan ini, kami pernah menemukan jalur landai di sebelah timur yang memutar ke dasar jurang ini. Tapi itu jalur yang panjang dan berbahaya."

"Berapa lama?" tanya Arlo cepat.

"Kalau kita bergerak tanpa henti, mungkin dua jam," jawab Rick. "Itu satu-satunya cara yang masuk akal jika kau ingin Selene ditemukan dalam keadaan hidup."

Tanpa membuang waktu, rombongan itu segera bergerak mengikuti instruksi Rick. Naya berjalan dengan napas tersengal, masih merasa bersalah namun berusaha sekuat tenaga untuk tidak memperlambat rombongan. Cicilia tampak lebih fokus, meskipun kebenciannya pada Naya belum hilang, rasa khawatir terhadap Selene mulai menggeser amarahnya sejenak.

Sementara itu, Rayden berjalan di barisan belakang sambil memeluk tas pancinya yang penyok. "Dua jam berjalan di jalur maut... hebat sekali nasib kita hari ini. Kenapa dunia ini tidak punya tangga darurat saja?" gumam Rayden. Finn yang ada di sampingnya hanya menepuk pundak Rayden. "Syukuri pancimu masih utuh, Ray. Mungkin di bawah nanti kau butuh menggoreng monster lagi."

Di dasar jurang, suasana sangat berbeda dengan hutan di atas. Udara di sini lebih lembap dan dipenuhi oleh lumut bercahaya yang memberikan pencahayaan biru samar. Selene perlahan membuka matanya. Segalanya terasa kabur, dan kepalanya berdenyut hebat. Ia merasa tubuhnya diangkat oleh seseorang dengan sangat hati-hati.

Seorang gadis remaja dengan wajah penuh bekas luka namun memiliki sorot mata yang hangat, Dasha, menyandarkan Selene ke batang pohon raksasa yang akarnya menyala kebiruan.

"Bertahanlah, kau beruntung lumut ini menahan jatuhnya tubuhmu," bisik Dasha.

Selene mencoba memfokuskan pandangannya. Di sekelilingnya, ia melihat sebuah perkemahan darurat yang dibangun dengan sangat rapi menggunakan dahan pohon dan sisa-sisa kain perak. Ternyata, dasar jurang ini bukanlah tempat mati, melainkan persembunyian rahasia bagi sekelompok remaja lain yang senasib dengan mereka.

Dasha tidak sendirian. Dari balik tenda darurat, muncul empat orang lainnya. Ada Tom, seorang pemuda bertubuh kekar dengan kapak rakitan; Rony, pemuda pendiam yang sedang mengasah anak panah; Lily, gadis berambut pendek yang tampak sigap; dan Becca, yang sedang meramu dedaunan untuk dijadikan obat.

"Dasha, siapa yang kau temukan?" tanya Tom dengan nada waspada.

"Satu lagi dari atas. Dia punya gelang yang sama dengan kita," jawab Dasha.

Lily mendekat, matanya menatap Selene dengan rasa ingin tahu yang besar. "Dasha, Rony, dan Becca sudah sembilan bulan terjebak bersamaku di bawah sini. Kami pikir tidak akan ada lagi orang yang datang."

Becca segera mendekati Selene dan menempelkan daun dingin ke dahi Selene. "Dia hanya pingsan karena syok. Dia akan baik-baik saja."

Dua jam kemudian, suara langkah kaki yang terburu-buru terdengar dari arah jalur landai di ujung jurang. Arlo memimpin di depan, pedangnya sudah terhunus. Begitu ia melihat cahaya api unggun kecil di kejauhan, ia langsung berlari sekuat tenaga.

"SELENE!" teriak Arlo.

Kelompok Dasha langsung berdiri dan mengangkat senjata mereka. Tom mengacungkan kapaknya, sementara Rony membidikkan busurnya. "Siapa kalian?! Berhenti di sana!" teriak Tom lantang.

Namun, saat rombongan Arlo muncul dari balik kabut, suasana tegang itu mendadak berubah menjadi kesunyian yang mencekam. Rick dan Cicilia membeku di tempat. Mata mereka melotot seolah melihat hantu.

"Tom? Lily?" bisik Cicilia dengan suara yang bergetar hebat.

Tom menjatuhkan kapaknya ke tanah. Lily menutup mulutnya dengan kedua tangan, air mata langsung mengalir di pipinya. "Rick? Cicilia? Ini benar-benar kalian?"

Rick berlari ke depan dan langsung memeluk Tom dengan sangat erat. "Kami pikir kalian sudah mati saat serangan sepuluh bulan lalu! Kami pikir kami hanya tersisa bertiga!"

Cicilia pun menghambur ke arah Lily, mereka berdua menangis sejadi-jadinya. Ternyata, Tom dan Lily adalah teman lama Rick dan Cicilia dari tim awal mereka. Saat serangan monster besar memisahkan mereka sepuluh bulan lalu, Tom dan Lily terlempar ke jurang ini dan ditemukan oleh Dasha, Rony, dan Becca yang sudah lebih dulu berada di sana selama sembilan bulan.

Arlo mengabaikan reuni emosional itu sejenak. Ia berlari menuju pohon besar di mana Selene bersandar. Ia berlutut di depan Selene, memeriksa napasnya dan menggenggam tangannya yang dingin. "Terima kasih Tuhan... kau masih hidup," bisik Arlo, menyandarkan dahinya ke tangan Selene.

Selene perlahan terbangun. Ia melihat Arlo, lalu beralih ke Dasha yang berdiri di sampingnya. "Arlo... mereka... mereka seperti kita," bisik Selene lemah.

Dasha melangkah maju, menatap Arlo dan rombongannya. "Namaku Dasha. Aku, Rony, dan Becca sudah sembilan bulan di sini. Kami menemukan Tom dan Lily sepuluh bulan lalu setelah mereka jatuh dari atas."

Harry dan Dokter Luz mendekat. Harry menatap perkemahan itu dengan kagum. "Bagaimana kalian bisa bertahan di dasar jurang secerah ini?"

"Tempat ini adalah titik buta sensor Menara," jelas Rony yang akhirnya angkat bicara. "Monster jarang turun ke sini karena kadar oksigennya lebih tipis bagi mereka, tapi lumut ini menyediakan energi bagi kami."

Malam itu, dasar jurang yang gelap berubah menjadi tempat reuni yang penuh air mata dan harapan baru. Dengan bergabungnya tim Dasha (Dasha, Tom, Rony, Lily, Becca), kelompok mereka kini menjadi jauh lebih besar.

Namun, di tengah kebahagiaan itu, Rick teringat sesuatu yang menyakitkan. Ia menatap Tom dan Lily dengan wajah sedih. "Tom, Lily... ada satu hal yang harus kalian tahu. Leo... Leo baru saja pergi. Dia tidak selamat."

Suasana kembali hening. Duka tentang Leo kembali menyelimuti mereka, meskipun mereka baru saja mendapatkan teman baru. Arlo berdiri, menatap teman-temannya yang kini berjumlah lebih besar.

"Kita punya lebih banyak kekuatan sekarang," ucap Arlo. "Kita istirahat di sini malam ini. Dan besok, dengan bantuan Dasha dan timnya yang tahu seluk beluk dasar jurang, kita akan mencari jalan paling dekat menuju Menara."

Rayden duduk di dekat Lily, sambil menawarkan sedikit sisa makanan dari tas pancinya. "Hai, aku Rayden. Dan ini panci penyelamat nyawa. Mau sedikit?" ucapnya dengan gaya absurdnya yang khas, membuat Lily tersenyum kecil di tengah dukanya.

Perjalanan mereka masih panjang, tapi malam itu, di dasar jurang yang sunyi, mereka merasa sedikit lebih kuat untuk menghadapi hari esok.

1
only siskaa
cmngtt KK jngn lupa mmpir di karya aku yaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!