"Aku bukan di sini untuk menyelamatkan nyawamu. Aku di sini untuk memastikan kematianmu tidak jatuh ke tangan yang salah."
Kenzi hanyalah pengawal misterius dengan tatapan sedingin es yang disewa untuk melindungi Alana, pewaris tunggal yang penuh musuh. Namun, di balik seragamnya, Kenzi adalah "eksistensi terlarang" ---seorang pembunuh bayaran tingkat tinggi dengan misi rahasia untuk menghancurkan keluarga Alana..
Saat konspirasi mulai terkuak, Kenzi terjebak dalam pilihan sulit: Menyelesaikan misi mautya atau mengkhianati takdir demi melindungi wanita yang mulai dicintainya.
Ketika pelindungmu adalah ancaman terbesarmu, masihkah ada jalan keluar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut founna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13. Penculikan yang Gagal
Bab 13: Penculikan yang Gagal
Sinar matahari sore yang keemasan menembus kaca jendela mobil Mercedes-Maybach antipeluru yang membawa Alana kembali dari galeri seni di kawasan Menteng. Alana bersandar pada jok kulit, matanya menatap kosong ke luar jendela. Pikirannya masih tertambat pada pertemuan rahasia Kenzi di gudang tua semalam.
Di kursi pengemudi, Kenzi mengenakan kacamata hitam, tangannya menggenggam kemudi dengan santai namun waspada. Sesekali matanya melirik ke arah spion tengah, memantau ekspresi Alana yang tidak biasa diam.
"Nona, detak jantung Anda berada di angka 88 bpm. Anda tampak cemas," suara Kenzi memecah kesunyian.
Alana mendengus pelan. "Kau benar-benar tidak bisa berhenti menjadi sensor manusia, ya? Aku hanya sedang memikirkan... betapa banyak rahasia yang bisa disembunyikan seseorang dalam satu malam."
Kenzi tidak menjawab. Ia tahu Alana sedang menyindirnya. Namun, fokusnya teralihkan oleh sebuah visual anomali di depan mereka. Dua buah truk konstruksi berhenti melintang di jalur utama, tepat di bawah jembatan layang yang sepi.
Analisis Situasi: Pemblokiran jalan terencana. Probabilitas serangan: 94%.
"Pegangan," perintah Kenzi singkat.
Belum sempat Alana bertanya, sebuah dentuman keras terdengar dari arah belakang. Sebuah SUV hitam menabrak bumper belakang mereka, memaksa mobil Maybach itu terjepit.
"Kenzi! Apa yang terjadi?!" teriak Alana.
"Penyergapan," jawab Kenzi dingin.
Tiba-tiba, kaca depan mobil mereka diselimuti oleh kabut tebal berwarna abu-abu pekat. Suara desisan gas terdengar nyaring. Seseorang telah melemparkan granat asap militer tepat di bawah mobil mereka. Pandangan Kenzi tertutup total.
Brak! Brak!
Suara hantaman godam pada kaca samping terdengar berulang kali. Meskipun kaca tersebut antipeluru, tekanan dari alat berat akan segera meretakkannya. Kenzi menyadari bahwa para penyerang ini bukan amatir; mereka menggunakan taktik pemadaman visual dan serangan kinetik simultan.
"Keluar sekarang, Nona. Mobil ini akan menjadi jebakan jika kita tetap di sini," Kenzi meraih tas taktis di bawah kursi dan menarik Alana ke arahnya.
Ia menendang pintu mobil dengan kekuatan yang cukup untuk menjatuhkan salah satu penyerang yang berdiri di luar. Begitu pintu terbuka, asap pekat langsung masuk ke dalam kabin. Alana terbatuk-batuk, matanya perih dan berair.
"Aku tidak bisa melihat!"
Kenzi tidak punya waktu untuk menjelaskan. Ia menarik Alana keluar, namun menyadari bahwa gadis itu terlalu lemas karena menghirup sedikit gas sisa. Tanpa ragu, Kenzi mengangkat tubuh Alana ke bahunya, memanggulnya dengan posisi yang memudahkan tangannya yang lain memegang senjata.
Dor! Dor!
Kenzi melepaskan dua tembakan presisi ke arah bayangan di balik kabut asap. Ia mendengar erangan kesakitan. Mengandalkan memori spasial yang tajam tentang peta jalan yang ia pelajari sebelumnya, Kenzi berlari menjauh dari jalan raya, melompat melewati pembatas jalan, dan masuk ke dalam kawasan hutan kota yang lebat di sisi kiri jalan.
Hutan kota itu cukup luas dengan pepohonan rimbun yang memberikan perlindungan visual. Kenzi berlari dengan kecepatan konstan, mengabaikan beban Alana yang mulai meronta kecil.
"Turunkan aku, Kenzi! Aku bisa lari!" Alana berbisik setengah berteriak.
"Lantai hutan licin dan Anda hanya memakai sepatu hak tinggi lima sentimeter. Kecepatan lari Anda hanya akan mencapai 12 km/jam, sementara pengejar kita memiliki rata-rata 25 km/jam. Tetaplah diam jika Anda ingin hidup," balas Kenzi tanpa napas yang terengah sedikit pun.
Di belakang mereka, suara teriakan para pengejar terdengar semakin dekat. Setidaknya ada lima orang yang memasuki hutan. Kenzi tahu bahwa membawa Alana dalam pelarian terbuka adalah kerugian taktis. Ia harus mengubah medan pertempuran.
Kenzi meluncur turun ke sebuah lereng kecil yang tertutup semak belukar. Di sana, ia menurunkan Alana di balik pohon beringin besar yang akar-akarnya menjuntai.
"Tetap di sini. Jangan bersuara," perintah Kenzi. Matanya menyisir area sekitar, mencari bahan untuk improvisasi pertahanan.
Alana memegang lengan jaket Kenzi. "Kau mau ke mana? Jangan tinggalkan aku sendirian di sini!"
"Saya tidak meninggalkan Anda. Saya sedang menetralisir variabel pengganggu," Kenzi melepaskan tangan Alana dengan tegas. "Hitung sampai seratus. Jika saya belum kembali, lari ke arah utara menuju cahaya lampu jalan."
Kenzi menghilang ke dalam kegelapan pepohonan secepat ia muncul. Alana meringkuk di balik akar beringin, jantungnya berdegup kencang hingga telinganya berdenging. Ia menghitung, namun pikirannya terus membayangkan Kenzi yang bertarung melawan lima orang bersenjata.
Kenzi bergerak seperti predator di habitat aslinya. Ia tidak menggunakan senjata api agar tidak memberikan posisi pastinya. Ia mengambil seutas kawat baja dari tas taktisnya dan mengikatnya di antara dua pohon kecil setinggi pergelangan kaki.
Pengejar pertama muncul, berlari dengan ceroboh. Ia tersandung kawat tersebut dan jatuh tersungkur. Sebelum ia sempat berteriak, Kenzi sudah berada di atasnya, menghantamkan pangkal telapak tangannya ke titik saraf di leher lawan. Pria itu pingsan seketika.
Tiga pengejar lainnya muncul dari arah yang berbeda. Mereka mulai menggunakan senter taktis yang cahayanya membelah kegelapan hutan.
"Dia ada di sekitar sini! Cari gadis itu!" teriak salah satu dari mereka.
Kenzi memanjat salah satu dahan pohon dengan kelincahan yang tidak manusiawi. Dari ketinggian, ia menjatuhkan sebuah batu besar ke arah semak-semak di sisi timur untuk memancing perhatian. Saat dua pengejar bergerak menuju arah suara, Kenzi melompat turun di belakang pengejar terakhir.
Dengan satu gerakan terukur, Kenzi memiting leher lawan dan menggunakan tubuhnya sebagai tameng saat dua orang lainnya berbalik dan melepaskan tembakan acak.
Pft! Pft!
Suara peluru yang diredam mengenai punggung pengejar yang disandera Kenzi. Kenzi mendengus. Rekan kerja yang tidak efisien, pikirnya dingin. Ia melemparkan tubuh yang sudah tak bernyawa itu ke arah lawan dan melepaskan tembakan balasan yang mengenai kaki salah satu pengejar.
Pengejar terakhir yang tersisa menyadari bahwa mereka bukan berhadapan dengan bodyguard biasa. Ia mencoba melarikan diri kembali ke arah jalan raya, namun Kenzi melemparkan pisau taktisnya yang mengenai bahu lawan, menjatuhkannya ke tanah.
Kenzi mendekati pria yang mengerang itu, menginjak lukanya tanpa ekspresi. "Siapa yang mengirim kalian? Baron? Atau faksi internal Wijaya?"
Pria itu meludah darah. "Kau... kau adalah setan dari organisasi itu, bukan? Kenapa kau membela putri Wijaya?"
Mata Kenzi menyipit. Pria ini tahu tentang latar belakangnya. Berarti penyamarannya sudah mulai terendus oleh pihak ketiga. Tanpa jawaban, Kenzi menghantamkan tumitnya ke pelipis pria itu, memastikan dia tidak akan bicara untuk waktu yang lama.
Kenzi kembali ke tempat Alana bersembunyi. Ia menemukan Alana sedang duduk memeluk lutut, wajahnya kotor oleh tanah dan matanya merah karena bekas gas asap.
"Sembilan puluh delapan... sembilan puluh sembilan... seratus," gumam Alana lirih. Ia mendongak dan melihat Kenzi berdiri di depannya.
Tanpa sadar, Alana langsung berdiri dan memeluk Kenzi erat-engah. "Aku pikir kau tidak akan kembali."
Kenzi berdiri kaku. Tangannya yang masih memegang senjata terasa berat. Ia bisa merasakan air mata Alana yang hangat menembus kemejanya. Secara logika, ia harus melepaskan pelukan ini karena tidak higienis dan menghambat mobilitas. Namun, ada bagian dari dirinya yang menolak untuk bergerak.
"Area sudah bersih untuk sementara, Nona," ujar Kenzi pelan. Ia tidak membalas pelukan itu, namun ia juga tidak mendorongnya. "Tapi kita tidak bisa kembali ke jalan raya. Mobil kita sudah dikuasai mereka."
Alana melepaskan pelukannya, menyeka air matanya dengan kasar. "Lalu kita ke mana?"
Kenzi melihat ke arah jam tangannya. Sinyal GPS menunjukkan ada sebuah area industri tua sekitar dua kilometer dari sini. "Kita harus berjalan kaki menembus hutan ini menuju gudang tua di pinggiran kota. Hujan akan segera turun, itu akan membantu menyamarkan jejak panas kita dari pencitraan satelit."
Baru saja Kenzi selesai bicara, guntur menggelegar di langit Jakarta. Tetesan air hujan mulai jatuh satu per satu, semakin lama semakin deras.
"Ayo lari, Nona. Kali ini, Anda harus melangkah dengan kaki Anda sendiri," Kenzi mengulurkan tangannya, bukan untuk memeluk, melainkan untuk membimbing.
Alana menyambut tangan itu. Genggaman Kenzi terasa dingin seperti es, namun sangat kokoh. Mereka mulai berlari di bawah guyuran hujan lebat, meninggalkan jejak kekacauan di jalan raya. Alana menyadari bahwa hidupnya yang penuh kemewahan telah berakhir, dan satu-satunya orang yang bisa ia percayai di tengah badai ini adalah pria misterius yang sebenarnya dikirim untuk menghancurkan keluarganya.
Hutan kota itu menjadi saksi bisu awal dari ikatan yang tidak logis antara sang mangsa dan sang pemburu.