NovelToon NovelToon
Variabel Yang Mencari Nilai Sejati

Variabel Yang Mencari Nilai Sejati

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Ketos
Popularitas:296
Nilai: 5
Nama Author: Erna Lestari

Oskar Biru Arkais sorang pemuda yang berusaha mencari arti cinta Sejati,
Dan Si Mahira Elona Luis si Gadis Tomboy yang Tak Pernah Percaya akan Adanya cinta Sejati

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erna Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6

"aku tidak lagi menuntut langit agar selalu biru aku hanya membuka jendela dan membiarkan cahaya masuk apa adanya dan di sanalah bahagia menjadi hal kecil tidak perlu diumumkan cukup dirasakan lalu dijaga"

GOSIP DI KANTIN

Suara hiruk-pikuk siswa-siswi memenuhi ruang kantin SMA 2 Nusa Bina. Di pojok paling dalam yang sedikit lebih sepi, tiga orang cowok sedang duduk mengelilingi meja bundar kecil. Di depan mereka ada nasi goreng, jus buah, dan beberapa makanan ringan yang sudah sebagian habis dimakan.

“Waduh Pak Ketua, tadi pemandangannya seru banget ya!” ujar Kalash sambil tertawa kecil, menirukan ekspresi marah Luna tadi pagi. “SiLuna kayak mau membakar orang dengan pandangannya, tapi langsung terkalahkan sama argumen Rekai yang mantap sekali.”

Rekai menambahkan dengan senyum menyeringai sambil menggigit keripik singkongnya. “Bukan cuma mantap, itu namanya keadilan dong! Lagian gue juga tidak mau Elona merasa tersisih karena masalah yang tidak terlalu besar kok. Apalagi tahu kan kalau dia benar-benar kesusahan pagi ini.”

Biru hanya diam sambil menikmati jus jeruknya dengan wajah yang tetap terlihat tenang, meskipun telinganya sudah mulai sedikit memerah karena godaan kedua temannya. Dia memang sudah terbiasa dengan kelakuan mereka, tapi kali ini rasanya sedikit berbeda karena pembicaraan itu tentang Elona dan Luna.

“Yang jadi masalah sekarang tuh Pak Ketua,” ujar Kalash dengan suara sedikit pelan agar tidak terdengar orang lain. “SiLuna jelas-jelas sudah merasa tersinggung dan pasti akan mencari kesempatan untuk menunjukkan bahwa pak ketu lebih memperhatikan Elona daripada dia. Padahal kita semua tahu hubungan pak ketu sama Luna hanya sebatas rekan kerja saja kan?”

Biru mengangguk perlahan. “Ya, memang begitu. Luna adalah wakil ketua OSIS yang baik dan pekerja keras. Tapi itu saja. Tidak ada hubungan lain di luar itu.”

“Kalau begitu elo harus segera memberi batasan dong!” tegas Rekai dengan nada serius tapi tetap penuh canda. “Kalau tidak, nanti siLuna akan terus berharap dan akhirnya akan menyakiti dirinya sendiri. Selain itu, kalau terus seperti ini, Elona juga bisa jadi tidak nyaman karena merasa jadi sumber masalah.”

Biru menghela napas dan menatap ke arah pintu kantin yang ramai. Dia melihat Luna sedang makan bersama beberapa anggota OSIS perempuan lainnya, dan terkadang pandangannya menyilang dengan dirinya sebelum segera berpaling.

“Saya sudah berusaha menunjukkan bahwa hubungan saya dengan Luna hanya sebatas kerja sama,” ujar Biru dengan suara rendah. “Setiap kali dia mencoba membicarakan hal lain selain pekerjaan OSIS, saya selalu mengalihkan pembicaraan atau mengatakan bahwa saya sedang sibuk.”

“Cara elo itu terlalu halus lah Biru!” teriak Kalash dengan sedikit suara tinggi, membuat beberapa siswa di sekitar mereka menoleh sebentar. Dia segera menutup mulutnya dengan tangan dan berbicara lebih pelan. “elo harus lebih jelas dan tegas aja. Misalnya bilang langsung ‘Luna, saya hanya melihatmu sebagai rekan kerja dan teman sekelas saja.’ Gitu aja kok susahnya?”

Rekai mengangguk dengan kuat. “Betul banget! Kalau elo terus seperti ini yang sopan dan tidak mau menyakiti perasaan orang, akhirnya malah semakin banyak yang tersakiti. Apalagi sekarang ada Elona di tengah-tengahnya.”

Biru terdiam sejenak sebelum mulai berbicara lagi. “Saya tidak mau menyakiti Luna. Dia sudah bekerja keras bersama saya sebagai OSIS selama satu tahun terakhir. Tapi kalian berdua benar, saya harus memberikan batasan yang jelas agar tidak ada kesalahpahaman lagi.”

“Nah kan! Itu aja kok susahnya!” ujar Kalash sambil memberikan tendangan ringan ke kaki Biru. “Selain itu, kalau elo sudah jelas sama siLuna, elo juga bisa lebih tenang untuk mendekati Elona kan? Kan elo selalu bilang ingin tahu lebih banyak tentang dia?”

Wajah Biru tiba-tiba menjadi lebih merah dan dia segera menutupi wajahnya dengan tangan kanannya. Rekai dan Kalash langsung tertawa terbahak-bahak melihat reaksi temannya yang biasanya selalu dingin dan terkendali.

“Waduh Pak Ketua juga bisa malu ya!” goda Rekai sambil mengetuk bahu Biru. “Jangan sungkan-sungkan dong! Kalau elo butuh bantuan untuk mendekati Elona, kami siap membantu kok! Misalnya jadi juru bicara atau membuat situasi yang pas buat kalian berdua bisa berbicara.”

“Jangan sekali-kali melakukan hal itu!” seru Biru dengan sedikit panik, segera menurunkan tangannya dari wajahnya. “Saya ingin mendekatinya dengan cara yang benar dan sopan. Tidak mau dengan cara yang dibuat-buat atau dipaksa.”

Kalash hanya mengangkat kedua tangan ke atas sebagai tanda menyerah. “Baik-baik saja Pak Ketua. Kami hanya ingin membantu aja kok. Tapi setidaknya elo sudah setuju untuk memberi batasan sama si Luna kan?”

Biru mengangguk dengan tegas. “Ya, saya akan mencari kesempatan untuk berbicara dengannya dengan tenang setelah kegiatan OSIS sore ini. Saya akan mengatakan bahwa saya menghargainya sebagai rekan kerja, tapi tidak ada perasaan lebih dari itu.”

“Bagus lah! Itu baru seperti Pak Ketua OSIS yang kita kenal!” ujar Rekai dengan senyum lebar. “Sekarang, mari kita habiskan makanannya saja sebelum jam pelajaran dimulai. Nanti kalau terlambat, kita yang akan dihukum sama guru BK !”

Ketiga orang itu kemudian kembali fokus ke makanan mereka, meskipun Rekai dan Kalash masih sering mengirimkan pandangan yang penuh makna ke arah Biru dan terkadang tertawa kecil. Di dalam hati, Biru merasa bersyukur memiliki teman-teman yang selalu mendukungnya, meskipun terkadang kelakuannya cukup menjengkelkan dan membuatnya merasa malu.

Saat lonceng berbunyi menandakan akhir jam istirahat, mereka segera membersihkan meja dan berjalan ke arah kelas. Biru sudah mulai merencanakan bagaimana cara berbicara dengan Luna nanti sore – jelas, tegas, tapi tetap penuh rasa hormat. Karena dia tahu bahwa memberikan batasan yang jelas adalah hal terbaik untuk semua pihak yang terlibat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!