NovelToon NovelToon
Dicampakan Suami Gila Harta, Diratukan Oleh Mafia Jahat

Dicampakan Suami Gila Harta, Diratukan Oleh Mafia Jahat

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Romantis / Cintamanis / Mafia / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: de banyantree

Ternyata di belahan dunia ini masih tersisa seorang pria berhati malaikat. Meski semua orang tak mempercayai itu. Sebab yang mencintaiku itu adalah seorang mafia jahat

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon de banyantree, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rencana Zayn

Lampu kristal di ballroom hotel berbintang itu berpendar mewah, memantulkan cahaya pada deretan gelas sampanye yang tertata rapi. Jasmine berdiri di depan cermin besar di ruang rias, mematut gaun couture berwarna merah marun yang memeluk tubuhnya dengan sempurna.

​"Sempurna," gumam Jasmine. Ia melirik ponselnya. Pesan centang dua biru. Zayn sudah menerima jas kirimannya. "Pria itu memang sulit dijinakkan, tapi malam ini, dia akan bertekuk lutut di bawah kakiku."

​Di sudut lain ballroom, Sarah tampak elegan dengan gaun cocktail hitam, berdiri di samping ayahnya, Pak Surya, yang juga merupakan kolega bisnis sekaligus sekutu politik ayah Jasmine.

​"Kamu yakin rencana ini mulus, Sarah?" tanya Pak Surya sambil menyesap minumannya.

​"Tentu, Pa. Jasmine punya ambisinya, dan aku punya kepentinganku sendiri. Lihat saja, drama ini akan lebih seru dari serial televisi mana pun," jawab Sarah dengan senyum penuh rahasia.

​Tak jauh dari sana, Gion dan Mama Ratih tampil kontras. Meski mengenakan pakaian bermerek hasil 'tabungan rahasia' Gion, gestur Mama Ratih tetap tak bisa menyembunyikan rasa noraknya. Ia sibuk mengambil foto selfie dengan latar belakang dekorasi bunga lili putih yang mahal.

​"Gion, lihat itu! Bunga-bunganya saja pasti lebih mahal dari harga sewa kontrakan kita dulu!" bisik Mama Ratih heboh.

​"Ma, jaga sikap. Kita di sini untuk mengawasi Laila, bukan jadi turis," tegur Gion ketus. Matanya menyisir ruangan, mencari sosok wanita yang dulu ia sia-siakan namun kini menjadi kunci kekayaannya.

​Tepat pukul delapan malam, musik klasik yang lembut mengalun. Jasmine melangkah keluar menuju altar kecil yang telah disiapkan di tengah ruangan. Langkahnya angkuh, penuh kemenangan. Tak lama kemudian, Zayn muncul. Ia mengenakan jas hitam pemberian Jasmine, namun wajahnya sedingin es. Di belakangnya, Mommy Rosa dan Papa Frank berjalan dengan raut muka yang sulit dibaca.

​"Apa kamu yakin dengan keputusan ini, Zayn?" bisik Papa Frank sesaat sebelum mereka duduk di kursi barisan depan.

​Zayn hanya mengangguk singkat, matanya menatap lurus ke depan. "Mari kita tonton pertunjukannya, Pa," sahutnya dengan nada yang membuat bulu kuduk merinding.

​Jasmine mengambil mikrofon. Ruangan seketika hening. Ini adalah momen yang tidak lazim dalam tradisi mereka—seorang wanita yang memegang kendali penuh atas prosesi lamaran.

​"Selamat malam semuanya," buka Jasmine dengan suara merdu yang dibuat-buat. "Terima kasih telah hadir. Malam ini bukan hanya soal bisnis antara keluarga kami dan keluarga Malik. Ini soal hati. Zayn, aku tahu kita punya masa lalu yang rumit, tapi aku ingin membangun masa depan bersamamu."

​Jasmine berlutut di satu kaki, mengeluarkan kotak beludru berisi cincin berlian yang berkilau menyilaukan. "Zayn Malik, maukah kau menerimaku sebagai tunanganmu?"

​Gumam kagum sekaligus bingung terdengar dari para tamu. Sarah tersenyum sinis, sementara Mama Ratih menutup mulutnya tak percaya. "Gila, perempuan itu benar-benar melamar Zayn!"

​Zayn berdiri perlahan. Ia tidak langsung menjawab. Ia menatap Jasmine, lalu beralih ke arah pintu masuk ballroom yang tiba-tiba terbuka lebar.

​Seorang wanita melangkah masuk. Bukan Laila yang berpakaian sederhana, melainkan Laila dengan gaun sutra berwarna emerald yang membuatnya tampak seperti bangsawan sejati. Ia tidak datang sendiri; ia didampingi oleh dua pria berseragam yang membawa koper hitam.

​"Maaf mengganggu momen romantis ini," suara Laila menggema, tenang namun berwibawa.

​Jasmine berdiri dengan wajah merah padam. "Laila?! Beraninya kamu mengacau di sini! Penjaga, usir wanita kampung ini!"

​"Tunggu dulu, Jasmine," potong Zayn tenang. Ia melangkah turun dari altar, mendekati Laila. "Dia tidak mengacau. Dia hanya membawa apa yang aku minta."

​Laila menyerahkan sebuah dokumen dari koper tersebut kepada Zayn. Zayn membukanya dan memperlihatkannya ke arah Pak Baskoro dan ayah Jasmine yang duduk di barisan depan.

​"Jasmine, kamu bilang ayahmu punya bukti untuk menghancurkanku? Sayangnya, asisten pribadimu—Ningsih—ternyata lebih suka uang tunai daripada kesetiaan padamu," ujar Zayn sambil melirik Sarah yang tiba-tiba pucat pasi.

​"Apa maksudmu?!" teriak Jasmine.

​"Ningsih menjual semua bukti asli kepadaku dua jam yang lalu. Dan bonusnya, dia memberiku rekaman suara pembicaraan kalian di bar kemarin malam tentang rencana 'menyingkirkan' Laila secara permanen," lanjut Zayn.

​Suasana ballroom yang tadinya romantis berubah menjadi tegang. Pak Surya berdiri, menatap putrinya, Sarah, dengan tatapan tajam. "Sarah! Apa yang kamu lakukan?!"

​Sarah mundur selangkah, gemetar. "Pa, aku... aku hanya ingin mengamankan posisi kita! Zayn menawarkan lebih banyak!"

​Mama Ratih yang melihat kekacauan itu langsung menyenggol Gion. "Gion, ini saatnya! Laila sedang dipojokkan, ayo pura-pura membelanya!"

​Gion maju ke depan, mencoba meraih tangan Laila. "Laila, ikut aku! Tempat ini berbahaya untukmu, ayo pulang ke rumah baru kita!"

​Laila menepis tangan Gion dengan dingin. "Rumah baru dari uang hasil sembunyi-sembunyi? Tidak, terima kasih, Gion. Aku lebih suka di sini, melihat bagaimana kebohongan kalian terbongkar satu per satu."

​Zayn merangkul pinggang Laila di depan semua orang, termasuk di depan Jasmine yang kini menangis frustrasi.

​"Acara lamaran ini tetap berlanjut," ujar Zayn lantang. "Tapi bukan Jasmine yang melamarku. Melainkan aku yang ingin mengumumkan bahwa Laila adalah satu-satunya wanita yang akan memimpin keluarga Malik bersamaku."

​Zayn mengeluarkan sebuah kunci dari sakunya. "Ini bukan sekadar cincin, Laila. Ini adalah kunci dari yayasan yang aku bangun atas namamu. Kamu bukan lagi wanita yang bisa mereka injak-injak."

​Jasmine terduduk lemas di lantai altar, cincin berliannya tergeletak tak berharga. Mama Ratih dan Gion hanya bisa melongo, menyadari bahwa 'kunci' yang mereka incar kini telah memiliki benteng yang tak tertembus.

​"Pertunjukan yang bagus, bukan?" bisik Mommy Rosa pada Papa Frank sambil tersenyum puas.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!