NovelToon NovelToon
The Nerdy Couple [Jisung NCT X Karina Aespa]

The Nerdy Couple [Jisung NCT X Karina Aespa]

Status: sedang berlangsung
Genre:Murid Genius / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Identitas Tersembunyi
Popularitas:444
Nilai: 5
Nama Author: Lallunna

Bima Arkana Adikhara Wijaya dan Senara Zafira Atmaja pertama kali saling mengenal sebagai rival. Bukan rival biasa, mereka adalah dua nama yang selalu muncul di papan peringkat olimpiade, dua siswa jenius dari sekolah berbeda yang bertemu berulang kali di medan kompetisi sejak SMP. Tidak pernah akrab. Tidak pernah ramah. Hanya tatapan dingin, strategi, dan ambisi untuk menang.

Tak ada yang menyangka, saat SMA, takdir mempertemukan mereka di sekolah yang sama.
Dari rival menjadi partner.
Dari partner menjadi pasangan.

Di mata orang lain, mereka adalah ikon sekolah, cerdas, berprestasi, populer, dengan penggemar di media sosial meski hampir tak pernah menampilkan kehidupan pribadi. Mereka dikenal sebagai pasangan sempurna, pintar, tenang, dan sulit didekati. Namun di balik citra itu, Bima dan Senara sama-sama menjalani kehidupan ganda yang tak diketahui siapa pun.



Disclaimer: Ini hanya cerita fiksi, hasil karangan dan imajinasiku sebagai penulis. Terimakasih.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lallunna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23: Efek Domino

​Sore itu, setelah tim verifikasi pergi, SMP Negeri 12 diselimuti atmosfer euforia yang belum pernah terjadi. Guru-guru saling berpelukan, dan Maria tidak berhenti memuji ketenangan Senara. Namun, bagi sang subjek utama, rasa lelah yang menghantam jauh lebih besar daripada rasa bangganya. Senara berjalan pulang dengan langkah gontai, melewati pasar yang kembali bising dan gang-gang Blok 4 yang mulai meremang tertutup bayangan senja.

​Sesampainya di rumah, Senara langsung menuju kamarnya. Ia tidak menyalakan lampu, ia duduk di pinggir tempat tidur, merogoh saku jaketnya, dan mengeluarkan robot biru tua itu. Benda itu kini benar-benar dingin, seolah energi panas yang tadi ia rasakan hanyalah halusinasi akibat stres.

​"Apa yang sebenarnya kamu lakukan tadi?" bisik Senara pada benda mati itu.

​Senara adalah gadis yang sangat logis. Ia tahu, mustahil sebuah komputer tua di laboratorium bisa menyala sendiri kemarin, dan mustahil sistem cloud Garuda lumpuh total tepat saat ia akan presentasi tanpa ada campur tangan manusia. Ia mencurigai Bima, itu sudah pasti. Namun, yang membuatnya takut adalah bagaimana ia selalu bisa lolos. Ia merasa seperti seorang pion yang sedang dijaga oleh tangan-tangan raksasa yang tak terlihat.

​Ia meletakkan robot itu kembali di depan cermin retaknya. Di bawah cahaya yang masuk lewat celah ventilasi, pantulan robot itu di cermin yang retak tampak terdistorsi, seolah-olah ada dua entitas yang berbeda di sana. Senara memejamkan mata, mencoba tidur, namun bayangan wajah Bima yang panik di laboratorium kemarin terus menghantuinya.

​Di belahan kota lain, Bima sedang berada dalam kondisi siaga satu. Laboratorium pribadinya yang biasanya sunyi kini dipenuhi oleh suara peringatan sistem yang berbunyi setiap sepuluh detik. Laptop yang ia gunakan untuk mengontrol jammer tadi siang kini terisolasi di dalam sebuah kotak kaca kedap sinyal, sebuah tindakan pencegahan (karantina) karena sistemnya terdeteksi telah disusupi.

​Bima duduk di depan monitor utamanya, menatap baris kode yang muncul di layar dengan tangan gemetar karena marah sekaligus kagum.

​"Tuan V, kami sudah membedah log sistemnya," suara teknisinya terdengar melalui saluran aman. "Ini bukan serangan brute force atau malware biasa. Sesuatu... atau seseorang... menggunakan emisi gelombang dari jammer kita sendiri untuk mengirimkan paket data balik ke sistem kita. Mereka menggunakan energi yang kita pancarkan untuk memetakan firewall pusat Wijaya Tech."

​Bima memukul meja dengan kepalan tangannya. "Bagaimana mungkin? Itu seperti menggunakan peluru lawan untuk membedah isi senjatanya sendiri!"

​"Secara teoritis, itu disebut Passive Signal Mapping. Tapi tidak ada teknologi komersial yang bisa melakukannya secepat itu dalam hitungan mikrodetik, Tuan. Kecuali, jika perangkat mereka berada sangat dekat dengan sumber, atau mereka memiliki algoritma yang sepuluh tahun lebih maju dari kita."

​Bima menatap foto Senara yang masih tertempel di papan analisanya. "Senara tidak menyentuh apa pun, dia hanya berdiri di sana dan memegang spidol."

​Ia mulai menghubungkan titik-titik itu. Setiap kali ia mencoba menyerang Senara secara digital, serangan itu tidak hanya mental, tapi berbalik menjadi pengintaian terhadap dirinya sendiri. Senara bukan hanya sekedar rival yang pintar, dia adalah umpan yang sangat mematikan.

​"Dia bukan pelakunya," gumam Bima, matanya menyipit. "Dia adalah wadahnya. Perangkat itu... robot biru itu."

​Bima teringat saat Senara memegang robot itu di depan jendela tadi siang. Itu bukan sekedar gerakan menghina, itu adalah tanda. Bima merasa seolah-olah sedang dipermainkan oleh sesuatu yang jauh lebih besar dari sekedar kompetisi anak SMP.

​Keesokan harinya di sekolah, berita tentang kesuksesan Senara menyebar hingga ke telinga para donatur SMA Garuda. Kabar bahwa seorang siswi dari sekolah pinggiran mampu mempresentasikan data puluhan gigabyte dari ingatan murninya menjadi legenda instan.

​Bima datang ke sekolahnya sendiri, SMP Super Internasional, dengan lingkaran hitam di bawah mata. Ia tidak menyapa siapa pun, ia langsung menuju ruang komputer elit sekolahnya, mengunci diri di sana, dan mulai menyusun sebuah program baru. Jika ia tidak bisa menembus "Hantu" itu dengan kekuatan kasar (isolasi jaringan), maka ia akan menggunakan strategi "Kuda Troya".

​Ia akan berpura-pura menyerah.

​Bima mengambil ponselnya, lalu mengirimkan pesan singkat ke nomor Senara, nomor yang ia dapatkan dari berkas administrasi proyek kolaborasi mereka.

​Bima: Selamat atas prestasimu kemarin. Tim Garuda sangat terkesan. Sebagai rekan, aku merasa kita perlu merayakan ini. Aku akan mengirimkan buku referensi langka tentang Fisika Partikel yang kamu cari ke sekolahmu siang ini. Kali ini tidak ada jebakan, hanya bentuk apresiasi atas kerja sama kita.

​Senara menerima pesan itu saat sedang makan siang di kantin SMP 12. Ia menatap layar ponselnya dengan curiga.

​"Dia mengirimkan buku?" Senara bergumam heran. "Sejak kapan seorang Bima Arkana Adhikara Wi... Ja... Ya... tahu cara mengapresiasi orang lain?"

​Senara tidak membalas pesan itu. Ia tahu Bima tidak pernah melakukan sesuatu tanpa motif. Namun, godaan tentang buku referensi langka itu sangat kuat. Buku itu adalah salah satu buku yang ia butuhkan untuk mempersiapkan diri masuk ke SMA Garuda, yang harganya setara dengan lima bulan gaji ibunya.

​Siang hari, sebuah mobil kurir profesional berhenti di depan SMP 12. Mereka menyerahkan sebuah paket besar yang dibungkus kertas kado perak eksklusif kepada satpam sekolah, ditujukan khusus untuk Senara.

​Saat Senara membukanya di perpustakaan, matanya berbinar. Itu benar-benar buku yang ia inginkan, Quantum Mechanics and Molecular Physics edisi terbaru. Namun, saat ia membalik sampulnya, ia menemukan sebuah bookmark logam kecil yang terselip di sana.

​Bookmark itu berbentuk elegan, sangat tipis, dan tampak seperti perhiasan mahal. Senara mengira itu hanya bonus dari toko buku. Ia tidak tahu bahwa di dalam logam tipis itu, Bima telah menanamkan sebuah sensor pasif yang tidak memancarkan sinyal, melainkan hanya berfungsi untuk satu hal. Mendeteksi keberadaan energi elektromagnetik unik di sekitar Senara.

​Bima ingin melakukan pemetaan jarak dekat tanpa menggunakan jaringan sama sekali. Jika robot itu berinteraksi dengan benda apa pun, bookmark itu akan merekam sidik jari digitalnya.

​"Terlalu indah untuk sebuah pembatas buku," gumam Senara sambil menyentuh permukaan logam yang dingin itu.

​Ia menyelipkan bookmark itu ke dalam buku catatannya, tepat di sebelah robot biru yang ia letakkan di atas meja. Untuk sesaat, suasana perpustakaan yang sepi itu terasa sangat aneh. Senara merasakan bulu kuduknya meremang.

​Di markasnya, Bima memantau monitornya dengan napas tertahan. "Aktifkan penerima data pasi#f," perintahnya.

​Di layar, sebuah sinyal mulai muncul. Lemah, namun konsisten. Bookmark itu telah berada di dekat target. Bima mulai melihat pola-pola aneh yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. Itu bukan kode biner biasa, itu adalah pola frekuensi yang menyerupai denyut jantung manusia, namun dalam bentuk data digital.

​"Dapat kau, Hantu," desis Bima dengan senyum kemenangan.

​Namun, kegembiraan Bima hanya bertahan beberapa detik. Tiba-tiba, sinyal dari bookmark itu berubah menjadi warna ungu pekat di layar monitornya. Muncul sebuah teks di tengah layar Bima yang bukan berasal dari sistemnya.

​[MESSAGE FROM GHOST_PATTERN]:

"Permainan buku yang bagus, Tuan Muda. Tapi logam ini terlalu berisik untuk sebuah perpustakaan yang tenang. Jangan coba-coba mengotori ilmuku dengan alat mata-matamu lagi."

​Brak!

​Monitor Bima mati seketika. Di perpustakaan SMP 12, Senara tiba-tiba merasa bookmark logam di tangannya menjadi sangat panas, hingga ia menjatuhkannya ke lantai. Saat menyentuh ubin, bookmark itu mengeluarkan asap tipis dan bentuknya melengkung, hancur secara internal.

​Senara menatap benda itu dengan ngeri. "Apa-apaan ini? Apa bukunya juga berbahaya?"

​Ia segera memeriksa bukunya, namun buku itu baik-baik saja. Hanya logam itu yang hancur. Senara menoleh ke arah tasnya, di mana robot biru itu tersimpan. Untuk pertama kalinya, Senara merasakan ketakutan yang nyata. Bukan takut pada Bima, tapi takut pada apa yang sebenarnya ia bawa di dalam tasnya.

​"Siapa sebenarnya kamu?" Sen##ara berbisik pada tasnya sendiri.

​Di sisi lain, Bima jatuh terduduk di kursinya. Seluruh laboratoriumnya kini gelap total karena sistem keamanannya melakukan shutdown otomatis untuk mencegah kehancuran total. Ia baru saja menyadari satu hal yang mengerikan, bahwa Ghost_Pattern tidak hanya melindungi Senara dari serangan luar. Ghost_Pattern juga tahu apa yang ada di pikiran Bima bahkan sebelum Bima bertindak.

​Rivalitas mereka kini telah bergeser dari sekedar adu otak menjadi perang eksistensi. Bima tahu ia tidak bisa lagi bermain-main dari jarak jauh. Ia harus menghadapi Senara dan apa pun yang ada bersamanya secara langsung, di dunia nyata, tanpa perantara alat.

​Persiapan masuk SMA Garuda tinggal menghitung minggu, dan di antara dua remaja ini, rahasia besar itu mulai menampakkan taringnya yang paling tajam. Efek domino telah dimulai, dan sekali kartu pertama jatuh, tidak ada yang bisa menghentikan kehancuran yang akan menyusul.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!