NovelToon NovelToon
The Dancer And The Night King

The Dancer And The Night King

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:306
Nilai: 5
Nama Author: DearlyBoa

Di panggung, Laras adalah doa yang dipanjatkan lewat gerak tubuh. Setiap jengkal gerak Laras adalah perpaduan antara kesucian tradisi dan kelembutan yang menghanyutkan. Ia adalah bidadari yang dikagumi banyak mata, namun hatinya tetap tulus, tak tersentuh oleh gemerlap dunia yang fana.​Di dunianya, Elang adalah hukum yang tak terbantahkan.​Sebagai pemilik nightclub terbesar di ibu kota, Elang terbiasa dengan kegelapan, dentum musik yang memekakkan, dan kepatuhan mutlak. Baginya, hidup adalah tentang kendali. Ia dingin, tegas, dan tak pernah membiarkan apa pun lepas dari genggamannya.​Dua dunia yang tak seharusnya bersinggungan itu bertabrakan saat Elang melihat Laras menari. Bagi orang lain, Laras adalah sebuah pertunjukan seni. Namun bagi Elang, Laras adalah kepemilikan.​Elang tidak hanya ingin melihat Laras menari; ia ingin mengurung sang penari dalam dunianya yang gelap. Ia ingin menjadi satu-satunya pria yang menyaksikan setiap lekuk gemulai dan kerlingan mata Laras yang mematikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DearlyBoa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Udara Asing

​Pesawat jet pribadi Elang mendarat di landasan pacu Bandara Kingsford Smith, Sydney, saat matahari pagi baru saja menyembul dari cakrawala Samudra Pasifik. Cahaya keemasan memantul di permukaan gedung-gedung kaca yang menjulang, memberikan kesan bahwa kota ini adalah panggung besar yang siap menyambut diva barunya. Namun bagi Laras, setiap embusan udara Australia yang masuk ke paru-parunya masih terasa membawa aroma posesifitas yang sama dengan Jakarta.

​Elang tidak membiarkan Laras melangkah keluar sendirian. Ia menggandeng tangan Laras dengan erat, menuruni tangga pesawat seolah sedang memamerkan permata paling berharga kepada dunia yang asing. Di bawah, iring-iringan SUV hitam sudah menunggu—sebuah pemandangan yang membuat staf bandara dan orang-orang di terminal pribadi terdiam, bertanya-tanya siapa sosok bangsawan yang baru saja tiba.

​*

​Tujuan pertama mereka bukanlah Gedung Opera, melainkan sebuah apartemen mewah di kawasan The Rocks, dengan pemandangan langsung ke arah Sydney Harbour Bridge. Apartemen itu adalah unit eksklusif yang disewa Elang untuk Laras selama masa pementasan.

​Begitu pintu terbuka, Elang tidak langsung mempersilakan Laras masuk untuk beristirahat. Sebaliknya, Elang melangkah masuk lebih dulu dengan raut wajah yang sangat serius. Ia berkeliling dari satu ruangan ke ruangan lain dengan langkah yang metodis.

​Elang memeriksa setiap sudut. Ia mengetuk dinding untuk memastikan kekokohannya, memeriksa kunci jendela, hingga memeriksa balkon yang menghadap ke laut. Ia memanggil kepala tim keamanannya dan Amy untuk berdiri di tengah ruangan.

​"Kalian lihat jendela ini?" Elang menunjuk kaca anti-peluru yang tebal. "Pastikan sensor alarmnya aktif 24 jam. Dan untuk kamar tidur Nona Laras, aku tidak ingin ada pelayan gedung yang masuk tanpa didampingi Amy. Periksa semua stop kontak, pastikan tidak ada perangkat penyadap atau kamera tersembunyi. Aku tidak ingin privasi tunanganku terganggu oleh siapa pun."

​Laras berdiri di ambang pintu, memperhatikan Elang yang sedang sibuk memberikan instruksi mendetail. Elang bahkan memeriksa suhu air di kamar mandi dan memastikan bahan sprei tempat tidur adalah sutra organik yang tidak akan melukai kulit sensitif Laras. Baginya, kesalahan sekecil apa pun adalah penghinaan terhadap perlindungannya.

​"Semua sudah sempurna, Tuan," lapor salah satu pengawal setelah melakukan penyisiran menyeluruh dengan alat deteksi elektronik.

​Elang mengangguk puas. Ia menghampiri Laras, mengusap pipinya dengan lembut, namun sorot matanya tetap tajam. "Aku sudah menyiapkan semuanya, Sayang. Kamu aman di sini. Amy akan tidur di kamar sebelah yang terhubung langsung dengan kamarmu. Jika kamu merasa haus di tengah malam, dia yang akan mengambilkannya untukmu. Jangan keluar sendirian, mengerti?"

​Laras mengangguk patuh. "Mengerti, Elang."

​Beberapa jam kemudian, saat matahari mulai meninggi, Elang harus berpamitan. Urusan bisnis di Jakarta memaksanya untuk kembali, meski hatinya tampak berat untuk meninggalkan "miliknya" di benua lain.

​"Aku akan kembali dalam lima hari untuk malam pembukaanmu," bisik Elang di telinga Laras sebelum masuk ke mobil menuju bandara. "Ingat, Amy akan melaporkan setiap aktivitasmu kepadaku. Jangan membuatku cemas."

​Mobil Elang melaju menjauh, meninggalkan Laras di bawah pengawalan ketat Amy dan tim keamanan yang berdiri tegap di lobi gedung.

​*

​Satu jam setelah kepergian Elang, Laras sudah berada di ruang latihan pribadi di dalam kompleks teater. Ini adalah latihan perdananya di Sydney. Ruangan itu luas, dengan dinding kaca yang membiarkan cahaya matahari masuk sepenuhnya. Namun, keindahan ruangan itu tidak bisa menutupi fakta bahwa di setiap sudut pintu masuk, berdiri pria-pria berjas hitam.

​Dan yang paling dekat adalah Amy.

​Amy tidak berdiri jauh. Ia duduk di sebuah kursi di sudut ruangan, matanya tidak pernah lepas dari gerak-gerik Laras. Ia memegang sebuah tablet yang sesekali ia gunakan untuk mencatat sesuatu—mungkin laporan berkala untuk Elang.

​Laras mulai melakukan peregangan. Ia mencoba memfokuskan pikirannya pada gerakan tari kontemporer yang akan ia bawakan. Namun, setiap kali ia berputar, ia selalu mendapati mata tajam Amy yang mengawasinya.

​"Nona Laras, apakah Anda butuh minum?" tanya Amy saat Laras berhenti sejenak untuk mengatur napas. Amy segera berdiri, menyodorkan botol air mineral yang segelnya baru saja ia buka sendiri.

​"Terima kasih, Amy," jawab Laras singkat. "Apakah kamu akan selalu sedekat ini?"

​Amy tersenyum tipis, sebuah senyum profesional yang dingin. "Tugas saya adalah memastikan tidak ada yang mendekati Anda secara fisik tanpa izin, Nona. Dan memastikan Anda tetap dalam kondisi fisik prima sesuai instruksi Tuan Elang."

​Laras menghela napas. Ia merasa seperti spesimen langka di laboratorium yang sedang diamati. Latihan yang seharusnya menjadi tempatnya melepaskan emosi justru terasa seperti ujian di bawah pengawasan sipir. Ia mencoba melakukan gerakan melompat, namun ia merasa gerakannya kaku. Ia merasa diawasi bukan sebagai penari, tapi sebagai properti berharga yang tidak boleh lecet.

​*

​Menjelang sore, rasa sesak mulai menghimpit dada Laras. Ia merasa apartemen dan ruang latihan itu hanyalah sangkar lain yang berpindah lokasi.

​"Amy," panggil Laras sambil menyeka keringat di lehernya. "Aku bosan. Bisakah kita keluar sebentar? Aku ingin menghirup udara luar."

​Amy tampak ragu sejenak, ia melihat jam tangannya. "Tuan Elang menyarankan Anda tetap di dalam ruangan untuk menjaga privasi."

​"Hanya sebentar, Amy. Ke taman di depan sana. Aku merasa oksigen di sini terlalu tipis," Laras memohon dengan mata yang sayu.

​Melihat gurat kelelahan mental di wajah Laras, Amy akhirnya mengangguk. "Baiklah, Nona. Tapi kita akan membawa dua pengawal lagi untuk menjaga jarak di belakang kita."

​Mereka keluar menuju Royal Botanic Garden yang letaknya tak jauh dari sana. Begitu melangkah keluar dari gedung, embusan angin laut Sydney yang sejuk menerpa wajah Laras. Ia memejamkan mata, membiarkan rambutnya tertiup angin.

​Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Laras merasa bisa menghirup udara tanpa merasa tercekik oleh dinding apartemen di Jakarta. Di sini, di Sydney, meskipun Amy berjalan tepat di sampingnya dan dua pria berjas hitam mengikuti beberapa meter di belakang, Laras merasa setidaknya ia bisa melihat cakrawala yang lebih luas.

​Mereka berjalan menyusuri jalanan setapak yang dipenuhi bunga-bunga musim semi. Orang-orang berlalu lalang, beberapa turis sibuk berfoto, dan warga lokal sedang berolahraga. Laras merasa sangat asing di tengah keramaian itu, namun ia menikmatinya. Ia melihat seorang seniman jalanan yang sedang melukis pelabuhan, dan sejenak, ia merasa iri pada kebebasan seniman itu.

​"Kota ini sangat indah, ya?" gumam Laras.

​"Ya, Nona. Tapi juga penuh dengan risiko," jawab Amy waspada, matanya terus memantau setiap orang yang berjalan terlalu dekat dengan Laras.

​Laras berhenti di sebuah kios es krim kecil di pinggir taman. Ia menatap deretan rasa es krim yang berwarna-warni. "Boleh aku membelinya?"

​Amy melakukan pemeriksaan cepat pada kios tersebut. "Saya yang akan membelikannya untuk Anda. Anda tunggu di sini bersama tim keamanan."

​Laras hanya bisa tersenyum pahit. Bahkan untuk membeli es krim saja, ia tidak punya otoritas. Namun, saat ia duduk di bangku taman, menjilati es krim cokelat yang dibelikan Amy, ia merasa sedikit lebih baik. Ia menatap Opera House yang ikonik di kejauhan, tempat ia akan menari beberapa hari lagi.

​Meskipun pengawasannya sangat ketat, paling tidak di Sydney, pemandangannya berbeda. Ia tidak lagi menatap tembok beton Jakarta yang menyesakkan atau mata sinis Maya yang penuh kekecewaan. Di sini, ia hanya bersama Amy—sang pengawal yang meskipun dingin, setidaknya memberikan Laras kesempatan untuk menghirup udara segar, meski hanya tiga puluh menit.

​"Waktunya kembali, Nona," ucap Amy tegas saat matahari mulai tenggelam. "Udara malam mulai dingin, dan Tuan Elang tidak ingin Anda jatuh sakit sebelum pementasan."

​Laras berdiri dengan enggan. Ia membuang sisa wadah es krimnya ke tempat sampah, lalu mengikuti langkah Amy kembali menuju mobil. Pelarian kecilnya telah berakhir. Ia akan kembali ke apartemen mewah yang telah diperiksa "setiap inci-nya" oleh Elang, kembali menjadi bidadari dalam sangkar kaca.

​Namun, di dalam hatinya, Laras menyimpan memori singkat tentang angin laut Sydney tadi. Itu adalah bensin bagi jiwanya untuk bertahan dalam latihan esok hari. Ia tahu, selama ia menari dengan indah, Elang akan memberikan "hadiah-hadiah" kecil seperti jalan-jalan sore ini. Dan bagi Laras yang sudah terbiasa dengan jeratan halus, udara segar yang sebentar itu sudah cukup untuk membuatnya merasa masih memiliki sedikit kehidupan.

1
falea sezi
laras tak ubah nya jalang. bego bgt qm. laras mau. ma. laki celup. sana sini
Indryana Imaniar
woou awal yang keren
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!