NovelToon NovelToon
Satu Notifikasi Seribu Luka

Satu Notifikasi Seribu Luka

Status: tamat
Genre:Idola sekolah / Cintapertama / Tamat
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: byyyycaaaa

Bagi Naralla Maheswari Putri, laki-laki adalah sinonim dari pengkhianatan. Luka yang ditinggalkan ayahnya serta trauma masa SMP membuat Nara membangun benteng es yang begitu tinggi di hatinya. Ia meyakini satu hal: semua laki-laki akan pergi saat mereka mulai bosan.

Namun, takdir mempertemukannya dengan Arkana Pradipta Mahendra di gerbang sekolah saat ia menunggu Kak Pandu, sepupu sekaligus pelindung satu-satunya di rumah. Arkan bukan sekadar orang asing; ia adalah sahabat Pandu yang memiliki senyum sehangat mentari. Selama dua tahun, Arkan dengan sabar menghadapi sikap dingin Nara. Ia tidak pernah menyerah, selalu mengusahakan bahagia Nara, dan menjadi satu-satunya orang yang mampu membuat jantung Nara berdebar meski Nara selalu berusaha menepisnya.

Saat hubungan mereka menginjak tahun kedua, berkat dorongan Kak Pandu yang meyakinkannya bahwa Arkan berbeda, Nara akhirnya menyerah pada egonya. Ia memutuskan untuk membuka pintu hatinya lebar-lebar, membiarkan Arkan masuk, dan mencoba

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34

Stasiun Balapan sore itu riuh, namun suara bising kereta api kalah oleh degup jantungku yang berirama tenang. Di sebelahku, Arkan berdiri dengan tas carrier besar dan tabung gambar yang tersampir di bahunya. Ia baru saja menyelesaikan semester padatnya di Jakarta, sementara aku baru saja melepaskan jas lab di Yogyakarta.

"Solo, I'm home!" seru Arkan pelan sambil menghirup napas dalam-dalam begitu kami melangkah keluar dari pintu kedatangan Stasiun Solo Balapan.

"Gaya lo kayak baru pulang dari kutub aja, Kan," godaku sambil membetulkan letak tas ranselku.

Arkan terkekeh, tangannya refleks meraih tas jinjingku agar aku tidak keberatan beban. "Jakarta itu keras, Ra. Isinya beton semua. Di Solo, seenggaknya gue bisa magang sambil liat lo tiap hari. Itu namanya healing berkedok kerja."

Ya, Arkan berhasil mendapatkan posisi magang di salah satu biro arsitektur ternama di Solo. Katanya, ia ingin mempelajari struktur bangunan cagar budaya di kota kelahirannya. Sementara aku, libur semester ini berarti waktu penuh untuk Mama dan Kak Pandu, sekaligus menyelesaikan laporan praktikum yang tertunda.

Kami memutuskan naik taksi online menuju rumah. Di sepanjang jalan Slamet Riyadi, Arkan tidak berhenti menunjuk gedung-gedung tua.

"Lihat itu, Ra. Fasadnya kolonial tapi sentuhan jawanya kental. Mirip lo," ucapnya tiba-tiba.

"Kok mirip gue?"

"Kelihatannya kaku dan formal dari luar, tapi kalau udah masuk ke dalem... hangat banget. Bikin betah," ia mengedipkan mata, membuatku reflek mencubit lengannya pelan.

Begitu sampai di depan pagar rumahku, Kak Pandu sudah berdiri di sana dengan kaos oblong dan sandal jepit. "Woi! Pasangan farmasi-arsitek akhirnya mendarat juga!"

Arkan turun dan langsung melakukan fist bump dengan Kak Pandu. "Nitip Nara ya, Ndu. Besok pagi gue jemput buat sarapan nasi liwet sebelum gue masuk kantor magang."

"Aman! Jagain asuransi lo ini mah tugas negara buat gue," jawab Kak Pandu sambil tertawa

Malamnya, setelah makan malam masakan Mama yang luar biasa nikmat, aku duduk di teras sendirian. Aku menatap pergelangan tanganku. Gelang itu masih di sana. Bunga Daisy di tas pun masih setia menemani.

Ting!

Arkan P: Baru hari pertama di Solo, tapi gue udah kepikiran desain apotek buat lo di pojok jalan sana. Tidur yang nyenyak, Nara. Besok pagi jam 7 gue di depan pagar. Jangan telat, atau gue denda pake senyum 10 detik.

Aku tersenyum lebar. Tidak ada lagi rasa takut akan "pajak kebahagiaan". Arkan di Jakarta atau Arkan di Solo, ia tetaplah orang yang sama. Orang yang membangunkan fondasi saat aku hampir rubuh.

Aku melihat ke arah langit Solo yang cerah. Aku menyadari bahwa pulang bukan hanya tentang kembali ke tempat asal, tapi tentang kembali ke pelukan orang-orang yang membuat kita merasa utuh. Dan bagi Nara, Arkan adalah definisi "pulang" yang paling sempurna.

Aku meletakkan ponsel di pangkuan, masih dengan sisa lengkungan senyum yang enggan hilang. Suara pintu geser di belakangku berderit, disusul sosok Kak Pandu yang muncul membawa dua kaleng soda dingin.

"Senyum-senyum sendiri, kesambet penunggu pohon mangga depan ya lo?" godanya sambil menyodorkan satu kaleng padaku.

Aku menerimanya, membiarkan sensasi dingin meresap ke telapak tanganku. "Kak," panggilku pelan, mataku lurus menatap lampu jalan yang temaram.

"Hmm?"

"Gue... gue rasa gue udah bener-bener mutusin buat buka hati buat Arkan. Secara resmi."

Kak Pandu yang baru saja hendak meneguk sodanya langsung terhenti. Ia menoleh, menatapku dengan ekspresi yang sulit diartikan—campuran antara lega dan bangga. "Akhirnya. Setelah bertahun-tahun lo pasang kawat berduri di sekeliling hati lo, Nara."

"Gue mikir, Kak," lanjutku lirih. "Selama ini gue takut bahagia karena takut ditagih pajaknya di akhir. Gue takut Arkan bakal sama kayak Ayah—datang buat ngasih harapan, terus pergi ninggalin puing. Tapi Arkan beda. Dia nggak cuma ngasih harapan, dia yang nemenin gue ngerapiin puingnya satu-satu. Bahkan pas gue usir berkali-kali pun, dia tetep nunggu di depan pagar."

Kak Pandu menghela napas panjang, ia menyandarkan punggungnya di kursi jati teras. "Lo tahu nggak, Ra? Pas lo kuliah di Jogja dan dia di Jakarta, dia sering telpon gue cuma buat nanya kabar lo. Bukan nanya lo lagi apa, tapi nanya, 'Nara hari ini ketawa nggak, Ndu?'. Arkan itu sabarnya nggak masuk akal buat ngadepin cewek sekaku lo."

Aku tertawa kecil, menyadari betapa keras kepalanya aku selama ini. "Iya, gue tahu. Makanya, pas tadi dia bilang mau jemput sarapan, gue nggak ngerasa pengen nolak lagi. Rasanya... gue udah siap buat bab baru ini. Tanpa ketakutan, tanpa curiga."

"Bagus," Kak Pandu menepuk pundakku mantap. "Arkan itu arsitek, Ra. Dia tahu cara bangun fondasi yang kuat. Dan gue sebagai abang lo, udah kasih restu penuh. Asal dia nggak bikin lo nangis lagi, kalau iya, gue sikat dia pake raket bulu tangkis."

Aku tersenyum lebar, merasa beban yang selama ini menggelayut di pundakku benar-benar menguap. Malam di Solo terasa begitu menenangkan. Di dalam tas labku, bunga Daisy rajutan Arkan seolah ikut bersaksi bahwa es di hatiku telah mencair sepenuhnya.

"Makasih ya, Kak, udah jadi perantara sabarnya Arkan selama ini."

"Sama-sama. Udah, sana tidur! Besok jam 7 'asuransi' lo udah stand-by di depan. Jangan sampe dia denda lo senyum 10 detik, ntar lo makin baper!"

Aku berdiri, melangkah masuk ke rumah dengan hati yang ringan. Malam ini, untuk pertama kalinya dalam tujuh tahun, aku tidur tanpa rasa takut akan hari esok. Karena aku tahu, besok pagi, ada seseorang yang akan menungguku di depan pagar dengan senyum yang akan membuat segalanya baik-baik saja.

1
Sutrisno Sutrisno
puitis banget, jadi makin penasaran
Sutrisno Sutrisno
semangat
Sutrisno Sutrisno
semangat Arkhan, semoga berhasil
falea sezi
lanjut donk g sabar liat arkan nikah ma nara
falea sezi
arkan aja goblok
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!