Shanum gadis desa yang harus bekerja keras untuk kebutuhan hidupnya dan juga keluarganya. Di tengah kesulitan ekonominya, ia terus menjadi perbincangan orang-orang disekitarnya karena di usianya yang akan menginjak 30 tahun, ia belum saja menikah.
Karena merasa malu, Ibunya meminta tolong salah satu orang yang dikenal sebagai mak comblang di desanya agar mencarikan laki-laki untuk Shanum, hingga akhirnya mak comblang tersebut memperkenalkan Shanum dengan seorang pria yang merupakan cucu dari salah satu warga desa yang terpandang di desa.
Bagaimana kelanjutannya? Apakah Shanum akan menerima pria tersebut? Siapakah pria itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mana Gelasnya?
Namun, tepat saat Shanum menyentuh tangan Abi, mata pria itu terbuka dan membuat suasana hening seketika. Di bawah temaram lampu tidur, netra tajam Abi bertemu langsung dengan mata Shanum yang masih nampak linglung.
"Sudah bangun?" suara Abi terdengar serak khas bangun tidur, berat dan dalam, getarannya terasa hingga ke tulang belakang Shanum.
"Ma-maaf, Mas... aku ketiduran sampai nggak tahu kalau sudah sampai. Siapa yang... yang bawa aku ke sini?" tanya Shanum terbata-bata, wajahnya memanas hebat.
Abi tidak langsung melepaskan pelukannya, ia justru menatap Shanum lekat-lekat dan jemarinya bergerak pelan mengusap ujung hijab instan Shanum yang sedikit berantakan.
"Saya yang gendong kamu. Kamu tidurnya sangat nyenyak, saya tidak tega membangunkan," jawab Abi jujur.
Shanum menunduk dan menyembunyikan rona merah di pipinya, "Terima kasih, Mas. Maaf merepotkan... aku mau salat Isya dulu, tadi belum sempat," ucap Shanum.
Abi akhirnya melonggarkan dekapannya dan membiarkan Shanum duduk di tepi ranjang, "Kamar mandinya ada di sana," tunjuk Abi ke arah pintu di sudut kamar.
"I-iya, Mas," jawab Shanum.
"Kalau kamu lapar, nanti setelah salat, kamu turun aja ke bawah. Tadi saya minta Bunda sisakan makanan di dapur," ucap Abi.
"Iya, Mas. terimakasih," ucap Shanum.
Di atas sajadah, Shanum menunaikan salat Isya dalam kesunyian malam Bandung yang tenang. Di setiap sujudnya, ia menyelipkan doa dan memohon agar hatinya dikuatkan menapaki takdir baru sebagai seorang Istri.
Sementara itu, Abi duduk bersandar di kepala ranjang dan memperhatikan punggung Shanum yang terbalut mukena putih dari kejauhan. Pikirannya menerawang, ada desiran aneh yang muncul setiap kali ia melihat kepolosan istrinya, keputusannya untuk tidak langsung ke apartemen terasa sangat tepat sekarang.
Setelah melipat sajadah, Shanum menoleh ragu. "Mas Abi... Mas mau makan juga? Atau sudah makan?" tanya Shanum.
Abi beranjak dari tempat tidur dan merapikan kaus hitamnya yang sedikit kusut, "Ayo kita ke bawah, kita makan sama-sama, saya juga lapar," jawab Abi.
'Mas Abi lapar? Maksudnya Mas Abi belum makan? Apa Mas Abi nunggu aku bangun? Kayaknya nggak mungkin deh,' batin Shanum bertanya-tanya.
Beberapa saat kemudian, keduanya melangkah menuruni tangga yang nampak elegan dalam keremangan lampu rumah. Suasana hening, hanya terdengar suara detak jam dinding di ruang tengah dan embusan angin Bandung yang menyusup lewat ventilasi. Sesampainya di dapur, Shanum segera menuju meja makan yang di atasnya sudah tersedia tudung saji.
Di dalamnya, terdapat fuyunghai, tumis buncis dan ayam goreng sisa makan malam tadi. Shanum bergerak cekatan, ia merasa harus menjalankan perannya sebagai istri meski rasa canggung masih menyelimuti, ia membuka rak piring dan hendak mengambil dua buah piring keramik putih.
"Shanum," panggil Abi pelan.
Shanum menoleh, tangannya masih memegang pinggiran piring. "Iya, Mas?" tanya Shanum.
"Satu piring aja, kita makan berdua," ucap Abi tenang sembari menarik kursi kayu di meja makan.
Gerakan tangan Shanum terhenti di udara, matanya mengerjap beberapa kali dan mencoba mencerna permintaan suaminya. "Kenapa, Mas?" tanya Shanum.
"Sunnah Rasul, kan? Lagipula saya malas mencuci piring terlalu banyak malam-malam begini," jawab Abi.
"Mas mau lauk yang mana?" tanya Shanum lembut.
"Apa saja yang kamu ambil, saya makan," jawab Abi singkat namun perhatiannya tak lepas dari jemari Shanum yang sibuk menyendokkan tumis buncis dan potongan ayam goreng ke pinggir nasi.
Shanum duduk di kursi di sebelah Abi, bukan di hadapannya. Jarak mereka begitu dekat hingga aroma sabun mandi Shanum kembali menyapa indra penciuman Abi, Shanum membagi porsi nasi itu menjadi dua sisi secara imajiner, namun Abi justru menyatukannya kembali dengan sendok.
"Suapi saya, bisa?" tanya Abi tiba-tiba.
Pertanyaan itu sukses membuat Shanum hampir tersedak ludahnya sendiri, "Mas, kenapa?" tanya Shaun dengan wajah yang kini benar-benar merah padam sampai ke telinga.
Abi menatap Shanum dalam, tatapan yang membuat Shanum merasa seluruh dunianya hanya terpaku pada pria di sampingnya ini. "Tadi saya sudah menggendong kamu dari mobil sampai ke lantai dua dan sekarang tangan saya sedikit pegal, anggap saja ini upahnya," jawab Abi.
Shanum tahu itu hanya alasan yang dibuat-buat, tapi ia tidak bisa menolak. Dengan gerakan perlahan, ia menyendok sedikit nasi dan lauk pauk lalu mengarahkan sendok itu ke mulut Abi dan Abi menerimanya, mengunyah pelan sambil terus menatap Shanum.
Shanum tertegun sejenak, tangannya yang hendak mengambil sendok baru dari gelas di tengah meja tertahan di udara, ia menatap piring di hadapan mereka yang masih menyisakan separuh porsi nasi dan lauk.
"Kenapa ambil sendok lagi?" suara Abi terdengar rendah, memecah kesunyian dapur.
"Eh, itu... buat aku, Mas. Masa aku pakai sendok bekas Mas Abi?" jawab Shanum canggung.
Shanum merasa tidak enak hati jika harus berbagi alat makan yang sama, takut Abi yang rapi dan perfeksionis akan merasa risih.
Namun, Abi justru menarik pelan pergelangan tangan Shanum dan menghentikan gerakannya. "Pakai yang itu aja. Satu sendok cukup, Shanum. Bukankah lebih berkah jika suami istri berbagi?" jawab Abi.
Wajah Shanum kembali memanas. Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia menyendok nasi dari sisi piring yang sama dan menggunakan sendok yang baru saja masuk ke mulut suaminya.
Setelah suapan terakhir tandas, Shanum berdiri untuk mengambilkan air, ia menuangkan air putih ke dalam dua gelas kaca bening lalu memberikan satu gelas pada Abi.
Karena rasa haus yang tak tertahankan, Shanum meminum air di gelasnya terlebih dahulu dan meminumnya cukup banyak hingga menyisakan setengah gelas.
"Mana gelasnya?" tanya Abi.
"Itu kan gelasnya, Mas," jawab Shanum.
"Gelas yang kamu pegang," ucap Abi.
"Ini, Mas," ucap Shanum pelan.
Abi menerima gelas itu, namun ia tidak langsung meminumnya, ia memutar gelas tersebut perlahan di tangannya, jemarinya menyentuh permukaan kaca yang dingin dan matanya menatap tajam ke arah bibir gelas lalu beralih menatap Shanum yang tampak bingung.
"Tadi kamu minum di bagian mana?" tanya Abi tiba-tiba.
Shanum mengerjapkan mata, sedikit terkejut dengan pertanyaan yang begitu mendetail. "H-hah? Di... di sebelah sini, Mas. Dekat jempol Mas Abi," tunjuk Shanum ragu-ragu pada pinggiran gelas.
Tanpa memutuskan kontak mata dengan Shanum, Abi perlahan memutar gelas tersebut hingga posisinya tepat pada bagian yang ditunjuk Shanum. Di bawah cahaya lampu dapur yang sedikit redup, Shanum menahan napas saat melihat Abi menempelkan bibirnya tepat di bekas bibir Shanum tadi.
Abi meminum sisa air itu dengan tenang, tenggorokannya bergerak naik turun saat menelan air. Setelah gelas itu kosong, ia meletakkannya kembali di atas meja dengan bunyi denting halus.
"Segar," gumam Abi.
.
.
.
Bersambung.....
pasti keduanya akan merasa kecanduan setelah merasakan nikmatnya Sorga Dunia😊