Yussallia Tsaverra Callisto selalu memimpikan kehidupan pernikahan yang indah di masa depan. Yussallia masih berharap bahwa kehidupan pernikahannya bersama Rionegro akan berjalan semulus yang ia harapkan, meskipun pernikahan mereka didasari oleh sebuah kesalahan satu malam yang mereka lakukan pada di masa lalu.
Rionegro Raymond Kalendra tidak pernah menyangka bahwa menolong seorang gadis yang terjebak dalam badai hujan akan berujung pada pernikahan yang tidak pernah ia inginkan. Rionegro tahu ia tak bisa menghindar dari kewajibannya untuk menikahi Yussallia, gadis yang pernah ia bantu, meskipun mereka memiliki seorang anak bersama akibat kesalahan satu malam yang mereka buat di masa lalu.
Dan dengan segala harapan dan keraguan yang menggantung di atas pernikahan mereka, apakah Yussallia mampu mewujudkan mimpinya tentang pernikahan yang bahagia? Atau akankah pernikahan itu berakhir dengan kegagalan, seperti yang ditakuti Rionegro?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RaeathaZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 9
Pagi itu datang dengan suasana yang berbeda di tempat yang berbeda.
Tidak ada suara pelayan berlalu-lalang. Tidak ada ruang besar yang terasa terlalu kosong. Tidak ada dinding tinggi yang menyimpan gema kesunyian seperti di mansion keluarga Kalendra.
Di apartemen itu… semuanya terasa lebih sederhana.
Lebih tenang.
Dan entah kenapa, lebih nyata.
Rionegro berdiri di dekat jendela besar yang menghadap langsung ke jalan utama. Satu tangan dimasukkan ke saku celana, sementara tangan lainnya memegang buku yang baru selesai ia baca.
Langit pagi terlihat lebih cerah dibandingkan kemarin.
Hujan semalam seolah sudah benar-benar pergi.
Ia menyesap menutup bukunya perlahan.
Diam.
Tanpa tergesa.
Tanpa pikiran yang terlalu ramai.
Namun tetap saja… ada satu hal kecil yang sempat melintas di benaknya.
Satu nama yang kembali muncul dalam benaknya.
Yusallia.
Ia menghela napas kecil.
“Cuma kebetulan,” gumamnya pelan, seolah mencoba menenangkan pikirannya sendiri.
Dan seperti biasa, ia tidak membiarkan pikirannya berlarut-larut terlalu jauh.
Rionegro meletakkan bukunya di meja kecil dekat jendela, lalu berjalan menuju kamar untuk bersiap.
___________________________________________
Beberapa menit kemudian, ia sudah keluar dari apartemen.
Kemeja yang ia kenakan rapi seperti biasa. Tidak terlalu formal, tapi cukup untuk membuatnya terlihat profesional. Rambutnya sudah tertata, meskipun masih menyisakan kesan santai yang tidak dibuat-buat.
Ia tidak langsung menuju kampus.
Masih terlalu pagi.
Dan entah kenapa, pagi ini ia tidak ingin sarapan di apartemen.
Ia ingin keluar.
Sedikit menghirup udara luar.
Sedikit… mengubah rutinitas.
Langkahnya santai saat keluar dari lobby apartemen.
Mobilnya terparkir tidak jauh dari pintu utama, tapi ia tidak langsung masuk.
Sebaliknya, ia melirik ke arah jalan kecil di samping gedung.
Ke arah sebuah cafe.
Cafe yang cukup sering ia datangi.
Tidak terlalu ramai. Tidak terlalu mencolok.
Tapi cukup nyaman untuk sekadar duduk dan minum kopi sebelum memulai hari.
Tanpa berpikir panjang, ia berjalan ke arah sana.
___________________________________________
Pintu kaca cafe itu terbuka pelan saat Rionegro masuk.
Aroma kopi langsung menyambut.
Hangat.
Tenang.
Dan familiar.
Beberapa orang sudah duduk di dalam. Ada yang bekerja dengan laptop, ada yang hanya menikmati pagi mereka dengan secangkir kopi.
Rionegro melangkah masuk dengan santai.
Tatapannya menyapu ruangan sebentar.
Mencari tempat duduk.
Namun langkahnya terhenti.
Bukan karena tidak ada tempat.
Tapi karena ia melihat sesuatu.
Atau lebih tepatnya… seseorang.
Di dekat jendela.
Duduk sendirian.
Dengan secangkir kopi di meja dan sandwich yang belum sepenuhnya disentuh.
Rambut panjang yang diikat sederhana.
Wajah yang… tidak asing.
Yusallia.
Rionegro terdiam satu detik.
Dua detik.
Seolah memastikan bahwa ia tidak salah melihat.
Namun tidak.
Itu benar dia.
Dan entah kenapa… sudut bibirnya terangkat sedikit.
Sangat tipis.
Tanpa disadari.
Ia tidak langsung mendekat.
Hanya berdiri beberapa detik.
Memperhatikan.
Lalu akhirnya… melangkah.
___________________________________________
Yusallia sedang menatap keluar jendela ketika seseorang berhenti di samping mejanya.
Ia sedikit mengernyit.
Lalu menoleh.
Dan seketika itu juga—Matanya sedikit membesar.
“Kamu…?”
Nada suaranya terdengar sedikit terkejut.
Rionegro berdiri santai di sana.
“Selamat pagi.”
Yusallia masih menatapnya beberapa detik, seolah tidak percaya.
“Kamu… di sini?”
Rionegro mengangguk kecil.
“Saya biasa sarapan di sini.”
Yusallia berkedip pelan.
Lalu tanpa sadar tersenyum kecil.
“Aku juga… cukup sering sarapan disini sebelumnya.”
Ia berhenti sebentar, lalu menambahkan pelan,
“Kebetulan banget.”
Rionegro tidak langsung menjawab.
Hanya menatapnya sebentar.
“Kebetulan yang cukup sering terjadi akhir-akhir ini.”
Kalimat itu sederhana.
Tapi cukup untuk membuat Yusallia sedikit tertawa kecil.
Hening sejenak.
Lalu Rionegro menunjuk kursi di depan Yusallia.
“Saya boleh duduk dengan disini?”
Yusallia langsung mengangguk.
“Iya, duduk aja.”
Rionegro menarik kursi dan duduk di depannya.
Tidak terlalu dekat.
Tidak terlalu jauh.
Pas.
Seorang pelayan datang, dan Rionegro memesan kopi serta sarapan sederhana.
Beberapa detik keheningan kembali hadir.
Namun kali ini… tidak canggung.
Lebih ke… menyesuaikan.
Yusallia yang pertama membuka suara.
“Kamu tinggal di sekitar sini?”
Rionegro mengangguk.
“Apartemen saya tidak jauh dari sini.”
“Oh…” Yusallia terlihat sedikit mengerti. “Pantas.”
Ia kemudian menatapnya lagi.
“Kamu kerja di mana sebenarnya?”
Rionegro menyandarkan tubuhnya sedikit.
“Saya dosen.”
Yusallia sedikit terkejut.
“Dosen?”
“Iya.”
“Di mana?”
“Universitas Indonesia. Fakultas Ekonomi dan Bisnis.”
Yusallia mengangguk pelan.
“Oh… FEB UI.”
“Tidak terlalu jauh dari sini,” tambah Rionegro.
“Pantas kamu santai banget paginya,” sahut Yusallia dengan nada ringan.
Rionegro sedikit tersenyum.
“Masih ada waktu sebelum kelas.”
Makanan mereka datang.
Percakapan sempat berhenti sejenak saat mereka mulai makan.
Tidak terburu-buru.
Tidak banyak suara.
Hanya bunyi kecil dari peralatan makan dan suasana cafe yang tenang.
Beberapa menit kemudian, Rionegro kembali membuka suara.
“Mobil kamu bagaimana?”
Yusallia menatapnya sebentar, lalu tersenyum kecil.
“Sudah selesai.”
“Sudah diambil?”
Yusallia menggeleng.
“Belum. Nanti pulang kerja baru aku ambil di bengkel.”
Rionegro mengangguk.
“Bagus kalau begitu.”
Percakapan kembali mengalir.
Tidak berat.
Tidak dalam.
Tapi cukup untuk membuat waktu berjalan tanpa terasa.
Mereka membicarakan hal-hal kecil.
Tentang pagi.
Tentang cuaca.
Tentang pekerjaan.
Tentang hal-hal sederhana yang tidak membutuhkan banyak pemikiran.
Dan entah kenapa… semuanya terasa nyaman.
Tanpa tekanan.
Tanpa ekspektasi.
Hanya… dua orang yang kebetulan duduk bersama di pagi hari.
__________________________________________
Beberapa saat kemudian, Yusallia melirik jam di tangannya.
“Sebentar lagi aku harus ke rumah sakit.”
Rionegro mengangguk kecil.
“Saya juga tidak lama lagi ke kampus.”
Yusallia berdiri.
Rionegro ikut berdiri.
Dan saat pelayan datang membawa bill—Yusallia langsung mengambilnya lebih dulu.
“Aku yang bayar.”
Rionegro langsung mengernyit.
“Tidak perlu.”
Yusallia menggeleng.
“Perlu.”
“Saya bisa bayar sendiri.”
“Tapi aku mau bayar. Anggap saja ini balas budi ku karena sebelumnya kamu pernah menolong ku”
Nada suaranya tidak memaksa.
Tapi tegas.
Rionegro menatapnya beberapa detik.
“Tapi itu tidak harus dilakukan sekarang.”
Yusallia tersenyum kecil.
“Ya sudah, anggap saja ini ganti dari janji makan siang kemarin yang aku batalkan.”
Hening.
Satu detik.
Dua detik.
Dan akhirnya Rionegro menghela napas kecil.
“Baiklah.”
Yusallia tersenyum.
Ia membayar tanpa banyak bicara lagi.
___________________________________________
Mereka berjalan keluar bersama.
Udara pagi masih terasa segar.
Langit sudah lebih terang.
Sebelum berpisah, Rionegro menoleh.
“Tadi kamu berangkat naik apa?”
Yusallia menjawab santai,
“Taxi online.”
Rionegro mengangguk pelan.
“Kalau begitu… biar saya antar saja ke rumah sakit setelah ini.”
Yusallia sedikit terkejut.
“Hah?”
“Rumah sakit kamu dekat dari sini. Apartemen saya juga tidak jauh.”
Ia berhenti sebentar.
“Tidak masalah kan?”
Yusallia ragu sejenak.
Lalu mengangguk kecil.
“Kalau tidak merepotkan…”
“Tidak merepotkan sama sekali.”
Jawabannya singkat.
Tapi cukup meyakinkan.
___________________________________________
Beberapa menit kemudian, mereka sudah berada di dalam mobil.
Perjalanan singkat.
Tidak jauh.
Tapi cukup untuk membuat suasana kembali tenang.
Tidak banyak percakapan.
Hanya sesekali saling berbicara hal kecil.
Dan sisanya… hening yang nyaman.
Sampai akhirnya mobil itu berhenti di depan rumah sakit.
Yusallia membuka seatbelt.
Lalu menoleh.
“Terima kasih ya.”
Rionegro mengangguk.
“Sama-sama.”
Yusallia tersenyum kecil.
Lalu turun dari mobil.
Sebelum menutup pintu, ia sempat menatap Rionegro sebentar.
“Have a good day.”
Rionegro menatapnya balik.
“Kamu juga.”
Pintu tertutup.
Dan Yusallia berjalan masuk ke dalam rumah sakit.
Sementara Rionegro masih diam beberapa detik di dalam mobil.
Menatap ke arah pintu masuk yang tadi dilalui Yusallia.
Lalu menghela napas kecil.
Dan tanpa sadar…
Ada sesuatu yang berubah.
Sangat kecil.
Tapi cukup terasa.
Dan pagi itu…
Kembali menjadi awal dari sesuatu yang belum mereka sadari sepenuhnya.