Marni gadis desa yang mencoba peruntungannya di kota namun karena ditipu oleh temannya sendiri membuatnya terpaksa menjadi seorang LC disebuah karaoke, saat bulan ramadhan tiba karaoke tempatnya bekerja harus ditutup dan terpaksa membuatnya pulang kampung untuk sementara waktu.
Namun siapa sangka pekerjaannya yang sudah ia tutup rapat-rapat itu tak sengaja terbongkar oleh warga desa hingga membuatnya hampir diusir dari kampungnya jika saja Firman anak pak lurah seorang pemuda sholeh menolongnya, saat pria itu berkeinginan melamarnya tiba-tiba ditolak mentah-mentah oleh keluarganya sendiri karena pekerjaan gadis itu yang tidak pantas dan juga mereka telah menyiapkan seorang calon istri yang jauh lebih sholeha.
Lalu bagaimana nasib hubungan Marni dan Firman selanjutnya, akankah mereka akan direstui saat di hari kemenangan tiba atau justru kandas begitu saja sebelum hari raya? yuk kepoin di cerita Marni, LC sholeha (cerita edisi ramadhan)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Qinan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab~34
"Maaf mas aku tidak bisa, lebih baik mas cari wanita lain saja jika ingin mas jadikan istri kedua."
Marni langsung menolak mentah-mentah ajakan Isanul untuk menjadi istri keduanya dengan alasan ia belum ingin menikah dalam waktu dekat lagipula ia berpikir belum tentu pria itu bisa bersikap adil seadil-adilnya karena jika memang mampu tidak mungkin istri pertamanya minta cerai.
"Apa ini karena Firman anak pak lurah? sadar dek Marni dia orang kaya yang pasti pilih-pilih cari istri kalaupun hubungan kalian disetujui paling dek Marni dijadikan babu sama bu lurah." pria itu pun mencoba mempengaruhinya demi keinginannya menjadikan wanita itu istri keduanya terkabul.
"Sudah ku bilang aku masih ingin sendiri mas, jadi aku benar-benar meminta maaf ya jika sudah mengecewakan mu." keukeh Marni dengan wajah memohonnya, semoga saja pria itu mau mengerti.
Isanul pun langsung mengeraskan rahangnya. "Aku sudah habis banyak buatmu dek Marni, buah-buahan dan makanan yang setiap hari ku kirim itu tidaklah gratis dan kamu harus menggantinya." tegas pria itu tanpa rasa malu sedikit pun.
Marni yang mendengarnya pun nampak tak percaya entah ia harus tertawa atau merasa miris dengan ucapan pria itu, bahkan dengan apa yang telah diberikan saja perhitungan jadi bagaimana bisa bersikap adil nanti saat ia jadi istri keduanya belum lagi ia dengar gosip jika Inaroh istri barunya itu sangatlah galak dan juga sombong.
"Maaf mas, tapi aku tidak pernah menikmati makanan yang mas kirim itu jadi minta saja kepada orang yang mas titipkan." ucapnya tak kalah tegas, sudah ia tebak hal ini pasti akan terjadi makanya ia sedikit pun tak mau menyentuh makanan-makanan yang setiap hari dibawa oleh Marwan.
"Tidak bisa begitu dek Marni, Marwan bilang dek Marni sangat menyukainya dan dia juga bilang jika dek Marni selalu titip ucapan terima kasih padaku." Isanul langsung melayangkan protes karena memang itu yang dikatakan Marwan padanya.
Marni hanya menggeleng kecil. "Maaf mas, aku mau melanjutkan menyapu kalau mas tidak terima silakan berurusan dengan adikku saja tapi dia masih sekolah hari ini." ucapnya lalu kembali melanjutkan menyapu halamannya yang belum selesai.
Melihat itu Isanul langsung menggeram kesal lantas segera berlalu pergi dengan mobilnya, sepertinya pria itu baru menyadari jika selama ini ditipu oleh Marwan dengan menjual nama kakaknya tersebut demi mendapatkan keuntungan darinya bahkan tidak hanya makanan namun juga uang telah ia berikan kepada pemuda itu.
Marni yang baru selesai menyapu segera kembali masuk ke dalam rumahnya tapi tiba-tiba Astuti yang sebelumnya berada di teras rumahnya langsung berlalu mendekat. "Itu mas Isanul duda keren anak juragan buah itu kan, Mar?" ucapnya menatap wanita itu dengan wajah penasarannya.
"Iya mbak," Marni benar-benar enggan meladeni wanita itu karena pasti ada saja topik untuk menyudutkannya dan ia sedang malas berdebat saat ini.
"Kenapa dia datang kesini? tadi kalau tidak salah ku dengar dia minta ganti untuk makanan yang di kasih ke kamu ya? astaga Mar-Mar jadi perempuan ya mbok yang mahal sedikit, jangan semua pria kamu goda untuk kamu porotin uangnya sekarang diminta balik kamu bingung kan bagaimana cara mengembalikannya?" ujar wanita itu dengan tuduhannya yang tidak-tidak seperti biasanya.
Marni nampak menghela napasnya pelan jika tidak sedang puasa mungkin sapu di tangannya sudah ia gunakan untuk membersihkan mulut wanita itu sampai bersih agar tidak julid lagi.
"Mbak, daripada selalu ikut campur urusan orang lain lebih baik mbak pikirkan mau tinggal dimana jika seandainya rumah mbak yang digadaikan oleh mas Paijo disita oleh bank karena tak mampu membayar hutangnya." ucapnya menatap wanita itu lantas berlalu masuk ke dalam rumahnya, ia sangat tahu kelakuan Paijo di kota bagaimana pria itu membuang-buang uangnya bahkan kata Susan sekali nyawer para LC langganannya bisa sampai puluhan juta rupiah seakan uang itu hanya tinggal mengeruk saja hanya karena demi harga dirinya di hadapan mereka.
"A-apa dia bilang?" tentu saja Astuti nampak tak percaya mendengarnya, bagaimana wanita itu bisa tahu perihal rumahnya yang digadaikan oleh saudara sepupunya itu?
"Hei Marni jangan sembarangan kamu bicara ya, mas Paijo itu kaya raya masalah rumah ini mah kecil bahkan untuk membeli kamu saja dia sanggup." ucapnya dengan sedikit berteriak agar tetangganya itu dengar, enak saja menghina keluarganya yang jelas-jelas pekerjaannya jauh diatasnya.
Bukannya sudah kewajiban menolong saudara lagipula uang tiga ratus juta itu kecil bagi saudara iparnya itu, mobil pribadinya saja keluaran terbaru belum dua truknya dan juga beberapa sawah pasti ia takkan ditipunya.
Marni yang kembali ke dalam kamarnya entah kenapa tiba-tiba merasa lega karena ia telah menolak Sapri maupun Isanul, meskipun mereka tidak terima tapi ia yakin keduanya takkan mengejarnya lagi dan untuk perihal minta ganti atas apa yang telah diberikan kepadanya sebelumnya biarlah Marwan yang bertanggung jawab agar adiknya itu lain kali berpikir ulang jika ingin menjual namanya untuk mengambil keuntungan pribadi.
Tiba-tiba sebuah notifikasi pesan masuk ke dalam ponselnya dan wanita itu pun langsung melihatnya.
"Assalamu'alaikum Marni maaf ya mas baru kasih kabar, perjalanan lumayan jauh dan melelahkan ngomong-ngomong mas rindu sama kamu dek."
Marni tersenyum menatap pesan yang dikirim oleh Firman, sejak kepergiannya Firman memang baru kali ini memberikan kabar dan ia maklumi karena pria itu dan keluarganya menggunakan mobil pribadinya untuk mengunjungi beberapa saudara yang lebih tua sekaligus ziarah diluar kota.
"Wa'alaikumsalam mas, tidak apa-apa semoga mas dan keluarga disana selalu dalam keadaan sehat."
Setelah membalasnya dengan singkat wanita itu pun segera melipat pakaiannya yang baru ia ambil dari jemuran, ia sudah tak berharap lagi dengan hubungannya bersama Firman karena cepat atau lambat pria itu pasti tahu dan seandainya tetap menerimanya ia yakin keluarganya yang sangat terhormat itu akan menolaknya jadi ia cukup sadar diri untuk tak berharap lebih.
"Kok kangennya mas ga di balas, kamu marah ya karena mas baru kasih kabar?
Marni kembali mengintip pesan pria itu tanpa berniat membukanya dan memilih melanjutkan melipat sisa pakaiannya namun tiba-tiba ia mendengar ibunya berteriak histeris hingga membuatnya mau tak mau segera keluar kamarnya siang itu.
"Kenapa bu?" ucapnya tapi pandangannya langsung jatuh ke arah Marwan dimana pemuda itu nampak babak belur dengan darah segar mengalir dari sudut bibirnya.
"Tolong nduk adikmu habis dipukuli orang," mohon sang ibu yang terlihat kesusahan memapah putra kesayangannya itu dibantu oleh seseorang yang tadi membawanya pulang.
Marni pun langsung membantunya. "Sebenarnya apa yang terjadi dek?" ucapnya setelah adiknya itu duduk di kursinya lalu pandangannya tak sengaja ke arah motornya yang kini terlihat hampir tak berbentuk karena sebagian kerangkanya yang telah hilang entah kemana.
baru bahagia Dateng Kutu hadeh
skrg marni bisa fokus dengan rumah tangga nya