"Kamu adalah luka paling berdarah dalam hidupku."
Satu hari aku tidak ada untukmu, dan kamu menghukumku dengan keheningan selamanya. Aku mencoba lari, aku mencoba mencintai orang lain, bahkan aku menjadi wanita yang buruk dengan mendua demi melupakan bayangmu. Tapi semua sia-sia. Kamu tetap pergi, dan yang paling menyakitkan... kamu memilih sahabatku untuk menggantikan posisiku.
Dapatkan luka ini sembuh saat penyebabnya kini bahagia dengan orang terdekatku?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Aku hanya diam, memutar-mutar botol dingin itu di tangan tanpa niat membukanya. Keheningan di antara kami tidak terasa canggung, melainkan teduh—seperti payung yang melindungiku dari badai yang baru saja kulewati. Bintang benar-benar menutup mulutnya, menghargai permintaanku tanpa aku harus mengucapkannya.
Dia ikut menatap lurus ke depan, ke arah air mancur yang terus menari. Sesekali ia hanya menarik napas panjang, seolah ikut menghirup beban yang sedang kuhirup. Tidak ada tuntutan penjelasan, tidak ada penghakiman tentang mengapa aku melarikan diri dari sekolah. Di sampingnya, aku tidak merasa seperti sebuah "kasus" yang harus diselesaikan atau "korban" yang harus dikasihani. Aku hanya seorang gadis yang sedang butuh waktu.
Angin sepoi menerbangkan beberapa helai rambutku, dan dari sudut mata, aku melihat Bintang bergerak sedikit—bukan untuk mendekat, tapi hanya untuk memastikan ranselnya tidak menghalangi ruang gerakku. Kesederhanaan sikapnya itu justru membuat pertahananku yang keras perlahan terkikis. Di saat duniaku sedang bising oleh pengkhianatan Guntur dan Fita, diamnya Bintang adalah musik yang paling merdu.
dulu saat aku bercerita tentang gimana dingin dan kakunya guntur Fita hanya menanggapi dengan santai ,kadang dia memarahiku karena sering membahas guntur nyatanya sekarang dia malah dekat dengan laki-laki yang aku suka di belakangku dan mereka teman-teman dekatku dan guntur menutupi kedekatan mereka,apakah karena aku tidak bisa menemani dia menonton konser Slank di Jogja jadi seperti ini
Cukup lama kami seperti itu, dua raga yang mematung di atas bangku kayu, membiarkan waktu mengalir melewati kami. Untuk sejenak, aku lupa pada notifikasi ponsel yang bergetar di saku. Di sini, di bawah bayang-bayang pohon rindang ini, aku mulai merasa bahwa mungkin, dunia tidak benar-benar runtuh—ia hanya sedang menyaring siapa yang pantas tetap tinggal saat aku hancur.
Aku menunduk, memandangi ujung sepatuku yang masih kotor oleh tanah basah. Pikiranku berkelana ke konser Slank di Jogja sebulan lalu—alasan konyol yang kini terasa seperti awal dari sebuah bencana. Aku tidak bisa ikut karena harus ikut studi banding ke bandung dan Guntur bilang, "Nggak apa-apa, Fis, aku pergi sama teman-teman saja."
Ternyata, "teman-teman" itu adalah Fita.
Dulu, setiap kali aku mengeluh tentang betapa sulitnya meluluhkan sikap kaku Guntur, Fita hanya mencibir, "Ya sudah sih, Fis, namanya juga cowok dingin. Jangan terlalu diambil pusing." Sekarang aku tahu kenapa dia tidak ingin aku terlalu memikirkan Guntur—karena dia ingin aku berhenti memperhatikan laki-laki yang diam-diam sedang dia dekati. Mereka berdua, orang-orang yang paling kupercaya, membangun rahasia di atas ketidaktahuanku. Mereka tertawa di bawah lampu panggung konser, sementara aku di sini, menjaga harapan yang ternyata sudah lama kadaluwarsa.
Semuanya hancur lebur. Persahabatan, cinta, bahkan kebanggaanku pada diriku sendiri. Aku merasa seperti orang paling bodoh sedunia.
Bintang tiba-tiba berdeham pelan, memecah keheningan yang mulai terasa menyesakkan. Tanpa menatapku, dia mengambil botol minuman dari tanganku yang mulai gemetar. Dia membukakan tutupnya dengan sekali putar, lalu mengembalikannya kepadaku.
"Jangan dipikirkan sendirian, Fis," suaranya serak, nyaris berbisik. "Beberapa orang memang lebih memilih kehilangan emas demi mendapatkan rongsokan yang kelihatan mengkilap. Itu bukan salahmu."
Kalimat itu menusuk tepat di jantungku. Aku menatap botol yang sudah terbuka itu, lalu beralih ke wajah Bintang yang tenang. Dia tidak tahu detail tentang konser Jogja itu, tapi dia seolah bisa membaca luka yang menganga di mataku.
"Semuanya sudah habis, Bin," suaraku akhirnya keluar, parau dan tipis. "Nggak ada yang sisa."
Bintang menoleh, menatapku dalam-dalam. "Nggak, Fis. Yang habis itu sampahnya. Kamunya masih ada. Dan itu sudah lebih dari cukup."
Dia kembali diam, membiarkanku mencerna kata-katanya. Di kejauhan, langit yang tadinya cerah mulai tertutup awan abu-abu lagi, tapi anehnya, aku tidak lagi merasa takut akan datangnya hujan.
palingan dia cemburu dengar cerita dari Radit kalo Afis bersinar di UI dan lagi dekat sama Arkan
nggak usah ditanggapi Fis
muak Ama afis🤣
moga Afis dapat pendamping yang benar-benar membuat dia bahagia
lupakan Guntur dan segala penyesalan itu Fis
main gabung aja orang lagi asik b2