Fandi, seorang mahasiswa jurusan bisnis, memiliki kemampuan yang tak biasa—dia bisa melihat hantu. Sejak kecil, dia sudah terbiasa dengan penampakan makhluk-makhluk gaib: rambut acak-acakan, lidah panjang, melayang, atau bahkan melompat-lompat. Namun, meskipun terbiasa, dia memiliki ketakutan yang dalam.
BENAR! DIA TAKUT.
Karena itu, dia mulai menutup matanya dan berusaha mengabaikan keberadaan mereka.
Untungnya mereka dengan cepat mengabaikannya dan memperlakukannya seperti manusia biasa lainnya.
Namun, kehidupan Fandi berubah drastis setelah ayahnya mengumumkan bahwa keluarga mereka mengalami kegagalan panen dan berbagai masalah keuangan lainnya. Keadaan ekonomi keluarga menurun drastis, dan Fandi terpaksa pindah ke kos-kosan yang lebih murah setelah kontrak kos sebelumnya habis.
Di sinilah kehidupannya mulai berubah.
Tanpa sepengetahuan Fandi, kos yang dia pilih ternyata dihuni oleh berbagai hantu—hantu yang tidak hanya menakutkan, tetapi juga sangat konyol dan aneh
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DancingCorn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 5 : Pedang Kayu dan Boneka Tua
Fandi terkejut melihat Raka berdiri di depan kamarnya dengan ekspresi tegang. “Rak, Kenapa lo di sini?" ujar Fandi bingung. Menurutnya, Raka masih harus beristirahat lebih banyak.
Namun ada sesuatu yang membuat Fandi gelisah. Raka menatapnya seolah-olah mengetahui hal yang dia sembunyikan.
"Gue mau nanya," jawab Raka singkat, wajahnya menjadi serius. Tanpa basa-basi, dia melanjutkan, “Fan, gue bukannya mau nuduh lo nyuri atau apa ya, tapi kemarin gue liat lo keluar dari kamar lo bawa pedang kayu kecil.”
Raka menggaruk rambutnya yang tidak gatal, ekspresi seriusnya menghilang saat raut wajahnya menunjukkan kebingungan. "Ya, gue juga nggak mau minta itu pedang balik, lagian itu juga bukan barang gue dari awal. Tapi kondisi gue kemarin..." Dia melihat Fandi dengan cermat, "Lo tau sesuatu, kan?"
Fandi terdiam beberapa detik, kebingungan terlihat jelas di matanya.
Fandi tahu bahwa dia tidak bisa menghindar karena pedang kayu itu ada di kamarnya sekarang. Dia mungkin bisa membuat alasan lain, namun Raka adalah korban yang membutuhkan kebenaran. Bahkan jika dia berbohong, tidak ada kepastian Raka tidak akan di ganggu lagi yang mungkin lebih parah. Jadi dia tidak memiliki pilihan lain selain memberitahunya.
Namun, Fandi masih merasa terlalu sulit untuk langsung berbicara. Dia tidak ingin temannya tiba-tiba melihatnya dengan aneh.
Fandi mengalihkan pandangannya, mencari celah untuk menenangkan diri. Saat itu, suara adzan subuh terdengar dari kejauhan. Suara itu membuatnya teringat nasihat kakeknya: "Apa pun yang terjadi, jangan lupakan Allah, Allah akan selalu menunjukkan jalan."
Menghela napas dalam-dalam, Fandi mencoba menenangkan pikirannya. Dia menatap Raka dengan penuh keyakinan dan berkata, “Rak... sebelum gue jelasin, gimana kalau kita sholat dulu? Biar hati kita lebih tenang. Gue sendiri bingung harus mulai dari mana.”
Raka diam, menatap Fandi dengan alis terangkat, jelas sedikit heran dengan usul itu. Namun, beberapa detik kemudian, dia mengangguk. “Oke, tapi kondisi gue nggak bisa jadi imam,” jawabnya dengan tenang.
Fandi menghela nafas lega, "Yaelah, gue juga bisa kali. Tenang aja." Raka kemudian mengikuti Fandi. Wudhu dan Sholat berjamaah.
Setelah mereka selesai sholat, suasana di antara mereka terasa lebih tenang. Fandi mengajak Raka ke teras, tempat yang menurutnya cukup aman untuk berbicara tanpa gangguan.
Dia sengaja memilih teras untuk menghindari hantu-hantu kosan seperti Pak Kromo atau Lili yang mungkin saja menguping percakapan mereka. Dia akan sangat terganggu jika kedua hantu super itu mengetahui kebenaran tentang dirinya. Sayangnya, Fandi tidak menyadari bahwa dua hantu itu sekarang duduk dengan santai di atap teras, mendengarkan tanpa suara.
Setibanya di teras, Fandi menarik napas dalam-dalam, berusaha mengumpulkan keberanian. Dia akhirnya memutuskan untuk membuka diri. “Gini, gue harus jujur sama lo. Sebenernya... gue punya kelebihan yang nggak dimiliki orang biasa. Gue bisa lihat hal-hal yang kata orang itu nggak ada. Gue bisa lihat hantu, makhluk-makhluk aneh, dan hal-hal yang... mungkin susah lo pahami.”
Raka menatap Fandi dengan tatapan penuh kebingungan, lalu mendekatkan wajahnya sedikit. “Lo serius bilang lo bisa lihat hantu? Kaya anak indomie gitu?”
Fandi memutar matanya kesal. “Indomie, Indomie. Indigo kali.”
Raka tertawa sementara Fandi tersenyum. Fandi tau kalau Raka mencoba menghiburnya meski sedikit. Ekspresi serius Raka hilang, dia masih bercanda. “Sama aja kali. Yang penting dua-duanya ada ‘indo’-nya, kan?”
Fandi hanya bisa menggelengkan kepala sambil tertawa kecil. “Dari mananya sama? Indomie sih enak masih bisa dimakan, indigo? Hadeh...”
Tawa mereka pun mengalir ringan, mencairkan ketegangan yang ada sebelumnya. Namun, setelah beberapa saat, tawa itu perlahan memudar, digantikan oleh keheningan yang lebih serius.
Raka mengangguk perlahan, berusaha mencerna penjelasan Fandi. “Oke. Terus kondisi gue kemarin?”
Fandi menghela napas panjang, menatap Raka dengan raut serius. “Gue awalnya nggak ngerti apa-apa soal itu. Tapi gue dengar suara... semacam bisikan yang bilang ada benda aneh yang ganggu lo. Jadi gue cari benda itu. Ternyata bener, setelah gue bawa, demam lo jadi turun. Dan, ya, gue sempat dapet informasi tentang benda itu.”
“Informasi? Dari siapa?” Raka bertanya dengan wajah penuh rasa ingin tahu.
Fandi mendadak memelototi Raka. “Jangan nanya bagian itu. Kalau gue jawab, ntar orangnya denger!”
Raka mengangkat satu alis, bingung dengan jawaban Fandi, sementara Pak Kromo yang duduk di atap teras menahan tawa geli.
Fandi, mengabaikan ekspresi Raka, melanjutkan, “Lo ngambil pedang kayu ini dari gudang belakang, kan?”
Kini giliran Raka yang terlihat waspada. Dia buru-buru menoleh ke kanan-kiri, lalu mendesis, “Anjir, Lo mau bales gue, Fan! Kalau Kang Roy denger, gue bisa kena omel panjang!”
Fandi tersenyum tipis, tapi nada bicaranya berubah serius saat dia mulai menjelaskan. “Gue dapet informasi kalau pedang kayu itu bagian dari boneka kayu yang ada di gudang. Masalahnya, boneka kayu itu dirasuki arwah. Dan arwah itu bikin benda ini jadi terkutuk. Makanya, kemarin harusnya Lo cuma demam ringan, tapi tambah parah gara-gara benda itu.”
Raka mendengarkan dengan serius, lalu menatap Fandi dengan mata melebar. “Fan, bentar, deh. Jangan bilang... suara anak kecil yang gue ceritain ke Lo itu arwah gentayangan si boneka?”
Fandi mengangkat kedua bahunya. “Gue nggak tau pasti. Tapi, itu bisa aja salah satu kemungkinan.”
Mereka terdiam untuk beberapa saat, masing-masing sibuk dengan pikirannya.
Setelah hening beberapa saat, Raka bicara dengan nada hati-hati, “Gini, Fan... Gue hari ini cuma ada kelas malam. Sebelum itu, lo mau nggak ke gudang belakang buat ngecek langsung?”
Fandi terdiam sejenak, jelas ragu dengan tawaran itu. Tapi dia sadar kalau dia libur hari ini dan nggak punya banyak rencana lain. Akhirnya, dia mengangguk pelan. “Oke. Sekalian kita balikin pedang kayunya.”
"Oke." Kemudian Raka tersenyum lebar, matanya berbinar. “Gila! Entah kenapa jadi seru gini, kaya petualangan horor nggak sih." Lalu berpikir sebentar sebelum bicara sambil melihat kamar Dimas dan Arief yang masih tertutup, "gimana kalau sekalian kita ajak Dimas sama Arief juga?”
Fandi menghela napas. “Gue nggak yakin ini ide bagus. Tapi, kalau mereka mau, ajak aja...”
————
Sayangnya, rencana mereka untuk mengajak Dimas dan Arief berakhir sia-sia. Dimas terjebak dengan tugas coding yang memaksanya berdiam diri di kamar selama tiga hari, sementara Arief harus fokus pada pertandingan basket penting yang tidak bisa dia lewatkan.
Meskipun hanya berdua, Fandi dan Raka tetap memutuskan untuk melanjutkan rencana mereka menyelidiki gudang belakang. Fandi membawa pedang kayu itu di dalam tasnya.
Dengan hati-hati, mereka menyelinap ke area gudang belakang kos, yang sudah lama dibiarkan tak terurus. Pintu gudang yang tua itu berderit pelan saat mereka membukanya, menghasilkan suara yang membuat bulu kuduk berdiri. Di balik pintu, ruangan gelap yang dipenuhi debu dan barang-barang lama menyambut mereka. Segalanya tampak berantakan, seperti tempat itu tidak pernah disentuh selama bertahun-tahun.
Cahaya di dalam sangat minim, untung mereka membawa senter kecil yang cukup membantu mereka. Bayangan dari tumpukan barang terlihat menari-nari di dinding, menciptakan suasana yang semakin mencekam. Fandi menatap sekeliling dengan waspada, sementara Raka mencoba menjaga ketenangan meski dia merasa ada sesuatu yang tidak beres di dalam ruangan itu.
“Gila, ini tempat udah kayak set film horor nggak sih,” gumam Raka, suaranya bergetar samar, berusaha terdengar santai meski jelas rasa takutnya mulai terlihat.
Fandi meliriknya sekilas, kemudian menggeleng pelan sambil memeriksa sekeliling dengan senter. “Jangan ngomong aneh-aneh. Fokus aja cari saklar lampunya.”
Raka mengangguk ragu, menelan ludah sebelum melangkah lebih dalam ke gudang. Langkah kaki mereka terdengar berderak di atas lantai kayu tua yang rapuh, menambah kesan suram di tempat itu.
Suasana begitu hening, hanya diiringi oleh suara langkah mereka dan gemerisik barang-barang yang tersentuh secara tidak sengaja. Cahaya senter menyapu rak-rak tua yang dipenuhi debu dan sarang laba-laba, membuat bayangan gelap bergerak seolah mengikuti mereka.
"Fandi...” bisik Raka, suaranya nyaris tenggelam dalam keheningan. “Nggak ada sesuatu di sini, kan?”
Fandi berhenti, menatap Raka sekilas sebelum mengarahkan sinar senter ke sudut ruangan yang tampak lebih gelap. “Gue belum lihat apa-apa.”
Namun, tepat setelah kata-kata itu keluar, cahaya senter mereka menyapu sesuatu—sebuah wajah. Wajah itu mendadak muncul di bawah sinar, menatap mereka tanpa ekspresi.
"AAAAA!!"
Keduanya berteriak bersamaan. Raka, tanpa berpikir panjang langsung memeluk Fandi erat-erat, sementara Fandi membeku di tempat, tak sanggup bergerak.
Sebelum Fandi sempat memproses apa yang terjadi, sebuah tongkat kayu tiba-tiba menghantam kepalanya dengan suara duk!
"Itu manusia, bocah bodoh," suara berat dan familiar terdengar, membuat Fandi tersentak. Dia mengenali suara itu—Kyai Jagakarsa, sosok misterius yang mengatakan bahwa dia adalah penjaganya.
Kyai Jagakarsa keluar karena mendengar teriakan Fandi. Melihat bahwa dia tidak perlu berurusan dengan hal merepotkan dan teriakan itu hanya alarm palsu, Kyai Jagakarsa menjadi kesal dan memukul Fandi sebelum menghilang.
Fandi mengabaikannya. Yang lebih penting, Fandi kembali melihat ke wajah yang baru saja tersorot senternya. Setelah mengenali pemilik wajah itu, kakinya mulai bergetar hebat lebih ketakutan.
“Pertama, bisa arahkan senter ke tempat lain?” suara itu terdengar tegas namun tidak terlalu keras, cukup untuk membuat Fandi tersadar. Dengan canggung, dia segera menggeser arah senternya sambil memaksakan senyum kaku.
Sementara itu, Raka, yang masih bergelantungan pada Fandi, mulai mengenali suara yang familiar tersebut. “K-Kang Roy?” katanya dengan nada setengah tidak percaya.
Sosok yang dipanggil Kang Roy perlahan maju dari balik tumpukan barang, wajahnya serius seperti biasa. “Dasar kalian, dibilangin jangan ke gudang ini malah ngeyel. Ngapain kalian ke sini? Bahkan kalau ini masih siang, gue udah ingetin supaya kalian nggak kesini, kan.”
Fandi dan Raka terdiam, tidak tahu harus menjawab apa. Namun, Raka yang merasa tidak mungkin lagi menghindar akhirnya memutuskan untuk jujur. Dia menarik napas dalam, mencoba menenangkan diri, lalu mulai bercerita.
Kang Roy melihat mereka dengan aneh. "Begitu, Lo anak indigo, Fan." Kang Roy menganggukkan kepalanya, "Terus demam si Raka kemarin gara-gara ini."
Raka mengangguk, "kemungkinan besarnya gitu, kita kesini buat balikin pedang kayunya kok, Kang."
Kang Roy menghela napas, terlihat lega namun juga kesal. "Raka, Raka, dibilangin jangan macam-macam, malah ngambil barang-barang di sini. Gudang ini bukan tempat buat main-main. Untung aja ada Fandi yang bantuin Lo kemarin, kalau nggak, gue mungkin harus hubungin orang tua lo."
Raka mengangkat kedua tangannya dengan sikap kalah, "Ampun, Kang. Gue juga nggak tau. Lagian gue nggak ambil di gudang, tapi di sekitarnya. Dan Kang Roy juga tau sendiri kalau gue suka ngoleksi kerajinan macam itu."
"Dibilangin jangan ngeyel." Kata Kang Roy sambil memukul kepala Raka. Dia kemudian menghela nafas sebentar, "Gara-gara demam Lo yang naik turun kemarin, gue curiga ada hubungannya sama hal-hal disini. Makanya gue lihat-lihat. Nggak taunya emang bener."
Kang Roy berjalan ke dekat dinding dan menyalakan saklar lampu gudang dengan gerakan cepat. Begitu cahaya menyinari sekeliling, gudang yang sebelumnya terasa suram, kini terlihat lebih jelas dengan tumpukan barang-barang yang terabaikan.
"Jangan cuma berdiri aja. Cepetan cari boneka itu." Kang Roy memerintah.
Fandi dan Raka pun mulai mencari bersama. Mereka menggeser tumpukan barang, mengamati setiap sudut dengan cermat.
Beberapa saat kemudian, Fandi menemukan sebuah kotak kayu tua yang terletak di pojok ruangan. Di dalamnya ada boneka kayu wanita berukuran lima belas inci, mengenakan pakaian seperti prajurit yang compang-camping, dengan wajah yang terukir sangat detail namun sedikit usang. Fandi mengernyit, merasakan hal aneh pada benda itu.
“Ketemu," kata Fandi pelan.
Kang Roy dan Raka segera mendekat.
Raka melihat boneka itu dengan tatapan takjub, "gila, masih ada aja boneka ukir keren kaya gini."
"Iya, detailnya bagus." Kata Fandi setuju.
Kang Roy menatap boneka itu dengan ekspresi kusam, dia mengingat cerita dibalik boneka ini. Kang Roy menghela nafas lalu berkata. “Kalian lihat bagian pinggangnya, memang seharusnya ada pedang disana. Kalian bawa pedang itu?"
Fandi hanya mengangguk pelan, mengambil pedang kayu kecil di tasnya.
Kang Roy mengangguk, "pasang sekalian, nanti gue bantu ngunci kotaknya,” kata Kang Roy.
Fandi akan memasang pedang itu, tapi berhenti ditengah jalan. Dia berbalik dan menyerahkannya pada Raka, "Lo yang pasang. Lo yang berhubungan sama benda ini. Karma benda ini ada di Lo."
Raka bingung, tapi dia segera mengerti maksud Fandi.
Karma...
Karma adalah konsep hukum sebab akibat yang mengajarkan bahwa setiap tindakan akan menghasilkan konsekuensi yang sebanding.
Seperti ketika seseorang makan, mereka akan kenyang. Jika seseorang lari, mereka akan kelelahan.
Dan sekarang, Raka yang menemukan pedang ini, dia harus mengembalikannya.
Raka segera memasangkan pedang kayu ke boneka. Dengan gerakan cepat, Kang Roy menutup kotak dan menguncinya. Mereka kemudian kembali ke kosan.
maaf jika selama ini ada komen aku yg ga berkenan 🙏🙏🙏
cerita dr kak oThor bagus banget, cuma belom sempet buat baca kisah yg lain🙏🙏🙏 so sorry
eh mbak parti kmrn udh belom ya, sama.yg dia berubah punya sayap hitam 🤔...
Fandy dan yg lainnya msh jomblo, emang sengaja ga dibuatin jodohnya ya kak oThor?
kutunggu sll lanjutan ceritanya 😍🙏🙏
pemilik kos biasanya menyimpan rahasia yg tak terduga... apa iya Bu Asti bukan mnausia?
sosok ini berhubungan dg kehadiran dek Anis jg tayangga ...
siapakah sosok itu? apakah musuh Fandy dr dunia goib?
maaci kak oThor
normal nya liat Kunti ga sampai sedetik udh pingsan ato ga kabur duluan 😀 sereeemmm
tp Krn Arif gengnya Fandy jd beda