Blurb:
Dulu, Sora Araminta hanyalah "Istri Sampah" yang gila harta. Kini, tubuhnya diisi oleh Elena, konsultan bisnis legendaris yang lebih galak dari preman pasar.
Saat sang suami, Kairo Diwantara, melempar cek dengan tatapan jijik agar Sora tutup mulut, dia pikir istrinya akan girang. Salah besar.
Elena justru melempar balik surat cerai tepat ke wajah CEO sombong itu.
"Aku resign jadi istrimu. Simpan uangmu, kita bicara bisnis di pengadilan."
Elena pikir Kairo akan senang bebas dari benalu. Namun, pria itu malah merobek surat cerainya dan menyudutkannya ke dinding dengan tatapan berbahaya.
"Keluar dari kandangku? Jangan mimpi, Sora. Kamu masih milikku."
Sial. Sejak kapan CEO dingin ini jadi seobsesif ini?!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7: Efisiensi Anggaran
"Total gaji sepuluh pelayan, tiga tukang kebun, dua sopir, satu kepala pelayan maling... enam puluh juta per bulan. Belum termasuk THR dan uang makan."
Elena mengetukkan pena di meja marmer, iramanya seperti hitungan mundur. Lima pelayan tersisa berdiri gemetar, baru saja melihat Bu Suti diseret polisi.
"Kalian tahu kenapa Bu Suti dipenjara?" tanya Elena tanpa melihat mereka, fokus pada kalkulator ponsel.
"Ka... karena mencuri, Nyonya."
"Bukan cuma itu," Elena mendongak tajam. "Karena dia tidak efisien. Dan kalian melakukan pembiaran. Dalam bisnis, pembiaran sama buruknya dengan pelaku utama."
Mina, yang kini berdiri di sisi Elena sebagai asisten dadakan, menelan ludah bersyukur.
"Mulai hari ini, kalian saya rumahkan."
Pekikan kaget terdengar. "Nyonya! Jangan pecat kami! Kami punya cicilan!"
"Dirumahkan sementara sampai audit HRD selesai," koreksi Elena dingin. "Gaji bulan ini dibayar penuh. Pesangon dua bulan ditransfer sekarang. Silakan pergi. Kalian punya waktu satu jam sebelum gembok gerbang diganti."
Elena memberi isyarat pada Mina. "Periksa tas mereka. Jangan sampai ada sendok perak yang ikut jalan-jalan."
Kelimanya bubar dengan wajah sembab. Aura dominan Elena tak terbantahkan.
"Nyonya..." Mina mendekat ragu. "Kalau mereka pergi, siapa yang bersihkan rumah seribu meter ini?"
Elena menunjukkan aplikasi hijau di ponselnya. "Kita outsource. Jasa kebersihan profesional. Datang pagi, pulang sore. Alat sendiri, SOP jelas, tanpa drama. Biayanya seperempat gaji mereka."
Di luar jendela, mobil bak kuning berlogo "CleanPro" masuk. Tim kebersihan berseragam turun membawa vakum industri.
"Lihat? Efisiensi, Mina. Kunci kekayaan."
Tepat saat itu, mobil van bunga datang. Kurir terhuyung-huyung membawa buket mawar raksasa 500 tangkai.
"Permisi! Paket mingguan Nyonya Sora!"
"Itu langganan Nyonya," bisik Mina. "Supaya tamu pikir Tuan Kairo romantis."
Elena menatap tumpukan mawar itu. "Berapa harganya?"
"Lima juta lima ratus ribu, Bu. Sudah autodebet."
"Lima juta setengah untuk sampah organik?" Elena tertawa sinis. "Bawa pulang."
Kurir itu melongo. "Maksudnya, Bu?"
"Saya tolak barangnya. Batalkan transaksinya. Kalau toko menolak refund, saya tulis ulasan buruk di semua medsos."
"Ta... tapi sudah dipotong tangkainya..."
"Itu risiko bisnis," potong Elena. "Bawa pergi atau saya suruh jadi kompos."
Kurir itu menyeret kembali buket raksasa dengan wajah mau menangis.
Mina geleng-geleng kepala. "Nyonya Sora yang dulu bakal nangis kalau telat dikirim bunga."
"Itu bukan rejeki, Mina. Itu liabilitas," Elena berbalik masuk. "Rumah ini butuh uang tunai, bukan dekorasi makam."
Di lantai 45 Diwantara Tower, suasana rapat direksi tegang. Tapi Kairo tidak fokus. Mata elangnya terus melirik ponsel yang membisu.
Biasanya, jam segini ponselnya berisik notifikasi belanja Sora. 15 juta salon, 25 juta butik. Pola harian yang Kairo hafal. Dia sengaja membuka blokir kartu kredit pagi ini untuk menguji teori bahwa Sora akan "balas dendam".
Tapi ponselnya diam. Nihil.
"Pak Kairo?" panggil Direktur Operasional. "Proposal efisiensi pabrik?"
"Cek sistem perbankan," potong Kairo tiba-tiba.
"Maaf, Pak? Sistem payroll?"
"Kartu kredit korporat dan keluarga. Apa ada gangguan jaringan?"
"Lancar, Pak."
Kairo mengernyit. Jaringan lancar. Limit unlimited. Kenapa Sora tidak belanja? Keheningan ini lebih mengganggu daripada tagihan ratusan juta. Dia kehilangan sinyal radar.
"Rapat bubar," Kairo berdiri mendadak.
"Tapi Pak..."
"Bubar. Saya harus pulang. Ada aset yang perlu saya audit personal."
Pukul tujuh malam. Mobil Kairo masuk pelataran rumah. Ada yang aneh.
Biasanya rumahnya bersinar seperti Disneyland. Lampu sorot, air mancur norak. Tapi malam ini temaram. Lampu taman mati, air mancur mati. Hanya lampu teras warm white yang menyala hemat.
"Apa listrik dicabut?"
Kairo mengecek aplikasi Smart Home. Grafik konsumsi energi terjun bebas 60%. AC, lampu kristal, pemanas kolam—semua OFF.
"Apa-apaan ini..."
Dia masuk. Udara sejuk alami menyambut, bukan AC sentral beku. Hening. Tidak ada barisan pelayan.
"Sora!"
Tidak ada jawaban. Kepanikan irasional merayap. Apa dia kabur membawa uang kemarin?
Kairo bergegas ke ruang tengah. Di sana, di bawah sorot lampu baca LED, dia menemukan istrinya.
Elena duduk di sofa dengan piyama satin navy, rambut dicepol pensil, kacamata anti-radiasi. Dia memangku laptop, mengetik cepat. Di meja ada tumpukan buku Hukum Perdata dan Manajemen Aset.
Kairo berdiri di belakangnya. Di layar laptop bukan drama Korea, tapi spreadsheet Excel ribuan baris dengan rumus rumit.
"Kau..." Kairo kehabisan kata.
Elena berhenti mengetik, menoleh perlahan. "Sudah pulang? Tumben cepat."
"Jangan mengalihkan topik," Kairo melangkah ke depan Elena. "Kenapa gelap gulita? Kemana pelayan? Kenapa air mancur mati?"
"Pelayan dirumahkan, tidak efisien. Sekarang pakai cleaning service," jawab Elena tenang. "Air mancur boros. Tagihan listrik bulan lalu dua puluh juta, targetku bulan ini lima juta. Efisiensi, Kairo."
Kairo mendengus, duduk di depan Elena. "Dan kartu kreditmu. Aku sudah buka blokirnya. Kenapa tidak ada transaksi?"
Elena tertawa tanpa suara, menutup laptopnya.
"Oh, kamu menunggu notifikasi? Maaf mengecewakanmu. Aku tidak belanja."
"Kenapa? Kau sakit?" desak Kairo. Pertanyaan konyol, istrinya terlihat sangat sehat dan tajam.
"Aku sehat walafiat, Tuan Kairo."
"Lalu kenapa kau tidak menghamburkan uang? Mau main tarik ulur?"
Elena condong ke depan, menatap mata suaminya lekat.
"Karena prioritas keuanganku berubah."
"Prioritas apa? Tas baru?"
"Bukan." Elena tersenyum miring, membuat bulu kuduk Kairo meremang. "Aku sedang berhemat. Menabung setiap sen dari rumah boros ini."
"Menabung untuk apa?" suara Kairo merendah.
Elena menepuk buku Hukum Perdata.
"Untuk menyewa pengacara perceraian terbaik di kota ini."
Jawaban itu santai namun mematikan.
"Pengacara bagus tarifnya per jam, Kairo. Karena kamu menolak proposal kemarin, kita akan perang panjang di pengadilan. Perang butuh modal. Jadi maaf, tidak ada bunga mawar atau baju baru. Uangnya masuk tabungan perangku."
Elena berdiri, menjepit laptop dan buku hukumnya.
"Selamat malam, Suamiku. Nikmati rumah barumu yang hemat energi. Jangan lupa matikan lampu kalau sudah selesai melamun."
Elena melenggang naik tangga, meninggalkan Kairo ternganga di ruang tengah yang remang. Dia baru sadar istrinya benar-benar serius.
Dan untuk pertama kalinya, Kairo Diwantara merasa takut.
msih nunggu dimna elena alias sora mengungkapkan jati dirinya ke kairo, dripd trus berbohong yg ada nnti kairo kecewa, gk buruk jg klo jujur kairo kan bucin psti bsa nerima apa adanya 💪
suka banget karakter utama ceweknya kuat, pinter,dominan,
sampe bab ini, kairo belum sedominan gavin di cerita sebelah ya Thor, kesannya msh lbh dominan sora/elena
ditunggu next nya, kairo-soraelena sm kuat
semangat Thor