Zona dewasa ‼️ Harap bijak dalam memilih bacaan!
Valerie seorang mahasiswa fresh graduate, cantik ,pintar, berkelas, sebenarnya hidupnya normal layaknya mahasiswi biasa, namun semuanya berubah saat sebuah kejadian yang membuatnya harus terikat dengan seorang gangster bernama Damian Callister.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zaara 26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 13
Damian menghentikan aksinya sejenak, ia mendongak dan tersenyum puas saat pendengarannya menangkap desahan halus dari bibir Valerie. Baginya, itu adalah melodi kemenangan karena telah berhasil mengendalikan pertahanan gadis itu.
"Mendesahlah, Sayang... aku suka mendengarnya," bisik Damian dengan suara serak yang sangat dalam.
Mendengar kata-kata itu, kesadaran Valerie seolah ditarik kembali ke permukaan. Ia terperanjat, merutuki dirinya sendiri dalam hati.
Kau sudah gila, Valerie! Bisa-bisanya kau tergoda sampai mendesah segala! Rasa malu yang luar biasa seketika membakar wajahnya.
Dengan sisa kekuatan yang ada, tangan Valerie segera menahan wajah Damian yang hendak kembali meneruskan aksi menyesap dadanya. "Damian—hentikan... aku belum siap untuk melakukan 'itu'," ucap Valerie dengan napas yang masih belum teratur.
Damian berhenti total. Ia menatap Valerie dengan tatapan menuntut. "Memangnya kenapa? Bukankah kau juga menikmatinya, hm?"
Wajah Valerie semakin merona hebat. Namun, dengan sisa kewarasan yang ia miliki, ia mencoba bicara dari hati ke hati. "Damian, aku minta maaf. Aku sungguh tidak bermaksud menipumu. Kau juga tahu aku baru saja masuk universitas... aku juga punya masa depan. Dan aku tidak ingin menyerahkan kesucianku dengan cara seperti ini... jadi kumohon, lepaskan aku," pinta Valerie dengan nada yang tulus dan jujur.
Damian terdiam. Ruangan itu mendadak sunyi. Sebenarnya, jauh di dalam lubuk hatinya, Damian bukanlah pria brengsek yang hobi memaksakan kehendak.
Rencana awalnya hanyalah ingin menakuti Valerie, membuatnya menangis dan memohon sebagai balasan atas kesombongan dan tipu daya gadis itu di hotel tempo hari.
Namun, ia tidak menyangka bahwa pesona Valerie justru membuatnya tertarik untuk berbuat lebih jauh.
Perlahan, Damian bangkit dan duduk di tepi kasur. Ia menatap tajam ke arah Valerie yang kini bergerak cepat menarik selimut untuk menutupi dadanya yang terekspos.
Entah mengapa, ada perasaan tidak rela dalam diri Damian untuk melepaskan Valerie begitu saja.
"Bagaimana kalau aku tidak mau melepaskanmu?" tanya Damian, suaranya kini terdengar lebih tenang namun tetap dingin.
Valerie menarik napas panjang, mencoba memasang pertahanan terakhir. "Aku... aku akan menuruti keinginanmu. Aku akan tinggal di sini dan mengikuti aturanmu, asalkan kau tidak memintaku melakukan hal yang di luar batas."
Mendengar tawaran itu, sebuah seringai licik kembali muncul di wajah tampan Damian. "Baiklah, aku setuju dengan syarat itu untuk saat ini," ucapnya sambil berdiri. "Tapi ingat, kau tetap menjadi tawananku. Jangan berpikir untuk melarikan diri."
Valerie hanya bisa menelan ludah dengan susah payah, lalu mengangguk pelan. Ia merasa sedikit lega karena "mahkota" nya terselamatkan malam ini, meski ia tahu hidupnya di bawah atap yang sama dengan Damian Callister baru saja dimulai.
Damian berdiri dari tepi ranjang, menyambar kemejanya yang berserakan di lantai tanpa niat untuk mengancingkannya kembali. Dengan suara dingin yang kembali otoriter, ia menatap Valerie sekilas. "Sekarang tidurlah. Ini sudah larut."
Valerie merapatkan selimut ke dadanya, matanya berpendar mencari celah untuk keluar dari situasi canggung ini. "Apakah kau punya kamar tamu? Aku... aku akan tidur di sana saja," tanyanya dengan nada penuh harap agar bisa menjauh dari jangkauan pria itu.
Langkah Damian yang hendak menuju kamar mandi seketika terhenti. Ia menoleh perlahan, menatap Valerie dengan tatapan datar yang tidak terbantahkan. "Kau akan tidur di kasur ini. Bersamaku," ucapnya singkat.
Valerie terdiam mematung. Dadanya bergemuruh hebat antara rasa kesal dan tidak percaya. Tidur sekasur bersama? Yang benar saja! umpat Valerie dalam hati. Ia merutuki Damian habis-habisan, menyebut pria itu sebagai iblis mesum yang tidak punya perasaan.
Namun, ia tidak berani memprotes lagi setelah melihat betapa mengerikannya Damian jika keinginannya ditolak.
Tanpa memedulikan wajah kesal Valerie, Damian melangkah masuk ke kamar mandi dan menutup pintu dengan dentuman pelan.
Begitu pintu terkunci, Damian menyandarkan punggungnya pada pintu yang dingin. Ia mengumpat pelan, memaki dirinya sendiri karena membiarkan kontrol dirinya lepas begitu saja. Bayangan tubuh Valerie dan desahan gadis itu tadi masih tertanam kuat di benaknya, membuat gairahnya tetap berada di titik didih.
Hasratnya sudah terlanjur memuncak dan tidak mungkin bisa diredakan hanya dengan membasuh tubuhnya. Dengan napas yang memburu dan geram tertahan, Damian akhirnya terpaksa ber-"solo" ria di dalam kamar mandi, menuntaskan gejolak yang menyiksa tubuhnya akibat ulah "penipu kecil" yang kini sedang meringkuk di atas ranjangnya.
Setelah menyelesaikan ritualnya di kamar mandi, Damian keluar dengan penampilan yang jauh lebih santai namun tetap memancarkan aura maskulin yang kuat.
Ia hanya mengenakan celana pendek selutut, membiarkan dada bidangnya terekspos, sementara rambutnya yang lembap tampak berantakan jatuh di dahinya.
Ia melangkah pelan mendekati tempat tidur, berusaha tidak menimbulkan suara. Di sana, ia melihat Valerie sudah tertidur lelap dengan posisi meringkuk, seolah sedang mencari perlindungan dalam mimpinya.
Damian kemudian naik ke atas kasur, merebahkan tubuhnya di samping Valerie dengan posisi menghadap gadis itu.
Ia terdiam cukup lama, menatap wajah cantik yang tampak begitu teduh dan polos saat terlelap—sangat berbeda dengan sosok gadis pemberani yang menantangnya tadi.
Ada perasaan aneh yang menyelinap di dadanya; ia merasa seperti sedang bermimpi. Untuk pertama kalinya, kehadiran seseorang di kasurnya memberikan rasa hangat yang tidak bisa ia jelaskan.
Damian bukan pria polos yang tidak tahu dunia luar. Sebagai seorang Callister, ia sudah beberapa kali menghabiskan malam dengan berbagai wanita cantik.
Namun, ada satu aturan yang selalu ia pegang teguh: tidak ada wanita yang boleh menginap, apalagi tidur di kasur pribadinya. Valerie adalah wanita pertama yang berhasil mematahkan aturan itu.
Ia menatap wajah Valerie sekali lagi, seolah merekam setiap detailnya, sebelum akhirnya ia pun memejamkan mata dan menyusul gadis itu ke alam mimpi.