aku tak pernah menyangka memiliki kesempatan kedua untuk kembali hidup
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANWAR MUTAQIN, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Volume II — The Weight of Survival Chapter 1 — After the World Didn’t End
Dunia tidak berakhir.
Itulah hal pertama yang disadari Daniel saat ia membuka mata.
Tidak ada ledakan terakhir.
Tidak ada cahaya putih.
Tidak ada suara langit runtuh seperti yang selalu digambarkan orang-orang ketika membicarakan kiamat.
Yang ada hanyalah bau logam, debu, dan napas manusia yang kelelahan.
Langit di atas zona evakuasi berwarna abu-abu pucat, bukan karena awan hujan, melainkan karena asap yang tak sepenuhnya menghilang sejak invasi pertama. Matahari tetap terbit—setengah tertutup, setengah dipaksakan—seolah alam semesta sendiri belum memutuskan apakah dunia ini layak untuk dilanjutkan.
Daniel duduk di pinggir bangunan runtuh yang dijadikan pos sementara. Tangannya gemetar saat ia mengencangkan perban di lengan kirinya. Luka itu seharusnya sudah membunuhnya dua hari lalu. Namun sekarang, dagingnya telah menutup—tidak sempurna, masih nyeri, tapi cukup.
Segel pertama di dadanya berdenyut pelan.
Bukan seperti mesin.
Lebih seperti napas kedua.
Ia menutup mata.
Dan segera menyesalinya.
Setiap kali ia menutup mata, wajah-wajah itu muncul.
Orang-orang yang sempat ia tarik dari puing.
Orang-orang yang tidak sempat.
“Daniel.”
Suara itu memanggilnya dari samping.
Ia membuka mata dan melihat Raven berdiri dengan tangan terlipat, ekspresinya sama seperti biasa—tenang, terukur, dan terlalu dingin untuk seseorang yang baru saja melewati neraka.
“Briefing sepuluh menit lagi,” kata Raven. “Kau ikut.”
Daniel mengangguk, meski bagian dalam dirinya ingin menolak.
“Ada apa?” tanya Daniel akhirnya.
Raven menatap ke arah luar zona—ke barisan tenda, ke barikade darurat, ke para calon Hunter yang duduk diam dengan wajah kosong.
“Dunia mulai menghitung ulang,” jawabnya singkat.
Daniel tahu apa maksudnya.
Selama Volume 1, segalanya terasa seperti reaksi spontan—manusia bertahan karena tidak punya pilihan. Tapi sekarang? Sekarang organisasi mulai terbentuk, hierarki mulai lahir, dan yang paling berbahaya—
penilaian.
Dunia yang Mulai Memilih
Ruang briefing tidak lebih dari aula parkir bawah tanah yang setengah runtuh. Lampu-lampu darurat menggantung rendah, berkedip tidak stabil. Di dinding, peta dunia diproyeksikan—bukan peta politik lama, melainkan peta zona merah, zona abu-abu, dan zona hitam.
Zona hitam terus bertambah.
Daniel berdiri di barisan belakang. Ia tidak ingin terlihat, meski ia tahu beberapa pasang mata tetap mencarinya.
“Invasi berikutnya tidak akan sama,” kata seorang perwira asosiasi di depan. “Pasukan iblis sudah mengumpulkan data. Mereka tahu kita bisa melawan.”
Layar berubah. Simulasi pertempuran dipercepat.
“Dan mereka tahu,” lanjutnya, “bahwa ada anomali di pihak kita.”
Daniel merasakan tatapan itu. Tidak semua bermusuhan. Tidak semua kagum.
Beberapa… takut.
“Kita akan membentuk unit respons cepat,” lanjut perwira itu. “Bukan berdasarkan pengalaman. Bukan berdasarkan usia.”
Ia berhenti sejenak.
“Tapi berdasarkan potensi.”
Potensi.
Kata itu terdengar seperti pisau.
Segel Pertama Tidak Memberi Jawaban
Setelah briefing, Daniel berjalan menjauh dari kerumunan. Setiap langkah terasa berat, seolah tanah di bawah kakinya lebih padat daripada sebelumnya.
Ia berhenti di sudut sepi, lalu menempelkan punggungnya ke dinding dingin.
“Kenapa aku masih hidup?” gumamnya pelan.
Segel pertama tidak menjawab dengan suara.
Ia menjawab dengan sensasi.
Daniel menutup mata, lalu membiarkan kesadarannya tenggelam ke dalam ritme aneh di dadanya. Ia tidak memaksa. Ia tidak menarik kekuatan.
Ia mendengarkan.
Dan untuk pertama kalinya sejak kebangkitannya, ia menyadari sesuatu yang selama ini luput—
Segel pertama tidak membuatnya lebih kuat.
Segel itu membuatnya lebih stabil.
Setiap kali tubuhnya mendekati batas, segel itu menahan.
Setiap kali pikirannya retak, segel itu menenangkan.
Ia bukan pedang.
Ia adalah pondasi.
“Kalau begitu…” Daniel membuka mata perlahan. “Kau memang bukan jawaban.”
Ia tersenyum pahit.
“Kau hanya memastikan aku tidak runtuh… saat aku mencarinya sendiri.”
Nama yang Mulai Dipanggil
“Daniel.”
Suara itu bukan Raven.
Daniel menoleh.
Seorang petugas asosiasi berdiri beberapa meter darinya, membawa tablet data. Wajahnya kaku, profesional—namun matanya memendam keraguan.
“Namamu masuk daftar,” katanya.
“Daftar apa?”
“Unit lapangan awal. Misi besok.”
Daniel terdiam.
“Besok?” ulangnya.
“Iya,” jawab petugas itu. “Dan… satu hal lagi.”
Ia ragu, lalu menambahkan, “Ada permintaan khusus. Dari pusat medis.”
Jantung Daniel berdegup sedikit lebih cepat.
“Permintaan apa?”
Petugas itu menatap data di tabletnya, lalu kembali ke Daniel.
“Seseorang ingin bertemu denganmu,” katanya pelan.
“Seseorang yang… mengaku melihatmu mati.”
Udara di sekitar Daniel terasa menyempit.
Bukan karena ketakutan.
Melainkan karena masa lalu akhirnya mengejarnya.
Daniel berdiri diam lama setelah petugas itu pergi.
Langit tidak runtuh.
Dunia tidak berakhir.
Namun untuk pertama kalinya sejak ia bangkit—
Daniel menyadari bahwa hidup kembali mungkin lebih berat daripada mati.
Dan Volume II pun dimulai,
bukan dengan ledakan,
melainkan dengan konsekuensi.