Aku berumur tujuh tahun saat nyamuk itu menggigit.
Aku berumur lima puluh dua saat akhirnya bisa berjalan lagi.
Empat puluh lima tahun di antaranya adalah sunyi.
Namaku Mahesa. Kakiku mulai membengkak sejak kecil. Dokter bilang cidera. Ibu bilang kutukan. Ayah bilang aku harus kuat.
Tidak ada yang bilang bahwa aku akan kehilangan segalanya.
Ayah meninggal jatuh dari bangunan. Ibu pergi membawa adik—dengan teriakan terakhir: "Dadah kaki gajah!" Kakek menjual sawah, lalu mati di pelukanku.
Sendirian. Mengemis. Dikucilkan. Mencoba bunuh diri—tali putus, atap roboh.
Lalu datang Reza, anak kecil pemberani yang berjanji: "Aku akan jadi dokter. Aku akan obati kaki Bapak."
Dua puluh tahun kemudian, pintu gubuk itu diketuk. Ia kembali.
Operasi berhasil. Aku bisa berjalan lagi.
Tapi infeksi kembali. Dokter bilang: amputasi.
Aku menatap kakiku—kaki yang menyiksaku selama 45 tahun, tapi juga satu-satunya yang setia menemani. Lalu aku berkata pada Reza:
"Aku mau pergi utuh."
---
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayaelsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17: OBAT PALSU DARI PASAR MALAM
---
Uang dari ayah. Uang tiga malam tambang. Uang nyawa. Dibawa ke kota. Ke dokter lain. Yang lebih jauh. Yang lebih mahal. Yang mungkin lebih mengerti.
Perjalanan ke kota lebih panjang dari perkiraan. Dua jam naik angkutan desa yang penuh sesak. Mahesa duduk di pojok, kaki kanan dijulurkan ke lorong. Orang-orang melihat. Beberapa mengernyit. Seorang ibu menarik anaknya menjauh. Tidak ada yang berkata apa-apa. Tidak perlu. Bahasa tubuh lebih keras dari kata-kata.
Di rumah sakit. Bangunan besar. Putih. Dingin. Antrean panjang. Mahesa, ibu, dan ayah duduk di kursi plastik keras. Menunggu. Dua jam. Tiga jam. Nomor 87 dipanggil. Nomor mereka 112.
Mahesa melihat sekeliling. Orang-orang dengan berbagai penyakit. Ada yang batuk terus. Ada yang ditandu. Ada anak kecil menangis di pangkuan ibunya. Semua punya cerita. Semua punya harapan.
Akhirnya, nomor mereka dipanggil. Ruang periksa. Dokter muda dengan kacamata tebal. Wajah serius. Memeriksa kaki Mahesa dengan teliti. Menekan-nekan. Melihat luka abses yang belum sembuh. Menggeleng.
"Infeksi sudah parah," dokter berkata. Suara datar. Seperti sudah biasa melihat hal ini. "Sudah sampai ke jaringan. Perlu antibiotik kuat. Jangka panjang."
Ibu bertanya, "Berapa lama, Dok?"
"Minimal dua bulan. Tapi lihat perkembangannya." Dokter menulis resep. Kertas putih. Coretan yang tidak terbaca. Lalu menyodorkannya. "Ini antibiotiknya. Minum rutin. Jangan putus. Kalau putus, percuma."
Ayah membaca resep. Wajahnya berubah. Pucat. Mahesa tahu tanpa melihat. Tahu dari diam yang terlalu panjang. Tahu dari napas yang tertahan.
Di apotek rumah sakit. Petugas menyebut angka. Jutaan. Lebih dari dua kali uang yang ayah bawa.
Ibu diam. Ayah diam. Mahesa diam.
Mereka keluar. Tanpa obat.
---
Pulang. Dengan tangan kosong. Dengan resep yang digenggam erat. Dengan harapan yang luruh di jalan.
Di rumah, malam turun. Ayah duduk di beranda. Merokok. Rokok yang tidak biasa. Rokok yang dibeli dari warung dengan uang sisa ongkos. Rokok yang menjadi pelarian.
Ibu di dapur. Tidak memasak. Hanya duduk. Menatap api yang tidak menyala.
Mahesa di pojok. Di tikar. Memandangi kaki kanan. Yang sekarang terlihat lebih buruk dari kemarin. Luka abses menganga. Nanah merembes. Kulit di sekitarnya merah kehitaman.
Uang ayah sia-sia. Nyawa ayah sia-sia.
Pikiran itu berputar. Tidak bisa dihentikan. Lebih sakit dari luka. Lebih dalam dari infeksi.
"Bu," Mahesa memanggil. Suara kecil.
Ibu tidak menjawab. Tidak bergerak. Hanya diam.
Mahesa bangun. Berjalan ke dapur. Kaki kanan sakit setiap langkah. Tapi diabaikan.
"Bu, nanti aku cari kerja. Biar bisa beli obat."
Ibu menoleh. Menatapnya. Mata merah. Bengkak. Tapi tidak menangis. Atau sudah kehabisan air mata.
"Kerja apa?" tanya ibu. Bukan tanya. Ejekan. Halus. Tapi ejekan. "Dengan kaki begitu? Lari aja susah."
Mahesa terdiam. Ibu benar. Dengan kaki ini, siapa yang mau mempekerjakannya? Dengan luka begini, apa yang bisa ia lakukan?
Ia kembali ke pojok. Ke tikar. Ke tempat yang aman—satu-satunya tempat yang menerimanya.
---
Malam kedua setelah dari rumah sakit. Ibu bangun pagi. Wajah berbeda. Seperti orang yang baru memutuskan sesuatu.
"Aku ke pasar," katanya. Tanpa menjelaskan. Tanpa bilang mau apa.
Mahesa mengangguk. Tidak bertanya. Tidak berhak bertanya.
Ibu pergi. Pulang sore. Dengan bungkusan kecil. Obat. Dalam kemasan sederhana. Tanpa merek. Tanpa label resmi.
"Ini," ibu berkata. Meletakkan di samping Mahesa. "Obat. Dari pasar malam. Murah. Kata penjualnya, sama seperti di apotek."
Ayah datang. Melihat. Mengernyit. "Itu obat palsu, Bu. Banyak beredar."
Ibu menatap ayah. Tajam. "Lalu apa yang harus kita lakukan? Uang habis. Anak sakit. Kita cuma bisa... coba."
Ayah diam. Tidak bisa membantah. Tidak ada pilihan lain.
Mahesa mengambil obat itu. Memegangnya. Kecil. Murah. Mungkin palsu. Tapi ini yang ada. Ini yang bisa.
"Minum," kata ibu. Bukan saran. Perintah.
Mahesa minum. Tiga butir. Dengan air sisa di gelas. Pahit. Tapi pahit yang sudah biasa.
---
Tiga hari. Sembilan kali minum. Pagi, siang, malam. Tiga hari menunggu keajaiban.
Tidak ada keajaiban. Kaki masih bengkak. Luka masih basah. Nanah masih keluar. Bahkan, di hari ketiga, demam datang lagi. Kecil. Tapi ada. Pertanda infeksi tidak mempan.
Mahesa tahu. Tahu dengan pasti. Obat itu palsu. Tidak bekerja. Uang ibu—uang sisa dari mana pun—sia-sia.
Ia melihat ibu. Di dapur. Di malam ketiga. Setelah obat habis. Setelah harapan habis.
Ibu menangis. Sungguh-sungguh menangis. Air mata yang tidak pernah Mahesa lihat sebelumnya. Air mata yang asli. Yang keluar dari tempat yang paling dalam.
"Uang habis." Ibu berkata. Suara tersedak. Suara yang hancur. "Obat palsu. Uang ayah... sia-sia."
Ayah diam. Di pojok. Di tempat yang gelap. Merokok. Yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya. Yang sekarang menjadi kebiasaan. Menjadi penenang. Menjadi pelarian.
Bau tembakau. Bau kekalahan. Bau menyerah.
"Maaf, Pa. Maaf, Bu." Mahesa minta maaf. Lagi. Seperti biasa. Seperti selalu. Seperti sudah menjadi salam pembuka setiap hari.
Maaf karena sakit. Maaf karena mahal. Maaf karena ada.
---
Malam semakin larut. Ayah masih di pojok dengan rokok. Ibu sudah tidur—atau pura-pura tidur. Bima di kasur gantung, pulas tanpa beban.
Mahesa berbaring di tikar. Kaki kanan di atas bantal usang. Yang diberikan ibu—dulu, saat masih ada perhatian—supaya terangkat. Supaya tidak terlalu bengkak.
Menatap atap. Berlubang. Seperti hidupnya. Seperti harapannya. Seperti segalanya yang bocor. Tidak ada yang tertampung. Tidak ada yang tersisa.
Bima tiba-tiba bangun. Turun dari kasur gantung. Ke belakang. Ke sumur. Kembali. Lewat dekat Mahesa. Berhenti.
Hidungnya mengkerut. Seperti biasa. Seperti selalu.
"Masih bau." Bima berkata. Bukan tanya. Bukan kasihan. Hanya fakta. Hanya jijik.
Lalu pergi. Naik ke kasur. Tidur lagi. Tanpa tanya bagaimana. Tanpa lihat apakah Mahesa baik-baik saja. Tanpa apa-apa.
Hanya jijik. Hanya pergi. Hanya melanjutkan hidupnya yang normal.
Mahesa biasa. Sudah terbiasa. Sudah seharusnya tidak sakit lagi. Tapi tetap sakit. Tetap seperti pisau. Setiap kali. Setiap hari.
Dari adik. Dari yang seharusnya menjadi teman. Dari yang seharusnya menjadi sandaran. Dari yang seharusnya.
---
Tapi kemudian, di malam itu, setelah Bima tidur, setelah ayah selesai merokok, setelah ibu berhenti menangis—ada suara.
Di jendela. Di luar. Di halaman.
Bukan suara keras. Bukan ketukan. Hanya... sesuatu. Batu kecil? Dilempar? Tidak. Diletakkan. Dengan lembut. Dengan hati-hati.
Mahesa bangun. Dari tikar. Perlahan. Kaki kanan sakit. Tidak peduli. Ke jendela. Melihat ke luar.
Bulan purnama. Terang. Cukup untuk melihat.
Siti. Lagi. Yang rambutnya dikuncir dua. Yang dulu membawa obat. Yang datang di malam batu. Yang sekarang... membawa sesuatu lagi.
Kotak. Kecil. Di depan pintu. Di tanah. Dengan secarik kertas.
Mahesa keluar. Cepat. Secepat kaki bisa. Sebelum Siti pergi. Sebelum hilang.
"Siti," panggilnya. Pelan. Tidak ingin membangunkan. Tidak ingin ketahuan.
Siti berbalik. Di kegelapan. Di malam. Di tempat yang tidak seharusnya ada anak perempuan sendirian. Wajahnya pucat terkena cahaya bulan. Matanya... matanya seperti biasa. Seperti yang di kertas dulu.
"Ini." Siti berkata. Suara kecil. Hampir tidak keluar. "Dari Ayah. Dia kerja di apotek. Ini obat yang asli. Yang dokter resepkan."
Obat. Yang asli. Yang dokter resep. Kata-kata yang tidak mungkin. Tapi ada. Di kotak. Di tangan Siti. Di depan mata.
Mahesa memegang kotak itu. Tangan gemetar. Berat. Tapi ringan. Berat karena ini harapan. Ringan karena... mungkin.
"Kenapa?" Mahesa bertanya. Lagi. Selalu tidak mengerti. "Kenapa kamu...?"
Siti diam. Sejenak. Menunduk. Lalu menatapnya lagi.
"Karena kemarin aku lihat. Di pasar malam. Ibumu beli obat." Suaranya bergetar. "Aku tahu itu palsu. Ayahku yang bilang. Banyak obat palsu di pasar. Tidak mempan. Malah bikin tambah sakit."
Mahesa hanya bisa menatap. Tidak bisa berkata.
"Ini dari Ayahku." Siti menunjuk kotak. "Gratis. Tidak usah bayar. Kata Ayah, kasihan. Anak kecil sakit begitu."
Gratis. Tidak usah bayar. Kata-kata yang tidak biasa. Kata-kata asing. Kata-kata yang tidak pernah ada di kamus keluarga mereka.
"Tapi kenapa?" Mahesa bertanya lagi. Tidak bisa berhenti. Tidak bisa menerima tanpa mengerti.
Siti tersenyum. Sejenak. Sebentar. Tapi tersenyum. Senyum yang sama seperti dulu. Seperti di kertas. Seperti di sungai sebelum semuanya hancur.
"Karena aku mau jadi teman." Katanya. "Teman yang benar. Bukan yang takut. Bukan yang lari."
Takut. Kata itu lagi. Kata yang sama. Yang menghubungkan mereka. Yang membedakan mereka. Yang menyatukan mereka.
Siti melangkah mundur. "Aku harus pulang. Ayah tunggu."
Ia berbalik. Berlari kecil. Menghilang di ujung jalan. Di bawah pohon besar. Di gelap yang ditembus bulan.
Mahesa berdiri di halaman. Memegang kotak obat. Kaki kanan sakit. Tapi tidak terasa.
Ia masuk. Perlahan. Ke dapur. Ke tempat gelap. Membuka kotak. Obat. Botol kecil. Lembar informasi. Semua lengkap. Semua resmi. Semua asli.
Ia mencium bau obat. Bau yang berbeda. Bau yang... benar.
Tapi kemudian, ia melihat ayah. Di pojok. Masih. Dengan rokok yang sudah habis. Dengan mata yang sudah kosong. Dengan tubuh yang sudah menyerah.
Dan ibu. Di kamar. Dengan mata bengkak. Dengan harapan yang sudah hilang.
Mahesa tidak membangunkan. Tidak memberitahu. Tidak apa-apa.
Hanya menyimpan kotak itu. Di tempat aman. Di bawah tikar. Di samping bantal. Di tempat yang tidak dilihat.
Besok. Besok akan diminum. Besok akan diberitahu. Besok akan ada harapan lagi.
Tapi malam ini, cukup dengan tahu. Tahu bahwa ada obat. Tahu bahwa ada Siti. Tahu bahwa tidak sepenuhnya sendirian.
Meski uang habis. Meski obat palsu. Meski ayah merokok. Meski ibu menangis. Meski Bima jijik.
Ada Siti. Ada obat asli. Ada besok.
Mahesa berbaring. Kaki kanan di atas bantal. Memejamkan mata.
Di luar, angin malam berhembus. Membawa bau daun. Membawa suara jangkrik. Membawa... ketenangan.
Malam ini, meskipun semuanya hancur, ada sesuatu yang baru. Sesuatu yang kecil. Sesuatu yang memberi alasan untuk bertahan.
Obat di bawah tikar. Siti yang berani datang. Harapan yang tidak mati.
Itu cukup. Untuk malam ini. Untuk kegagalan. Untuk air mata ibu. Untuk rokok ayah. Untuk jijik Bima.
Itu cukup.
Karena ada yang tidak palsu. Ada yang asli. Ada yang tetap ada.
Malam ini, itu cukup.
---