Di mata dunia, Banyu hanyalah seorang pemuda desa putus sekolah yang tidak memiliki masa depan. Kehilangan kakeknya dan divonis memiliki penyakit bawaan membuat hidupnya seolah menemui jalan buntu. Namun, roda nasib berputar 180 derajat ketika Banyu secara tak sengaja mewariskan sebuah artefak kuno Kendi Penyuling Jiwa milik sang kakek.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DipsJr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7: Surga di Dalam Kendi
Tanpa sepengetahuan Banyu yang sedang sibuk menghitung cuan, Rudi di kamar sebelah sedang menyusun rencana jahat karena dengki. Tapi Banyu masa bodoh, prioritasnya sekarang adalah "memberi makan" si Kendi.
Di kamarnya yang tertutup rapat, Banyu mengeluarkan stok batu giok dan akik yang baru dibelinya.
"Makan yang banyak, biar pinter," gumam Banyu.
Satu per satu batu itu ditempelkan. Seperti gula kena air panas, batu-batu keras itu luluh lantak, saripatinya disedot habis, menyisakan debu abu-abu di meja. Uang jutaan rupiah lenyap dalam sekejap mata.
Banyu meringis. "Investasi mahal nih. Awas kalau gak balik modal."
Tapi pengorbanan itu tidak sia-sia. Setelah melahap habis semua batu, fisik Kendi Penyuling Jiwa berubah. Permukaannya yang putih susu kini makin berkilau, seolah ada aliran cahaya cair di dalamnya.
Yang paling ajaib, relief gambar di permukaan kendi itu berubah!
Tadinya cuma gambar pohon kecil dan mata air. Sekarang, di sekeliling mata air itu muncul gambar padang rumput. Detailnya gila-gilaan. Kalau dilihat pakai kaca pembesar, helai rumputnya kelihatan bergoyang.
"Canggih bener..." Banyu melongo, matanya terpaku pada gambar itu. "Ini resolusinya ngalahin TV 8K."
Saking asyiknya menatap gambar itu, tiba-tiba kepala Banyu pening. Pandangannya berputar hebat, seolah ditarik vacuum cleaner raksasa.
Wuuusssh!
Banyu refleks memejamkan mata.
Saat pusingnya hilang, dia membuka mata. Dan rahangnya langsung jatuh ke lantai.
Dia tidak lagi di kamar kosnya yang sumpek. Dia berdiri di sebuah tempat antah berantah.
Di depannya, berdiri sebatang pohon kecil setinggi tubuh manusia dengan tujuh helai daun hijau yang menyala. Di bawah akar pohon, ada mata air jernih yang memancar pelan, membentuk kolam kecil yang airnya tak pernah luber. Di sekelilingnya, hamparan rumput hijau empuk seluas kamar kos (sekitar 10 meter persegi) memanjakan kaki.
"Gue... masuk ke dalem kendi?!"
Banyu mencubit pipinya. Sakit. Ini bukan mimpi.
Suasana di sini luar biasa. Udaranya sejuk, segar, dan bersih, seperti udara pegunungan yang belum tersentuh knalpot Jakarta. Banyu menarik napas panjang, paru-parunya terasa lega. Jantungnya berdetak sangat nyaman.
Di sekeliling tanah rumput itu, ada kabut putih tebal yang menjadi dinding pembatas. Banyu mencoba menerobos kabut itu, tapi tubuhnya terpental pelan oleh dinding tak kasat mata.
"Oke, area gue cuma segini ternyata," gumam Banyu.
Perhatiannya beralih ke mata air. Airnya bening banget, menggoda iman. Banyu menangkupkan tangan, mengambil air itu, dan meminumnya.
Glek.
"Seger banget!"
Rasanya manis, dingin, dan langsung bikin badan enteng. Memang tidak "sekuat" Cairan Ajaib yang diteteskan, tapi air kolam ini jelas jauh lebih sehat daripada air mineral mahal sekalipun.
Otak bisnis Banyu langsung jalan.
"Tanah ini... pasti subur banget. Sayang kalau dianggurin. Tapi tempatnya sempit, cuma 3x3 meter. Kalau nanam sawi, cuma dapet dikit. Rugi."
Dia butuh tanaman yang kecil tapi harganya selangit.
Banyu berpikir keras. Tanaman apa yang mahal, kecil, dan laku keras?
"Ginseng!" serunya sambil menjentikkan jari. "Atau Vanili? Ah, Ginseng aja. Itu tanaman legendaris. Kalau gue bisa nanem Ginseng kualitas Korea di sini, gue bakal kaya tujuh turunan."
Setelah puas survei lokasi dan minum air sepuasnya, Banyu membayangkan ingin keluar.
Pop!
Sekejap mata, dia sudah kembali duduk di kursi kamarnya.
Rasanya dia cuma 10 menit di dalam sana. Tapi saat melirik jam dinding, Banyu syok.
"Hah? Jam 2 pagi?!"
Padahal dia masuk jam 9 malam. Apa waktu di dalam sana berjalan beda dengan di dunia nyata. Atau mungkin saking nyamannya, jadi lupa waktu.
Hal ini membuat Banyu waspada. Ia harus berhati-hati saat memasuki Kendi Penyuling Jiwa. "Bahaya juga kalau keseringan masuk. Jangan sampai nanti gue ngilang dan dicariin warga, takut dikira diumpetin Wewe Gombel."
---
Besok paginya, Banyu tancap gas ke Toko Pertanian "Tani Makmur".
"Koh, ada bibit Ginseng gak?" tanya Banyu pada pemilik toko, Koh A siong.
Koh Asiong, pria paruh baya yang sedang ngitung bon, menatap Banyu bingung. "Ginseng? Lu mau bikin jamu? Ginseng itu susah idup di sini, Tong. Ini dataran rendah, panas. Ginseng butuh dingin."
"Iseng aja Koh, mau eksperimen," jawab Banyu santai.
"Dasar anak muda, kebanyakan nonton YouTube," gerutu Koh Asiong sambil membongkar laci. Dia melempar satu saset bibit. "Nih. Lima rebu, isi sepuluh biji. Tapi gue kasih tau ya, Ginseng itu bijinya keras. Harus di-stratifikasi dulu. Disimpen di pasir basah, masuk kulkas, bisa enam bulan baru pecah tunas. Kalau lu tanem langsung, sampe lebaran monyet juga gak bakal numbuh."
"Ribet amat ya?" Banyu pura-pura kaget.
"Emang! Kalau gampang, tukang bakso udah jualan Ginseng semua, bukan toge!"
Banyu tertawa, membayar bibit itu, lalu pulang.
Malamnya, Banyu masuk lagi ke dalam Dimensi Kendi.
Dia menggali tanah di pinggir mata air. Tanah itu gembur, warnanya hitam pekat, dan berbau harum tanah subur. Dia menanam 20 butir biji Ginseng di sana, lalu menyiramnya dengan air kolam.
"Ayo tumbuh, Sayang. Jangan bikin Malu Bapak," bisik Banyu.
Dia optimis. Di dunia nyata butuh 6 bulan buat sprouting (pecah tunas). Tapi di dalam sini? Siapa tahu ada keajaiban.
Dan benar saja.
Tiga hari kemudian (waktu dunia nyata), Banyu masuk lagi untuk mengecek.
Mata Banyu terbelalak. Biji-biji Ginseng yang katanya butuh 6 bulan itu, kini sudah pecah tunas! Muncul batang-batang kecil dengan daun hijau muda yang imut.
"Gokil! Akselerasinya gila-gilaan!"
Tanah di dalam Kendi ini jelas bukan tanah sembarangan. Ini cheat code kehidupan!
Banyu lalu mengecek produksi Cairan Ajaib dari kendi. Sesuai dugaan, setelah makan batu giok mahal kemarin, produksinya meningkat pesat.
Sekarang, setiap tiga hari, kendi itu meneteskan LIMA TETES Cairan Ajaib.
"Mantap!"
Banyu langsung bikin manajemen stok:
2 Tetes: Diminum sendiri (buat maintenance kesehatan dan jadi superman).
3 Tetes: Dicampur air buat siram kebun sawi di belakang kosan.
Dengan 3 tetes, dia bisa memperluas area tanam sawi tiga kali lipat. Artinya, omzetnya juga bakal naik tiga kali lipat. Dari 5 juta, bisa jadi 15 juta per panen!
"Modal batu akik gue gak sia-sia," Banyu tersenyum lebar sambil memegang Kendi di dadanya. "Duit, kesehatan, aset masa depan... semuanya ada di sini."
Tapi Banyu sadar, semakin besar usahanya, semakin besar modal yang dibutuhkan. Si Kendi ini "mata duitan". Dia harus kerja lebih keras lagi untuk memuaskan nafsu makan kendinya agar fitur-fitur barunya terbuka.
Perjalanan menjadi Petani Sultan baru saja naik level.