Daniella Dania wanita tangguh yg hidup sebatang kara harus mengalami peristiwa yang membuat dunianya runtuh kesucian nya di ambil oleh pria yg tidak dia kenal di malam kelulusan nya karna jebaka seseorang yg tidak menyukai nya di sebuah hotel nega A
Calix Matthew Batrix pria super tampan,cuek, dingin tak tersentuh orang paling berpengaruh baik di dunia atas atau bawah CEO BATRIX GRUP dan pemimpin mafia Eropa dan asia BLACK DRAGON.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MELAHIRKAN PART I
Rafael ingin menangis rasanya. "Kak! Itu harimau! Bukan kucing persia! Kemarin aku sudah hampir mati gara-gara Kakak minta aku tidur di kandang ular piton. Sekarang harimau?!"
"Tapi mereka menendang-nendang terus, Rafael. Sepertinya mereka ingin Uncle-nya jadi pemberani," sahut Dania dengan wajah tak berdosa.
"Triple, tolonglah Uncle-mu ini. Kalian ini bayi manusia atau bayi Avengers sih?" gumam Rafael frustrasi.
Dania tertawa kecil, namun sedetik kemudian wajahnya berubah sendu. Ia meraih kemeja putih milik Calix yang selalu ia simpan. Aroma maskulin yang tersisa di sana selalu berhasil menenangkannya.
"Kak... kangen dia lagi?" tanya Rafael lembut, suaranya melunak melihat Dania mulai berkaca-kaca.
.Dania mengangguk pelan sambil mengeratkan pelukannya pada kemeja itu. "Terkadang, Mommy-mu ini merasa sangat egois karena menjauhkan kalian dari Daddy. Tapi ini yang terbaik untuk sekarang."
"Daddy kalian pasti orang hebat, karena Kak Dania sehebat ini menjaga kalian sendirian," hibur Rafael.
Dania tersenyum getir. "Dia sangat hebat, Rafael. Bahkan terlalu hebat sampai aku harus menghapus seluruh jejakku agar dia tidak menarik ku kembali ke dunianya yang gelap."
Tanpa Dania sadari, di tempat yang sangat jauh, sang 'Kaisar' sedang menghitung hari untuk menemukannya. Takdir sedang merajut jalan untuk mempertemukan mereka kembali, entah dalam damai atau dalam badai kemarahan yang baru
(Flashback Rafael)
Dania memberikan segelas air dengan tangan gemetar. Di atas ranjang rumah sakit Negara Y, remaja laki-laki itu perlahan membuka mata.
"Minumlah pelan-pelan," suara Dania mengalun lembut, menenangkan badai di hati Rafael.
"Terima kasih," bisik Rafael parau. Wajahnya memerah karena malu sekaligus gugup. Ia tidak terbiasa diperlakukan dengan kasih sayang.
Dania tersenyum, meski hatinya perih. Ia sudah mengetahui segalanya. Kejeniusannya dalam meretas data telah memberitahunya bahwa Rafael adalah seorang yatim piatu yang melarikan diri dari panti asuhan karena siksaan. Remaja ini adalah penyintas yang kuat, sama seperti dirinya.
"Namamu Rafael, kan?" tanya Dania. "Namaku Daniella Dania. Panggil saja Kak Nia."
Rafael tertegun. "K-kak Nia?"
"Dengar, Rafael. Aku sendirian di dunia ini. Orang tuaku sudah lama pergi. Aku tidak punya saudara. Maukah kau menjadi adikku? Tinggal bersamaku dan menjadi keluargaku?" Dania menatapnya dengan binar harapan yang tulus.
Rafael terisak. Tanpa kata, ia mengangguk. Dania langsung menarik remaja itu ke dalam pelukan hangat. Hari itu, dua jiwa yang hancur oleh takdir memutuskan untuk saling menguatkan. Rafael bersumpah dalam hati: Siapapun yang menyakiti Kak Nia, harus melangkahinya terlebih dahulu.
Sembilan Bulan Kemudian...
Pagi itu, vila mewah di Negara Y berubah menjadi zona panik. Dania menuruni tangga dengan langkah yang sangat berat. Tangannya mencengkeram erat pegangan tangga, wajahnya memucat, dan keringat dingin sebesar biji jagung mulai membasahi dahinya.
"Nona! Astaga, Nona mau melahirkan?" Bik Jumi berlari menghampiri, wajahnya penuh kecemasan.
Dania hanya bisa meringis. Sejak semalam, 'gelombang cinta' itu sudah menyapa. Ia sudah mencoba mandi air hangat dan latihan pernapasan, tapi pagi ini rasa sakit itu datang setiap lima menit sekali, panas dan menusuk hingga ke pinggang.
"Bik... panggil Mang Asep. Tas bersalin di kamar... ambil sekarang!" perintah Dania di sela napasnya yang memburu.
"KAK NIA! KEPONAKAN-KEPONAKAN AKU MAU KELUAR?!"
Suara teriakan itu berasal dari Rafael yang turun dari tangga dengan penampilan kacau: kaos oblong kedodoran, celana pendek gambar Doraemon, dan sandal bulu warna pink milik Dania yang salah ia pakai. Namun, di balik tampilan konyol itu, matanya menyiratkan ketakutan luar biasa akan kondisi kakaknya.
"Ayo Kak, Uncle tampan ini sudah siap mengawal mereka!" canda Rafael sambil memapah Dania ke mobil, berusaha mengalihkan rasa sakit sang kakak.
Di Negara A, pada saat yang bersamaan, Calix Matthew Batrix tidak bisa tenang. Ia mondar-mandir di ruang kerjanya selama satu jam. Napasnya tidak teratur, dan tangannya dingin seperti es.
"Tuan, duduklah dulu. Anda membuat saya pusing," tegur Samuel dengan hati-hati.
"Ada yang tidak beres, Sam! Hatiku sesak, seperti ada yang menarik jantungku keluar!" bentak Calix. Ia merobek dasinya, merasa tercekik. Ia tidak tahu bahwa ribuan kilometer dari sana, wanita yang ia cari sedang bertaruh nyawa untuk melahirkan darah dagingnya.
Di ruang bersalin rumah sakit Negara Y, Dania sedang berada di puncak perjuangannya. Pembukaan lengkap baru saja dicapai setelah enam jam kontraksi yang melelahkan.
"Ayo, Nyonya! Ambil napas dalam melalui hidung, dan dorong saat kontraksi datang!" instruksi Dokter kandungan dengan tegas namun tenang.
Dania mencengkeram erat kain seprai. Wajahnya merah padam, urat-urat di lehernya menegang. Di ruangan itu, ia hanya ditemani para perawat. Tidak ada suami yang membisikkan kata penguat, tidak ada tangan yang bisa ia remas untuk berbagi rasa sakit.
"Huhff... huhff... Sayang... bantu Mommy... bantu Mommy melahirkan kalian..." Dania terisak, suaranya parau.
Percobaan pertama: Gagal.
Percobaan kedua: Gagal.
Tenaga Dania terkuras habis. Persalinan bayi kembar tiga jauh lebih berisiko daripada bayi tunggal. Tim medis segera memasangkan selang oksigen saat melihat napas Dania mulai tersengal-sengal.
"Nyonya, jangan menyerah! Kepala bayi pertama sudah terlihat!" teriak Dokter.
Detik yang Menegangkan
Di Negara A...
DEGGG!
Calix tiba-tiba ambruk ke kursi kebesarannya. Ia memegangi dadanya yang berdenyut menyakitkan. Samuel segera menghampiri, panik melihat tuannya kesulitan bernapas.
"Tuan! Anda tidak apa-apa? Saya telepon dokter sekarang!"
Calix menggeleng lemah. "Tidak perlu... rasanya... rasanya ada bagian dari diriku yang sedang berjuang di luar sana..."
Di Ruang Bersalin Negara Y...
Dania mengumpulkan sisa-sisa kekuatannya untuk satu dorongan terakhir. Matanya terpejam kuat, air matanya mengalir deras. Dalam pikirannya, ia hanya membayangkan satu wajah: Calix.
"AAAKKKHHHHHHH!"
OEEKKKK! OEEKKKK!
Suara tangisan pertama pecah, membelah kesunyian ruang operasi. Dania jatuh terkulai, namun perjuangannya belum selesai. Masih ada dua nyawa lagi yang menunggu untuk melihat dunia.
Di Negara A, Calix masih terduduk kaku di kursi kebesarannya. Napasnya pendek-pendek, dan tangannya yang dingin meremas kemeja tepat di atas jantungnya.
"Tuan, kumohon, biarkan saya memanggil dokter," Samuel memohon, wajahnya pucat melihat bosnya yang tampak sangat menderita.
Calix menggeleng lemah. "Bukan... ini bukan sakit fisik, Sam. Rasanya... seperti ada sesuatu yang ditarik paksa dari dalam diriku."
Ia tidak tahu, ribuan kilometer dari sana, di sebuah ruang persalinan yang steril, seorang wanita sedang meneriakkan namanya di antara hidup dan mati. Ikatan batin itu nyata—getaran frekuensi dari seorang ayah yang terhubung dengan anak-anak yang belum pernah ia lihat.
🤍_____________Calix & Dania___________🤍
"Nyonya, atur napas Anda! Satu dorongan lagi!" seru Dokter di Negara Y.
Dania mengerang. Seluruh tubuhnya basah oleh keringat. Saat rasa sakit yang luar biasa itu memuncak, sebuah nama meluncur dari bibirnya yang pecah-pecah tanpa ia sadari.