NovelToon NovelToon
The Replacement Bride

The Replacement Bride

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / CEO / Pengantin Pengganti / Mafia
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Rafa Fitriaa

Shabiya seharusnya tidak memiliki harapan bisa memenangkan hati suaminya, ketika pernikahan mereka saja terjadi atas keinginan satu pihak. Wanita itu seharusnya mengubur semua impian tentang keluarga cemara yang selalu didambakan olehnya setiap malam.

Apalagi, ketika ia sudah mengetahui bahwa kehadirannya di hidup suaminya hanya untuk menggantikan posisi seseorang. Dan ketika Shabiya ingin menyerah, tidak ada celah untuknya melarikan diri. Dia sudah terperangkap. Pria tersebut tidak akan membiarkannya pergi dengan mudah.

Akankah semesta membantunya untuk lepas dari pria yang berstatus sebagai suaminya itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rafa Fitriaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sentuhan Asing

Ketika malam mulai menyapa, kota Jakarta diguyur hujan rintik yang membuat aspal jalanan tampak mengkilap seperti kulit ular. Di dalam limusin Rolls-Royce yang kedap suara, suasana jauh lebih dingin daripada udara di luar. Shabiya duduk merapat ke pintu kendaraan, jemarinya meremas tas genggam kecil berbahan satin. Ia mengenakan gaun sutra berwarna merah marun, warna yang sebenarnya ia benci karena terlalu mencolok, namun Galen bersikeras bahwa warna itu adalah "warna keberuntungan" mereka malam ini.

Malam ini adalah peluncuran proyek Gemilar Sky Garden, sebuah megaproyek yang akan mengukuhkan dominasi Galen di industri properti. Sebagai istri dari sang kaisar bisnis, Shabiya diwajibkan tampil. Bukan sebagai dirinya, melainkan sebagai perhiasan paling mahal di lengan Galen.

"Berhenti meremas tasmu, Shabiya. Kau merusak teksturnya," suara Galen memecah keheningan. Pria itu tidak menoleh, ia sibuk menyesuaikan jam tangan titaniumnya.

"Aku gugup, Galen. Aku tidak kenal siapa pun di sana," bisik Shabiya.

Galen akhirnya menoleh. Ia menatap Shabiya dengan pandangan yang sulit diartikan. Ia mengulurkan tangan, jemarinya yang panjang dan dingin mengusap dagu Shabiya, memaksanya untuk mendongak. "Kau tidak perlu mengenal mereka. Kau hanya perlu berdiri di sana, tersenyum secukupnya, dan jangan lepaskan lenganku. Biarkan mereka melihat bahwa kau adalah milikku."

Saat mobil berhenti di depan lobi hotel berbintang lima itu, puluhan lampu kilat kamera langsung menyambar. Pintu dibuka oleh petugas berseragam, dan Galen keluar lebih dulu. Tentu ia tidak langsung berjalan, ia menunggu Shabiya, mengulurkan tangannya dengan gestur yang tampak sangat ksatria di depan kamera.

Begitu Shabiya menyambut tangan itu, cengkeraman Galen mengencang. Bukan cengkeraman yang menyakitkan, tapi sebuah klaim kepemilikan yang tak terbantahkan. Di depan karpet merah, Galen merangkul pinggang Shabiya dengan sangat posesif, menarik tubuh gadis itu hingga tidak ada jarak di antara mereka. Para fotografer berteriak meminta mereka berpose, dan Galen mencium pelipis Shabiya dengan sangat lembut. Sebuah pemandangan yang besok pagi akan memenuhi kolom gosip sebagai "Pasangan Paling Romantis Tahun Ini".

Namun, Shabiya bisa merasakan detak jantung Galen yang tenang dan datar. Tidak ada gairah di sana. Yang berarti, perlakuannya tidak menggunakan hati.

Di dalam ballroom, Galen menjadi pusat gravitasi. Setiap menteri, pengusaha, dan diplomat berusaha mendapatkan perhatiannya. Sepanjang acara, Galen tidak pernah melepaskan tangannya dari pinggang atau bahu Shabiya. Jika ada seorang pria yang menatap Shabiya terlalu lama, mata Galen akan langsung berubah menjadi belati yang tajam, membuat pria tersebut segera membuang muka karena ketakutan.

"Tuan Gemilar, istri Anda sungguh luar biasa. Kecantikannya mengingatkan saya pada..." seorang kolega bisnis tua mencoba memuji.

"Dia unik, Tuan Subrata. Dan dia tidak suka dibandingkan," potong Galen dengan nada bicara yang sopan namun memiliki ujung yang sangat tajam. Tangannya di punggung Shabiya mengencang, sebuah sinyal bagi Shabiya untuk tetap diam.

Shabiya merasa seperti manekin yang sedang dipamerkan. Ia mendengar bisikan-bisikan di sekitarnya.

"Bukankah dia mirip sekali dengan wanita yang dulu bersama Galen?"

"Luar biasa, Galen berhasil menemukan penggantinya."

Kata 'pengganti' itu menusuk telinga Shabiya seperti jarum. Ia melirik ke arah Galen yang sedang tertawa kecil mendengar lelucon seorang kolega. Pria ini sangat hebat dalam bersandiwara. Di depan umum, ia adalah suami yang sangat protektif, pria yang seolah-olah akan membunuh siapa pun yang menyentuh ujung kuku istrinya. Namun Shabiya tahu, proteksi ini bukan untuk dirinya. Galen hanya sedang melindungi asetnya, sebuah citra masa lalu yang berhasil ia hidupkan kembali.

Acara berakhir pukul sebelas malam. Begitu mereka masuk ke dalam lift pribadi menuju kamar hotel untuk beristirahat, semua kehangatan palsu itu menguap. Galen melepaskan rangkulannya dari pinggang Shabiya seolah-olah tangan gadis itu tiba-tiba menjadi panas. Ia melonggarkan dasinya dan berdiri di sudut lift, menatap angka lantai yang bergerak naik.

Setibanya di kamar, Galen tidak langsung masuk ke ruang kerja atau kamar mandi. Ia duduk di kursi armchair beludru di dekat jendela besar yang menghadap lampu-lampu kota.

"Ambilkan aku wiski. Tanpa es," perintahnya datar.

Shabiya melakukannya dalam diam. Ia menyerahkan gelas kristal itu pada Galen. Saat ia hendak berbalik untuk mengganti pakaiannya, tangan Galen menangkap pergelangan tangannya.

"Diam di sini sebentar," ucap Galen pelan. Suaranya tidak lagi mengancam, melainkan terdengar kosong.

Galen menarik Shabiya untuk berdiri tepat di depannya. Pria itu tetap duduk, sehingga wajah mereka berada di level yang hampir sejajar. Galen menyesap wiskinya, lalu meletakkan gelasnya di meja kecil. Ia mulai menatap wajah Shabiya.

Bukan tatapan penuh nafsu, bukan pula tatapan penuh benci. Itu adalah tatapan seorang pria yang sedang mencoba memecahkan teka-teki yang mustahil. Galen menatap dahi Shabiya, lalu turun ke matanya, hidungnya, dan berhenti lama di bibirnya.

Menit-menit berlalu dalam kesunyian yang mencekam. Shabiya merasa tidak nyaman. "Galen? Ada apa?"

Galen tidak menjawab. Ia mengulurkan jari telunjuknya, menyusuri garis alis Shabiya dengan gerakan yang sangat lambat, seolah sedang menghafal setiap inci tekstur kulitnya. Matanya tampak berkaca-kaca, namun ada jarak yang tak tertembus di sana.

Shabiya menyadari sesuatu, jika Galen sedang melamun. Pria itu menatapnya, tapi dia tidak melihat Shabiya. Dia sedang melihat proyeksi dari memorinya sendiri. Dia sedang menatap seseorang yang ia paksakan untuk tinggal di dalam raga Shabiya.

"Kenapa kau menatapku seperti itu?" tanya Shabiya, suaranya bergetar.

Galen tersentak dari lamunannya. Matanya yang tadi sempat melembut seketika kembali menjadi dingin dan tajam seperti semula. Ia melepaskan tangan Shabiya dengan kasar.

"Hanya memastikan riasanmu tidak luntur. Kau terlihat berantakan setelah acara tadi," dusta Galen, suaranya kembali datar dan sinis.

"Kau berbohong," tantang Shabiya. "Kau menatapku seolah-olah aku adalah sesuatu yang hilang. Sebut namanya, Galen. Sebut nama Thana jika itu memang yang kau inginkan!"

Galen mendadak berdiri, membuat kursinya terdorong ke belakang. Ia mencengkeram bahu Shabiya dan menekannya ke dinding kaca di belakang mereka. Di bawah cahaya rembulan yang masuk melalui jendela, wajah Galen tampak seperti iblis yang sedang terluka.

"Jangan pernah kau sebut nama itu dengan bibirmu," desis Galen. "Kau tidak punya hak. Kau berada di sini karena aku mengizinkannya. Kau memakai baju ini karena aku membelinya. Kau hidup dengan nyaman karena uangku."

"Tapi aku bukan dia!" teriak Shabiya di depan wajah Galen. "Kau posesif di depan orang lain agar mereka tidak tahu bahwa kau sedang mencintai orang lain! Kau menyentuhku seolah kau takut aku akan menghilang, tapi kau bahkan tidak tahu siapa namaku saat kita hanya berdua!"

Galen mendekatkan wajahnya, hidung mereka bersentuhan. Shabiya bisa merasakan aroma wiski dan kemarahan dari napas Galen. Untuk sesaat, Shabiya mengira Galen akan menciumnya dengan kasar atau menyakitinya. Namun, Galen justru memejamkan mata, menyandarkan keningnya di kening Shabiya.

"Memang benar," bisik Galen, suaranya nyaris hilang. "Kau bukan dia. Tapi terkadang, jika aku menutup mataku dan menghirup aroma melatimu... aku bisa membohongi diriku sendiri untuk satu menit saja."

Galen melepaskan Shabiya dan berjalan pergi menuju balkon, membiarkan angin malam menyapu amarahnya. Shabiya berdiri mematung di dekat jendela, menyentuh bahunya yang masih terasa panas karena cengkeraman Galen.

Ia baru saja menyadari tingkat tragedi dalam pernikahan ini. Galen adalah pria paling berkuasa di kota ini, namun dia adalah tawanan dari masa lalunya sendiri. Dan Shabiya? Ia hanyalah obat bius sementara bagi rasa sakit pria itu. Sentuhan posesif Galen di depan umum hanyalah pagar untuk menjaga "obat" itu agar tidak diambil orang lain, sementara tatapan kosongnya saat mereka berdua adalah bukti bahwa Shabiya tidak akan pernah benar-benar ada di mata suaminya.

Malam itu, di lantai atas hotel Jakarta yang megah, Shabiya merasa lebih kesepian daripada saat ia berada di dalam keadaan mana pun. Ia tinggal bersama seorang pria yang menyentuh tubuhnya, namun merindukan jiwa orang lain.

1
Kustri
qu koq benci yo ama galen, obsesi sm egois selangit
👊nggo galen🤭
Kustri
penasaran gmn cara sabyan melawan galen💪
Kustri
punya penyakit apa itu si galen, aneh☹️😤
Kustri
eh, apa ada di dunia nyata ya sifat egois ky galen
Kustri
nama'a susah diingat, ingat nama panggilan aja
baru mulai... ky'a seru
Silfanti Ike puspita
:
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!