NovelToon NovelToon
Kembali Ke Tahun 2005

Kembali Ke Tahun 2005

Status: sedang berlangsung
Genre:Ketos / Misteri / Nikahmuda / Time Travel / Cintapertama
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nunna Zhy

Pernikahan seharusnya menjadi awal kebahagiaan, tetapi bagi Dara Sarasvati, tapi justru menjadi akhir dari mimpi-mimpi mudanya. Rutinitas rumah tangga dan keterbatasan hidup membuatnya mempertanyakan semua pilihan yang pernah ia buat.

Satu malam, pertengkaran dengan suaminya, Aldi Laksamana, mengubah segalanya.

Dara pergi—dan terbangun kembali di masa SMA, di tahun 2005.

Di hadapan kesempatan kedua ini, Dara dihadapkan pada dilema yang tak terbayangkan:
mengubah masa lalu demi dirinya sendiri, atau mempertahankan masa depan yang kelak menghadirkan anak yang sangat ia cintai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nunna Zhy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kecelakaan, Takdir Yang Tidak Biasa

Lapangan olahraga terasa lebih luas dari biasanya.

Atau mungkin cuma perasaan Dara saja—karena hari itu, semesta seolah sedang bersekongkol menjahilinya.

“Kelas olahraga digabung, ya.”

Satu kalimat sederhana itu cukup membuat Dara ingin pura-pura pingsan di tempat.

11 IPA 4 dan 11 IPS 2 bercampur di lapangan. Suara riuh memenuhi udara, peluit bersahutan, dan satu fakta pahit yang tak bisa Dara sangkal:

Aldi Laksamana ada di sini.

Lengkap dengan kaus olahraga putih yang entah kenapa terlihat terlalu rapi untuk ukuran pelajaran jasmani.

Rere justru tampak seperti anak kecil yang baru dilepas di taman bermain. Matanya berbinar, senyumnya mengembang tanpa dosa.

“Seru banget, Ra! Jarang-jarang olahraga bareng kelas lain. Apalagi ini kelasnya Satria.” Rere menepuk lengan Dara. “Gue ngerasa takdir lagi kerja lembur nyatuin gue sama Satria.”

Dara melangkah setengah hati. Setiap langkah terasa seperti mendekat ke masalah yang tidak ia pesan.

“Kata gue,” desis Dara, “lo jangan deket-deket sama Satria. Dia brengsek.”

“Dih, apaan sih. Satria baik kok,” sanggah Rere santai.

“Pokoknya gue udah ngingetin. Kalau lo masih ngeyel—”

“Iya-iya,” potong Rere. “Tenang. Gue malah mau comblangin lo sama Aldi.”

Dara berhenti melangkah.

“Tarik kata-kata lo. Sekarang.”

“Why?” Rere menyeringai. “Gue tahu lo ngefans sama Aldi dari awal kita masuk sekolah—”

“Re,” potong Dara cepat, menahan suara. “Itu dulu. Sekarang, plis. Jangan jodoh-jodohin gue.”

Rere cuma mengangkat bahu, jelas tidak berniat patuh. Di kepalanya, rencana double date sudah rapi tersusun.

 

Guru olahraga berdiri di tengah lapangan sambil membawa peluit.

“Karena guru olahraga kalian cuti mendadak, hari ini saya yang ganti,” katanya lantang. “Supaya efisien, kita gabung saja.”

Dara menarik napas pelan.

Tenang. Cuma dua jam. Bisa. Gue bisa.

“Untuk melatih kekompakan,” lanjut sang guru, “kalian akan dibagi jadi beberapa tim. Anggotanya harus membaur. Tidak boleh satu kelas.”

Dara refleks menoleh ke Rere.

Tatapan mereka bertemu.

Dan saat itu juga, Dara tahu—hidupnya akan hancur.

Rere tiba-tiba menarik tangan Dara dengan semangat yang sama sekali tidak manusiawi.

“Pak!” teriak Rere nyaring sambil menyeret Dara mendekati dua laki-laki yang paling ingin Dara hindari hari itu. “Kita satu tim!”

“Heh—Re! Tung—!” Dara nyaris tersandung, sepatunya bahkan sempat copot sebelah.

Aldi dan Satria menoleh bersamaan.

Aldi mengangkat alis, jelas kaget.

Satria malah menyeringai lebar. Terlalu lebar.

“Oh,” ujar Satria santai. “Kita satu tim.”

Dara berdiri kaku, mencoba berdiri normal sambil diam-diam memasang kembali sepatunya.

Tenang, Dara. Jangan kelihatan panik. Jangan kelihatan kayak orang bodoh.

Guru olahraga kembali bersuara. “Baiklah. Kalian tim pertama. Yang lain ayo segera bentuk tim beranggotakan empat orang.”

Setelah semua siswa kebagian tim, guru olahraga segera mengambil alih.

“Oke,” lanjut guru itu tanpa dosa, “kita mulai dengan lari estafet.” katanya tanpa memberikan waktu untuk briefing.

Dara menoleh ke arah Rere, matanya menyipit.

Rere membalas dengan senyum manis yang sangat tidak tulus.

Dan saat peluit berbunyi—

Dara sadar satu hal:

Semesta bukan cuma mempertemukannya dengan Aldi hari itu.

Semesta sedang menjadikannya bahan hiburan.

“Kalian urutannya bebas!” teriak guru olahraga.

Itu kalimat paling berbahaya yang pernah Dara dengar hari itu.

Satria langsung menunjuk diri sendiri. “Gue duluan.”

“Ya elah, pede amat,” gumam Dara.

Satria sudah lari duluan, meninggalkan Dara, Rere, dan Aldi berdiri canggung di garis start. Rere sibuk melompat-lompat kecil, sementara Dara menatap lintasan dengan ekspresi pasrah seperti terpidana.

“Lo siap?” Rere menoleh.

“Enggak,” jawab Dara jujur.

“Aduh, santai aja. Tinggal lari.”

Dara mendengus. “Masalahnya bukan larinya. Masalahnya—”

Ia melirik ke samping.

“—formasinya.”

Aldi berdiri dua langkah dari Dara. Diam. Fokus ke lintasan. Seolah Dara tidak ada di sana.

Bagus, pikir Dara. Jaga jarak. Jangan anggap gue eksis.

Beberapa detik kemudian, Satria berlari mendekat sambil terengah-engah.

“Siap-siap!” teriaknya.

Rere maju refleks.

“Eh, Re—!” Dara mencoba menahan, tapi terlambat.

Satria menyerahkan tongkat ke arah Rere—yang malah terpeleset karena terlalu semangat.

“Astaga!”

Rere oleng. Tongkat hampir jatuh.

Dan Dara, dengan refleks kepanikan tingkat tinggi, melompat maju untuk menangkapnya.

Namun masalahnya…

Di saat yang sama, Aldi juga melangkah maju.

BRAK.

Mereka bertabrakan.

Cukup keras.

Cukup dekat.

Dara kehilangan keseimbangan dan refleks mencengkeram apa pun yang ada di depannya.

Yang ternyata adalah—

kaus olahraga Aldi.

“Eh—!”

Aldi reflek menangkap lengan Dara sebelum gadis itu jatuh sepenuhnya.

Hasil akhirnya?

Dara nyaris menabrak dada Aldi.

Jarak mereka tinggal beberapa sentimeter.

Terlalu dekat untuk pura-pura normal.

Lapangan mendadak sunyi—atau setidaknya terasa begitu di kepala Dara.

Ia bisa mencium bau keringat bercampur sabun.

Bisa mendengar napas Aldi yang sedikit tertahan.

“Lepas, Ra,” ujar Aldi pelan.

Nada suaranya… familiar.

Bukan nada orang asing.

Dara tersentak, langsung melepas cengkeramannya dan mundur dua langkah.

“Ma—maaf!” katanya gugup. “Refleks!”

Aldi mengangguk singkat. Tangannya masih terangkat seolah bersiap menangkap Dara lagi kalau ia jatuh.

Refleks yang terlalu sigap.

“Gue yang lanjutin,” kata Aldi cepat, mengambil tongkat estafet dari tangan Dara.

Sebelum Dara sempat protes, Aldi sudah berlari.

Cepat. Rapi. Fokus.

Dara berdiri bengong.

Sejak kapan dia refleks nangkep gue kayak gitu?

Rere mendekat sambil menahan tawa. “Ra…”

“Apa.”

“Lo tahu nggak tadi lo megang apa?”

Dara memucat. “Re. Jangan. Jangan lo lanjutin.”

Rere nyengir. “Gue cuma mau bilang—”

“DIEM.”

Satria yang sudah menunggu di ujung lintasan tertawa terbahak. “Gokil sih tim kita!”

Aldi menyelesaikan larinya dan menyerahkan tongkat ke Satria dengan sempurna.

Tim mereka menang.

Sorakan terdengar.

Namun Dara sama sekali tidak merasa menang.

Karena saat Aldi berjalan kembali ke arahnya, langkahnya melambat.

Ia berhenti tepat di depan Dara.

“Lo nggak apa-apa?” tanyanya.

Nada itu lagi.

Nada khawatir yang terlalu… personal.

“Enggak,” jawab Dara cepat. “Cuma kaget.”

Aldi menatapnya beberapa detik lebih lama dari yang seharusnya.

Lalu, tanpa sadar, ia berujar lirih,

“Lain kali fokus. Jangan ngawur.”

Dara membeku.

Kalimat itu.

Itu kalimat yang sama.

Kalimat yang dulu sering Aldi ucapkan—di masa depan—setiap kali Dara ceroboh.

"Al, lo ingat gue siapa?"

Aldi diam sejenak. Rahangnya mengeras sedikit.

“Elo siapa? Cinderella?” jawabnya cepat, lalu melangkah pergi.

Bersambung...

1
Vivi Zenidar
karyanya bagus..... semoga akan banyak yg baca dan menyukai
achi
wihhh makin seru thorr👍👍👍
achi
naluri orang tua pasti selalu ada
achi
wkwkwk mari kita lihat siapa yg kebakar duluan
achi
kurang waktu buat komunikasi mereka dulu
achi
sama2 mau ubah takdir tp kalo dah jodoh pasti dikasi jalan
achi
semangatt ka nulis cerita ini 😍😍😍
I'm Girl
nah kan bner, si aldi emang dr masa depan
I'm Girl
cie cemburu si aldi
I'm Girl
ini Aldi pasti dr masa depan deh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!