Kisah ini mengikuti perjalanan Karin, seorang gadis yang harus belajar memahami kehilangan, sebelum akhirnya menemukan cara untuk menyembuhkan hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Running On, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab : 12
Karin baru saja keluar dari kamar mandi. Rambutnya masih sedikit lembap, ujung-ujungnya meneteskan air ke lantai kayu. Ia baru pulang dari kafe kecil tempat ia biasa menghabiskan waktu—duduk berjam-jam, menulis, tenggelam dalam pikirannya sendiri.
Hari ini berbeda.
James tidak datang.
Pemuda itu harus pergi ke Seoul untuk bertemu ayahnya. Karin sudah tahu sejak pagi, tapi entah kenapa, keheningan hari ini terasa sedikit lebih panjang dari biasanya.
Saat ia sedang mengeringkan rambut dengan handuk, suara notifikasi ponselnya terdengar.
Ting.
Karin refleks meraih ponselnya. Begitu layar menyala dan nama James muncul, senyum lebar langsung terbit di wajahnya—tanpa ia sadari.
Entah sejak kapan, ia mulai menyukai hal-hal kecil seperti ini.
Pesan singkat dari James.
Kabar sederhana tentang harinya.
Atau sekadar sapaan tanpa alasan.
Dalam dua bulan terakhir, jarak di antara mereka semakin menyempit. Tanpa paksaan, tanpa janji. Hanya rasa nyaman yang tumbuh perlahan.
Karin membuka pesan itu.
“Meet me near the Jeju river.”
(Temui aku di dekat sungai Jeju.)
Mata Karin berbinar. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat dari biasanya.
Tanpa membuang waktu, ia bergegas ke lemari. Ia memilih pakaian dengan lebih serius dari biasanya—bahkan sempat mengganti atasan dua kali. Sesuatu yang sebelumnya tidak pernah ia lakukan hanya untuk bertemu James.
Ia merapikan rambutnya, menatap pantulan dirinya di cermin sejenak, lalu tersenyum kecil.
“Apa aku kenapa, sih…” gumamnya pelan sambil menggeleng, masih tersenyum.
Beberapa menit kemudian, Karin sudah berlari kecil keluar penginapan. Udara Jeju menyambutnya dengan sejuk, angin sore menyapu pipinya.
Langkahnya cepat, penuh semangat—menuju tempat yang sudah begitu akrab.
Sungai kecil itu.
Tempat mereka sering duduk berdua.
Dan tempat pertama kali mereka bertemu di Pulau Jeju.
Tanpa Karin sadari, setiap langkahnya membawa perasaan yang sama:
bahagia, ringan, dan penuh harap.
Karin langsung mengenali sosok itu dari kejauhan.
James sudah duduk di bangku kayu di tepi sungai, punggungnya menghadap ke arah jalan setapak. Ia tampak santai, satu lengannya bertumpu di sandaran bangku, menatap aliran air yang berkilau terkena cahaya sore.
Hanya dengan melihat punggungnya saja, senyum Karin mengembang lebar.
Tanpa berpikir panjang, ia berlari kecil menghampirinya. Langkahnya ringan, penuh semangat—seolah jarak beberapa meter itu tak berarti apa-apa.
Begitu sudah cukup dekat, Karin mencondongkan tubuhnya dan berteriak tepat di dekat telinga James.
“Woi!”
James sontak tersentak. Tubuhnya refleks menegang sebelum ia berbalik cepat.
“Ah—!”
(Ah—!)
Karin langsung tertawa terbahak-bahak, puas melihat ekspresi kaget James yang begitu jujur.
“Hahaha!”
James menatapnya dengan mata membelalak, napasnya sedikit tersengal sebelum akhirnya ia menghela napas panjang.
“You scared me!”
(Kamu bikin aku kaget!)
Karin masih tertawa, sampai harus menahan perutnya sendiri.
“You looked so serious. I couldn’t resist. I’m sorry!”
(Kamu kelihatan serius banget. Aku nggak tahan buat isengin. Maaf ya!)
James menggeleng pelan, lalu ikut tersenyum—senyum yang akhirnya mengalahkan rasa kagetnya.
“You’re really something, you know that?”
(Kamu itu benar-benar ada aja.)
Karin berdiri di depannya, masih dengan senyum lebar yang belum pudar sama sekali.
Dan di sore itu, di tepi sungai Jeju yang tenang, tawa Karin terdengar lebih nyaring dari gemericik air—membuat James tanpa sadar ikut tertawa bersamanya.
Karin menjatuhkan dirinya ke bangku kayu itu dengan santai. James ikut duduk di sampingnya, jaraknya cukup dekat—tidak terlalu jauh, tidak juga terlalu dekat.
Untuk beberapa detik, mereka hanya diam.
Lalu, tanpa aba-aba, Karin menarik napas dalam-dalam. Dadanya mengembang perlahan, menghirup udara segar Pulau Jeju yang bercampur aroma air sungai dan angin sore.
James, yang melihatnya dari sudut mata, ikut menarik napas… dengan cara yang sama.
Karin menoleh. Melihat itu, ia langsung tertawa kecil.
“Why are you copying me?”
(Kenapa kamu ngikutin aku?)
James membuka matanya, sedikit bingung sebelum akhirnya tersenyum.
“It looked relaxing.”
(Kelihatannya menenangkan.)
Karin tertawa lebih lepas. Suaranya ringan, jujur, tanpa beban.
“You’re funny, James.”
(Kamu lucu, James.)
James mengangkat bahu kecil, lalu ikut tertawa.
“I learned from the best.”
(Aku belajar dari yang paling jago.)
Mereka kembali menarik napas bersama—kali ini tanpa disengaja, seperti kebiasaan kecil yang tiba-tiba tercipta. Di hadapan mereka, matahari perlahan turun, memantulkan warna keemasan di permukaan sungai. Cahaya senja menyelimuti wajah mereka, hangat dan lembut.
Di momen sederhana itu, tawa kecil mereka menyatu dengan suara air dan angin. Tidak ada kata-kata penting yang perlu diucapkan.
Cukup duduk berdampingan.
Cukup bernapas bersama.
Cukup menikmati senja yang terasa lebih indah dari biasanya.
Karin menyandarkan tubuhnya sedikit ke belakang, lalu menoleh ke arah James. Cahaya senja membuat garis wajahnya terlihat lebih lembut dari biasanya.
“How was your trip to Seoul?”
(Bagaimana urusanmu di Seoul?)
James tidak langsung menoleh. Pandangannya tetap tertuju pada sungai yang mengalir tenang di hadapan mereka.
“It was fine.”
(Baik.)
Jawaban itu terlalu singkat.
Karin langsung menyadarinya. James bukan tipe orang yang menjawab sependek itu—terlebih padanya. Ada sesuatu dalam nada suaranya yang terasa tertahan, seolah ia sengaja menyembunyikan lebih banyak hal di balik satu kata sederhana itu.
Karin menatapnya lebih lama. Senyumnya memudar, berganti dengan ekspresi khawatir.
“Are you really okay?”
(Kamu benar-benar baik-baik saja?)
James akhirnya menoleh. Tatapan mereka bertemu. Untuk sesaat, James tampak ragu—seperti sedang menimbang apakah ia harus jujur atau tetap diam.
Angin senja berhembus pelan di antara mereka, membawa kesunyian yang terasa lebih berat dari sebelumnya.
James menatap Karin. Tatapannya hangat—namun di balik itu, ada kesedihan yang tidak ia sembunyikan sepenuhnya. Senyum tipisnya tidak pernah benar-benar sampai ke matanya.
“Nothing was good in Seoul.”
(Tidak ada yang baik di Seoul.)
Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan suara yang lebih pelan.
“And I’m not okay.”
(Dan aku tidak baik-baik saja.)
Hati Karin langsung menegang. Ia memiringkan tubuhnya sedikit, menatap James dengan penuh perhatian.
“What happened? Is your family okay?”
(Apa yang terjadi? Keluargamu baik-baik saja?)
James mengangguk kecil.
“My family is fine.”
(Keluargaku baik-baik saja.)
Namun setelah itu, ia menghela napas panjang.
“But I’m not.”
(Tapi aku tidak.)
Sunyi menyusup di antara mereka. James menengadah ke langit yang mulai gelap, seolah mencari kata-kata di antara warna senja.
“Karin.”
(Karin.)
“Iya,” jawab Karin pelan, tanpa terjemahan di kepalanya—ia sudah paham nada suaranya.
James menoleh padanya.
“I will go back to Seoul.”
(Aku akan kembali ke Seoul.)
Ada sesuatu yang mengganjal di dada Karin saat mendengarnya. Ia tersenyum kecil, mencoba terdengar biasa saja.
“Ah… Seoul? Of course. That’s your home, right?”
(Ah… Seoul? Tentu saja. Itu rumahmu, kan?)
Ia mencoba merasionalisasi perasaannya sendiri.
“You said you came to Jeju for a vacation anyway.”
(Kamu juga bilang ke Jeju untuk liburan.)
James terdiam. Lalu—dengan ragu—tangannya bergerak, menyentuh dan menggenggam tangan Karin.
Karin terkejut. Ia menoleh, menatap wajah James dengan mata sedikit membesar.
“Karin…”
(Karin…)
James menarik napas, kali ini lebih dalam.
“I don’t live in Seoul.”
(Aku tidak tinggal di Seoul.)
Jari-jarinya sedikit mengencang di tangan Karin.
“I’m going back to England.”
(Aku akan kembali ke Inggris.)
Kata-kata itu jatuh pelan, tapi berat.
“I have work matters there… with my father.”
(Aku ada urusan pekerjaan di sana… dengan ayahku.)
Ia menatap Karin lurus-lurus.
“And I won’t be coming back.”
(Dan aku tidak akan kembali.)
Mata Karin berkaca-kaca, seolah ingin mengatakan banyak hal sekaligus. Namun ia menahannya. Ia menarik senyum—senyum yang dipaksakan, tapi rapi.
“It’s okay. You should go.”
(Tidak apa-apa. Pergilah.)
Ia menghela napas kecil.
“I’ll be going back to Indonesia too, anyway.”
(Lagipula aku juga akan kembali ke Indonesia.)
Tiba-tiba ia tertawa kecil—tawa yang terdengar ringan, tapi kosong. Karin memalingkan wajahnya, menatap sungai.
“We can still keep in touch, right?”
(Kita masih bisa berhubungan, kan?)
“We can still call each other.”
(Kita masih bisa teleponan.)
James tidak ikut tertawa.
Ia menatap Karin dengan serius, suaranya rendah dan jujur.
“I don’t want to just call you.”
(Aku tidak ingin hanya sekadar meneleponmu.)
Karin menoleh perlahan.
“I want more than just being your friend.”
(Aku ingin lebih dari sekadar menjadi temanmu.)
“Can we be more than that?”
(Bisakah kita lebih dari itu?)
Karin terdiam.
Benar-benar terdiam.
Dunia seolah berhenti sesaat. Pertanyaan itu terlalu tiba-tiba, terlalu jujur. Jantungnya berdegup keras, pikirannya berantakan.
Perlahan, Karin melepaskan genggaman tangan James.
Tangannya gemetar—bukan karena dingin, tapi karena hatinya tidak siap.