NovelToon NovelToon
Pangeran Tidur

Pangeran Tidur

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Beda Dunia / Mengubah Takdir / Romansa / Penyeberangan Dunia Lain
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Azumi Senja

Elora tak pernah percaya dongeng. Hingga suatu malam, ia membacakan kisah Pangeran Tidur dan terbangun di dunia lain.
Sebuah taman cahaya tanpa matahari,tempat seorang laki-laki bernama Arelion.
Arelion bukan sekadar penghuni mimpi. Di dunia nyata, ia adalah pewaris keluarga besar yang terbaring koma, terjebak di antara hidup dan mati. Setiap pertemuan mereka membuat sunyi berubah menjadi harapan, namun juga menghadirkan dilema yang menyakitkan.
Jika Arelion terbangun,ia akan kehilangan semua ingatannya bersama Elora ,
Jika Arelion tetap tertidur, dunia nyata perlahan kehilangannya.

" Bangunlah Arelion..meski dalam ingatanmu, aku tak akan ada.." ~ Elora ~


"Aku terjebak dalam tidur panjang
sampai dia datang
dan membuat sunyiku bernama" ~Arelion~

Ini bukan kisah putri tidur.
Ini adalah kisah tentang dua hati
yang dipertemukan dalam mimpi.
Tentang cinta yang tumbuh diantara dua dunia

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azumi Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Selamat datang Arelion

Rumah sakit itu berdiri megah dan dingin, dengan dinding putih yang terasa asing bagi Elora. Bau antiseptik menyergap begitu ia melangkah masuk, membuat dadanya sesak tanpa alasan yang jelas.

Langkahnya ragu saat menyebut nama itu di meja informasi.

“Arelion,” ucapnya pelan, seolah takut nama itu lenyap jika diucapkan terlalu keras.

Perawat di balik meja menatap layar komputer, lalu mengangguk kecil. “Ruang ICU, lantai tiga. Tapi mohon maaf, jam besuk sangat terbatas.”

Elora mengangguk cepat. “Saya… saya hanya ingin melihat sebentar.”

Lift bergerak naik perlahan. Detik demi detik terasa begitu panjang. Jemarinya saling bertaut, dingin, sementara jantungnya berdetak tak beraturan.

Saat pintu ICU terbuka, dunia terasa berbeda.

Sunyi.

Hanya ada bunyi mesin yang berdetak teratur, lampu-lampu redup, dan langkah pelan para tenaga medis. Elora berjalan menyusuri lorong hingga berhenti di depan sebuah bilik kaca.

Di sanalah ia melihatnya.

Arelion terbaring tak bergerak, tubuhnya dipenuhi kabel dan alat bantu. Wajahnya jauh lebih pucat dari yang ia lihat di taman cahaya. Tak ada senyum lembut. Tak ada tatapan sendu.

Hanya diam.

Elora mendekat ke kaca, telapak tangannya menempel di sana tanpa sadar.

“Arelion…” suaranya bergetar.

Ada perih yang tiba-tiba menyeruak di dadanya. Sosok yang di taman terlihat begitu hidup, begitu hangat, kini terbaring rapuh di hadapannya.

Ia teringat kata-kata Malwa.

Jika kau tak segera kembali ke duniamu…

Air mata jatuh tanpa bisa dicegah.

Di sudut ruangan, ia melihat seorang pria paruh baya dan seorang wanita elegan berdiri berdampingan. Wajah mereka lelah, mata sembab, seolah harapan dan doa telah terkikis oleh waktu.

Elora menunduk.

Kau harus bangun karena ada orang yang menunggumu, batinnya pedih.

Saat orang tua Arelion pergi ,Elora segera masuk .

Sunyi menelan ruangan itu.

Bunyi bip… bip… monitor jantung terdengar lebih keras dari sebelumnya, seolah ikut menahan napas bersama mereka.

Elora berdiri kaku beberapa detik di ambang pintu. Dadanya bergetar hebat. Ini berbeda. Sangat berbeda dari taman cahaya, dari pohon berkilau, dari kupu-kupu yang menari di udara.

Ini nyata.

Ia melangkah pelan mendekat. Setiap langkah terasa berat, seakan lantai itu menarik kakinya kembali. Matanya tak lepas dari sosok yang terbaring di ranjang rumah sakit—tubuh yang kurus, wajah pucat, kabel dan selang yang menempel di sana-sini.

Hatinya mencelos.

Masih tak percaya…

bahwa lelaki di hadapannya ini adalah Arelion.

Bukan pangeran taman cahaya.

Bukan sosok bercahaya dengan senyum tenang di bawah pohon kehidupan.

Melainkan seorang pemuda rapuh yang tertahan di antara hidup dan pergi.

“El…” suaranya tercekat. Nama itu hampir tak sanggup keluar.

Ia berdiri di sisi ranjang, jemarinya gemetar saat menggenggam pagar besi dingin. Napasnya memburu ketika ia memperhatikan wajah itu lebih dekat—alis yang sama, garis rahang yang sama. Bahkan dalam keadaan tak sadar, ada ketenangan yang begitu ia kenal.

“Arelion…” bisiknya lirih.

Tak ada jawaban.

Namun saat Elora menunduk, ia menyadari sesuatu. Di sudut mata lelaki itu, setetes air mata mengalir pelan, menyusuri pelipisnya.

Elora terisak.

“Jadi ini duniamu…” ucapnya hampir tanpa suara. “Dan aku akhirnya sampai.”

Ia mengulurkan tangan, ragu sejenak, lalu menggenggam jemari Arelion dengan lembut..hangat. Sangat hangat.

Bunyi bip monitor itu sedikit berubah ritmenya.

Elora tersenyum di sela air mata.

“Aku di sini,” katanya mantap, meski suaranya bergetar.

“Aku datang… seperti janjiku.”

Elora menatap layar monitor, lalu kembali ke tangan Arelion. Gerakan itu nyaris tak kasatmata—hanya seujung jari yang bergetar, lalu diam lagi. Namun bagi Elora, itu seperti cahaya kecil di tengah malam panjang.

"Kalau kau mendengarku… tolong bangun.”

Cahaya di sekitar mereka berdenyut lemah.

“Ada dunia yang menunggumu,” lanjutnya, suaranya pecah namun penuh keteguhan.

“Keluargamu. Hidupmu. Masa depanmu.”

Ia menggeleng pelan, seolah menolak kenyataan yang ia ucapkan sendiri.

Elora mengeluarkan buku dongeng dari dalam tas nya.Ia buku buku itu ..

" Arelion...Arelion..bangunlah .."ucapnya bergetar .

Bangunlah meski nanti kau tak mengingatku..

Elora menghela napas panjang, lalu berbisik dengan seluruh keberanian yang ia miliki,

“Arelion..pulanglah.”suaranya serak .

Di saat yang sama...

di taman cahaya, angin berdesir tidak wajar.

Daun-daun berputar, kupu-kupu beterbangan gelisah. Malwa terbang mengitari Arelion .. tubuhnya semakin tembus cahaya.

“Pintu itu terbuka,” ujar Malwa pelan. “Elora berhasil membukanya ..pergilah Arelion..kau sudah terlalu lama disini."

Tubuhnya seketika terseret oleh cahaya yang mengalir deras, seperti arus sungai yang akhirnya menemukan muaranya. Sosoknya memudar, terseret menjauh dari pohon cahaya, dari taman yang pernah menjadi rumah sementaranya.

" Selamat tinggal Arelion.."isak Malwa, saat pintu cahaya itu menutup perlahan.

Di ruang ICU, monitor berbunyi sedikit lebih cepat.

jari Arelion bergerak lagi.

Kali ini, lebih jelas.

“Detak jantung meningkat!” seru seorang perawat.

Dokter mendekat. “Tekanan darah naik. Gelombang otaknya...lihat ini..!”

Di balik tirai kaca, jari Arelion bergerak. Lebih jelas kali ini. Dadanya naik, napasnya tersendat, lalu teratur.

Kelopak matanya bergetar.

Dan perlahan…

mata itu terbuka.

Arelion menatap langit-langit ruang ICU dengan napas berat. Kepalanya terasa kosong… namun hatinya berdenyut aneh, seolah baru saja kehilangan sesuatu yang sangat berharga.

“Elora…”

Nama itu lolos begitu saja dari bibirnya. Pelan. Rapuh. Namun jelas.

Dokter dan perawat saling berpandangan.

“Siapa?” tanya dokter dengan nada hati-hati. “Apa ada keluarga bernama Elora?”

Arelion mengerjap. Alisnya berkerut, seolah ia sendiri terkejut mendengar nama itu keluar dari mulutnya.

“Aku… aku tidak tahu,” jawabnya lirih.

Tangannya terangkat sedikit, jemarinya gemetar di udara kosong..seperti sedang mencari genggaman yang tak ada.

“Rasanya,” lanjutnya dengan suara serak, “ada seseorang yang memanggilku pulang.”

Ruangan kembali hening.

Monitor jantung terus berbunyi, ritmenya stabil, namun di mata Arelion ada kegelisahan yang tak bisa dijelaskan oleh grafik atau angka.

Dokter mencatat sesuatu di papan klipnya. “Kemungkinan efek pasca-koma,” ujarnya pelan. “Fragmen mimpi, memori bawah sadar.”

Namun Arelion menggeleng pelan.

Dadanya terasa sesak. Hangat. Seolah ada ruang kosong yang baru saja ditinggalkan seseorang.

Di luar ruang ICU, tanpa Arelion sadari, seorang gadis berdiri terpaku.

Elora.

Tangannya mencengkeram buku dongeng usang di dadanya. Matanya membesar saat mendengar namanya disebut dari balik pintu kaca.

Nama yang bahkan tak ia ucapkan keras-keras.

Air matanya jatuh tanpa suara.

Ia tersenyum kecil, getir, namun lega.

“Syukurlah…” bisiknya pelan.

“Kau sudah pulang.”

Ia berbalik pergi sebelum siapa pun melihatnya, membawa serta rahasia tentang taman cahaya.

Dan di ruang ICU itu, Arelion kembali memejamkan mata.

Untuk sesaat, hatinya terasa hangat.

Entah kenapa…

nama itu tetap tinggal.

“Aku…” suaranya serak. “Aku bermimpi.”

Dokter tersenyum lega.

“Selamat datang kembali, Arelion.”

1
Azumi Senja
Ashiapppp
Ziya Bandung
Lanjuuuut
Sybilla Naura
lanjuuuuttt 😍😍
Sybilla Naura
Semoga Arelion tak amnesia
Azumi Senja: Semoga 🤭🤭
total 1 replies
Sybilla Naura
lanjuuuuuttttt
Sybilla Naura
Tiap bab nya bikin pinisirin 👍
Azumi Senja
Kereenn
Ziya Bandung
Seruuuuu👍
Ziya Bandung
Suka bangett cerita fantasi kaya gini..🫰🏻🫰🏻
Ziya Bandung
seruuuu😍😍
Sybilla Naura
Sukaa banget cerita dua dunia kaya gini..😍😍
Sybilla Naura
Wahhh..karya baru nih Thor..lanjuuuuuuuttt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!