Sinopsis Bab
Kedatangan Alexey Liebert ke kampus elite Icheon langsung mengguncang keseimbangan yang selama ini mapan. Sosoknya yang dingin, tertutup, dan mencolok dengan aura berbahaya segera menarik perhatian, sekaligus memicu bisik-bisik kagum dan rasa terusik di kalangan mahasiswa. Namun di balik statusnya sebagai mahasiswa baru rekomendasi internasional, Alexey menyimpan masa lalu kelam: putra pewaris dunia bayangan yang kembali ke Icheon bukan semata untuk kuliah, melainkan untuk tujuan tersembunyi yang berakar pada kematian ibunya delapan tahun lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon De Veronica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Auditorium para Pemain
Hari berjalan seperti biasanya, pelajaran demi pelajaran berlalu hingga sore tiba. Dosen Lisa berdiri di depan kelas sambil menutup bukunya.
"Baik anak-anak, perhatian sebentar," ucap Dosen Lisa tegas. "Kalian semua harus masuk ke auditorium universitas sekarang. Hari ini ada kedatangan banyak investor penting. Kehadiran kelas elite sangat diharapkan, jadi tolong jangan ada yang absen."
Junhwan tersenyum tipis sambil membereskan bukunya, matanya melirik ke arah Alexey.
"Kali ini aku akan mempermalukan Alexey," gumamnya pelan dengan nada puas, hampir tak terdengar. "Di depan semua investor dan orang penting. Dia akan tahu tempatnya..."
"Acara membosankan ini lagi," gerutu Haerim kesal sambil membereskan barang-barangnya. "Setiap kali ada investor datang, kita dipaksa jadi pajangan."
Ia lalu beranjak menghampiri kursi Alexey dengan langkah malas.
"Alexey, ayo masuk bareng," ajaknya sambil berdiri di samping meja Alexey.
Alexey tidak menjawab. Ia hanya mengambil tasnya dengan gerakan cepat lalu mengikuti Haerim dari belakang tanpa berkata apa-apa.
Sesampainya di ruangan auditorium yang sudah mulai ramai, Haerim menoleh ke arah Alexey.
"Alexey, aku pamit dulu ya," ucapnya sambil senyum kecil. "Aku harus naik ke panggung, duduk di samping Mommy. Kamu duduk di bawah aja sama yang lain. Nanti kita ketemu lagi abis acara selesai."
Alexey berjalan mencari kursinya di antara barisan tempat duduk yang sudah ditandai nama. Namun matanya tiba-tiba terpaku tajam ke arah panggung, sosok yang sangat familiar ada di sana, seseorang yang wajahnya terpampang di investigator board-nya.
Kim Jinhwa.
Dan di samping pria itu, duduk Junhwan dengan sikap bangga dan penuh percaya diri.
"Kim Jinhwa... jadi anak laki-laki itu putramu," gumam Alexey dalam hati, rahangnya mengeras.
Sementara itu, Haerim yang sudah duduk di samping Kang Mira di atas panggung, melirik ke arah barisan kursi bawah mencari sosok Alexey. Begitu menemukannya, ia tersenyum geli sendiri.
"Pasti Alexey kesel sama acara ini," batinnya sambil nahan tawa kecil. "Mukanya datar banget, tapi aku tahu dia pasti bosen setengah mati. Kasian juga sih..."
"Pasti kamu sudah sangat jatuh cinta pada pria itu ya?" goda Kang Mira pelan sambil menyikut lembut lengan Haerim, senyumnya penuh arti. "Dari tadi senyum-senyum sendiri lihat ke arahnya."
"Mommy, aku nggak jatuh cinta kok!" elak Haerim cepat sambil wajahnya memerah. "Udah deh, Mommy fokus aja sama yang mau disampaikan ke mahasiswa dan yang lain. Jangan godain aku terus..."
Kang Mira menahan tawanya, tangannya menutupi mulut biar nggak terdengar.
"Baiklah, baiklah, Mommy fokus," bisiknya pelan sambil masih senyum geli ngeliat reaksi putrinya yang defensif.
Dosen Lisa dan Rektor Minsook memasuki ruangan auditorium dengan langkah formal. Minsook langsung menuju ke barisan tengah dan duduk di antara para investor dengan senyum ramah dan penuh perhitungan, menyapa mereka satu per satu.
Sementara itu, Dosen Lisa berjalan menuju podium di depan panggung. Ia merapikan microphone dan memandang ke seluruh auditorium dengan tatapan profesional.
"Selamat sore, para investor yang terhormat, dewan pengurus, dosen, dan mahasiswa sekalian," ucap Dosen Lisa dengan suara jelas dan tegas.
"Terima kasih atas kehadiran Bapak dan Ibu semua di acara penting ini. Hari ini kita berkumpul untuk membahas perkembangan universitas kita serta apresiasi kepada para donatur yang telah mendukung kemajuan institusi ini. Mari kita mulai acara dengan memberikan kesempatan kepada Rektor Minsook untuk menyampaikan sambutan pembuka."
Rektor Minsook bangkit dari kursinya dan berjalan dengan penuh percaya diri menuju podium. Ia tersenyum lebar sambil memandang ke arah para investor, lalu mulai berbicara dengan nada yang penuh antusias.
"Selamat sore yang terhormat para donatur, investor, dewan pengurus, dan seluruh civitas akademika," ucapnya dengan suara lantang. "Pertama-tama, saya ingin menyampaikan rasa terima kasih dan syukur yang sebesar-besarnya kepada Bapak dan Ibu semua yang sudah berkenan hadir di acara istimewa ini."
Minsook berhenti sejenak, memberikan jeda dramatis.
"Berkat dukungan dan kontribusi luar biasa dari para donatur, kampus kita telah mengalami kemajuan yang sangat pesat," lanjutnya dengan nada penuh kebanggaan.
Kang Mira mendekatkan wajahnya ke telinga Haerim dan berbisik pelan dengan nada sinis.
"Pamanmu sangat pandai menjilat ya," sindirnya halus sambil melirik ke arah Minsook yang masih berpidato dengan penuh semangat. "Lihat saja gaya bicaranya. Profesional di permukaan, tapi ujung-ujungnya tetap penjilat ulung..."
Haerim menahan tawa kecil sambil membalas bisikan ibunya dengan nada jahil.
"Mungkin itu efek kelamaan nggak menikah, Mom," bisiknya sambil terkikik pelan. "Jadi gila duit. Nggak ada yang ngatur hidupnya, jadinya obsesi sama uang dan jabatan..."
Minsook mengakhiri sambutannya dengan senyum lebar.
"Baik, untuk selanjutnya, izinkan saya mempersilakan salah satu donatur terbesar universitas kita," ucap Minsook dengan nada hormat sambil mengulurkan tangan ke arah Kim Jinhwa. "Bapak Kim Jinhwa, penerus utama keluarga Kim sekaligus pendukung setia institusi pendidikan kami. Silakan, Pak."
Kim Jinhwa tetap duduk santai di bangkunya, namun mengangkat tangannya dengan gerakan elegan sambil tersenyum ramah ke arah seluruh auditorium.
"Terima kasih, Rektor Minsook," sapanya dengan suara tenang namun berwibawa. "Saya sangat senang bisa hadir di tengah-tengah para generasi muda cemerlang ini. Melihat kalian semua membuat saya yakin masa depan bangsa ini ada di tangan yang tepat."
Ia berhenti sejenak, lalu pandangannya beralih ke arah panggung, tepat ke Haerim.
"Saya ingin memberikan apresiasi khusus kepada para mahasiswa berprestasi di kampus ini, terutama kepada Haerim Kang," pujinya dengan nada penuh kebanggaan. "Sebagai peraih nilai tertinggi dari seluruh kampus, Haerim adalah contoh nyata dedikasi dan kerja keras. Kalian semua harus meneladani semangat seperti itu."
"Lihat, dia sedang memujimu, sayang," bisik Kang Mira sambil tersenyum tipis ke arah putrinya.
"Aku nggak peduli, Mom," bisik Haerim dengan nada malas sambil bersandar di kursinya. "Aku cuma pengen acara ini cepet selesai. Capek berdiri jadi pajangan terus..."
Sementara itu, Alexey menatap Kim Jinhwa dengan tatapan tajam dan penuh perhitungan dari tempatnya duduk. Matanya tidak lepas dari setiap gerak-gerik pria itu.
"Ternyata dia cukup pintar dalam memainkan peran orang kaya baik hati," gumam Alexey dalam hati dengan nada sinis. "Senyum ramah, kata-kata manis, pencitraan sempurna..."
Setelah Kim Jinhwa selesai berbicara, Junhwan tiba-tiba bangkit dari kursinya dengan percaya diri. Ia berjalan menuju podium dengan langkah tegap, mengambil alih microphone tanpa diminta.
"Terima kasih, Papa," ucapnya sambil tersenyum ke arah ayahnya. "Saya juga ingin menyampaikan sesuatu yang penting di hadapan semua orang di sini. Ini demi kebaikan kampus kita bersama."
Junhwan menatap ke seluruh auditorium dengan tatapan penuh keyakinan, seolah sudah menyiapkan sesuatu yang besar.