Di mata keluarga suaminya, Arunika hanyalah istri biasa. Perempuan lembut yang dianggap tak punya ambisi, tak punya pencapaian, dan terlalu diam untuk dibanggakan. Setiap hari ia diremehkan, dibanding-bandingkan, bahkan nyaris tak dianggap ada dalam rumah tangganya sendiri.
Suaminya, seorang pengusaha ambisius yang haus pengakuan, tak pernah benar-benar melihat siapa wanita yang berdiri di sampingnya. Ia mengira Arunika hanya bergantung pada namanya. Padahal, tanpa seorang pun tahu, Arunika menyimpan identitas yang tak pernah ia pamerkan.
Di balik jas laboratorium dan sorot mata tenangnya, Arunika adalah dokter jenius, ahli bedah berbakat yang namanya disegani di dunia medis internasional. Tangannya telah menyelamatkan banyak nyawa.
Keputusan-keputusannya menjadi penentu hidup dan mati seseorang. Namun ia memilih tetap rendah hati, menyembunyikan kejeniusannya demi menjaga rumah tangga yang ia perjuangkan sepenuh hati yang sayangnya disia-siakan oleh suaminya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter — 26.
Malam turun perlahan di kota Jakarta.
Lampu-lampu di lantai penelitian Rumah Sakit Cakrawala masih menyala terang. Proyek medis besar yang diumumkan pagi tadi membuat seluruh tim bekerja hingga larut malam.
Di dalam laboratorium utama, beberapa dokter dan peneliti sibuk menganalisis sampel.
Di tengah ruangan, Arunika berdiri di depan meja penelitian. Tablet di tangannya menampilkan grafik perubahan sel yang terus bergerak.
Seorang dokter muda tidak bisa menahan rasa kagumnya.
“Dokter Arunika… apakah benar obat yang Anda racik semalam bisa menetralisir racun saraf?”
Arunika tetap fokus pada layar.
“Untuk sementara, iya.”
Jawabannya singkat.
Namun seorang profesor yang berdiri di samping mereka tertawa pelan. “Dokter Arunika terlalu merendah.”
Ia menoleh pada para dokter lain.
“Formula racikan yang Dokter buat... bekerja dua kali lebih cepat dibandingkan obat standar.”
Beberapa dokter langsung terkejut. “Dua kali lebih cepat?”
Profesor itu mengangguk kagum.
“Jika penelitian ini berkembang, dunia medis akan berubah.”
Namun Arunika tidak terlihat bangga. Baginya, semua itu hanya bagian dari pekerjaan. Tiba-tiba, ponselnya bergetar.
Arunika melihat layar, nomor baru dan asing. Namun entah kenapa, ia sudah bisa menebak siapa yang menelepon.
Arunika berjalan keluar dari laboratorium menuju balkon kecil di ujung koridor. Begitu panggilan dijawab, suara pria itu langsung terdengar.
“Selamat malam, Dokter Arunika.”
Tenang, dalam. Dan sedikit... menyeramkan.
Arunika bersandar pada pagar balkon. “Sepertinya kamu sangat suka menghubungiku tanpa izin.”
Pria itu tertawa kecil.
“Tentu saja, karena aku sangat tertarik pada orang sepertimu. Aku melihat berita tentangmu hari ini, kau bahkan lebih berani dari yang kubayangkan.”
Arunika berkata dingin, “Jika hanya itu yang ingin kamu katakan, aku sibuk.”
Namun Kenzo berkata lagi.
“Aku hanya ingin memberimu satu informasi.”
Arunika diam.
“Angkasa Wiratama, dia bukan hanya direktur rumah sakit. Dia adalah... perwira pasukan khusus militer.”
Tatapan Arunika berubah sedikit tajam, namun saat menjawab suaranya tetap tenang. “Lalu?”
Kenzo berkata santai, “Unitnya telah memburuku selama bertahun-tahun.”
Angin malam berhembus pelan di balkon rumah sakit. Kenzo melanjutkan, “Dan sekarang dia berada di dekatmu...”
“Apakah menurutmu itu kebetulan?” Suara pria itu menjadi lebih rendah.
Arunika tidak menjawab.
Kenzo tertawa lagi.
“Dokter Arunika… orang secerdas kamu pasti tahu. Seorang perwira pasukan khusus tidak akan mendekati seseorang tanpa alasan.”
Pria itu berhenti sejenak. “Kau adalah target yang sangat menarik.”
Beberapa detik sunyi, Lalu Kenzo berkata pelan. “Aku hanya ingin tahu, apakah dia benar-benar peduli padamu… atau hanya memanfaatkanmu untuk menangkapku?”
Kalimat itu menggantung di udara.
Namun Arunika tetap tenang. “Apa lagi?”
“Hanya itu reaksimu?” Kenzo terdengar sedikit terkejut.
Arunika menjawab datar. “Jika Anda ingin menimbulkan keraguan, metode Anda terlalu sederhana.”
Kenzo tertawa panjang. “Hebat! Aku semakin menyukaimu.”
“Kita akan segera bertemu secara langsung, Dokter Arunika.” Suaranya berubah dingin.
Klik.
Telepon terputus.
Arunika menatap layar ponselnya beberapa detik, Pria itu jelas-jelas sedang bermain dengannya. Namun yang lebih menarik adalah informasi yang ia berikan, Angkasa adalah pasukan khusus militer.
Arunika sebenarnya sudah mencurigainya, dari tatapan Angkasa dan insting pria itu. Semua itu bukan milik pria biasa. Namun Arunika tidak terburu-buru menyimpulkan apa pun. Ia hanya memasukkan ponselnya kembali ke saku jas dokter.
Dalam pikirannya muncul satu keputusan sederhana. Jika Angkasa benar-benar hanya memanfaatkan dirinya… dia akan mengetahuinya sendiri, tanpa perlu membuka kartu lebih dulu.
Arunika kembali masuk ke koridor rumah sakit. Dan saat ia berjalan beberapa langkah, ia melihat Angkasa berdiri di ujung lorong. Pria itu bersandar santai di dekat jendela, sepertinya pria itu juga baru saja selesai berbicara di telepon.
Tatapan mereka bertemu.
Beberapa detik mereka hanya saling memandang.
Angkasa akhirnya berkata, “Kamu masih bekerja?”
Arunika berjalan mendekat dengan langkah tenang. “Masih ada beberapa data yang harus dianalisis.”
“Kamu tidak perlu memaksakan diri.”
Arunika menatap pria itu sejenak, kalimat Kenzo tadi kembali terlintas di pikirannya.
"Seorang perwira pasukan khusus tidak akan mendekati seseorang tanpa alasan."
Wajah Arunika tetap tenang, Ia hanya berkata datar, “Saya sudah terbiasa.”
Angkasa menatapnya beberapa detik lebih lama, seolah ingin memastikan sesuatu. Lalu ia berkata pelan, “Kalau ada sesuatu yang mengganggumu… katakan saja.”
“Tidak ada.” Arunika menatap pria itu tanpa ekspresi.
Angkasa tidak bertanya lagi. Namun entah kenapa, ia merasa ada sesuatu yang berbeda. Tatapan Arunika malam ini sedikit lebih dalam dari biasanya, seakan wanita itu sedang mengamatinya. Seolah sedang menilai, dan menunggu sesuatu.
Angkasa... aku ingin melihat sendiri. Apa kau mendekatiku karena tugas, atau karena perasaanmu sendiri?! Ucap Arunika dalam hatinya.
terkadang yg terlalu baik yg Manis tu yg lebih berbahaya ,,
km harus lebih hati2 arunika ,,
musuh jaman sekarang byk yg cosplay jd org baik ,,
org yg peduli ,,
tu yg lebih bahaya dr pda org yg terang2an emnk gx suka sama qta ,,
dtggu next ny yx kak ,,
☺️☺️