Setelah kecelakaan tragis empat tahun lalu, Lyodra Taylor terbangun dari koma panjang di Chicago dalam keadaan amnesia total. Keluarganya, yang menyimpan dendam dan mengira kecelakaan itu adalah sabotase bisnis, memilih memalsukan kematian Lyodra dan menghapus seluruh masa lalunya—termasuk rahasia bahwa ia sempat hamil dan keguguran saat kecelakaan terjadi.
Di sisi lain, Archello Dominic, sang kekasih yang hancur karena mengira Lyodra telah tiada, berubah menjadi pria yang dingin dan menutup diri. Di bawah tekanan ibunya, Archello terpaksa bertunangan dengan Oliver Bernardo, seorang gadis baik hati yang tidak tahu apa-apa tentang konspirasi besar di balik perjodohan mereka.
Tanpa mereka sadari, kecelakaan itu sebenarnya adalah skenario manipulatif kakek Oliver demi ambisi bisnis keluarga. Di tengah bayang-bayang masa lalu yang membeku dan kebohongan yang rapi tersusun, Archello mulai berjuang antara kesetiaannya pada memori Lyodra atau membuka hati bagi ketulusan Oliver.
🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#14
Bandara O'Hare seolah menjadi saksi bisu atas sebuah panggung sandiwara takdir yang paling kejam. Oliver Bernardo masih duduk di kursi tunggu yang dingin, matanya terpaku pada sosok pria yang baru beberapa jam lalu menggenggam tangannya dengan janji masa depan.
Suaranya benar-benar tercekat; ada sebongkah batu besar yang menyumbat tenggorokannya, membuat setiap tarikan napas terasa seperti sayatan sembilu.
Di sampingnya, Edric—adik Lyodra—masih setia menemani. Edric menatap lurus ke depan, ke arah kakak dan mantan calon kakak iparnya yang masih tenggelam dalam lautan emosi.
"Kau tidak akan memahami mereka untuk saat ini, Oliver," suara Edric terdengar rendah dan penuh penyesalan. "Apa yang mereka miliki... itu bukan sekadar cinta. Itu adalah sisa-sisa kehidupan yang sempat dirampas secara paksa. Selama empat tahun, Ello hidup seperti mayat, dan kakakku... dia hidup tanpa identitas. Saat mereka bertemu lagi seperti ini, dunia seolah tidak lagi memiliki ruang untuk orang lain."
Oliver hanya mendengarkan. Ia tidak mampu menyahut. Kata-kata Edric memang benar, namun kebenaran itu justru menjadi racun yang paling mematikan bagi hatinya. Ia mengerti bahwa ia hanyalah sebuah bab tambahan dalam novel cinta orang lain, sebuah interupsi yang tidak sengaja terjadi karena sebuah kesalahan informasi.
Beberapa meter di depan mereka, Lyodra mencoba melepaskan diri dari dekapan posesif Archello. Wajahnya yang memerah karena tangis melirik ke arah Oliver yang tampak hancur.
"Ello, lepaskan..." bisik Lyodra dengan suara parau. "Aku... aku malu pada Oliver. Dia tunanganmu. Dia berhak atas dirimu sekarang."
Archello menggeleng keras. Ia justru semakin erat memeluk pinggang Lyodra, seolah takut jika ia memberi jarak satu inci saja, Lyodra akan menguap seperti asap. Archello menoleh sejenak ke arah Oliver. Matanya yang merah masih menyisakan sisa-sisa air mata, namun tatapannya kini dipenuhi dengan pengakuan yang menyakitkan.
"Oliver gadis yang sangat baik, sayang," ucap Archello dengan suara yang bergetar. Kalimatnya ditujukan pada Lyodra, namun setiap katanya menghunjam jantung Oliver seperti peluru. "Selama lima bulan ini, dia yang menemaniku. Dia tidak pernah menuntut apa pun dariku. Dia mengerti kita... dia mengerti bahwa hatiku sedang sakit, meski dia tidak tahu karena siapa."
Oliver yang mendengar hal itu dari jarak yang begitu dekat hanya bisa tersenyum pahit. Senyum yang lebih menyedihkan daripada isak tangis mana pun.
Dia mengerti kita? batin Oliver menjerit. Bagaimana aku bisa mengerti sesuatu yang bahkan tidak pernah kau ceritakan, Archello? Kau bilang aku tidak menuntut, padahal sebenarnya aku hanya sedang menunggu kau memberiku ruang tanpa harus aku minta.
Oliver menatap punggung Archello. Ia menyadari sesuatu yang sangat mengerikan: bahkan saat Archello memujinya sebagai "gadis baik", pujian itu diberikan hanya untuk menenangkan Lyodra.
Kebaikan Oliver dijadikan alasan oleh Archello agar ia bisa kembali pada Lyodra tanpa rasa bersalah yang terlalu besar. Archello menggunakan kebaikan hati Oliver sebagai tameng untuk membenarkan pengkhianatannya.
Ternyata menghadapinya langsung rasanya sesakit ini, ya Tuhan, Oliver membatin sambil meremas ujung mantelnya hingga kukunya memutih.
Ia melihat bagaimana Archello mengusap air mata di pipi Lyodra dengan ibu jarinya, sebuah gestur yang begitu intim dan alami, seolah mereka tidak pernah terpisah satu hari pun. Dibandingkan dengan gestur itu, ciuman Archello pada Oliver semalam terasa seperti sebuah formalitas yang hambar.
"Bagaimana mungkin aku memisahkan dua orang yang saling mencintai seperti ini?" gumam Oliver pelan, hampir tak terdengar oleh Edric.
Ia menyadari posisinya. Jika ia bertahan, ia akan menjadi antagonis dalam kisah cinta legendaris ini. Jika ia menuntut haknya sebagai tunangan, ia hanya akan mendapatkan raga Archello yang jiwanya sudah terbang kembali ke pelukan Lyodra. Ia melihat Archello yang begitu hidup saat menatap Lyodra—sebuah binar mata yang tidak pernah Archello berikan padanya, meski ia sudah memberikan seluruh perhatian dan kasih sayangnya selama lima bulan terakhir.
"Edric," panggil Oliver, suaranya terdengar sangat tipis.
"Ya?"
"Bantu aku berdiri. Kakiku... aku merasa tidak punya kaki lagi sekarang."
Edric dengan sigap memegang lengan Oliver, membantunya berdiri. Oliver merasa limbung, namun ia memaksakan diri untuk tetap tegak. Ia tidak ingin jatuh pingsan di sini. Ia ingin pergi dengan sisa harga diri yang ia miliki.
Oliver melangkah mendekat ke arah Archello dan Lyodra. Langkahnya berat, seolah ia sedang berjalan di atas pecahan kaca. Archello dan Lyodra serempak menoleh. Archello menegang, seolah bersiap jika Oliver akan meluapkan amarah atau menamparnya.
Namun, Oliver tidak melakukan itu. Ia berhenti tepat di depan mereka. Ia menatap Lyodra, melihat kecantikan yang kini terlihat begitu rapuh namun bersinar karena cinta. Lalu, ia beralih pada Archello.
"Kau benar, Archello," ucap Oliver, suaranya bergetar namun terkendali. "Aku memang mengerti. Aku mengerti sekarang bahwa sejak awal, aku tidak pernah benar-benar ada di dalam rencanamu. Aku hanyalah tempatmu beristirahat sejenak sebelum kau menemukan jalan pulangmu."
Archello terdiam, matanya menunduk, tidak sanggup membalas tatapan Oliver. "Oliver, aku—"
"Jangan katakan apa pun," potong Oliver dengan senyum getir yang masih terpatri di wajahnya. "Jangan katakan maaf, karena maafmu tidak akan mengubah fakta bahwa aku telah memberikan segalanya untuk pria yang bahkan tidak tahu nama wanita di foto profilnya sendiri. Aku tidak akan memisahkan kalian. Aku tidak cukup kuat untuk menjadi penghalang di antara dua jiwa yang sudah melalui neraka."
Oliver melepaskan cincin pertunangan bermata berlian dari jari manisnya. Ia menatap cincin itu sejenak—simbol dari lima bulan harapannya yang kini telah mati. Dengan tangan yang gemetar, ia meraih tangan Archello dan meletakkan cincin itu di telapak tangannya.
"Pulanglah padanya, Archello. Kau sudah menemukan cahayamu kembali. Dan untukmu, Lyodra... aku tidak membencimu. Aku hanya sangat cemburu padamu, karena kau memiliki sesuatu yang tidak akan pernah bisa kubeli dengan kebaikan apa pun di dunia ini."
Oliver berbalik. Ia tidak menunggu jawaban. Ia berjalan menjauh menuju pintu keluar bandara, meninggalkan New York, meninggalkan Chicago, dan meninggalkan kepingan hatinya di lantai bandara yang dingin.
Edric menatap punggung Oliver dengan rasa hormat yang mendalam. Gadis itu benar-benar sangat baik—terlalu baik untuk dunia penuh manipulasi keluarga mereka.
Di belakangnya, Archello mengepalkan tangan yang berisi cincin itu, lalu kembali memeluk Lyodra. Ia menangis lagi, namun kali ini ada rasa lega yang bercampur dengan rasa sakit yang luar biasa. Ia telah mendapatkan kembali hidupnya, namun ia sadar, ia baru saja menghancurkan hidup seorang malaikat yang pernah mencoba menyelamatkannya.
"Ayo kita pulang, Ay," bisik Archello. "Kita pulang ke tempat di mana kita seharusnya berada."
Lyodra hanya bisa terisak, membenamkan wajahnya di dada Archello. Ingatan tentang ciuman Archello dan Oliver semalam masih membekas, namun di bawah dekapan Archello yang begitu posesif, ia tahu bahwa pelarian apa pun kini sudah tidak berguna lagi.
🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰