NovelToon NovelToon
Perjalanan Cinta Dokter Zonya

Perjalanan Cinta Dokter Zonya

Status: tamat
Genre:Menikah Karena Anak / Duda / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Paksaan Terbalik / Naik ranjang/turun ranjang / Dokter / Tamat
Popularitas:2.1M
Nilai: 4.4
Nama Author: Ratu jagad 02

9

Pernikahan adalah cita-cita semua orang, termasuk Dokter Zonya. Namun apakah pernikahan masih akan menjadi cita-cita saat pernikahan itu sendiri terjadi karena sebuah permintaan. Ya, Dokter Zonya terpaksa menikah dengan laki-laki yang merupakan mantan Kakak Iparnya atas permintaan keluarganya, hanya agar keponakannya tidak kekurangan kasih sayang seorang Ibu. Alasan lain keluarganya memintanya untuk menggantikan posisi sang Kakak adalah karena tidak ingin cucu mereka diasuh oleh orang asing, selain keluarga.

Lalu bagaimana kehidupan Dokter Zonya selanjutnya. Ia yang sebelumnya belum pernah menikah dan memiliki anak, justru dituntut untuk mengurus seorang bayi yang merupakan keponakannya sendiri. Akankah Dokter Zonya sanggup mengasuh keponakannya tersebut dan hidup bersama mantan Kakak Iparnya yang kini malah berganti status menjadi suaminya? Ikuti kisahnya

Ig : Ratu_Jagad_02

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratu jagad 02, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5

Setelah pagi penuh drama dan air mata. Kini Zonya membawa Naina untuk mengitari halaman kediaman yang ia tempati dengan menggunakan stroller bayi. Ia mengajak Naina berkeliling sembari berjemur, sebab ia tahu bahwa berjemur adalah hal yang cukup dibutuhkan untuk memperkuat tulang bayi. Selain itu, berjemur juga bisa membantu menjaga suhu tubuh bayi agar tetap stabil sehingga bayi tidak mudah rewel.

Zonya menghentikan langkahnya dan membawa stroller bayi Naina ke bawah pohon rindang yang dibawahnya terdapat kursi. Ia lantas duduk di kursi tersebut, menghadap pada stroller Naina.

"Naina... Cilup ba..." kaget Zonya, berusaha menghibur.

"Hehehe."

Naina cukup terhibur dengan gurauan Zonya. Hingga membuat bayi itu terkekeh, memamerkan deretan gusi-nya. Berkali-kali Zonya mencoba menghibur sang keponakan, membuat bayi itu terkekeh terus menerus. Tampaknya suasana hati Naina sedang baik pagi ini.

Setelah dirasa cukup untuk berjemur, akhirnya Zonya membawa Naina masuk ke rumah. Zonya mendorong stroller bayi menuju kamarnya. Namun saat melewati ruang makan, perutnya seketika berbunyi, menandakan ia tengah lapar sekarang. Ya, ia memang belum sempat memakan sarapannya tadi pagi karena Naina yang menangis. Zonya akhirnya mengurungkan niatnya menuju kamar, ia justru membawa stroller Naina menuju meja makan saat melihat masih ada sisa makanan di sana.

"Nai, Aunty makan sebentar ya, tidak apa-apa 'kan? Nai tunggu sebentar saja, oke."

Zonya mulai mengambil makannya. Sembari menyuapkan makanan ke mulut, matanya tidak lepas dari Naina yang bermain dengan mainan di tangannya. Hingga beberapa saat berlalu, terdengar Naina yang kembali menangis kencang karena mainannya yang jatuh mengenai wajahnya. Dengan gerakan cepat, Zonya langsung membawa Naina kedalam gendongannya. Ia menimang bayi itu sebentar. Setelah merasa tenang, ia kembali duduk di kursi meja makan dan meneruskan sarapannya dengan Naina yang berada dalam gendongannya.

"Kenapa, Nai mau makan juga, iya?" gurau Zonya. Berharap Naina tidak menangis lagi agar tidak kembali menghambat sarapannya. "Nai mau? Aaa—" Zonya mengarahkan sendok makannya kearah Naina, seakan benar-benar akan menyuapkannya. Namun begitu sendok tersebut akan sampai pada mulut Naina, Zonya segera melajukan tangannya seperti pesawat yang melintas. "Yah... Tidak dapat!" keluh Zonya, seakan ia ikut merasa sedih karena Naina tidak mendapatkan makanannya. Sedangkan Naina terlihat tertawa pelan, memperlihatkan gusi merahnya.

Zonya menghabiskan waktu sarapan cukup lama dari biasanya. Jika biasanya ia akan makan dengan cepat karena diburu pekerjaan. Maka kali ini ia makan lambat karena Naina yang terkadang merengek bahkan menangis saat tidak ia ajak bicara.

Huh!

Zonya menghela napas kasar setelah ia berhasil menidurkan Naina. Ia lantas memindahkan Naina ke ranjang milik bayi itu. Setelah memastikan Naina lelap dalam tidurnya, ia berjalan menuju meja rias.

"Baru satu hari jadi ibu, kenapa mukaku malah sudah terlihat sangat kusam," keluh Zonya sembari memindai wajahnya di cermin rias. "Bagaimana dengan Ibu-ibu yang anaknya sampai tiga, empat atau lima ya. Apa tidak stress?"

Zonya memilih menuju kamar mandi untuk mencuci wajahnya. Setelah itu ia memakai skincare rutin miliknya yang sebenarnya sedikit terlambat. Ya, karena waktu terbaik pemakaian skincare-nya ini adalah pagi hari, sedangkan sekarang sudah siang hari. Tapi tidak masalah, yang terpenting, ia harus menyamarkan rona kusam di wajahnya.

*

Di sisi lain, Sejak pagi tadi, Sean duduk di kursi kerjanya dengan tatapan kosong. Laki-laki itu terlihat sangat lemah. Berkali-kali helaan napas kasar terdengar darinya. Hingga beberapa saat berlalu, ia memilih ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya agar ia bisa fokus mengerjakan pekerjaannya saat ini.

"Maaf Tuan, ini sudah waktunya pulang," ucap sekretaris Sean, mengingatkan sang atasan yang terlihat masih cukup fokus pada layar laptopnya.

"Hm, pulanglah!"

Sekretaris itu menunduk singkat, lalu izin untuk pulang lebih dulu. Sedangkan Sean kembali fokus pada pekerjaannya. Tidak ia hiraukan jam yang sudah menunjukkan waktu sore. Karena jika biasanya ia akan semangat untuk pulang tepat waktu karena ada istrinya yang menunggu kepulangannya, maka saat ini berbeda, tidak ada lagi prioritas yang harus ia utamakan.

Beberapa saat berlalu, Sean meraih ponselnya dan melihat jam yang tertera di sana. Ternyata ia sudah menghabiskan waktu lembur berjam-jam di sini. Terbukti dengan waktu saat ini yang sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Ia lantas menutup laptopnya dan menyambar jas yang ia sampirkan pada lengan kursi, setelah itu ia keluar kantor menuju mobilnya.

Mobil melaju meninggalkan perusahaan. Namun bukan untuk pulang. Karena kini, mobil itu justru menuju pada pusat keramaian kota, dimana suara dentuman musik keras terdengar dengan lampu kerlap-kerlip yang menghiasi setiap sudutnya. Ya, ia tengah berada di club sekarang.

"Hai Bro!" sapa seorang pria saat melihat Sean masuk.

"Hm."

"Kau ingin minum lagi atau mengikuti tawaranku untuk berpesta?" tanya laki-laki itu. Pesta yang ia maksud tentu saja bukanlah pesta biasa. Karena tentu saja pesta bagi penghuni club adalah bersenang-senang bersama para wanita yang menjadi primadona di sana.

"Aku tidak tertarik dengan duniamu!" Sean melangkah melintasi laki-laki itu dan duduk di sofa yang sudah terhidang berbagai minuman yang selama beberapa hari ini ia konsumsi.

"Hei Bung, ayolah. Kau hanya belum mencobanya saja. Setelah kau mencobanya, maka kau akan merasa melayang ke nirwana dan menginginkannya terus menerus," bujuk laki-laki itu lagi.

"Pergilah Mor!"

Bukannya pergi, laki-laki itu malah terkekeh dan ikut duduk bersama sahabatnya, "Dengar Sean, kau mengunjungi tempat ini untuk menghilangkan suntuk 'kan? Maka dari itu, mari kita bersenang-senang, apa salahnya? Bukankah istrimu juga sudah mati?"

"Kau!" Sean langsung mencengkram kerah kemeja laki-laki itu dengan wajah yang sudah memerah menahan amarah, "Raganya memang sudah mati, tapi perlu kau ingat, bahwa dia akan selalu ada di sini bersamaku. Jadi jaga ucapanmu, Morgan!"

"Baiklah, maafkan aku." laki-laki bernama Morgan itu mengangkat tangannya sebagai tanda ia mengalah dan Sean langsung melepas cengkramannya pada kerah leher Morgan.

"Kalau begitu nikmati minumanmu dan aku akan berpesta dulu. Bye Laki-laki aneh." ucap Morgan pada akhir kalimatnya, tentu saja dengan ucapan lirih. Sebab, ia takut jika mengatakannya dengan terang-terangan, maka Sean akan kembali menghajarnya.

Sean mengambil botol minuman diatas mejanya dan langsung menegaknya begitu saja tanpa menggunakan gelas, seolah ini adalah hal yang biasa baginya. Ia menegak minuman itu hingga tandas sembari memperhatikan orang-orang yang berjoget riang dibawah lampu disko. Sean menggelengkan kepalanya saat kesadarannya mulai menghilang, ia lantas bangkit dari duduknya hendak keluar dari sana, tapi belum saja melangkah, ia justru sudah terkapar tak berdaya di sofa.

"Haish... dasar payah!" cemooh Morgan saat melihat Sean yang sudah terkapar dengan kesadaran yang ia pastikan telah hilang sepenuhnya.

1
Si Memeh
bagus cerita nya thor
Elara: Alhamdulillah, terima kasih Kak🙏
total 1 replies
ayu cantik
kisah kkknya Anggi
Elara: Betul sekali, Kak. Betah-betah ya bacanya, maaf kalau masih banyak typo atu mungkin feell cerita yang ngga ngena di hati. Thank you karena udah baca/Kiss/
total 1 replies
Endang Sulistia
maunya jahit mulutnya Zoe..
Elara: Kenapa?
total 1 replies
Anonymous
😂🤭
Anonymous
🤣🤣🤣
Elizabeth Zulfa
emang nadila meninggalnya knpa yoh
Elara: Lanjut baca bab berikutnya ya, biar tau jawabannya. Oh iya, mampir juga di karya terbaru aku, judulnya Reveal The Facts/Rose//Plusone/
total 1 replies
Elizabeth Zulfa
kita sama zonya.... krna aq pun prnah sempat brpikir dan merasakan sprti itu... bahkan disaat kamu gak melakukan apapun pun tetap diiri sama si bungsu.. pdhl klo dirasa pun kita sbgaibank kedua brusaha selalu bisa mandiri dri kecil tpi rasa2nya semua itu blm cukup bagi sebagian orang trutama sodara kita sndiri
Elizabeth Zulfa: ho'oh
total 2 replies
echa purin
👍🏻
Zulfi Sufairoh
Kecewa
Zulfi Sufairoh
Buruk
Umi Maryam
thor aku minta anak nya zou itu kembar laki2 semua yah ,kan baru tiga minggu bisa nambah dong , 🤭🤭🤭
Elara: Hihihi novelnya udah tamat Kak, jadi ngga bisa direvisi ya.
total 1 replies
Elara
Hai semuanya, terima kasih atas dukungan kalian atas karya aku ini ya. Jujur, ini karya aku yang pling rame pembaca dan paling banyak hujatan/Facepalm/tapi ngga papa, yang penting rame/Grin/
Btw, jangan lupa baca karya-karya aku yang lain ya, terutama karya-karya terbaru aku. Love banyak banyak buat kalian semua/Heart//Plusone/
Susi_Lin
tapi thor, sbenarnya dr.obgym jga gak yg sekolot2 sampe gak tau sama sekali, kan nerawal dri dokter umum, tentu tau dasar2 untuk pertolongan pertama pada pasien baik anak/dewasa...!! tapi mkin saja efek panik jdi zoya nge bleng.
ini pengalaman dunia kerja saya ,skaligus saya sering jadi asisten dr.obgyn 🙏🙏 semangat thor ❤️
Elara: Oh, maf ya kak kalau masih banyak salahnya. Tapi terlepas dari itu semua, terima kasih sudah mampir di novel aku/Heart//Plusone/
total 1 replies
Moona
aku sbgai anak kedua mengerti bnget apa yg dirasakan zoe,karena begitulah yg aku rasakan selama ini..yg sllu di diabaikan,di banding2kan,mgkin sbb itu aku jd pribadi jg keras untk menguatkan diri meski penilaian org di luar sana aku adlh pribadi yg jutek dan sombong..aslinya aku sllu menyembunyikan air mata dr semua org..tp aku bs bertahan sampai sejauh ini...ceritanya bagus bnget..sukses selalu kak author...
Elara: Makasih banyak, Kak/Whimper/
Mampir juga di karya terbaru aku yang berjudul Reveal The Facts yukkk
total 1 replies
Ce Habibah
seharusnya tetep ada Beby sister,kasian zoe gk ada pengalaman
Elara: Iya 'kan? Emang dasar author somplak yang nulis.
total 1 replies
Nur Koni
ga tau knp peran dr zoe sangat mengena d hati ga sedikit d dunia nyata anak yg d perlakukan sprt dr zoe olh klrgnya sendiri.... mewek aku thor
Elara: Iya Kak, dan ini juga cukup relate sama apa yang dirasakan anak kedua. Btw terima kasih udah baca karya aku, tapi maaf banget karena karya aku belum ada yang sempurna. Terlebih karya ini. Aku kurang riset dan yaa hasilnya jadi se-alakadarnya.
total 1 replies
Shyfa Andira Rahmi
👍👍👍
Shyfa Andira Rahmi
🤦🤦🤦
Shyfa Andira Rahmi
🤣🤣🤣
Umi Maryam
belim maksimal usaha nya udah myerah , gada usaha nya lebih kamu lepas aja sean lagian mama kamu juga bukan mertua yg baik ,mendingan zie nikah dg pria lain aja ,biar bisa adopsi naina.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!