Lima sahabat mendaki Gunung Ciremai untuk merayakan kelulusan, namun terjebak di tengah wabah mayat hidup yang muncul dari balik kabut. Di jalur Linggarjati yang ekstrem, perjalanan perpisahan ini berubah menjadi ujian survival yang brutal. Mereka harus memeras logika, naluri, dan kesetiaan demi bertahan hidup dari kepungan monster sekaligus tipisnya oksigen di puncak tertinggi Jawa Barat.
Mereka bergabung bersama Satria seorang tentara, dan Shakira seorang dokter untuk Bertahan Hidup dari serangan Mayat Hidup.
Jika kalian diposisi mereka apa yang akan kalian lakukan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heynura9, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18
Pukul 16.10 WIB
Jalur Linggarjati, Kilometer Enam Setengah
Kabut itu datang bukan dari atas, bukan pula turun perlahan seperti kabut gunung pada umumnya yang jatuh mengikuti perubahan suhu sore hari. Kabut itu muncul dari samping, dari celah-celah rapat di antara batang pohon tua di sisi barat jalur. Ia mengalir masuk ke jalur seperti air yang menemukan retakan kecil di batu diam, pelan, hampir tidak disadari pada awalnya.
Mula-mula hanya terlihat seperti udara yang sedikit lebih pucat dari biasanya. Tipis, samar, bahkan nyaris tidak cukup untuk membuat seseorang berhenti berjalan. Namun dalam lima belas menit, perubahan kecil itu berkembang menjadi sesuatu yang jauh lebih besar. Kabut itu menebal, merambat tanpa suara, lalu perlahan menenggelamkan jalur, pepohonan, dan ruang di antara mereka hingga dunia terasa menyempit sedikit demi sedikit.
Yazid adalah orang pertama yang berhenti. Tangan kirinya terangkat memberi isyarat yang langsung dipahami semua orang tanpa perlu penjelasan.
Mereka berhenti serempak.
Di depan mereka, jalur yang sebelumnya masih terlihat jelas hingga tikungan sekitar empat puluh meter kini hanya tampak sejauh dua puluh meter. Beberapa detik kemudian berkurang lagi menjadi delapan belas, lalu lima belas. Kabut terus bergerak, seolah memiliki kehendak sendiri.
Suhu turun cepat, hampir empat derajat dalam waktu yang terasa singkat. Napas mereka berubah menjadi kepulan putih yang lebih tebal, lalu segera larut ke dalam kabut yang memenuhi ruang. Udara terasa lembap dan dingin sekaligus, menempel di kulit seperti lapisan tipis yang sulit diabaikan.
Namun yang paling mengejutkan bukanlah rupa kabut itu.
Melainkan suaranya.
Atau lebih tepatnya, ketiadaan suara sama sekali.
Hutan yang sejak tadi hidup oleh kicau burung, gesekan dedaunan, dan dengung serangga tiba-tiba menjadi sunyi. Bukan sunyi yang datang perlahan, melainkan sunyi yang muncul mendadak, seolah seseorang menekan tombol tak terlihat. Sebelum kabut penuh, suara masih ada. Setelahnya, tidak tersisa apa pun.
“Kenapa semua suaranya hilang?” bisik Salsabilla, hampir takut suaranya sendiri terdengar terlalu keras.
“Kabut bisa menyerap suara,” jawab Runa pelan. Penjelasannya benar secara ilmiah, tetapi ada keraguan kecil di balik nadanya, seakan ia sendiri merasa alasan itu belum sepenuhnya cukup.
Yazid sudah mengeluarkan ponselnya. Ia membuka kompas, memastikan arah, lalu menyimpannya kembali. Matanya mengamati jalur di depan, sisi kanan dan kiri, serta ketebalan kabut yang terus bertambah.
“Kita nggak lanjut ke puncak hari ini,” katanya akhirnya.
Tidak ada yang membantah. Bahkan Zidan hanya mengangguk pelan.
“Kita camp di kilometer tujuh. Ada area datar dan titik air. Kita istirahat malam ini di sana. Besok subuh kita evaluasi. Kalau cuaca membaik, lanjut. Kalau tidak…” Kalimat itu menggantung, namun semua memahami maksudnya.
“Berapa jauh lagi?” tanya Rehan.
“Setengah kilometer. Dua puluh menit kalau jalurnya bersih,” jawab Yazid sambil menatap kabut. “Tiga puluh menit dalam kondisi begini.”
Rehan mengencangkan tali carrier-nya. “Oke. Kita jalan.”
“Formasi rapat,” lanjut Yazid. “Jarak maksimal tiga meter. Kalau ada yang berhenti, panggil nama. Jangan ada yang keluar jalur.”
Kalimat terakhir itu diucapkan dengan penekanan yang berbeda.
Jangan ada yang keluar jalur.
Salsabilla menatap sisi hutan yang kini sepenuhnya tertelan kabut. Tanpa berkata apa-apa, ia memasukkan kameranya ke dalam carrier. Instingnya mengatakan ini bukan waktu untuk merekam.
Mereka mulai berjalan lagi.
Tiga puluh meter pertama terasa normal. Langkah masih stabil, ritme napas masih terjaga. Namun kabut semakin tebal hingga dunia mengecil menjadi lingkaran sempit berdiameter tidak lebih dari delapan meter cukup untuk menampung jalur tanah, lima orang pendaki, dan cahaya abu-abu tanpa arah. Matahari sudah tidak lagi bisa ditemukan.
Zidan berjalan tepat di belakang Yazid dengan jarak dua meter. Di belakangnya Runa, lalu Salsabilla, dan Rehan menjaga posisi paling belakang.
Suara langkah kaki mereka terdengar terlalu keras di tengah keheningan itu. Setiap gesekan sepatu dengan tanah terasa seperti gema kecil.
Salsabilla hampir berbicara, hanya untuk memecah sunyi yang terasa menekan dada. Namun sebelum suara keluar, Runa menyentuh bahunya pelan dari belakang.
Satu sentuhan singkat.
Isyarat tanpa kata: jangan.
Salsabilla mengangguk kecil dan kembali diam.
Mereka berjalan tanpa percakapan.
Pukul 16.38 WIB
Jalur Linggarjati, tanjakan menuju Kilometer Tujuh.
Tanjakan terakhir sebelum area camp adalah yang paling curam sepanjang jalur yang mereka lewati hari itu. Dalam kondisi normal saja, tanjakan ini sudah cukup menguras tenaga—memaksa tubuh condong ke depan, tangan sesekali mencari akar atau tanah sebagai penyeimbang. Langkah harus dipendekkan agar tenaga tidak habis terlalu cepat.
Dalam kabut dan suhu dingin, tanjakan itu terasa jauh lebih berat.
Zidan merasakannya sejak langkah pertama. Paru-parunya yang sebelumnya masih bisa mengikuti ritme perjalanan kini menghadapi kombinasi yang tidak bersahabat: udara dingin, kelembapan tinggi, dan kebutuhan oksigen yang meningkat karena kemiringan jalur. Sensasi familiar muncul perlahan seperti pintu kecil di dalam dadanya yang mulai menutup.
Tarik napas dalam. Pelan.
Ia mencoba.
Tidak cukup.
Mencoba lagi. Sedikit lebih baik, tetapi tetap tidak lega. Langkahnya melambat satu langkah setiap dua detik, lalu tiga detik.
Yazid berhenti dan berbalik.
Dalam lingkaran kabut sempit itu, wajahnya muncul dua meter di depan Zidan. Ekspresinya tenang, tetapi matanya sudah membaca semuanya.
“Dan.”
“Gue oke,” jawab Zidan refleks.
“Berhenti dulu.”
“Kita hampir sampai.”
“Berhenti.”
Nada itu tidak keras, tetapi cukup tegas hingga kaki Zidan berhenti sebelum pikirannya sempat menolak.
Ia berdiri di tengah tanjakan. Napasnya mulai pendek dan cepat napas yang terlalu ia kenal, biasanya datang di kamar sempit pada malam hari, bukan di gunung menjelang senja.
Yang lain sudah berbalik melihat.
Kali ini Zidan tidak tersenyum atau mencoba bercanda. Ia hanya berdiri, satu tangan berpegangan pada akar pohon, napasnya keluar dalam kepulan kecil yang cepat.
Lalu ia duduk di tanah.
Tanpa kata.
Empat orang di sekelilingnya bergerak hampir bersamaan, tanpa aba-aba.
Salsabilla duduk di sampingnya, bahunya menempel ringan tanpa bicara.
Runa segera membuka tas P3K dan mengeluarkan pulse oximeter kecil yang sejak awal sudah ia siapkan. Ia menjepitkan alat itu pada jari Zidan, menunggu angka stabil. Setelah beberapa detik, ia mengangguk kecil belum berbahaya, tetapi jelas perlu istirahat.
Rehan berdiri menghadap jalur di depan, menjaga arah atas tanjakan seperti penjaga diam.
Yazid menuangkan air hangat dari thermos yang ternyata masih ia simpan sejak shelter tadi. Ia menyerahkan tutup thermos itu kepada Zidan.
Tidak ada kata-kata.
Zidan mengambil inhaler dari saku carrier. Dua semprotan. Menahan napas beberapa detik. Mengembuskan perlahan. Mengulang sekali lagi.
Udara hangat dari air yang diminumnya membantu membuka dada sedikit demi sedikit. Tidak sepenuhnya lega, tetapi cukup.
Ia menatap satu per satu teman-temannya.
“Gue… capek pura-pura gampang,” ucapnya akhirnya pelan.
Kabut bergerak perlahan di sekitar mereka, seperti makhluk hidup yang mendengarkan.
“Gue tau,” jawab Yazid singkat, namun mantap.
Dua kata itu cukup.
Salsabilla menekan bahunya sedikit lebih kuat. “Kita nggak ke mana-mana sampai kamu siap.”
“Camp tinggal dekat,” tambah Runa lembut. “Tapi dekat nggak berarti harus dipaksakan.”
Zidan mengangguk.
Mereka menunggu sekitar tujuh menit tanpa ada yang menghitung waktu. Hanya menunggu napas kembali stabil.
Ketika akhirnya Zidan berdiri, napasnya sudah lebih teratur.
“Oke,” katanya lirih. “Ayo.”
Yazid mengambil posisi tepat satu meter di depannya, lebih dekat dari formasi sebelumnya. Mereka melanjutkan tanjakan bersama, dengan ritme yang mengikuti napas Zidan, bukan target waktu.
Dan tidak ada satu pun dari mereka yang mengeluh tentang lambatnya langkah itu, karena di gunung, perjalanan bukan soal siapa yang paling cepat sampai, melainkan siapa yang tetap bersama hingga akhir jalur.
sabar, yakin pasti byk yg mampir
💪💪💪
ambil yg bisa kau bawa, ingat temen"mu😂lari butuh tenaga💪
melirik, melihat dll, klu hrs ditambah awalan/akhiran tambahkan thor, spy bahasa'a enak dibaca
lanjuuuut👉👉👉
wlu cm baca, tp deg"an jg 💪
lanjut lagii
mrk blm saling kenal mosok manggil'a lu gue, yg pasti satria jg lbh tua✌
saran ajaa spy karyamu lbh sempurna💪