Putri Duke dari Kerajaan Aurelius, Elara Ravens, dikenal sebagai pewaris pedang keluarga. Namun sejak kecil ia selalu kalah dari kembarannya, dan selalu dibandingkan dan dicemooh sebagai kegagalan.
Tanpa menyadari bahwa tubuh Elara menyimpan sihir besar yang pernah meledak saat ia berusia tiga tahun dan kemudian disegel.
Sampai sebuah undangan datang dari Kerajaan sihir, Elara memilih pergi ke akademi sihir dan ingin menaklukkan kekuatan dalam dirinya.
Di sana ia bertemu kembali dengan Aaron Oberyn, Rank 1 akademi dan teman masa kecilnya. Di tengah sistem ranking yang kejam dan tatapan meremehkan, Elara harus membuktikan bahwa ia bukanlah kegagalan atau aib keluarga.
Apakah Elara akan menjadi kesatria pedang atau memilih menjadi penyihir kelak?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Archiemorarty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4. MELAWAN MONSTER
Langit senja berubah menjadi merah tua, seperti disiram darah.
Debu masih berputar di udara ketika Elara Ravens berdiri di tengah reruntuhan bar 'Kuali Besi Berderak'. Jantungnya berdebar keras, bukan karena latihan, bukan karena duel, melainkan karena sesuatu yang jauh lebih purba dari itu.
Ketakutan.
Ini pertama kalinya Elara berhadapan langsung dengan monster.
Bukan boneka latihan. Bukan simulasi kelas teori. Bukan makhluk kecil yang ditangkap untuk praktik dasar.
Ini raksasa.
Tubuh monster menjulang melebihi atap bangunan dua lantai. Kulitnya seperti batu retak dengan cahaya merah menyala di sela-selanya. Setiap napasnya mengembuskan uap panas berbau belerang.
Dan Elara tidak membawa pedang. Pedangnya disita saat skorsing ditetapkan.
Tangannya kosong.
Lututnya gemetar.
Ini gila. Aku bahkan tidak bisa bertahan tiga lawan satu di akademi, pikir Elara.
Monster itu menggeram. Suara rendahnya membuat puing-puing bergetar.
Di belakang Elara, Mirena tergeletak tak sadarkan diri..Darah di pelipisnya mengalir tipis.
Elara menelan ludah.
Tak ada waktu untuk takut.
Elara menggenggam potongan kayu panjang yang tadi terjatuh di dekatnya, rapuh, kasar, bukan senjata sungguhan.
Namun gadis itu tetap melemparkannya sekuat tenaga ke arah kepala monster itu.
"HEI!"
Kayu itu membentur pipi monster dan patah tanpa arti.
Namun cukup untuk menarik perhatian.
Monster itu menoleh.
Matanya yang kuning menyala menatap langsung pada Elara.
Udara terasa membeku.
Dengan gerakan cepat, Elara berbalik dan berlari ke arah Mirena. Ia berlutut, menarik puing kayu yang menindih tubuh perempuan itu.
"Ayo ... ayo ...," gumam Elara panik.
Elara menyentuh leher Mirena. Masih ada denyut. Napasnya masih ada.
Syukur yang begitu dalam hampir membuat Elara menangis.
Seorang pelanggan tetap, pria paruh baya berlari mendekat.
"Tuan Putri?!"
"Bantu aku!" Elara terengah.
Pria itu membantu mengangkat Mirena.
"Tuan Putri!" teriak seseorang dari luar. "Monster itu bergerak lagi!"
Elara menoleh.
Raksasa itu mulai melangkah, menghancurkan sisa-sisa bangunan. Ia melihat mereka.
Tanpa ragu, Elara menyerahkan Mirena pada pria itu.
"Bawa dia pergi!" kata Elara tegas. “l"Lari sejauh mungkin!"
"Lalu Anda-"
"Aku akan mengalihkan perhatiannya!" kata Elara.
Tanpa menunggu jawaban, Elara berlari ke arah berlawanan.
"HEI! DI SINI!" teriak sang gadis. Ia mengambil batu dan melemparkannya ke kaki monster.
Batu itu memantul, namun cukup membuat makhluk itu menoleh. Matanya kembali mengunci pada Elara.
Bagus.
Lebih baik Elara dari pada warga lain.
Elara berlari melewati jalan sempit, melompati gerobak yang terbalik.
Monster itu mengejarnya..Setiap langkahnya membuat tanah retak.
Elara berlari sekuat tenaga, napasnya mulai berat.
Setidaknya Elara harus bertahan sampai kesatria datang..Ia menoleh sekilas, mencari sesuatu.
Apa pun.
Sesuatu yang bisa dijadikan senjata.
Mata Elara menangkap tiang besi penyangga lentera jalan yang patah setengah akibat getaran tadi.
Gadis itu berlari ke sana, menariknya dengan susah payah.
Berat.
Namun cukup tajam di ujungnya.
Monster itu mengayunkan tangannya.
BRAK!
Tanah di dekat Elara hancur.
Tubuh gadis itu terpental, berguling beberapa kali. Sakit menjalar di punggungnya.
Namun Elara segera bangkit ketika bayangan besar menutupinya.
Kaki raksasa itu terangkat, hendak menginjak gadis tersebut.
Elara berguling cepat.
Kaki itu menghantam tanah tepat di tempat Elara tadi berdiri.
Tanah retak.
Debu membubung.
Dengan teriakan, Elara menusukkan tiang besi itu ke retakan merah di kaki monster.
Ssssst!
Asap tipis keluar.
Monster itu mengaum kesakitan.
Berhasil!
Namun hanya sesaat.
Tangan besar si monster menyapu.
Elara kembali terpental, menghantam dinding bangunan.
Udara terhempas dari paru-parunya.
Beberapa warga yang berlindung di balik kereta kuda berteriak histeris.
"Dia akan mati! Siapa pun tolong Tuan Putri!"
"Mana kesatria kerajaan?!"
Elara bangkit lagi.
Tangannya gemetar.
Namun Elara tetap menyerang kaki monster itu, lagi dan lagi, mengincar titik retakan merah yang tampak lebih lunak.
Ia mundur perlahan, menarik monster itu menjauh dari deretan toko.
Menuju alun-alun kota yang lebih luas.
Jika harus bertarung maka lebih baik di tempat terbuka.
Setidaknya kerusakan bangunan bisa diminimalkan.
Fokus, Elara. Fokus! batin gadis itu.
Napas Elara semakin pendek. Jantungnya berdetak terlalu cepat.
Namun ia tak peduli.
Elara melompat ketika cakar raksasa hampir merobek tanah di bawahnya.
Tiang besinya mulai bengkok.
Tubuhnya terasa remuk.
"Bangkitlah, Tuan Putri! Lari saja! Anda bisa mati!" teriak seseorang dari kejauhan menangis histeris.
Elara nyaris tertawa pahit.
Tuan Putri yang bahkan tak bisa ikut ujian ranking kini harus lari? Tidak akan! batin Elara.
Monster itu kembali mengayun.
Tiang besi di tangan Elara patah sepenuhnya. Sekarang ia benar-benar tanpa senjata.
Monster itu meraung dan mengangkat kedua tangannya.
Serangan berikutnya menghantam Elara langsung.
Tubuh Elara terlempar ke tengah alun-alun. Punggungnya menghantam batu. Ia merasakan rasa logam di mulutnya.
Darah.
Beberapa warga yang berlindung di sudut alun-alun berteriak.
Elara memaksakan diri bangkit.
"APA ADA YANG PUNYA PEDANG?!" teriak Elara serak.
Hening sepersekian detik.
Lalu seorang pria muda berteriak, "ADA!"
Pria itu melemparkan pedang besi dari kejauhan.
Pedang itu berputar di udara.
Elara berlari dan menangkapnya nyaris terlepas.
Genggamannya terasa akrab. Berat yang ia kenal. Seolah bagian tubuhnya kembali utuh.
Monster itu menyerang lagi.
Kali ini, Elara bergerak berbeda.
Lebih cepat.
Lebih presisi.
Elara menebas retakan di kaki monster.
Luka itu memercikkan darah hitam.
Monster meraung.
Elara melompat, menancapkan pedangnya lebih dalam.
Namun tangan besar monster itu menghanta sang gadis lagi.
Elara jatuh terguling. Seluruh tubuhnya berdenyut nyeri.
Namun ia bangkit.
Lagi.
Dan lagi.
Hingga akhirnya ...
Saat ia berdiri setelah satu hantaman keras ...
Elara membeku.
DEG!
Jantungnya berdetak tak wajar.
Terlalu cepat.
Terlalu keras.
Seolah ingin meledak dari dada Elara.
"Agh!"
Dunia berputar.
Gadis itu terhuyung.
Darah mengalir dari sudut bibirnya. Ia memuntahkan darah ke tanah batu alun-alun.
Sakit.
Luar biasa sakit.
Seolah sesuatu di dalam dada Elara retak.
Monster itu berhenti menyerang Elara.
Makhluk itu menoleh ke arah lain.
Ke arah warga yang terjebak di ujung alun-alun, jalur mereka tertutup oleh tubuh raksasa itu.
"TIDAK!" seseorang berteriak panik.
Monster itu mengulurkan tangannya.
Seorang pria tua tak sempat lari. Ia tertangkap.
"Tidak," ucap Elara seakan memohon.
Elara mencoba berdiri.
DEG!
Namun jantungnya kembali berdetak kencang. Nyeri menusuk dadanya.
Elara jatuh berlutut.
Keringat dingin membasahi wajahnya. Ia menatap dengan horor ketika pria itu menjerit.
"TOLOOONG!"
Monster itu membuka mulutnya.
Dan ...
Menelan pria itu.
Jeritan terhenti.
Hening.
Lalu jeritan warga lainnya pecah.
Elara membelalak.
Sesuatu di dalam dirinya pecah.
"AAAAAAAAA!!!" Teriakan Elara menggema di seluruh alun-alun.
Dan pada detik itu ... dunia seperti terbelah.
Dari dalam dada Elara, bukan rasa sakit yang ia rasa.
Melainkan ledakan.
Cahaya menyilaukan meletup dari tubuh Elara.
Gelombang kejut menghantam tanah.
Batu-batu terangkat.
Udara bergetar hebat.
Monster itu meraung kesakitan ketika cahaya putih keemasan menghantam tubuhnya.
Retakan merah di kulitnya menyala semakin terang.
Elara berdiri di pusat pusaran energi itu.
Rambut hitamnya terangkat oleh angin yang tak terlihat.
Mata dan mulutnya terbuka lebar.
Bercahaya.
Dan untuk sesaat ...
Elara tidak merasakan sakit.
Hanya amarah.
Hanya tekad.
Hanya satu pikiran yang membakar seluruh kesadarannya; Tidak boleh ada yang mati di depanku.
Monster itu mengaum, langkahnya mundur.
Dan seluruh ibu kota menyaksikan, Putri Duke yang diskors dari akademi kini berlutut seperti dewi perang di tengah alun-alun yang hancur.
Dengan energi yang bahkan belum pernah ia pahami sepenuhnya.
Yang justru akan menghancurkan tubuh gadis itu.
Sampai sebuah tebasan lurus dan bersih membelah monster besar itu dari belakang.
Sosok yang hadir menatap Elara penuh ketakutan bahwa ia terlambat.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Note:
Anak-anak Duke dan Duchess yang lahir akan dipanggil Tuan Putri dan Pangeran (Princess And Prince). Karena kedudukan dan status Duke dan Duchess sama tingginya dengan Kaisar dan Permaisuri dalam sebuah kerajaan.
tapi lucu banget, kebayang Lala ngejar" temen temennya
bukan nya takut malah tambah makin gemes 😜🤣🤣
𝐦𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐧𝐲𝐚𝐧𝐲𝐢 𝐥𝐚𝐠𝐮𝐧𝐲𝐚 𝐝𝐩 🤪🤪
menjadi dewasa,dengan beban dan kewajiban yg mengikuti.
bahkan kita sudah lupa kapan terakhir kita bisa tertawa lepas 🥹
panik donk😜🤣🤣