NovelToon NovelToon
GUGURNYA SAYAP DI PANGKUAN PREGIWA

GUGURNYA SAYAP DI PANGKUAN PREGIWA

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Romansa Fantasi / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:362
Nilai: 5
Nama Author: syakhira ahyarul husna

Gatotkaca dikenal sebagai ksatria otot kawat tulang besi, sang penjaga langit Pringgandani yang tak kenal ampun di medan laga. Tidak ada panah yang mampu menggores kulitnya, dan tidak ada musuh yang tak gemetar mendengar raungannya. Ia diciptakan murni untuk perang dan pengorbanan.

Namun, segala keperkasaan itu luluh lantak seketika di batas Hutan Wanamarta, saat ia menatap sepasang mata teduh milik Dewi Pregiwa.

Di tengah bayang-bayang kelam intrik Astina dan ancaman perang besar Baratayuda yang semakin memanas, cinta yang canggung namun tulus tumbuh di antara mereka. Gatotkaca sang manusia baja harus belajar merengkuh kelembutan, sementara Pregiwa harus menghadapi kenyataan pahit: pria yang mencintainya telah ditakdirkan oleh para dewa menjadi perisai hidup bagi Pandawa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syakhira ahyarul husna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 33

Dua penjaga telah musnah. Gatotkaca jatuh berlutut, wujud rohnya berkedip-kedip, menandakan bahwa esensi dewatanya mulai terkuras habis. Ia bertumpu pada kedua tangannya, terengah-engah menghirup kabut yang menyesakkan. Tinggal satu langkah lagi. Gerbang Panguripan kini berada tepat di hadapannya, menjulang dengan ukiran fosil jiwa yang tampak semakin mengerikan.

Lalu, kabut di depan gerbang itu berputar pelan. Penjaga ketiga turun dari kelopak kehampaan.

Buta Kala Rupa. Penjaga pamungkas. Berbeda dengan dua penjaga sebelumnya yang berwujud monster menakutkan, penjaga ketiga ini justru turun dalam wujud seorang manusia.

Kabut itu memadat, membentuk sosok yang membuat Gatotkaca seketika mematung, kehilangan seluruh niat membunuhnya.

Di hadapannya, berdiri sosok Pangeran Jayantaka. Pangeran Swantipura itu tersenyum mengejek, mengenakan jubah kebesarannya yang berlumuran darah segar. Namun yang membuat jantung roh Gatotkaca seolah berhenti berdetak bukanlah sang pangeran, melainkan sosok yang diseret oleh pria itu.

Dewi Pregiwa.

Wujud ilusi Pregiwa itu dilemparkan ke atas tanah kabut. Gaunnya robek, wajah cantiknya dipenuhi memar, dan matanya memancarkan keputusasaan yang begitu nyata hingga Gatotkaca merasa dunianya runtuh.

"Kau gagal melindungiku, Kanda," isak ilusi Pregiwa, merangkak di atas kabut, mengulurkan tangannya yang gemetar ke arah Gatotkaca. "Kau meninggalkanku di neraka itu. Dan kini, pangeran ini menyiksaku setiap malam... Mengapa kau tidak membawaku lari saat kau masih memiliki kesempatan?"

Gatotkaca membeku. Ilusi Buta Kala Rupa adalah ilusi penyesalan dan rasa bersalah yang paling absolut. Monster ini tidak menyerang tubuh; ia membelah titik terlemah di dalam hati sang jiwa. Gatotkaca melangkah gontai ke depan, kedua tangannya terulur, ingin meraih wanita yang sedang menangis itu. Rasa bersalah karena telah melepaskan tangan Pregiwa di Swantipura adalah racun yang selama ini menggerogoti nuraninya.

"Tuan Putri..." bisik Gatotkaca, air mata roh menetes dari matanya, siap menyerah pada penyesalan dan membiarkan Buta Kala Rupa mencabik jiwanya.

"Menyerahlah, Ksatria Hina," ucap ilusi Jayantaka sambil tertawa merendahkan, mengangkat pedangnya untuk menebas leher ilusi Pregiwa. "Kau tidak pantas untuknya. Dan kau tidak pantas untuk kembali."

Gatotkaca menjatuhkan dirinya di depan ilusi Pregiwa, siap menerima tebasan ilusi itu demi melindungi wanita yang dicintainya, meskipun ini adalah alam baka. Ia memejamkan mata, membiarkan rasa bersalah itu menelannya bulat-bulat.

Satu detik berlalu. Tebasan pedang itu tak kunjung datang.

Gatotkaca membuka matanya secara perlahan. Telinganya menangkap suara gemeretak kayu yang terbakar. Ia melihat ke arah ilusi Pregiwa yang masih menangis di bawahnya.

Lalu, sebuah realitas yang sangat dingin dan kejam menghantam kesadaran Gatotkaca. Realitas yang baru saja diperlihatkan oleh cermin Yamadipati beberapa saat yang lalu.

*Tidak,* batin Gatotkaca. Otot-otot rahang rohnya perlahan mengeras. Tangisannya menguap, digantikan oleh pemahaman yang sangat gelap.

Ia menatap ilusi Pregiwa itu lekat-lekat. Wanita ilusi ini menangis, memohon perlindungan, tampak begitu rapuh dan tak berdaya. Persis seperti Pregiwa di masa lalu.

"Kau bukan dia," desis Gatotkaca, bangkit berdiri perlahan.

Ilusi Jayantaka dan Pregiwa tampak kebingungan melihat reaksi sang ksatria. "Apa maksudmu, Kanda? Ini aku! Tolong aku!" jerit ilusi itu semakin keras.

Gatotkaca memejamkan mata, merasakan pedihnya kenyataan yang mengiris hatinya. "Wanitaku tidak lagi menangis memohon perlindungan," ucap Gatotkaca dengan suara bariton yang menggema sarat akan kesedihan yang jauh melampaui ilusi tersebut. "Wanitaku yang sekarang... telah membekukan hatinya. Ia tidak dikalahkan oleh pangeran keparat ini. Ia sedang meracuni pangeran ini dari dalam."

Gatotkaca membuka matanya. Murka Candradimuka kembali meledak, kali ini dengan ketajaman pikiran yang mutlak. "Wanitaku tidak membutuhkan pelindung lagi. IA MEMBUTUHKAN SESEORANG UNTUK MENGHENTIKANNYA DARI KUTUKAN MENJADI MONSTER!"

Dengan raungan yang menghancurkan ilusi tersebut, Gatotkaca menerjang maju. Ilusi Pregiwa dan Jayantaka menjerit kesakitan sebelum wujud mereka meleleh kembali menjadi Buta Kala Rupa yang bertubuh lendir hitam. Tanpa memberikan ampun sedikit pun, Gatotkaca memusatkan seluruh sisa api Candradimuka di tangan kanannya, melompat, dan meninju tepat ke jantung monster raksasa itu.

*BUMMM!*

Buta Kala Rupa meledak menjadi jutaan partikel debu hitam yang langsung tersapu oleh gelombang kejut pukulan Gatotkaca.

Tiga Penjaga Purba telah musnah. Jalan menuju gerbang telah terbuka lebar.

Gatotkaca tidak berhenti berlari. Wujud rohnya kini berkedip sangat cepat, nyaris transparan. Separuh esensi dewata yang ia miliki telah terbakar habis untuk mengalahkan ketiga penjaga itu. Ia telah kehilangan kemurniannya. Namun ia tidak peduli.

Ia tiba di depan Gerbang Panguripan. Wajah-wajah fosil jiwa di pintu gerbang itu menjerit histeris melihat kedatangannya. Gatotkaca menyilangkan kedua lengannya, mengumpulkan sisa energi terakhir dari jiwanya, lalu menabrakkan tubuhnya ke pintu raksasa tersebut.

Ledakan cahaya membutakan seluruh alam Yamaloka. Suara derak batu purba yang pecah terdengar menggemakan rintihan kematian. Gerbang Panguripan hancur berkeping-keping.

Gatotkaca terlempar ke dalam pusaran ruang dan waktu yang gelap gulita. Tubuh rohnya tercabik-cabik oleh hukum kosmik yang melarang orang mati kembali ke dunia kehidupan. Ia merasakan sakit yang ribuan kali lebih dahsyat daripada kematian itu sendiri, namun ia berpegangan kuat pada memori tentang aroma melati, menolak untuk hancur.

Jauh di dunia fana, di tengah hutan pinus yang membeku tak jauh dari tapal batas Kerajaan Swantipura, badai salju sedang mengamuk dengan buasnya.

Di bawah kanopi pohon pinus tua yang tertutup salju, gundukan tanah yang beku tiba-tiba bergetar. Hawa panas yang tak masuk akal meresap dari dalam perut bumi, mencairkan salju di sekitarnya hingga membentuk kawah kecil yang beruap.

Dari dalam tanah berlumpur yang mendidih itu, sebuah tangan hitam kelam yang diselimuti oleh kabut bayangan meranggas keluar, mencengkeram akar pohon pinus dengan kekuatan yang mematahkan kayu tersebut.

Perlahan, sosok yang tidak lagi memiliki kemegahan emas bangkit merangkak dari liang bumi. Tubuhnya tidak lagi sekokoh baja pualam; tubuhnya kini terbentuk dari gumpalan bayangan pekat, debu, dan sisa-sisa api merah yang berdenyut redup di dadanya. Sepasang mata menyala merah menyala menembus badai salju malam itu.

Sang ksatria tidak kembali sebagai manusia. Ia tidak kembali sebagai dewa. Gatotkaca telah bangkit dari kematiannya, lahir kembali ke dunia fana sebagai entitas bayangan—iblis penjaga yang telah melepaskan segalanya demi satu tujuan: merangkak menuju singgasana utara, dan menyelamatkan ratunya dari lautan darah yang sedang ia ciptakan.

1
Siska Dianti
fresh ceritnta seru banget ngangkat sejarah perwayangan
MUHAMMAD AQIEL ELYAS
terimakasih dukunganya kak
Siskadianti @gmail.com
sedih
Siskadianti @gmail.com
keren sejarah begini tapi di buat novel
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!