"Bagiku, mencintaimu adalah anugerah terindah. Namun, membiarkanmu terus berjuang untukku yang hampir mati adalah sebuah dosa."
Arini tahu hidupnya tidak lama lagi. Di saat Rangga datang membawa cincin dan janji masa depan, Arini justru memilih untuk menghancurkan hati laki-laki itu. Ia ingin Rangga pergi, mencari wanita yang lebih sehat, dan hidup bahagia tanpa beban dirinya.
Namun, Rangga bukanlah pria yang mudah menyerah. Semakin Arini mengusir, semakin erat Rangga menggenggam.
"Aku tidak butuh masa depan tanpa kamu, Rin. Kalau kamu bilang kamu rapuh, maka biarkan aku hancur bersamamu."
Bisakah cinta yang sekarat menang melawan takdir yang kejam? Ataukah perjuangan Rangga hanya akan berakhir pada nisan yang dingin?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2: Bayang-Bayang yang Menyakitkan
BAB 2: Bayang-Bayang yang Menyakitkan
Malam itu, hujan turun membasahi ibu kota dengan ritme yang monoton, seolah ikut merasakan kesuraman yang menyelimuti apartemen kecil milik Arini. Di dalam kamar yang hanya diterangi lampu meja yang remang-remang, Arini meringkuk di atas tempat tidur. Ia memeluk lututnya erat, berusaha menghalau rasa dingin yang bukan berasal dari suhu udara, melainkan dari dalam tulang-tulangnya sendiri.
Kepalanya berdenyut hebat. Rasa pusing yang ia alami kali ini terasa berbeda—seperti ada ribuan jarum yang ditusukkan ke saraf pusatnya secara bersamaan. Arini memejamkan mata, namun bayangan wajah Rangga yang terluka di kafe tadi terus muncul menghantuinya. Suara getar di ponselnya yang tergeletak di nakas tidak berhenti berbunyi.
15 Panggilan Tak Terjawab: Rangga.
28 Pesan Baru: Rangga.
Arini tidak berani menyentuh benda itu. Ia takut jika ia membaca pesan dari Rangga, tembok pertahanan yang baru saja ia bangun dengan susah payah akan runtuh seketika. Ia ingin egois, ia ingin menelepon Rangga dan berkata, "Aku sakit, Ga. Aku takut.
Tolong datang ke sini dan peluk aku." Namun, nalar sehatnya segera menepis keinginan itu.
"Kamu harus kuat, Arini. Jangan biarkan dia terseret ke dalam lubang kematianmu," bisiknya pada kegelapan.
Tiba-tiba, suara ketukan keras terdengar dari pintu depan. Bukan sekadar ketukan, melainkan gedoran yang penuh dengan tuntutan. Arini tersentak. Jantungnya berdegup kencang. Ia tahu betul siapa yang memiliki keberanian untuk menggedor pintunya di jam sebelas malam seperti ini.
"Arini! Buka pintunya! Aku tahu kamu di dalam!" teriak suara dari balik pintu. Itu Rangga. Suaranya terdengar serak, mungkin karena terlalu banyak berteriak atau menangis.
Arini berusaha bangkit dari tempat tidurnya, namun rasa pusing mendadak menyerang lebih kuat. Pandangannya memutar, seolah seisi ruangan sedang dibalikkan oleh kekuatan tak kasat mata. Ia harus berpegangan pada pinggiran lemari agar tidak jatuh terjerembap. Dengan langkah gontai dan napas yang tersengal, ia berjalan menuju pintu.
Ia tidak langsung membuka kunci. Ia berdiri di balik daun pintu, mencoba mengatur napas agar suaranya tidak terdengar lemah.
"Pergi, Rangga. Aku sudah bilang kita selesai. Jangan buat aku semakin benci sama kamu dengan tingkah kekanak-kanakan ini," ujar Arini, berusaha sekuat tenaga membuat suaranya terdengar tegas dan dingin.
"Benci? Kamu pikir aku percaya?" sahut Rangga dari luar, suaranya kini terdengar lebih pelan, menempel di daun pintu. "Tiga tahun, Rin. Aku tahu setiap helaan napas kamu. Aku tahu kalau kamu sedang berbohong. Kamu nggak bisa membuang aku begitu saja tanpa alasan yang jujur. Kalau ada orang lain, mana orangnya? Tunjukkan padaku!"
"Enggak perlu ada orang lain untuk membuat aku bosan sama kamu!" Arini berteriak, air mata mulai mengalir deras di pipinya, meskipun suaranya tetap terdengar kasar. "Kamu itu membosankan, Rangga! Hidupmu cuma soal kerja, rumah, dan rencana-rencana masa depan yang membuatku sesak. Aku mau bebas! Aku mau hidup tanpa beban!"
Hening sejenak di luar sana. Arini bisa membayangkan Rangga sedang bersandar di pintu dengan hati yang hancur.
"Aku nggak akan pergi sampai aku melihat wajahmu, Arini," kata Rangga lirih namun penuh tekad.
Arini merasa kepalanya semakin berat. Lambungnya mual hebat, efek samping dari stres dan sel kanker yang mungkin sedang bereaksi dengan emosinya. Ia terpaksa memutar kunci dan membuka sedikit celah pintu.
Rangga berdiri di sana. Rambutnya basah karena air hujan, kemejanya yang tadi pagi tampak rapi kini sudah berantakan. Mata yang biasanya bersinar penuh semangat itu kini terlihat redup dan merah. Saat pintu terbuka, Rangga langsung menatap Arini dengan intens.
"Kamu pucat banget, Rin," ujar Rangga, matanya menyisir wajah Arini yang kian tirus. Ia hendak mengulurkan tangan untuk menyentuh dahi Arini, tapi Arini segera mundur selangkah.
"Aku cuma kurang tidur karena pusing memikirkan cara agar kamu berhenti menggangguku!" sentak Arini. "Dengar ya, Rangga. Hubungan kita sudah berakhir. Aku nggak butuh perhatianmu. Aku nggak butuh bubur ayam yang mungkin ingin kamu bawakan, atau kata-kata penyemangat darimu. Aku mau kamu pergi dari hidupku selamanya!"
Rangga terdiam. Ia menatap ke dalam kamar Arini yang berantakan. Matanya kemudian tertuju pada sebuah botol obat yang tergeletak di atas meja ruang tamu, yang lupa Arini sembunyikan. Botol itu berwarna oranye khas obat farmasi rumah sakit.
Rangga menerobos masuk melewati Arini.
"Rangga! Apa yang kamu lakukan? Keluar!"
Rangga tidak memedulikan teriakan Arini. Ia menyambar botol obat itu dan membaca labelnya. Detik itu juga, waktu seolah berhenti bagi Rangga. Ia mengenal nama obat itu. Ibunya dulu pernah mengonsumsi obat yang sama sebelum meninggal dunia karena penyakit yang sama.
"Ini... ini obat untuk kemoterapi oral, kan?" suara Rangga bergetar hebat. Ia menoleh ke arah Arini dengan tatapan hancur. "Ini alasan kamu mengusirku? Karena kamu sakit?"
Arini mematung. Seluruh persendiannya terasa lemas. Rahasia yang ia tutup rapat-rapat akhirnya terbongkar dengan cara yang paling ia takuti. Ia mencoba merebut botol itu, tapi Rangga menjauhkannya.
"Kasih ke aku! Itu bukan urusanmu!" jerit Arini, ia mulai memukul dada Rangga dengan tangannya yang lemah. "Pergi, Rangga! Pergi! Aku nggak mau kamu lihat aku begini! Aku nggak mau dikasihani!"
Rangga menangkap kedua tangan Arini, menarik gadis itu ke dalam pelukannya. Arini memberontak, ia meronta-ronta sambil menangis histeris. Ia memukul, mencakar, dan mencoba melepaskan diri, tapi Rangga justru mempererat pelukannya.
"Lepaskan! Aku ini menjijikkan, Rangga! Aku ini rusak! Aku nggak punya masa depan! Lepaskan aku!" Arini berteriak sampai suaranya serak.
"Enggak, Arini. Enggak akan pernah," bisik Rangga di telinga Arini, air matanya sendiri mulai jatuh membasahi bahu gadis itu. "Kamu pikir aku ini pria macam apa? Yang hanya mau ada saat kamu tertawa, tapi lari saat kamu berdarah-darah? Aku mencintaimu, bukan kesehatanmu. Aku mencintai jiwamu, Rin."
Pertahanan Arini akhirnya runtuh sepenuhnya. Ia berhenti memberontak. Seluruh tenaganya hilang seketika. Ia menyembunyikan wajahnya di dada Rangga dan menangis sejadi-jadinya—tangisan yang selama ini ia tahan sendirian di bawah pancuran air kamar mandi atau di balik bantal.
"Aku takut, Ga... aku takut banget..." rintih Arini dengan suara yang nyaris tak terdengar.
"Aku di sini, Rin. Aku di sini," Rangga mengecup puncak kepala Arini berulang kali. "Kita akan hadapi ini bareng-bareng. Jangan pernah minta aku pergi lagi. Karena bagiku, berjuang bersamamu, meskipun itu menyakitkan, jauh lebih baik daripada hidup tanpamu."
Malam itu, di tengah hujan yang belum juga reda, dua jiwa yang hancur itu saling berpegangan. Arini tahu, perjalanannya ke depan akan penuh dengan rasa sakit dan "pusing" yang lebih hebat lagi. Namun, untuk pertama kalinya sejak vonis dokter itu keluar, ia merasa tidak lagi berjalan sendirian di lembah bayang-bayang kematian.
Meskipun dalam hatinya yang paling dalam, Arini masih menyimpan ketakutan besar: Bagaimana jika nanti, perjuangan Rangga justru berakhir pada penyesalan yang mendalam saat ia benar-benar harus pergi?