Terbangun di tengah hutan hitam yang mencekam tanpa ingatan sedikit pun adalah sebuah mimpi buruk. Namun bagi salah satu pemuda yang berjiwa kepemimpinan dan enam remaja lainnya, mimpi buruk itu baru saja dimulai. Tanpa identitas selain nama yang terukir di gelang logam misterius mereka, ketujuh jiwa ini harus bertahan hidup di "The Dead Forest" sebuah hutan liar yang tidak mengenal ampun, di mana predator tidak terlihat dan bayangan bisa membunuh. Di tengah kepanikan Rayden yang cerewet, kecerdasan tajam Naya, dan sifat dingin Zephyr, Arlo mulai dihantui oleh potongan memori masa lalu yang seharusnya tidak ia ingat. Di sisi lain, Selene, gadis misterius yang seolah tahu segalanya, menyimpan rahasia yang bisa menghancurkan kepercayaan mereka satu sama lain. Siapakah mereka sebenarnya? Mengapa mereka dibuang ke hutan ini? Dan apakah ikatan tali persahabatan mereka cukup kuat untuk melawan kenyataan pahit yang menanti di ujung hutan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cicilia_., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3# Penghuni di balik Gowa
Malam di The Dead Forest bukanlah sekadar pergantian waktu, melainkan perubahan wujud dari dunia yang pasif menjadi predator yang lapar. Harry memimpin ketujuh remaja itu menjauhi padang rumput perak menuju sebuah dinding tebing batu yang menjulang tinggi, tertutup oleh juntaian tanaman merambat yang tampak seperti tirai raksasa.
"Masuk ke dalam. Jangan ada yang menyalakan cahaya apa pun sebelum kita sampai di ujung lorong," bisik Harry dengan nada yang sangat serius.
Mereka memasuki sebuah lubang gua yang tersembunyi di balik tanaman tersebut. Di dalamnya, terdapat sebuah lorong lurus sepanjang kira-kira empat meter. Dindingnya lembap dan dingin, namun yang mengejutkan adalah bagaimana suara angin hutan yang menderu tiba-tiba lenyap begitu mereka melangkah lebih dalam. Di ujung lorong itu, sebuah pemandangan luar biasa terbentang di depan mata Arlo dan teman-temannya.
Itu adalah sebuah area luas yang terkurung oleh tebing-tebing tinggi yang membentuk lingkaran sempurna. Di tengahnya, terdapat tanah lapang dengan beberapa bangunan kayu darurat yang sudah tampak sangat tua dan lapuk, kebun sayur yang terawat, dan pondok-pondok kecil yang dibangun dengan tangan. Tempat ini seperti oase di tengah neraka hijau.
"Ini tempat amanku," ucap Harry pelan sambil meletakkan tasnya. "Gua tadi adalah satu-satunya jalan masuk. Selama gerbang gua itu tertutup, apa pun yang ada di luar tidak akan bisa mencium keberadaan kalian."
"Ini... luar biasa," gumam Naya sambil menatap tebing yang mengelilingi mereka. "Secara geografis, ini adalah perlindungan alami yang sempurna."
"Wow, lihat ini!" Rayden berlari menuju sebuah sumur kecil di tengah camp, wajahnya tampak sangat antusias. "Setidaknya di sini kita tidak perlu khawatir tertusuk daun pohon gila itu saat sedang tidur. Harry, kau benar-benar membangun kerajaan kecil di sini?"
Harry hanya mendengus pahit, matanya menatap nanar ke arah deretan pondok yang sebagian besar sudah roboh dimakan usia. "Aku tidak membangunnya sendiri, Nak. Timku dulu... kami menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk membuat tempat ini layak huni. Aku sudah berada di sini selama sembilan tahun."
Angka itu membuat langkah Arlo terhenti. "Sembilan tahun?"
Harry menoleh, wajahnya yang dipenuhi kerutan tampak semakin lelah di bawah cahaya bulan yang masuk dari celah tebing. "Ya. Sembilan tahun sejak kami pertama kali terbangun seperti kalian. Sembilan tahun sejak aku melihat satu per satu temanku menyerah pada hutan ini. Kini, hanya aku yang tersisa untuk merawat kenangan mereka."
Sembilan tahun adalah waktu yang sangat lama untuk terjebak di tempat yang ingin membunuhmu setiap saat. Arlo menyadari bahwa ketangguhan Harry bukan hanya soal fisik, tapi juga soal bagaimana ia menjaga kewarasannya selama hampir satu dekade dalam kesendirian.
Saat mereka mulai duduk di sekitar perapian yang terletak di tengah area luas tersebut, sebuah suara memecah ketenangan malam. Suara itu bukan berasal dari dalam camp, melainkan dari balik mulut gua yang baru saja mereka lewati.
GERRRRRRR... BOOM... BOOM...
Suara langkah kaki yang sangat berat membuat tanah yang mereka pijak bergetar. Getarannya terasa jauh lebih kuat daripada sebelumnya. Arlo langsung berdiri, tangannya secara insting mencari sesuatu untuk digenggam.
"Suara apa itu?" tanya Arlo, matanya menatap tajam ke arah lorong gua yang gelap.
"Diam," desis Harry. Ia berjalan menuju tepi lorong gua, mengintip ke arah luar dengan sangat hati-hati.
Dari balik kegelapan hutan di luar gua, muncul sebuah bayangan raksasa. Makhluk itu tingginya hampir mencapai sepuluh meter, dengan tubuh bulat besar yang tampak sangat berat namun bergerak dengan kelincahan yang aneh. Makhluk itu berwarna hitam pekat, menyatu dengan kegelapan, namun memiliki lima kaki panjang yang kokoh, bergerak secara bergantian seperti laba-laba mekanis. Namun yang paling mengerikan adalah wajahnya—atau bagian yang seharusnya menjadi wajah. Di sana, tiga mata besar berwarna kuning menyala tersusun membentuk segitiga sempurna, berpendar di tengah kegelapan malam.
"Phenix Omega," bisik Harry dengan suara bergetar.
Rayden, yang sedang mengintip dari balik bahu Finn, langsung membekap mulutnya sendiri agar tidak berteriak. Wajahnya pucat pasi, matanya melotot menatap tiga mata kuning di luar sana. Makhluk itu tampak sedang mengendus-endus udara di depan mulut gua, kaki-kakinya yang besar menghancurkan bebatuan di sekitarnya menjadi debu.
"Phenix... apa?" tanya Finn dengan suara tertahan.
"Phenix Omega," ulang Harry. "Penjaga perbatasan. Mereka tidak punya hidung atau telinga, tapi mereka bisa merasakan denyut jantung dari jarak satu kilometer. Mata segitiga mereka adalah sensor panas. Jika mereka melihat satu saja titik panas di luar gua ini, mereka tidak akan berhenti sampai subjek itu hancur."
Makhluk itu, Phenix Omega, mengeluarkan suara melengking yang terdengar seperti logam yang bergesekan. Salah satu kaki besarnya menghantam dinding tebing di luar gua, menciptakan dentuman yang bergema hingga ke dalam camp.
"Kenapa dia tidak masuk ke sini?" bisik Lira. Ia bisa merasakan hawa haus darah yang luar biasa dari makhluk tersebut. Emosinya begitu gelap dan kosong, membuat Lira merasa mual.
"Gua ini dilapisi oleh mineral yang mengacaukan penglihatan segitiga mereka," jelas Harry. "Bagi mereka, pintu gua ini hanya tampak seperti dinding batu padat. Selama sembilan tahun, dinding inilah yang menjagaku tetap hidup. Tapi jika kalian berteriak atau membuat cahaya, mereka akan tahu."
Phenix Omega itu berputar di depan mulut gua selama beberapa menit yang terasa seperti selamanya. Mata kuningnya yang menyala terus berpendar, menyisir setiap inci hutan mati. Setelah merasa tidak menemukan apa pun, makhluk raksasa itu kembali melangkah pergi, masuk ke dalam kegelapan hutan dengan suara langkah boom... boom... yang perlahan menghilang.
Rayden langsung jatuh terduduk di atas tanah, napasnya tersengal-sengal. "Aku tarik kata-kataku tadi. Aku tidak mau keluar dari gua ini. Aku mau tinggal di sini selamanya. Menjadi petani sayur di Saka terdengar jauh lebih menarik daripada bertemu dengan monster berkaki lima itu."
"Kita tidak bisa tinggal di sini, Rayden," sahut Arlo, matanya masih menatap lorong gua. "Harry bilang timnya dulu gagal. Sembilan tahun dan dia masih di sini... itu artinya ada sesuatu yang menahan kita di tempat ini, dan kita harus mencari tahu apa itu."
"Kau gila, Arlo?!" Rayden berdiri lagi, kali ini dengan ekspresi tidak percaya. "Kau lihat makhluk tadi? Dia bisa menginjak kita sampai jadi kerupuk dalam sekali jalan! Dan kau mau pergi ke Menara itu?!"
Lira menatap Rayden, lalu beralih ke Arlo. "Rayden benar, Arlo. Kita baru berumur delapan belas tahun. Kita baru saja tahu nama kita sendiri! Tapi..." Lira menjeda kalimatnya, matanya menatap Selene yang sejak tadi hanya diam memperhatikan Menara dari dalam camp. "Selene, kau tampak tidak terkejut melihat Phenix Omega itu. Apa kau pernah melihatnya?"
Selene menoleh perlahan, senyum tipis yang misterius kembali muncul di wajahnya. "Aku hanya berpikir... jika mereka disebut 'Omega', maka pasti ada 'Alpha' di suatu tempat. Dan biasanya, yang lebih berbahaya bukanlah yang paling besar."
Kata-kata Selene membuat suasana di Saka menjadi semakin dingin. Harry menatap ketujuh remaja itu dengan tatapan prihatin. Ia teringat akan teman-temannya yang sembilan tahun lalu juga memiliki semangat yang sama, sebelum satu per satu dari mereka dijemput oleh maut di balik mulut gua tersebut.
"Malam ini tidurlah," perintah Harry. "Phenix Omega biasanya tidak berburu dua kali di tempat yang sama dalam satu malam. Besok, aku akan menunjukkan pada kalian apa yang ada di balik menara itu... dan kenapa timku dulu tidak pernah kembali setelah sembilan tahun pencarian."
Arlo berbaring di atas tanah yang dialasi rumput perak, menatap langit yang terkurung oleh tebing tinggi Saka. Ia menyentuh gelangnya. Nama ARLO bersinar sangat redup. Ia bertanya-tanya, apakah sembilan tahun adalah batas waktu untuk bertahan, ataukah ia memang sengaja dikirim ke sini untuk mengakhiri apa yang telah dimulai sembilan tahun lalu?