Vera merantau ke kota dan bisa di katakan bawa dia jarang pulang ke rumah karena memiliki hubungan yang tidak baik dengan Pak Darto Ayah kandung dia sendiri, namun kali ini Dia terpaksa harus pulang ketika mendengar kabar bahwa Bu Elma telah meninggal dunia.
semula Vera menganggap bahwa kematian Bu Elma adalah kematian yang biasa, namun beberapa malam saja dia tinggal di rumah itu malah menemukan keanehan yang tidak biasa.
benarkah Bu Elma meninggal karena sesuatu yang tak kasat mata?
mampukah Vera untuk mengungkap masalah tersebut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novita jungkook, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30. Keadaan Arum
"Gun cepat obati dia!" Arya merebahkan Arum di atas ranjang.
"Astaga sudah biru seperti ini, kenapa lambat sekali membawa dia kesini?!" Gun malah marah marah.
"Loh kok malah marah kepada aku orang aku juga tidak tahu dia ini kenapa." Arya jadi bingung sendiri.
"Ini terkena gigitan iblis racun sengkolo, bila tidak segera diobati maka dia akan mati." Gun menjelaskan secara singkat saja.
"Cepat berikan dia obat yang tepat agar jangan sampai mati karena kasihan juga melihat yang lain sudah panik seperti itu." Sukma membantu Gun untuk menyiapkan segala sesuatu.
"Ini sudah sangat parah karena menjalar ke seluruh tubuh." Gun menyentuh tubuh Arum yang terasa begitu panas.
Arya saja tadi seketika menggendong Arum memang merasakan panas yang luar biasa di tubuh gadis itu sehingga dia agak merasa heran kenapa bisa sampai seperti ini, baru saja Gun mengatakan bahwa itu adalah racun dari iblis sengkolo sehingga pasti dia hanya membutuhkan waktu sebentar saja untuk merampas nyawa gadis ini.
Dokter jelas memang tidak akan pernah mengetahui ini penyakit apa dan kemungkinan hanya akan di beri obat biasa lalu ketika meninggal dunia maka mereka akan mengatakan ini semua sudah takdir, sebab mereka memang tidak memahami tentang hal gaib seperti ini sehingga wajar saja bila mereka tidak mampu untuk menolong.
Ini Gun yang memang spesialis tentang pengobatan iblis saja masih terlihat bingung karena racun yang di dalam tubuh Arum sudah menyebar ke mana-mana, andai saja ketika baru terkena gigitan itu langsung datang dan akan di obati maka pasti tidak akan sampai separah ini karena masih bisa diberikan penawar yang tepat.
Jarak gigitan dan juga pengobatan ini sudah sangat lama dan belum lagi mobil mogok ketika di pertengahan jalan tadi jelas memakan waktu yang cukup menguras tenaga untuk Arum, ini saja Arum sudah berhalusinasi dan mengatakan bahwa Mayang dan Elma ada di dalam kolam darah dan mereka terlihat begitu menderita.
Kiara juga ada di sana karena dia ingin mendengar apa yang di katakan oleh Arum ini karena tugas mengungkap masalah yang ada di keluarga Darto telah diambil alih oleh Kiara, jadi dia memang harus menyelidiki secara tuntas agar tidak terjadi masalah yang lebih jauh lagi untuk keselamatan mereka bertiga.
Purnama jelas tidak akan mau membantu karena Kiara sudah mengambil keputusan sendiri untuk menolong Vera yang sedang kesusahan untuk mencari tahu tentang kematian Mayang dan juga Elma, karena Purnama juga ingin mengajarkan kepada Kiara untuk bertanggung jawab tentang keputusan yang sudah dia ambil dalam hidup ini.
Tapi kalau hanya sekedar membantu dan memberikan para member yang ada di agensi maka Purnama memang tidak keberatan karena itu memang sebagian dari fasilitas yang ada di sini, tapi kalau untuk membantu secara langsung maka pasti dia akan menolak dan Kiara harus bergerak seorang diri untuk menyelesaikan masalah yang sudah terjadi.
Purnama memang sangat tegas bila sudah memberikan tindakan kepada anak-anak karena mereka juga harus belajar bagaimana bertanggung jawab tentang hidup ini, tidak ada yang berani membantah ucapan purnama dan Kiara juga tidak ada niat untuk memberikan tugas tersebut kepada Purnama atau bahkan Arya Ayah dia sendiri di sini.
"Paman Gun tau racun dari iblis sengkolo ini?" Kiara bertanya kepada tabib.
"Nanti kita bahas soal itu karena aku harus mengobati dia terlebih dahulu." Gun menjawab dengan sangat tegas.
"Biarkan ya fokus mengurus Arum ini, ayo kita keluar dan berbicara dengan yang lain terlebih dahulu." Arya mengajak sang anak untuk keluar dari dalam ruangan milik Gun.
"Kasihan sekali dia wajah sampai merah seperti itu karena menahan rasa panas yang ada di dalam tubuh." gumam Kiara.
"Eh apa dia membutuhkan es?" Arya menatap Gun yang sedang sibuk.
"Pergi keluar dari ruangan ini sekarang dan jangan ganggu aku dengan ocehan kalian!" sentak Gun.
Arya dan Kiara segera keluar dari dalam ruangan ini dan mereka memutuskan untuk berbicara dengan Dina atau Vera yang sedang ada di luar, sebab saat ini Dina juga terlihat begitu ketakutan dan dia sama sekali tidak menyangka bahwa hidup ini akan berkecimpung dengan hal gaib seperti yang dia rasakan saat ini.
Vera sendiri sudah lebih tenang karena dia bisa menguasai diri dan berharap Kiara mau membantu sehingga dia tetap santai saja walau di dalam hati ada juga rasa takut, selain rasa takut dia juga merasa iba kepada Ariana yang sudah meninggal dunia dengan cara seperti itu sehingga sejak tadi terus saja menatap gadis berwajah hancur.
"Heh kau yang menabrak aku saat itu kan!" Nolan baru saja keluar dari kamar dan langsung menunjuk wajah Vera.
"Hah kok ketemu lagi." kaget Vera juga setelah melihat Nolan.
"Lah iya, aku juga baru sadar kalau dia ada di sini." Arya sejak tadi memang tidak fokus ketika ada Vera.
"Dia gadis kurang ajar yang sudah aku ceritakan kepada kamu, Kak!" Nolan langsung berbicara kepada Purnama.
"Dia yang sudah menabrak kau?" Purnama menatap Vera juga dan gadis itu langsung terdiam tidak berani untuk membantah.
"Iya, bahkan dia memberikan aku uang lima ratus ribu." Nolan berkata dengan menggebu-gebu.
"Kenapa kau tabrak Om ku sih?" Kiara menatap Vera yang tertunduk diam.
"Aku nggak sengaja saat itu karena jalan yang begitu buruk dan aku memang belum hafal sehingga langsung menabrak dia yang sedang duduk di pinggir parit." jelas Vera agak takut juga.
"Tapi kau malah menatap aku sengit, sudah aku duga kau itu adalah gadis yang sombong dan juga angkuh!" bentak Nolan.
"Nolan!"
Purnama membuka suara sambil menatap adik bungsu mereka sehingga Nolan langsung terdiam dan tidak lagi ingin berdebat karena telah di beri kode seperti itu oleh Purnama, pemegang tahta tertinggi dalam rumah ini masih tetap Purnama karena dia yang sudah membimbing sang adik untuk menjadi orang benar.
"Duduk, tidak perlu berbicara seperti itu dan kau harus bisa mengelola emosi yang ada di dalam diri." Purnama berkata serius.
"Gila, aku malah di suruh mengelola emosi dengan orang yang gampang sekali tersulut emosi." batin Nolan di dalam hati.
"Mari kita bicarakan dengan baik dan bagaimana keadaan ini selanjutnya." ajak Kiara menarik tangan Nolan.
Maka Nolan ikut duduk bersama dengan mereka juga untuk mendengar bagaimana cerita Vera tentang masalah yang telah terjadi di dalam rumah itu, Mereka ingin mendengarkan walau belum tentu juga sambil mau menolong karena tugas telah di ambil oleh Kiara.
Selamat sore besti, jangan lupa like dan komen kalian semua ya.
😍
keangkuhan mu ga seberapa ver di banding rombongan ratu ular👻🥰👍