Seorang siswa SMA miskin yang baru saja ditinggalkan oleh kekasihnya secara tak sengaja memperoleh sebuah kitab pusaka milik Santo Cinta—sebuah buku misterius yang menyimpan tak terhitung kemampuan luar biasa, khusus digunakan untuk menaklukkan hati para gadis. Sejak saat itu, hidupnya pun berubah drastis.
Tak hanya meraih keberhasilan dalam urusan asmara, ia juga mulai menapaki jalan kesuksesan dalam dunia bisnis. Dalam perjalanannya, ia bertemu dengan beragam perempuan menawan: teman sekelas yang cantik, putri seorang tokoh dunia bawah tanah, gadis super imut yang menggemaskan, hingga selebritas terkenal dengan pesona memikat.
Di antara cinta, kekuatan rahasia, dan perubahan nasib, kisahnya berkembang menjadi perjalanan penuh romansa, peluang, dan godaan yang tak terduga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
Wilayah Tiongkok Timur, Provinsi FJ, Kota Nanmin.
Sebuah jeritan memilukan tiba-tiba menggema dari ruang Kelas 3 tingkat akhir SMA Qizhong, memecah suasana sore yang semula sunyi.
Zhang Yuze menatap kosong lembar ujian di hadapannya. Di sana, tercetak sebuah angka yang terasa begitu menusuk mata—nol besar yang dilingkari tebal dengan tinta merah.
Nilai nol.
Lingkaran mencolok itu hampir membuat pikirannya meledak. Dadanya terasa sesak, seolah ada sesuatu yang menekan dari dalam. Ia memang sudah memperkirakan hasil ujiannya akan buruk, tetapi yang benar-benar membuatnya frustrasi adalah kenyataan bahwa ia telah mengisi seluruh lembar jawaban—tidak satu pun dibiarkan kosong—namun tetap memperoleh nilai nol.
Nasib seolah sedang mempermainkannya. Bahkan satu soal pilihan ganda pun tidak ada yang tepat. Sebuah “keberuntungan” yang buruk hingga terasa tidak masuk akal.
Saat Zhang Yuze masih menatap lembar ujiannya dengan wajah muram dan penuh ketidakpuasan, seseorang di bangku depan tiba-tiba menoleh. Chen Jialong, sambil menggenggam kertas ujiannya sendiri, menampilkan ekspresi penuh kegembiraan, bahkan nyaris berlinang air mata.
“Yuze! Aku dapat tiga poin!” serunya dengan suara bergetar karena emosi. “Akhirnya, untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku mengunggulimu! Langit benar-benar punya mata!”
“Kurang ajar! Terus saja pamer,” bentak Zhang Yuze kesal. “Ini cuma kebetulan!”
Dalam suasana hatinya yang sudah kacau karena nilai nol—yang merupakan pertama kali ia mengalaminya sepanjang hidup—Zhang Yuze tanpa ragu mengacungkan jari tengahnya ke arah Chen Jialong sebagai bentuk penghinaan setengah bercanda.
Pemuda di depannya itu bukan orang asing. Chen Jialong adalah sahabatnya sejak kecil, teman yang tumbuh bersamanya dari masa kanak-kanak hingga remaja. Entah kebetulan macam apa yang terjadi, mereka selalu berada di sekolah dan kelas yang sama—mulai dari SD, SMP, hingga SMA.
Kebetulan seperti itu tergolong sangat langka, dan mungkin karena itulah hubungan mereka terjalin begitu erat.
Dahulu, ketika nilai akademik Zhang Yuze masih cemerlang, Chen Jialong kerap bergantung padanya, menyontek jawabannya demi sekadar lulus. Ia tidak pernah sekali pun memiliki kesempatan untuk mengungguli Zhang Yuze dalam hal nilai.
Namun seiring berjalannya waktu, prestasi Zhang Yuze merosot tajam. Dan kini, pada ujian ini, Chen Jialong akhirnya—untuk pertama kalinya—berhasil melampauinya.
“Hmph!”
Di tengah perdebatan kecil mereka, terdengar dengusan tidak suka dari samping. Liu Mengting, kecantikan kelas 3 tingkat akhir—yang juga merupakan teman sebangku Zhang Yuze—mengeluarkan suara meremehkan. Ia mengayunkan tas sekolahnya ke bahu, menampakkan tengkuknya yang putih dan ramping, lalu melangkah pergi dengan anggun.
Punggungnya yang menjauh tampak begitu memesona.
Namun, bagi Zhang Yuze, pemandangan itu justru menusuk hatinya dengan kepahitan.
Sejak awal, ia merasa sangat terkejut—bahkan merasa seolah memperoleh keberuntungan besar—ketika mendapati dirinya duduk sebangku dengan gadis yang diakui seluruh kelas sebagai yang tercantik. Akan tetapi, siapa sangka bahwa ia tidak hanya tidak mendapatkan perlakuan istimewa, bahkan sejak menjadi teman sebangku di tingkat akhir, mereka hampir tidak pernah saling berbincang.
Barangkali, inilah jarak yang tak kasatmata antara siswa berprestasi dan siswa yang terpuruk.
Di dalam lubuk hatinya, Zhang Yuze menyimpan keinginan yang tidak pantas. Ia bahkan kerap memikirkan Liu Mengting dalam berbagai khayalan setiap malam sebelum tidur. Namun di dunia nyata, ia justru dipenuhi rasa sungkan dan gentar, tak berani melangkah sedikit pun melewati batas.
Sementara itu, Liu Mengting—mungkin karena memandang rendah teman sebangkunya yang dianggap menyia-nyiakan diri—juga dengan sengaja menjaga jarak yang jelas. Ia tidak pernah berbicara dengannya kecuali benar-benar diperlukan.
Hari ini, sikap ketidaksukaannya bahkan ditunjukkan secara terang-terangan.
Lagipula, siapa yang tidak tahu bahwa Zhang Yuze dan Chen Jialong telah dicap oleh seluruh SMA sebagai “Pemuda Empat Tanpa”: tanpa ide, tanpa jiwa, tanpa masa depan, dan—yang paling memalukan—tanpa pacar.
Saat Zhang Yuze hendak merapikan buku-bukunya dan bersiap meninggalkan kelas, kegaduhan tiba-tiba pecah di dalam ruangan.
Seorang remaja bertubuh tinggi besar dengan wajah garang melangkah masuk, diikuti beberapa berandal. Kehadirannya membuat suasana kelas langsung membeku.
Mengapa orang itu datang ke sini hari ini?
Keterkejutan terpancar jelas di wajah para siswa. Pemuda itu bukan orang sembarangan.
Ruan Zixiong berjalan lurus menuju bangku Zhang Yuze, lalu menghantamkannya dengan telapak tangan secara brutal.
“Bang!”
Kotak kacamata di atas meja langsung pecah berkeping-keping. Kekuatan hantaman itu membuat seluruh kelas terperanjat. Benar-benar pantas disebut sebagai salah satu dari sepuluh petarung terkuat di tingkat SMA.
Sejak tahun 2012, akibat berbagai faktor yang tidak diketahui secara jelas, atmosfer bela diri di Negara Donghua berkembang pesat dan menjadi tren. Banyak warga bergabung dengan berbagai perguruan bela diri, bahkan beberapa keturunan keluarga berpengaruh memilih masuk ke klan bela diri terpencil. Menyikapi fenomena tersebut, Kementerian Pendidikan bahkan mengganti mata pelajaran olahraga dengan seni bela diri, serta menjadikannya salah satu mata ujian masuk perguruan tinggi.
“Ruan Zixiong, apa maumu?” Zhang Yuze tiba-tiba berdiri, menatapnya dengan amarah.
Meski dari luar ia tampak tegar dan garang, kakinya tak kuasa menahan getar. Ia tahu betul bahwa orang di hadapannya adalah sosok yang ditakuti oleh seluruh siswa tingkat akhir. Menghadapinya secara langsung jelas bukan perkara mudah.
Melihat Zhang Yuze masih berani bersikap keras kepala, Ruan Zixiong sempat tertegun. Ia kemudian menyeringai dingin dan mengangguk perlahan.
“Berani juga kau,” ujarnya.
Ia lalu mendekatkan wajah ke telinga Zhang Yuze dan berbisik dengan nada dingin yang menusuk, “Jian Yumin sekarang bersamaku. Jangan pernah lagi mengganggunya. Kalau tidak, aku tidak akan melepaskanmu begitu saja.”
Jantung Zhang Yuze berdegup keras, seolah hampir hancur berkeping-keping. Namun ia memaksa dirinya untuk tetap tenang. Dengan tatapan dingin, ia menatap Ruan Zixiong dan berkata, “Ini urusanku dengan dia. Tidak ada hubungannya denganmu.”
Kata-kata itu membuat kilatan kejam melintas di mata Ruan Zixiong.
“Kalau begitu,” katanya pelan namun mengancam, “aku menantangmu secara resmi. Temui aku di arena setengah bulan lagi. Jika kau tidak datang, berarti kau pengecut.”
Setelah mengucapkan itu, Ruan Zixiong mendengus dingin dan pergi bersama rombongannya.
Begitu sosok itu menghilang, Zhang Yuze langsung terduduk, seolah beban besar baru saja diangkat dari pundaknya. Namun pikiran tentang ucapan Ruan Zixiong terus berputar di kepalanya, membuat dadanya terasa tidak nyaman.
Jian Yumin—gadis yang disebutkan tadi—adalah pacarnya sejak SMA. Ia tidak pernah menyangka bahwa seseorang akan merebutnya begitu saja. Pantas saja, setiap kali ia mencoba menemuinya dalam beberapa hari terakhir, selalu ada alasan untuk menghindar. Ternyata, ia telah memiliki kekasih baru.
Meski hubungan mereka bermula secara kebetulan dan tidak dilandasi perasaan yang terlalu dalam, tetap saja—pria mana yang tidak terluka ketika wanitanya direbut orang lain?
Kini, Zhang Yuze benar-benar telah menjadi “Pemuda Empat Tanpa” yang sesungguhnya.
“Yuze, bagaimana kau bisa menyinggung orang seperti dia?” Chen Jialong mendekat dengan wajah penuh kekhawatiran. “Perlu aku carikan seseorang untuk menengahi masalah ini?”
Persahabatan mereka tidak memungkinkan Chen Jialong untuk berpangku tangan begitu saja.
“Tidak perlu,” jawab Zhang Yuze singkat. Ia melirik sekeliling kelas, melihat beragam ekspresi yang tertuju padanya, lalu mengernyit. Tanpa berkata apa-apa lagi, ia berbalik dan melangkah keluar dari ruangan.
Rumah Zhang Yuze terletak di kawasan permukiman elit di Jalan Jiangbin, Distrik Xiangcheng. Kedua orang tuanya adalah pegawai negeri, bahkan dapat dikatakan sebagai pejabat tingkat menengah. Kondisi ekonomi keluarganya tergolong cukup baik.
Ayahnya menjabat sebagai wakil kepala daerah Kabupaten Jingnan, meski belum masuk jajaran inti. Ibunya adalah wakil kepala Kantor Polisi Beitong di Distrik Xiangcheng. Keduanya sibuk dengan pekerjaan masing-masing, sering kali pergi pagi dan pulang larut, hingga jarang bertemu satu sama lain dalam sehari.
Karena itulah, tidak jarang Zhang Yuze harus menyiapkan makanannya sendiri.
Di balik rumah yang tampak mapan itu, hidupnya justru sedang berada di titik terendah—nilai nol, cinta yang direnggut, dan tantangan berbahaya yang menantinya di arena.
Dan tanpa ia sadari, inilah awal dari perubahan besar yang akan mengguncang seluruh hidupnya.